Story Of The Twins

Story Of The Twins
Faiz Dan Diana


__ADS_3

Diana duduk dimeja nya dengan wajah yang sedikit tegang. Lagi lagi dia harus melihat pemandangan yang selalu bisa menodai mata sucinya itu.


Tidak saat bersama Amelia saja yang selalu bermesraan dengan Ivan. Saat diperusahaan seperti ini pun dia masih harus melihat sesuatu yang membuat darah nya berdesir hangat.


Apalagi tadi, mereka terlalu intim, Diana bahkan tidak menyangka jika Jonathan yang datar dan dingin begitu bisa menjadi sangat buas. Karina yang kelihatan nya polos juga ternyata tidak sepolos itu.


Diana langsung menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkan nya perlahan.


"Huh... mereka buat aku pengen cepet nikah" gumam Diana yang langsung merebahkan kepala nya diatas meja.


Namun dia kembali duduk dengan tegak saat mengingat sesuatu. Bukankah Faiz akan melamarnya sebentar lagi. Bahkan hanya tinggal hitungan hari lelaki itu akan datang menemui ibu dan Abang nya.


Diana tampak mendengus dan melamun. Apa Faiz benar benar berniat serius padanya. Dia bahkan masih takut untuk mengharapkan lebih. Tapi dia sudah dikenalkan oleh ibu Faiz, jadi seharusnya itu benar kan?


Ah, gara gara Faiz dia sampai kurang tidur beberapa hari ini. Apalagi setelah membawa dia kerumah untuk menemui ibu nya, Faiz bahkan tidak pernah lagi menghubungi nya. Apa begitu yang dikatakan serius, Diana jadi ragu. Padahal dia mempunyai impian menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintai nya, tapi kenapa dia malah menerima tawaran gila Faiz? Dan sekarang dia yang menjadi orang gila karena terus menerus memikirkan hal ini. Bahkan untuk memberi tahu keluarga nya yang ada di kota sebelah saja dia belum berani.


Dia takut jika Faiz hanya mempermainkan nya, seharusnya jika dia serius, setiap hari sepaling tidak lelaki itu ada menghubungi nya. Ini malah tidak ada sama sekali. Menyebalkan!


Diana kembali menghela nafas nya dan menggeleng pelan


"Udah lah, mikirin dia kerjaan ku gak siap siap" gumam nya yang segera mengecek pemasukan bulan ini. Jangan sampai jabatan yang baru beberapa menit dia dapatkan diambil kembali oleh Jonathan.


Diana memeriksa berbagai laporan dan berkas berkas itu dengan teliti. Sedikit bingung memang, tapi karena sudah sering membantu Karina dulunya, dia tidak terlalu kesulitan lagi.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Jam makan siang juga sudah berakhir, bahkan karena sangking banyaknya pekerjaan yang dia periksa dan dia pelajari, dia jadi lupa makan siang.


Diana segera membereskan seluruh pekerjaan nya. Mengumpulkan beberapa berkas yang yang harus dia bawa keruang rapat. Dia sedikit gugup karena ini adalah rapat pertama nya menjadi kepala divisi yang memimpin staf staf nya yang lain.


Diana berjalan keluar ruangan, dan berpapasan dengan Karina yang terlihat membawa sesuatu ditangan nya, seperti sebuah dokumen.


"Ada apa Bu?" tanya Diana heran karena ternyata Karina menghampiri nya


"Masih juga manggil ibu, aku kan bukan bos kamu lagi" ucap Karina


Dia langsung tertawa kecil dan memukul pelan mulut nya


"Kebiasaan.... ada apa nona?" tanya Diana pula. Namun Karina malah berdecak kesal melihat nya


"Nona lagi, panggil Karin aja lah Di. Kamu ini" jawab Karina terdengar tidak senang, dia membuka berkas nya dan menyerahkan nya pada Diana yang menggeleng kencang


"Mana berani saya, bisa di depak lagi saya sama tuan Jonathan" bisik Diana


"Hiss mana ada begitu. Sudah lah, nih catatan bulan ini yang ketinggalan. Kamu cukup jelasin ini aja sama dia" ujar Karina sembari menunjuk halaman berkas itu


