
Sudah seminggu sejak pulang dari rumah sakit Ivan dan Toni yang menggantikan pak Tarman mengurus kebun nya. Sejak pagi menjelang siang Ivan yang bertugas mengurus kebun sementara Toni menggantikan Ivan sejak pulang dari sekolah hingga sore hari. Mereka mengurus kebun dibantu oleh beberapa orang suruhan pak Tarman. Jadi pekerjaan mereka tidak terlalu berat hanya mengawasi saja atau bekerja jika perlu.
Ivan dan Faiz tetap mengamen seperti biasa namun waktu nya tidak lagi terlalu lama.
Hanya siang hari sampai sore saja.
Seperti hari ini Ivan dan Faiz baru pulang dari mengamen.
Mereka tengah duduk diperbatasan kampung sambil beristirahat.
"Van, bulan depan kita udah bisa daftar kuliah deh kayak nya" kata Faiz sambil menghitung uang recehan yang berada ditangan nya
"apa uang nya udah cukup Iz,? " tanya Ivan lagi sembari menatap Faiz
"udah kok, kemaren udah gue itung, ada lebih nya sedikit. Cukup untuk kita ngekos" jelas Faiz
"syukurlah, gue udah pengen banget kuliah" kata Ivan memandang kearah jalan lintas diseberang sana
"lo kira lo aja, gue juga kali" ucap Faiz lagi yang masih menghitung uang recehan
"hehe, yauda berarti untuk sebulan ini kita ngumpulin buat pegangan yakan, nanti disana kita cari cari kerja juga buat sehari hari" jelas Ivan sambil menatap Faiz
Dan Faiz hanya mengangguk menyetujui.
"iya, nih lo ngambil berapa, gue 20 ya", kata Faiz
"yauda sama aja" jawab Ivan pula.
Setelah berbagi mereka pun pulang kerumah masing masing.
Sesampainya dirumah Ivan melihat Toni sedang duduk diteras rumah nya bersama pak Tarman dan juga Sari.
"baru pulang Van? " sapa pak Tarman
"iya pak" jawab Ivan dan duduk disebelah Toni
"dari mana aja koe, dari siang ora kelihatan" tanya Sari ketus seperti biasa nya
"dari rumah Faiz bu" kilah Ivan
"keluyuran aja tau mu itu, kebun itu diurus, jangan main aja" ucap Sari melengos menatap Ivan.
"iya bu, yauda aku masuk dulu" kata Ivan dan melangkah masuk kedalam rumah.
Toni hanya diam melihat sikap ibu nya yang selalu saja seperti itu pada Ivan.
Toni tahu bahwa setiap hari Ivan pergi mengamen bersama Faiz dan uang mengamen nya disimpan untuk biaya kuliah Ivan.
Toni tidak berani bilang apapun pada ibu nya karena Ivan juga menyembunyikan hal ini. Ia tau karena Faiz telah menceritakan semua tentang keinginan Ivan dan Ivan yang diam diam mengamen dijalanan.
Jauh didalam lubuk hati nya dia merasa kagum dengan sosok Ivan walau pada kenyataan nya mereka bukan saudara kandung.
Malam telah larut. Nampak jam didinding kamar Ivan sudah menunjukan pukul 9 malam.
__ADS_1
Ivan tengah berbaring sambil menatap langit langit kamar nya yang sudah lusuh.
Ting
Sebuah pesan masuk.
Ivan yang menyimpan ponsel didalam lemari nya pun bergegas mengambil ponsel itu.
Tampak sebuah pesan masuk dari Jonathan.
(bang Jo)
"apakah kamu sudah tidur Van"
(ivan)
"belum bang, ada apa bang ?"
(bang jo)
"bisakah kita berbicara"
(ivan)
"oke bang, sebentar dulu ya. Nanti biar aku yang telpon"
Ivan pun segera bergegas keluar rumah mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.
..
Jonathan tengah memegang ponsel nya menunggu panggilan dari Ivan.
Entah kenapa malam ini ia ingin berbicara dan bercerita dengan Ivan.
