
Dikampus beberapa jam sebelum nya.....
"Ivan kemana Jo, kok tumben dia gak masuk?" tanya Faiz pada Jonathan, kini mereka tengah berkumpul digazebo samping universitas mereka.
"dia pulang kekampung" jawab Jonathan singkat, namun cukup membuat Faiz terkejut sedangkan teman yang lain masih diam mendengarkan mereka
"loh, kok mendadak, ada apa?" tanya Faiz masih dengan wajah bingung nya
"kata nya rindu sama bapak dan ibu nya. memang nya dia tidak memberitahu mu?" tanya Jonathan yang juga heran melihat Faiz
"enggak, ponsel nya malah gak bisa dihubungi dari semalem" gumam Faiz. Jonathan hanya diam namun juga sedikit heran, tidak biasa nya Ivan tidak mengajak Faiz, batin nya.
Sementara Faiz juga bertanya tanya dalam hati kenapa Ivan pergi tanpa memberi tahu nya, tidak biasa nya juga dia bolos seperti ini, bahkan saat tidak enak badan juga dia tetap memaksa kuliah. Ada apa dengan anak itu, batin Faiz.
"udah deh Iz, Lo kayak ditinggal pergi pacar aja" kata Samuel menepuk pelan pundak Faiz yang langsung tersadar dari lamunan nya
"tau nih, galau amat gak ada Ivan" timpal Dirga pula
"noh, masih ada kembaran nya" tunjuk Alex pada Jonathan yang sibuk dengan buku ditangan nya
"sialan kalian, dikira gue jeruk makan jeruk" dengus Faiz membuat teman teman nya langsung tertawa
...
Diperusahaan Agueenno
Maxwel sedang memeriksa beberapa berkas berkas yang menumpuk diatas meja nya saat ponsel nya berdering menandakan panggilan masuk.
Dia sedikit terkesiap saat tahu yang menelpon adalah nama Jovankha. Dan tidak menunggu lama dia segera mengangkat panggilan nya
Maxwel : ya nak
Ivan : apa papa sedang sibuk?
Maxwel : tidak begitu, ada apa, kamu baik baik saja kan?
Ivan : Ivan baik kok pa. Cuma ada yang ingin Ivan bicarakan. Ivan mau minta izin sama papa
Maxwel : katakan lah nak, ada apa?
Ivan : begini pa, Ivan mau minta izin, Ivan mau mencoba membuat usaha dikampung, itung-itung investasi juga sekalian belajar bisnis, dan usaha itu nanti nya akan dikelola oleh teman teman Ivan
Maxwel : oh ya, usaha apa ?
Ivan : hanya usaha toko pangan dan sembako pa, Ivan berniat membuka grosiran yang besar dan lengkap supaya warung warung kecil dikampung bisa ambil barang ditoko itu nanti nya, Ivan juga sudah dapat tempat yang lumayan strategis, Ivan cuma butuh izin papa untuk melanjutkan rencana ini
Maxwel : papa setuju nak, lakukan apapun yang menurutmu baik. nanti papa kirim uang nya ya
Ivan : eh jangan pa, uang yang papa kasih sudah lebih dari cukup kok
Maxwel : No, itu uang jajan kamu, untuk keperluan pribadi mu. Dan untuk membangun usaha itu biar pakai uang papa saja
Ivan : tapi pa
Maxwel : tidak ada tapi tapian, kamu urus saja sebagaimana yang kamu inginkan. Papa senang kamu mau belajar bisnis meski dari hal yang sederhana seperti itu
__ADS_1
Ivan : terimakasih pa, sebenar nya Ivan buka usaha disini untuk mengurangi tingkat pengangguran pemuda pemuda didesa
Maxwel : papa tahu itu nak, dan papa mendukung mu. papa akan menyuruh beberapa orang orang papa untuk membantu mu disana. Kamu hanya perlu memerintah mereka saja tanpa harus bersusah payah oke
Ivan : tidak perlu sampai seperti itu pa, Ivan rasa Ivan bisa bekerja sendiri disini
Maxwel : kamu lupa kamu anak siapa ?