Diana membaca nya sekilas dan langsung mengangguk mengerti


"Jadi nona gak ikut masuk?" tanya Diana

__ADS_1


"Enggak dong, ngapain. Kan udah ada kamu yang gantiin. Aku mau nunggu didalem aja. Ngantuk banget, pengen tidur" jawab Karina


"Cieee pengantin baru mah gitu, bergadang terus jadi ngantuk aja bawaan nya" goda Diana membuat Karina langsung merona malu dan menampar pelan bahu Diana yang terkekeh


"Apaan sih kamu, mana ada begitu" elak Karina


"Hehe... walaupun saya belum menikah tapi saya tahu Lo nona. Tadi aja udah hampir kan, untung aja saya masuk, pintunya gak dikunci sih" ungkap Diana dan Karina langsung melebarkan matanya dan mencubit gemas lengan Diana yang tertawa geli


"Diana kamu ini" wajah Karina benar benar merona sekarang


"Hehe... gak papa nona. Saya mah udah biasa, nona Amel sama tuan Ivan juga sering begitu, jadi saya gak terkejut lagi. Tapi tadi sedikit lebih waw sih. hihi" Diana tertawa cekikikan karena tidak bisa menahan lucu melihat wajah Karina yang semakin merona malu. Dia bahkan terlihat salah tingkah sekarang


"Iiihh udah deh, kamu ini. Pergi sana" usir Karina yang langsung melengos dan pergi meninggalkan Diana yang tertawa lucu dan juga bergegas untuk pergi keruang rapat. Seperti nya kejahilan Ivan dan Amel yang suka menggoda orang menular padanya.


Dia jadi senyum senyum sendiri melihat nona muda baru itu, sungguh lucu. Penampilan Karina juga sekarang sudah berbeda, terlihat lebih anggun dan berkelas. Ya, wajarlah diakan sudah menjadi istri bos besar perusahaan ini, bukan lagi seorang karyawan yang bekerja setiap hari ini.


Diana tersenyum dan menggeleng pelan seraya memperhatikan berkas yang diberi Karina tadi


"Kenapa kamu senyum senyum begitu?" tanya seseorang, membuat Diana langsung terlonjak kaget, bahkan dia hampir saja menjatuhkan berkas berkas nya


"Kak Faiz" gumam Diana yang kembali terkejut saat melihat orang yang ada didepan nya adalah Faiz. Berdiri gagah dengan setelan jas formal nya, begitu rapi dan klimis


"Eh, maaf tuan ... " ralat Diana yang lupa sedang berada dimana


"Kenapa bisa ada disini?" tanya Diana heran, sedangkan Faiz tampak mengernyit heran dan memandang jam dipergelangan tangan nya


"Aneh banget kamu, kamu lupa aku siapa. Perusahaan cabang juga harus ada disetiap rapat bulanan kan" sahut Faiz


"Kenapa malah melamun, ayo pergi. Kamu mau dimarah tuan Jonathan. Baru juga dapet jabatan lumayan" ujar Faiz lagi.


"Eh,, kenapa tahu" gumam Diana yang langsung mengikuti langkah kaki Faiz


"Tahu lah, semua tentang kamu aku tahu. Bahkan kamu yang lagi nungguin kabar aku juga aku tahu" jawab Faiz


Diana langsung menghentikan langkah kaki nya dan memandang punggung Faiz


Faiz yang merasa tidak diikuti lagi, juga langsung membalikkan tubuhnya. Memandang Diana yang malah mematung ditempat.


"Kenapa?" tanya Faiz heran


"Udah tahu aku nungguin kabar, kenapa coba gak ada ngasih kabar dikitpun" kata Diana dengan wajah kesal


Faiz terkekeh kecil dan menggeleng pelan. Dia berjalan mendekat ke Diana kembali, dan


takk


Diana langsung meringis saat kening nya malah dijentik Faiz

__ADS_1


"Sakit tahu" seru Diana dengan wajah kesal seraya mengusap kening nya yang memanas.