Drrrrtt drrrtt
Suara ponsel nya bergetar
Dia pun segera mengangkat nya.
Jo: halo Van
Ivan: hai bang, gimana kabar
Jo: saya baik baik saja. Maaf kalau mengganggu waktu mu
Ivan: enggak kok bang, aku gak lagi sibuk juga. Hehe
Jo: kapan kamu pergi ke Jakarta lagi Van
Ivan : belum tau bang, mungkin seminggu lagi, ngantar hasil panen bapak ke pasar. Kenapa bang
Jo: tidak ada. Emmh van, apakah kamu berpikir kalau hidup ini aneh?
__ADS_1
Ivan: maksud abang
Jo: ya maksud saya apakah kamu juga merasakan apa yang sedang saya rasakan, terkadang saya bingung kenapa wajah kita begitu mirip, sedangkan kita tidak mempunyai hubungan apa apa
Ivan : iya sih bang, sebenernya aku juga gitu. Bingung sampek kadang gak bisa tidur mikirin nya. Hehe. Tapi mungkin Tuhan punya rencana dibalik ini semua bang
Jo : ya mungkin saja.
Ivan : tapi aku seneng bisa kenal sama abang, abang orang baik, baru kenal abang udah banyak bantuin aku
Jo: itukan sudah kewajiban kita harus saling tolong menolong
Ivan: hehe iya sih bang. Muka kita sama, tapi nasib kita yang beda. Yakan bang
Jo: hmh, ya kamu benar Van. Mungkin nasib mu lebih baik dari pada saya Van
Ivan: loh kok gitu,
Jo: saya lihat memang seperti itu
Ivan: abang ini ngawur, ya jelas abang lebih beruntung lah. Semua yang abang mau abang bisa beli, abang juga bisa kuliah kan. Jauh lebih beruntung dari pada aku bang.
Jo : semua memang bisa saya beli Van, tapi tidak dengan kebebasan
Ivan : hah, maksud abang
Jo : ya semua bisa saya beli dengan uang, tapi tidak dengan kebebasan. Kamu bisa lihat sendirikan kemana pun saya pergi selalu diikuti oleh pengawal pengawal itu, berbeda dengan kamu
Entah kenapa Jonathan yang biasa nya pendiam dan pelit bicara kini dengan Ivan ia bisa mengungkapkan semua isi hati nya.
Ivan: iya ya, kenapa begitu bang
Jo: saya juga tidak tau, orang tua saya bilang ini demi kebaikan saya. Sejak kecil saya selalu diperlakukan seperti itu
Ivan: berarti kita terbalik bang, aku memang dibebaskan melakukan apa pun yang aku mau, tapi semua ya itu terhalang dengan ekonomi. Mau apa apa harus kerja dulu, kalau gak kerja ya gak makan
Jo : iya, terkadang aku bosan. Melihat mu aku berasa iri Van
Ivan: haha, abang bisa aja. Padahal aku yang berasa iri liat abang. Semua bisa dicapai dengan mudah
Jo : kamu tak mengerti rasa nya jadi saya Van
Ivan : abang juga gak ngerti berat nya jadi aku bang.
Jo : Mungkin saya kurang bersyukur, tapi sesungguh nya saya hanya merasa bosan hidup seperti ini
Ivan : nasib kita berbeda bang, aku melihat Abang seperti Abang itu udah memiliki kehidupan yang sangat sempurna, sedangkan aku untuk hidup saja harus berjuang lebih dulu.
Jo : entahlah, orang memang mengira kehidupan ku sudah sangat sempurna, tapi aku tidak merasa seperti itu, hidup dalam pengawasan terus menerus itu sungguh membuat ku tertekan
Ivan : inti nya, kita harus bisa bersyukur ya bang
Jo : ya, mungkin seharus nya memang begitu
__ADS_1
Mereka bercerita hingga malam larut. Seperti sudah mengenal lama tak ada yang mereka tutup tutupi satu sama lain. Hanya tentang pak Tarman dan bu sari Ivan tak memberitahukan pada Jonathan.
Begitulah ikatan saudara yang tak mungkin bisa terputus walau sudah terpisah lama.