
Ivan berjalan mengitari area persawahan itu sembari mengedarkan pandangan mata nya kesegala arah, namun yang dicari belum juga tampak dipenglihatan nya.
"Lo sih bos, Lo anggurin tu anak, pasti ngambek dia" kata Dian yang berjalan dibelakang nya
Ivan tertegun sejenak kemudian menggelengkan kepala nya perlahan
"enggak lah, dia bukan cewe yang mudah ngambekan kok" jawab nya.
Dian mendengus gerah
"tadi Lo bilang dia kearah sini kan, kenapa gak ada ya" tanya Ivan lagi, hati nya mulai risau saat ini. Bagaimana jika Amel nyasar atau malah tersesat kedalam hutan diujung jalan itu
"gue gak tau, gue cuma liat dia jalan kearah belakang pondok aja, ya kan bang" ucap nya menoleh pada Bambang yang mengangguk
"Lo gak peka Van" gumam Bambang yang berjalan paling belakang. Sementara Jonathan dan Karina berjalan kearah lain mencari keberadaan Amelia
"gak peka?" tanya Ivan bingung, dia menoleh sekilas kearah Bambang yang menatap nya dengan penuh arti
"memang gak peka dia, tapi pekak. kasian anak orang diphp in." ketus Dian namun bukan nya menjawab Ivan malah menghela nafas nya dengan kasar.
"udah mulai sore ni, kita mencar aja lah. kasian kalo dia nyasar" kata Ivan pada kedua teman nya
"iya, memang bagus nya kita mencar aja. Tadi Karin sama Jo pergi keujung jalan kan, nah gue kearah hutan, Lo kearah perkebunan tomat Van, biar Dian kearah sungai" jelas Bambang sembari menunjuk arah arah yang dimaksud
Ivan terdiam sembari berfikir
"perkebunan itu letak nya gak terlalu jauh, jalan nya juga bagus, tempat nya juga lumayan indah, gue rasa itu pilihan yang tepat untuk anak kota kayak Amelia kan" tambah Bambang saat melihat raut wajah bimbang Ivan
"gak usah banyak mikir lah, Lo mau tu anak ilang. dia tanggung jawab Lo Van" tegas Dian membuat Ivan dan Bambang terkesiap kaget
"tumben Lo bijak" kata Bambang terkekeh pelan
"kesel gue liat Ivan. gak peka bener jadi orang. Sama kita dia minta ampun perduli nya, tapi sama Amel yang jelas jelas suka sama dia malah diabaikan. heran gue" gerutu nya sembari terus berjalan meninggalkan Bambang dan Ivan yang langsung menggaruk kepala nya
"kayak emak emak aja, kepala gue mau pecah ditambah Omelan nya" gumam Ivan yang berjalan kearah perkebunan tomat diarah selatan persawahan itu
Bambang hanya menggelengkan kepala nya melihat Ivan
"moga Lo gak nyesel Van, dia lebih dari segala nya dari cewe yang Lo taksir dulu" gumam Bambang, namun sayang nya Ivan malah tidak lagi mendengar perkataan nya.
..
Karina berjalan cepat kearah jalanan perkampungan itu, berharap dia dapat menemukan Amelia disana. Hati nya begitu cemas dan khawatir akan keberadaan gadis mungil itu.
Perasaan bersalah menyergap hati nya kala dirinya tidak mendapati Amel disana, dia begitu bodoh dan ceroboh karena mengabaikan Amel yang merupakan teman sekaligus tamu mereka.
Kaki nya sesekali tergelincir karena jalan setapak yang begitu licin, beruntung nya beberapa hari ini tidak ada hujan dikampung itu, namun tetap saja jalanan nya selalu licin karena dilalui oleh orang orang yang naik turun kesawah.