Ivan : hahaha, oke oke tuan Maxwel Alexander. Ivan akan menunggu orang orang papa kemari
Maxwel : ya memang harus seperti itu
Ivan : baiklah, Ivan tutup dulu telpon nya pa
Maxwel : iya, berhati hatilah disana
Ivan : oke pa
Maxwel menggeleng geleng kan kepala nya dengan senyum yang terus mengembang diwajah tampan nan tegas nya. Anak nya yang satu ini memang berbeda, dia terlalu sederhana dan lebih memikirkan orang lain ketimbang diri nya sendiri.
Maxwel langsung menghubungi Rico, dan tidak lama kemudian Rico masuk keruangan nya dan beridiri didepan meja Maxwel dengan sigap
"ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Rico langsung
"ya, suruh beberapa orang orang kita untuk kekampung Ivan dan bantu dia disana" kata Maxwel
"apa terjadi sesuatu dengan tuan muda ?" tanya Rico langsung panik membuat Maxwel terkekeh pelan
"tidak Rico, kau tahu, barusan anak ku itu menelpon dan berkata bahwa dia ingin membuka usaha disana" jelas Maxwel
"ya, hanya usaha toko sembako, tapi dia ingin membuat toko itu besar agar para pedagang pedagang kecil bisa ambil barang ditempat nya" jelas Maxwel lagi dan kali ini Rico mengangguk mengerti
"ah, jiwa bisnis nya sudah mulai keluar ternyata" jawab Rico membuat Maxwel tersenyum
"ya, dan kau tahu yang membuat ku bangga adalah dia ingin membuka toko itu untuk mengurangi jumlah pengangguran didesa itu dan dia juga malah tidak ingin aku mengirimkan nya modal, dia ingin memakai uang jajan nya saja" kata Maxwel terkekeh membuat Rico juga ikut tertawa
"mungkin tuan muda tidak enak jika harus meminta lagi tuan" jawab Rico membuat Maxwel mengangguk
"ya, aku tahu itu. Dia bahkan belum pernah memakai uang bulanan yang aku berikan untuk membeli keperluan pribadi nya. Sangat berbeda dengan Jonathan" ungkap Maxwel
"pasti karena kehidupan yang dijalani tuan muda Jovankha dulu yang memprihatinkan sehingga membuat nya tidak ingin berfoya foya" gumam Rico
"kau benar Rico, dan itu terkadang membuat ku seperti orang tua yang tidak berguna, saat aku hidup dengan segala kemewahan, anak ku malah kesusahan, bahkan untuk makan saja pasti dia selalu menahan selera" lirih Maxwel
"anda tidak salah tuan, takdir yang membawa kalian pada keadaan yang seperti itu. Dengan begitu tuan muda Jovankha bisa lebih bersyukur mendapat kemewahan yang sekarang begitu juga dengan tuan muda Jonathan, kita bisa ambil hikmah nya, jika kedua nya hidup dengan segala kenyamanan dan kemewahan saya bisa pastikan jika tuan akan pusing karena setiap bulan akan melihat tagihan kartu kredit yang tidak sedikit" kelakar Rico membuat Maxwel tertawa
"hahaha, ya, kau benar, Jonathan ku salah satu contoh nya, padahal aku ingin Jovankha seperti Abang nya membeli apapun yang dia mau, tapi seperti nya Jovankha terlalu sederhana, bahkan dari pakaian dan keperluan yang jika bukan Delisha dan Jonathan yang membelikan dia tidak akan pernah membeli sendiri" ungkap Maxwel
"dia hanya terbiasa hidup sederhana tuan" jawab Rico
"ya, seperti nya begitu. oh ya, perintahkan orang suruhan mu agar secepat nya menyusul Jovankha kesana, kalau bisa hari ini juga, agar besok semua nya bisa beres" kata Maxwel
"siap tuan" jawab Rico
Setelah itu Rico pun kembali keruangan nya dan Maxwel melanjutkan pekerjaan nya.
__ADS_1
..
Dikampung ....
