Story Of The Twins

Story Of The Twins
Keluhan Dirga


__ADS_3

Pagi ini Karina sudah boleh pulang oleh dokter yang menangani nya. Ibu dan Amelia terlihat membereskan barang barang nya saat ini. Sedangkan Karina sedang disuapi sarapan oleh Jonathan. Dia sengaja tidak pergi keperusahaan hari ini agar bisa mengantar Karina pulang. Lelaki itu tidak ingin melewatkan sedikitpun waktu nya untuk menemani Karina. Meski dia harus beradu mulut dulu dengan Ivan karena harus menggantikan nya untuk rapat perusahaan pagi ini.


Semenjak Karina masuk rumah sakit beberapa hari yang lalu, pria dingin itu terlihat begitu posesif pada nya. Bahkan terkadang membuat Karina heran. Beberapa tahun menjalin hubungan sejak mereka kuliah, Jonathan adalah orang yang tidak romantis, dia kaku dan datar. Namun beberapa hari ini kekasih nya itu terlihat begitu perhatian pada nya, entah itu masalah makanan atau hal hal kecil kain nya.


"Udah kak, udah kenyang banget" tolak Karina pada Jonathan yang ingin kembali menyuapkan makanan kedalam mulut nya.


"Sedikit lagi sayang" ucap Jonathan, namun Karina segera menggeleng


"Gak sanggup" jawab Karina


"Yasudah, sekarang minum obat kamu" ujar Jonathan. Tangan nya meletakkan piring keatas meja dan meraih obat milik Karina. Dia membantu Karina meminum obat nya dengan begitu telaten.


"Ini roti sebanyak ini gimana bawa nya coba" ucap Ibu tiba tiba membuat Karina dan Jonathan langsung menoleh kearah nya.


Ibu sedang berdiri memandang tumpukan kotak makanan yang begitu banyak menumpuk disudut ruangan kamar itu. Mungkin ada beratus macam roti disana. Malam tadi Dirga bersama orang orang nya datang dan membawa semua roti roti pesanan Jonathan. Bahkan meski sudah mereka makan beramai ramai roti itu juga tidak nampak berkurang.


Tentu saja itu menjadi bahan tertawaan Ivan yang begitu geli dan takjub melihat kakak nya. Jonathan seperti mau membuka toko roti saja didalam rumah sakit itu. Mungkin roti itu bisa untuk makan seluruh dokter dan perawat yang ada disana sangking banyak nya.


"Biar aja bu, nanti orang rumah sakit yang membagi bagikan nya" jawab Jonathan


"Kakak sih, aneh banget. Bisa bisa nya mesen roti sebanyak itu, dikira mau buka toko apa" dengus Karina


"Salah kamu, kenapa tidak bilang jika roti yang dimaksud adalah roti yang tidak bisa dimakan" sahut Jonathan


"Lagian sejak kapan pembalut berubah nama menjadi roti" kata Jonathan terlihat kesal. Ibu dan Amelia langsung tertawa mendengar nya


"Karin kan malu mau bilang nya" jawab Karina dengan bibir yang mengerucut kesal.


"Wong sama tunangan sendiri kok malu. Liat jadi salah paham gini kan. Mana mesen nya bisa buat satu kampung lagi. Ibu sampek kaget liat nya" ungkap Ibu. Jonathan tersenyum tipis sembari menggaruk pelipis nya sekilas. Sebenar nya dia begitu malu karena kekeliriuan nya. Tapi rasa gengsi dan angkuh nya membuat nya tidak ingin ambil perduli dengan perkataan ibu dan goadaan Ivan malam tadi.


"Anak ibu memang payah" ucap Jonathan. Karina langsung mencubit lengan nya dengan kuat membuat Jonathan langsung meringis geli melihat wajah kesal itu


"Kakak yang payah. Gak bisa dibilangin" dengus Karina


"Udah sih, sama aja kalian. Sama sama bikin heboh" sahut Amelia yang berbicara tanpa sadar. Dia masih sibuk memasukan barang barang Karina kedalam tas nya. Namun sedetik kemudian dia langsung terkesiap dan menoleh pada Jonathan yang menatap nya dengan tajam.


"Eh, hehe, maaf kak, keceplosan" ucap nya dengan senyum getir

__ADS_1


"Lakik bini, suka banget emang godain orang" sewot Karin pada Amelia yang tertawa canggung


"Udah bawaan lahir Rin. Lagian juga ketularan kak Ivan ini" jawab Amelia. Kini dia beranjak menuju meja disamping tempat tidur Karina untuk membereskan obat obatan sahabat nya itu.


"Eh iya, kak Ivan kemana, pagi pagi banget udah pergi, biasa nya kalau belum siang belum berangkat" tanya Karina. Namun Amelia langsung menoleh pada Jonathan yang berwajah datar itu


"Dia gantiin aku rapat diperusahaan" jawab Jonathan


"Memang nya bisa?" tanya Karina heran


"Harus bisa" jawab Jonathan singkat


'Untuk bos apa yang enggak' batin Amelia yang kesal karena waktu nya bersama Ivan jadi berkurang karena ulah Jonathan.


"Mana boleh begitu" gerutu Karina namun Jonathan hanya mengendikan bahu nya acuh


...


Sementara diperusaan pusat beberapa jam kemudian....