"pelan pelan sayang" ucap Jonathan memegang lengan Karina yang hampir jatuh
"iya kak. aku takut kak Amel nyasar, dia kan gak tau area perkampungan disini" jawab nya dengan mata yang berkaca kaca
"dia pasti baik baik saja. Ivan dan teman teman nya sudah berpencar mencari nya" kata Jonathan lagi
"tapi tetep aja aku khawatir. Mana hari udah mulai senja lagi" jawab nya sembari terus berjalan menuju jalanan yang biasa dilalui para penduduk kampung, Jonathan dengan setia berjalan dibelakang nya sembari berjaga jaga jika gadis nya akan terpeleset lagi.
Dan beberapa menit kemudian mereka tiba dibatas jalanan yang berbatu antara sawah dan jalanan.
Karina langsung berlari ketengah dan menoleh kearah kiri dan kanan, namun nihil tidak ada seorang pun disana karena hari memang sudah mulai senja, bahkan matahari hampir terbenam seluruh nya
"kak Amel" lirih nya dengan mata yang berkaca kaca membuat Jonathan bingung harus berbuat apa
"ini karena aku yang mengabaikan dia, maka nya dia hilang" gumam nya lagi
"Hei, bukan salah mu. mungkin dia hanya ingin berjalan jalan saja sayang" kata Jonathan mencoba menenangkan Karina dengan mengusap punggung nya
__ADS_1
Karina masih menoleh kesekitar nya
"dia gak ada disini, kita cari kesana lagi ya kak" ajak Karin sembari menunjuk area persawahan lagi
"sudah ada Ivan dan teman teman nya. Bagaimana jika kita cari dia kerumah, siapa tahu dia sudah kembali lebih dulu" saran Jonathan membuat Karina terdiam dan berfikir sejenak
"jika dia tidak ada juga dirumah, kita bisa meminta tolong warga untuk mencari nya" tambah nya lagi
"iya baiklah" jawab Karina pasrah
Kaki nya begitu lemas, harapan nya begitu tinggi jika gadis itu memang sudah pulang duluan. Entah apa jadi nya jika gadis itu menghilang diarea persawahan itu, ataupun dia malah tersesat dan masuk kedalam hutan, ah tidak bisa Karina bayangkan jika itu sampai terjadi.
...
Ivan berjalan menyusuri jalanan setapak menuju perkebunan tomat milik salah satu warga disana. Dia berjalan begitu cepat karena rasa khawatir sudah merayap kedalam hati dan fikiran nya.
Namun belum lagi dia masuk kearea perkebunan, sayup sayup dia mendengar suara seseorang berteriak kencang.
Jantung Ivan berdegup kencang dan terasa begitu ngilu. Dia menajamkan pendengaran nya sembari mengedarkan pandangan nya mencari dimana arah suara itu.
Dia berjalan cepat kearah suara setelah meyakinkan bahwa suara itu berasal dari arah sungai.
"tolong!!!!, Ivan , Bang!!!! Amel hanyutt!!!!!!!"
kembali suara itu terdengar, dan kini jantung Ivan seketika serasa lepas dari tempat nya. Kaki nya langsung berlari kearah sungai, dan sekilas ujung mata nya juga melihat Bambang dan seorang warga yang juga berlari diujung jalan menuju sungai.
Sekuat tenaga dia berlari dan mencari jalan yang tercepat sampai kepinggir sungai, tidak perduli semak belukar yang menjulang tinggi dan juga jalanan yang sedikit terjal berbatu. Semua diterjang nya meski harus berkali kali dia terjatuh karena kaki nya tersangkut akar akar dan semak yang berduri.
Ivan langsung melompat kebawah dan menapak diatas tanah yang sedikit berbatu, dia meringis sedikit karena lutut nya berdarah terhempas batu begitu pun kaki nya yang sudah tersayat sayat oleh duri dan ranting ranting pohon.
Dia langsung berlari kepinggir sungai melihat dimana Amel berada, dan lagi lagi hati nya teriris dan jantung nya berdenyut ngilu saat melihat Amel berusaha berenang ditengah deras nya arus sungai, Dian juga sudah masuk kedalam sungai mengejar Amel yang hampir lemas disana.