Ivan terlihat membelalakan mata nya melihat nominal angka yang masuk kedalam rekening pribadi nya
"eh buset, gue gak salah ngitung angka nol nya kan ya" gumam Ivan yang masih memicingkan mata menatap ponsel nya, ya , baru saja Maxwel mengirimkan uang sebanyak 2 Milyar kerekening Ivan
"kenapa Van?" tanya Bambang pada Ivan, kini mereka tengah berada diruko yang akan disewa Ivan setelah tadi kerumah pak Tarno untuk merundingkan tempat itu
"eh, gak apa apa bang, ini bokap gue nyuruh orang buat kemari bantuin kita" jawab Ivan
"wah, keren bokap Lo Van" kata Dian berbinar
"biar urusan nya cepet kelar kata nya, lagian kita juga memang butuh orang, tempat ini harus sedikit direnovasi juga kayak nya kan" kata Ivan sembari memperhatikan ruko itu. Masih bagus karena terbuat dari bata permanen, hanya cat nya yang sudah pudar dan mengelupas dibeberapa bagian
"gimana Van, jadi nyewa nya?" tanya pak Tarno yang baru selesai melakukan panggilan telpon dengan koh Ahok
"jadi lah pak, tempat nya bagus kok, strategis juga, ya kan bang, yan" tanya Ivan pada Bambang dan Dian langsung mengangguk
"iya, udah pas disini kalo mau buka toko" jawab Dian
"koh Ahok baru kasih kabar saya, kalau kamu mau beli juga bisa karena dia juga gak mungkin kemari lagi" terang pak Tarno
"wah, kalau bisa dibeli malah lebih bagus lagi pak" kata Ivan senang, namun lain hal nya dengan Bambang dan Dian mereka saling pandang heran, dan pak Tarno nampak takjub dengan Ivan
"tapi agak mahal Van, soal nya ini ruko nya juga belum lama dibangun kan, baru dua tahunan, dipinggir lintas pula, dia buka harga 300 juta, bisa kurang sih, tapi ya gak banyak" ungkap pak Tarno
"gak apa apa pak. saya mau. tapi udah termasuk dua pintu ini kan" kata Ivan menunjuk ruko sebelah
"iya Van, udah semua. tanah nya kebelakang ada lima meter lagi yang kosong" ungkap pak Tarno lagi
"oke, bapak urus aja surat surat nya, tapi kalau bisa cepat ya pak, supaya besok sudah bisa mulai direnovasi sedikit" kata Ivan lagi sementara Bambang dan Dian masih terdiam seperti orang bodoh
"iya Van, surat nya ada sama bapak kok. nanti biar bapak yang kerumah pak RT minta tanda tangan nya, jadi nanti malam udah bisa pindah tangan" jawab Pak Tarno
"iya pak, terima kasih banyak. nanti biar saya tranfers uang nya" kata Ivan lagi dan pak Tarno pun mengangguk senang. Tak pernah dibayangkan nya bahwa pekerja nya dulu yang dikenal nya hanya sebagai pemuda pengangguran kini telah berubah menjadi seorang pemuda hebat yang bahkan bisa membeli apapun tanpa berpikir apa apa lagi
Pak Tarno pamit pergi kerumah pak RT untuk mengurus surat surat ruko itu agar cepat selesai dan tentu nya dia juga mendapat bagian nya.
Ivan, Bambang dan Dian masih diruko itu sembari bercerita tentang rencana mereka kedepan nya.
"kalo ada uang apa apa cepet beres ya, padahal pak Tarno itu sama kayak pak RT yang serba ribet kalo dimintain tolong, eh ini giliran Ivan yang Dateng, langsung gercep dia" dengus Dian
"hus, gak boleh ngomong gitu, entar denger orang" kata Bambang
"lah emang kenyataan begitu, orang kaya sekarang kan kalo sama orang susah perhitungan nya minta ampun" kata Dian lagi membuat Bambang gemas dan langsung memukul kepala nya
"noh disebelah Lo orang kaya juga, tapi gak yang kayak Lo omongin" ketus Bambang menunjuk Ivan yang terkekeh lucu mendengar pernyataan Dian, ya karena dia pernah merasakan itu dulu, selalu diremehkan orang karena tidak punya apa apa, tapi sekarang dia bagai raja yang dihargai dimana pun dia berada
"hehe, maaf Van, gue cuma kesel sama pak Tarno , Lo inget dulu kan gimana dia ngehina kita " kata Dian pada Ivan yang mengangguk
"iya, gue inget, mana bisa gue lupa. maka nya sekarang kita harus bisa beli mulut mulut mereka yang pernah ngehina kita. Kita harus bisa buat usaha ini maju, biar orang orang dikampung ini gak Mandang rendah kalian lagi" kata Ivan membuat Bambang dan Dian mengangguk setuju
"semoga kami bisa jaga amanat elu Van" kata Bambang penuh haru
__ADS_1
"pasti bisa bang yang penting yakin" jawab Ivan