Ivan dan Dirga baru saja keluar dari ruangan rapat perusahaan besar itu. Wajah mereka berdua terlihat kelelahan karena berada didalam ruangan yang dipenuhi oleh debat presentasi mengenai saham perusahaan. Ivan benar benar kesal sebenar nya, tapi baru ini Jonathan meminta bantuan nya, dan mau tidak mau dia harus membantu nya.


"Mimun dulu tuan" ucap Dirga yang duduk didepan Ivan yang nampak terbaring disana.


"Tuan muda mu itu bener bener keterlaluan. Untung aja aku bisa jawab meski gak nguasai keadaan, kalau enggak bisa abis kalian" gerutu Ivan kesal, Dirga langsung tertawa kecil dan meminum minuman nya


"Tuan pasti bisa, maka dari itu tuan Jonathan mempercayakan rapat kali ini tuan yang mewakilkan" ungkap Dirga namun Ivan malah mendengus


"Dia malah enak enakan disana, padahal Karina udah gak kenapa kenapa" ucap Irvan


"Tiga hari ini tuan Jonathan memang berbeda, seperti nya otak nya hanya dipenuhi oleh Karina saja" ungkap Dirga dan Ivan langsung mengangguk setuju


"Bener. Liat aja kelakuan nya malam tadi, bisa bisa nya nyuruh kalian beli roti sebanyak itu" kata Ivan tertawa lucu


"Ya, anda tidak tahu saja perjuangan kami mendapatkan nya. Saya sampai harus mengerahkan puluhan orang untuk menyebar disetiap sudut ibukota untuk mendapatkan roti roti itu. Belum lagi saat membawa nya masuk kerumah sakit, orang orang dirumah sakit itu mengira jika saya ingin membuka toko roti disana" sahut Dirga dengan gelengan kepala nya.


"Hahaha, yang lebih parah nya itu terjadi hanya karena salah paham, padahal roti yang diinginkan Karina bukan roti yang bisa dimakan" Ivan langsung tertawa geli melihat wajah Jonathan yang terperangah saat Karina memberi tahu jika dia ingin roti bantal alias pembalut, bukan roti makanan.

__ADS_1


"Tuan muda Jonathan memang sedikit aneh jika menyangkut nona Karina. Dan lagi sudah tiga hari bahkan tidak ada satupun cv yang dia terima untuk menjadi sekretaris baru nya" ungkap Dirga lagi.


Ivan langsung bangkit dan duduk dengan benar, tangan nya meraih minuman kaleng yang dibawa Dirga dan meminum nya hingga setengah.


"Apa yang melamar semua wanita?' tanya Ivan pada Dirga yang langsung mengangguk


"Sebaik nya kau urungkan jika begitu. Mau sampai seribu yang mendaftar juga pasti tidak akan diterima nya" jawab Ivan lagi


"Kenapa?" tanya Dirga


"Tuan muda Jonathan mu itu kalau udah benci, semua jadi ikutan salah. Mending cari sekretaris lelaki aja. Yakin deh bakalan diterima" jawab Ivan membuat Dirga langsung mengernyit heran


"Kenapa begitu, jadi tidak seru" gumam Dirga dan kini gantian Ivan yang mengernyit bingung memandang Dirga


"Tidak seru kenapa lagi?" tanya Ivan heran


"Apa tuan tidak mengerti, satu harian disibukan dengan ribuan angka dan huruf membuat otak butuh asupan vitamin. Jika tidak ada yang enak dipandang bagaimana mungkin otak saya ini bisa segar kembali" ungkap Dirga membuat Ivan langsung mendengus senyum


"Maka nya cari istri" sahut Ivan


"Bagaimana mau cari istri, setiap hari hanya disibukan dengan urusan perusahaan, belum lagi permintaan diluar nalar nya" ungkap Dirga. Ivan yang mendengar itu langsung terkekeh lucu. Yah, Jonathan memang semerepotkan itu, bahkan dia tahu, hanya untuk menyiapkan kejutan kejutan kecil untuk Karina saja, Dirga yang harus turun tangan.


"Yah, nikmati lah waktu mu. Kau yang mau menjadi asisten nya sejak dulu" ejek Ivan membuat Dirga tampak menghela nafas nya.


"Ya, hidup saya sudah terbiasa dengan dia" jawab Dirga


"Tenang saja, setelah menikah nanti dia pasti tidak akan membuat mu pusing lagi" kata Ivan


"Tidak tahu juga" balas Dirga.


Sekarang saja dia sudah dipusingkan dengan sikap Jonathan yang berubah ubah, apalagi nanti jika dia sudah menikah, ya Dirga tidak bisa membayangkan nya.


"Sudah lah. Aku mau kembali keperusahaan ku" ucap Ivan yang beranjak dari duduk nya sembari membenarkan sedikit jas kerja nya


"Cepat sekali tuan" sahut Dirga yang juga ikut berdiri


"Jika aku tidak kembali, perusahaan ku yang akan menjadi yatim gara gara kalian. Dan jangan sampai Faiz yang mengeluh setelah ini" ungkap Ivan, dan Dirga langsung tertawa kecil mendengar nya.

__ADS_1


Karena Jonathan mereka sungguh begitu sibuk beberapa hari ini.


__ADS_2