"Aku sibuk. Bukan berarti aku gak ngasih kabar aku ilang gitu aja. Kenapa? kamu udah rindu?" goda Faiz dengan wajah angkuh nya membuat Diana langsung mendengus kesal dan memukul lengan Faiz dengan kuat


"Memang nyebelin banget. Katanya mau serius, tapi kayak gitu. Ngasih kabar aja gak mau. Gimana aku percaya kalau kakak memang mau serius sama aku." kata Diana dengan nafas yang menggebu


"Kamu ini, jadi aku harus gimana coba. Aku sibuk ngurus perusahaan dua hari ini. Ivan gak ada. Pulang malam aku udah capek, langsung tidur" jawab Faiz dengan wajah polos tanpa dosa nya


Sungguh demi apapun, Diana tidak tahu harus apa menghadapi Faiz yang seperti ini


"Setidak nya kasih aku kabar, masak kirim pesan singkat aja gak sempat. Kalau kakak begini gimana aku bisa yakin sama pilihan ini. Gak ada usaha nya dikitpun, tahu nya cuma maksa doang, mentang mentang punya jabatan tinggi" gerutu Diana begitu kesal dan lelah. Dia langsung meninggalkan Faiz yang tampak bingung sekarang.


'memang nya salah?' gumam Faiz dalam hati


Tapi melihat wajah kesal dan kecewa Diana dia juga jadi serba salah. Akhirnya Faiz sedikit berlari mengejar langkah Diana yang berjalan dengan cepat menuju ruang meeting. Untung saja lorong itu sudah sepi jadi tidak ada yang melihat mereka,.hanya beberapa ob yang sedang bekerja dan karyawan yang berada jauh dari tempat itu.


" Diana" panggil Faiz. Namun Diana terus saja jalan tanpa menghiraukan panggilan Faiz. Dia kesal sekarang, dan entah dia akan meneruskan rencana pernikahan gila ini atau tidak, jika melihat sifat Faiz yang masa bodoh seperti ini.


"Diana, tunggu dulu" panggil Faiz lagi seraya menarik lengan Diana hingga gadis itu langsung menghentikan langkah nya


Faiz memutar tubuh Diana dan memandang wajah nya yang cemberut


"Kamu marah?" tanya Faiz , namun Diana hanya melengos dan ingin kembali berjalan, namun lengan nya masih ditahan oleh Faiz.


"Yauda, nanti malem aku jemput kamu. Kita keluar buat jalan jalan" ajak Faiz, padahal dia sendiri tidak yakin dengan perkataan nya ini. Untuk seumur hidupnya baru kali ini mengajak gadis jalan jalan. Ivan harus membantunya nanti


Diana memandang Faiz tidak percaya


"Beneran, kamu mau kemana aku temenin lah" kata Faiz lagi


"Kalau kakak bohong aku gak mau lagi ketemu sama kakak" ancam Diana


Faiz langsung tersenyum dan mengangguk cepat.


"Iya, aku janji. Tapi jangan cemberut dan marah gak jelas gitu. Aku bingung harus apa" ucap Faiz


Diana langsung tersenyum malu dan mengangguk. Kenapa harus tunggu dia marah dulu coba, memang polos dan kaku sekali asisten Ivan ini


"Ehem...." suara deheman seseorang membuat Faiz dan Diana langsung terkesiap kaget. Mereka menoleh keasal suara dan begitu terkejut melihat Jonathan yang ada disana, berdiri dengan wajah datar dan dingin nya seperti biasa sedang memperhatikan mereka berdua.


Faiz langsung melepaskan tangan nya dari lengan Diana. Mereka segera membungkuk hormat dan nampak canggung sekarang


"Selamat siang tuan" sapa mereka bersamaan


"Rapat sudah mau dimulai kenapa kalian masih disini? Pacaran?" tanya Jonathan


"Tidak tuan, maaf" jawab mereka serempak pula

__ADS_1


Jonathan hanya mendengus senyum tipis dan langsung berjalan masuk kedalam ruangan meninggalkan Faiz dan Diana yang saling pandang canggung.


Damage Jonathan memang selalu membuat siapa saja ketakutan...


__ADS_2