Tanpa berfikir panjang Ivan langsung melepas sepatu nya dan terjun kedalam sungai. Dia berenang sekuat tenaga melawan arus yang lumayan deras itu untuk menjangkau Amel yang terlihat sudah lemas namun masih tetap bertahan.
"kak , tolong!!!" teriak Amel
Beruntung nya Ivan cepat datang sehingga dia belum kehilangan jejak Amel bahkan dia memang menunggu Amel ditengah tengah sungai sampai gadis itu terbawa arus kearah nya.
Arus sungai itu begitu deras karena memang Ivan berada di tempat yang paling dalam dan arus nya yang paling deras.
Dia berusaha meraih akar pohon yang menjuntai disana, namun gagal dia malah terbawa arus dan kembali mencoba berenang sekuat tenaga nya.
Bambang yang baru tiba ditempat itu begitu khawatir melihat Ivan yang kesusahan
"Van, hati hati, ketepi sedikit, arus disana bahaya!!!!" teriak Bambang
"ketepi Van, tempat itu dalam, bahaya" teriak warga yang datang bersama Bambang
Ivan tidak perduli, karena hanya ditempat itu dia bisa menarik Amelia nanti nya.
Dia berusaha kembali berenang dan meraih kembali akar akar pohon, yang memang beruntung nya dia disana dikelilingi pohon pohon besar yang mempunyai akar akar yang bergelantungan kesungai itu.
"kak" seru Amelia tertahan saat tenaga nya sudah mulai habis, bahkan tubuh nya nyaris tenggelam
"Mel, bertahan lah" teriak Ivan lagi. Dia langsung berenang ketengah saat tubuh Amel sudah berada didekat nya
"kak tolong Amel gak kuat" lirih nya saat dirinya sudah hampir berada dalam jangkauan Ivan
Ivan berenang sedikit ketengah untuk meraih tubuh Amel, namun hasil nya masih sia sia, Amel terlepas dari jangkauan nya
Arus sungai itu begitu deras, Ivan langsung menyelam dan berenang mengejar tubuh Amel yang sudah pingsan dan tidak berdaya. Sekuat tenaga dia berenang mengikuti arus sungai yang mengombang ambing tubuh nya dan tubuh Amel
"ya Tuhan, Mel, ku mohon bertahan lah" gumam Ivan
Beberapa warga berdatangan untuk membantu Ivan dan Amel dengan melempar beberapa tali kearah mereka.
__ADS_1
Bambang membantu Dian yang sudah menyerah dan naik keatas.Namun mereka tetap mengejar Ivan dari atas daratan
Ivan masih berusaha meraih tubuh Amel ditengah deras nya arus sungai itu. Mata nya membulat sempurna saat sebentar lagi mereka akan menghantam kumpulan batu batu besar yang ada di sungai itu.
"oh tuhan tolong kami" gumam nya lagi
Sekuat tenaga Ivan berenang dan meraih tubuh Amel, dan kali ini berhasil, dia berhasil meraih tangan gadis itu dan langsung mendekap tubuh Amel kedalam pelukan nya dengan satu tangan sedangkan tangan sebelah nya menjangkau apapun yang bisa dijangkau nya.
Tubuh Amel sudah terkulai lemah, dan sebenar nya juga tubuh Ivan pun sudah mulai melemah, namun dia harus tetap kuat jika tidak mereka pasti akan mati terhantam batu besar disana
"Van, tarik Van!!" teriak Bambang dan warga yang lain nya sembari melemparkan banyak tali pada Ivan
Namun nihil, satu pun tidak ada yang bisa diraih nya, membuat orang orang disana berteriak histeris apalagi hari sudah gelap membuat penglihatan mereka menjadi remang remang karena hanya diterangi oleh lampu senter dan ponsel beberapa warga.
Dian sudah menangis tersedu melihat Ivan yang sudah mulai lemas disana
"Amel, bangunlah, bangun Mel" gumam Ivan sembari meraih apapun yang bisa diraih nya dan sebelah tangan nya tetap berusaha mendekap erat tubuh gadis itu
Jonathan dan Karina baru tiba ditempat itu setelah sebelum nya mereka meminta para warga mencari Amelia. Dan betapa terkejut nya mereka ketika mendengar bahwa Amelia tenggelam disungai. Mereka segera kesungai dimana tempat Amel tenggelam.
Jonathan terbelalak kaget melihat Ivan sedang bertaruh nyawa disana apalagi dapat dia lihat ada sekumpulan batu batu besar yang menghadang tubuh Ivan dan Amel jika mereka tidak segera naik.
Sedang Karina sudah berteriak histeris dan menangis kencang melihat Amel yang telah pingsan dalam dekapan Ivan.
"ya Tuhan Ivan" gumam Jonathan begitu panik. Dia langsung berlari meninggalkan Karina bersama warga yang lain. Dia meraih tali yang dipegang seorang warga dan berlari menuju Ivan.
"Tangkap Van" teriak nya penuh nafsu
Ivan terkesiap mendengar teriakan Jonathan. Dalam usaha nya dia berusaha meraih tali itu, namun nihil, karena gelap dan juga arus yang terus mengombang ambing tubuh nya.
Jonathan menggeram kesal, dia mencampakkan tali yang dipegang nya ketanah dan ingin melompat kedalam sungai namun tangan nya langsung dicekal oleh Bambang dan seorang warga
"jangan gila Jo, bahaya" seru Bambang
"kau yang gila. adiku dalam bahaya dan kalian malah diam saja" bentak nya kesal
Ivan memejamkan mata nya saat tidak lama lagi mereka akan menghantam batu batu besar disana. Teriakan teriakan para warga menggema ditelinga nya, namun seketika dia membuka mata nya saat tangan nya diraih oleh sebuah tangan yang menggenggam nya dengan erat
"pegang tangan gue" seru seorang lelaki
Samar samar Ivan dapat melihat jika lelaki itu adalah Aldo, Abang Karina
Jonathan yang sedang bersitegang dengan Bambang dan warga yang lain langsung bernafas dengan lega saat melihat Aldo yang berusaha menolong Ivan dan Karina.
Tubuh Aldo diikat dengan tali oleh teman nya, sehingga memudahkan dia untuk kembali keatas.
Entah sejak kapan dia ada disana, baik Jonathan maupun Bambang dan Dian tidak menyadari nya karena fokus mereka hanya pada Ivan dan Amel.
Jonathan dan Bambang segera berlari mendekati teman Aldo dan membantu menarik mereka keatas. Wajah Jonathan sudah sekelam malam, membuat siapapun takut melihat nya. Bahkan Karina sendiri memilih diam.
Ivan meringis saat tubuh nya mulai terasa kram ditengah usaha nya dan Aldo untuk menepi.
"bang, tolong temen gue. tangan gue kram, gue gak sanggup lagi" ucap nya benar benar begitu lemah
Aldo terlihat ragu karena jika dia membantu gadis itu lalu bagaimana dengan Ivan
"bang cepetan" teriak Ivan
Dan mau tak mau Aldo meraih tubuh Amel yang sudah tidak berdaya. Dia mendekap tubuh gadis itu dengan sebelah tangan nya dan satu tangan nya lagi meraih tangan Ivan yang juga mulai melemah
"sedikit lagi Van, Lo harus kuat" teriak Aldo saat Ivan mulai tidak bisa lagi menggerakan tubuh nya untuk berenang
Ivan hanya meringis menahan sakit disekujur tubuh nya
"Van, ayo. kau bisa!!!" teriak Jonathan pula. Dia langsung terjun kedalam sungai karena melihat Ivan sudah tidak berdaya dan Aldo yang kepayahan membopong tubuh mereka berdua.
__ADS_1