
Ivan tertawa lucu melihat ekspresi wajah Amelia yang memerah menahan kesal sekaligus lelah.
Dada nya terlihat naik turun dengan deru nafas yang begitu cepat.
Tubuh nya terbungkuk seiring dengan tangan nya yang mengusap peluh dikening nya.
"kakak, nyebelin banget sih" seru nya kesal yang tidak berdiri jauh dari tempat Ivan berada
Ivan masih terbahak melihat wajah kesal Amelia yang begitu lucu dipandangan nya. Dia berjalan mendekat kearah gadis itu dan langsung mengusap keringat yang mengalir diwajah imut itu, membuat Amelia lagi lagi tertegun, Ivan selalu bisa merubah mood nya dengan cepat.
"maka nya punya badan itu besaran dikit, jadi bisa cepet lari nya" kata Ivan membuat Amelia mendengus gerah
"kakak aja yang ketinggian, seperti tiang listrik" balas nya dengan wajah cemberut
"haha, emang kamu nya aja yang kecil, kenapa jadi kakak yang salah" jawab nya santai
"udah yuk, kita istirahat disana" ajak Ivan menunjuk sebuah pondok atau saung yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Amelia mengangguk cepat sembari menoleh kearah tunjuk Ivan. Mereka berjalan santai namun terlihat berhati hati karena jalananan disawah itu memang agak licin.
Amelia sesekali terlihat hampir terpeleset, begitu kesusahan karena ini memang perjalanan pertama nya didaerah perkampungan.
Meski terlihat sulit namun dia begitu menikmati waktu nya disore hari itu. Angin didaerah pegunungan ditengah sawah itu benar benar segar dan begitu sejuk, membuat nya begitu nyaman dan tenang berada disana.
Ivan berjalan didepan nya dengan santai sembari mengedarkan pandangan nya keseluruh area persawahan dikaki gunung itu.
Sedang Amel berjalan dibelakang nya dengan sesekali menoleh kearah dimana Jonathan dan Karin berada, masih jauh dari tempat nya berada, mereka berjalan sembari bercerita dengan tangan Jonathan yang menuntun gadis itu, ah , benar benar romantis meski hanya hal sederhana, dan Amel begitu iri melihat nya.
Sikap Jonathan begitu berbeda dengan Ivan , begitu dingin dan datar, namun entah kenapa menurut nya Jonathan lebih bisa mengerti tentang perasaan orang lain ketimbang Ivan yang sikap nya jauh lebih ramah.
Kini Amel menatap punggung Ivan yang berjalan mendahului nya, jika boleh dia berharap, ingin sekali dia menggandeng lengan kekar itu sebagai kekasih nya, sebagai seseorang yang bisa menjadi tempat nya berteduh. Tapi dia memang tidak boleh terlalu berharap banyak, Ivan yang seperti ini saja sudah cukup membuat nya merasa terhibur ditengah sepi nya kehidupan yang dia jalani, meski sering dia rasakan kebahagiaan itu datang dengan luka yang sekaligus ditorehkan oleh Ivan dihati nya yang lembut.
"Vaannn!!!" seru seseorang dari arah berlawanan, Ivan tersenyum dan melambaikan tangan nya pada Bambang yang memanggil nya. Mereka juga baru tiba ditempat itu.
Sedari tadi mereka sudah melihat Ivan dan Amelia, namun mereka ragu untuk memanggil nya, karena takut salah orang seperti biasa.
"wah bos, bawa gandengan Lo ya, gila gila cakep" sahut Dian
Ivan hanya tertawa sembari melirik Amelia yang masih berjalan beberapa langkah dibelakang nya
"temen gue" jawab Ivan pada Bambang dan Dian yang masih memperhatikan Amelia yang rupa nya memang sedikit kebule bulean, dan juga karena tubuh nya yang kecil dan imut yang membuat nya jadi terlihat berbeda.
"bukan cewek Lo?" tanya Bambang tersenyum usil
"temen" jawab Ivan lagi
"cakep Van, gue kira bidadari yang turun kesawah tadi" kelakar Dian, Amel yang baru tiba ditempat itu menatap heran teman teman Ivan yang sesekali mencuri pandang pada nya.
"haha, kenalin, dia Amelia, temen kuliah gue juga" kata Ivan pada Bambang dan Dian
"Mel, kenalin mereka temen aku" kini Ivan beralih pada Amel yang menerbitkan senyum nya pada Bambang dan Dian membuat dua pemuda itu terpesona melihat senyum gadis mungil itu.
Selama ini mereka hanya melihat Karin yang paling cantik sebagai primadona didesa itu, namun kini ada yang berbeda, mereka sama sama cantik dengan karakter yang berbeda.
Karina cantik natural alami sedangkan Amelia seperti nya dia terlahir dari keturunan yang berbeda, karena wajah nya memang berbeda dari penduduk asli Indonesia. Mata nya yang bulat berbinar indah, hidung nya bangir namun kecil memanjang, alis nya sedikit tebal namun rapi, bulu mata nya begitu lentik alami, bibir tipis kecil sedikit bervolume berwarna pink segar serta pipi nya juga tirus namun terlihat menggemaskan karena dipadukan dengan tubuh nya yang kecil.
__ADS_1
"Bambang" ucap Bambang sembari mengulurkan tangan nya
"Amelia" jawab Amelia menyambut uluran tangan Bambang
"Dian, temen Ivan yang paling ganteng dikampung ini" kata Dian pula membuat Ivan dan Bambang mendengus gerah namun Amelia malah tertawa
"Amelia" jawab nya ramah
"cantik bener, kenapa mau sih dibawa Ivan kesawah kayak gini. kulit mulus kamu nanti rusak Lo" kata Dian menatap Amelia yang memang memiliki kulit putih bersih dan bening dibanding dengan Karina
" gak papa kak, disini enak. Amel suka" jawab Amel
"pasti belum pernah ya ketempat kayak gini?" tanya Dian, Ivan dan Bambang sudah lebih dulu duduk diatas saung itu, sedangkan Amel dan Dian masih berdiri didepan saung sembari menikmati pemandangan disana, sebenar nya hanya Amelia saja yang mengamati area itu sedangkan Dian masih menatap kagum dengan gadis yang dibawa Ivan
"hehe iya, ini kali pertama nya. jadi Amel masih ngerasa takjub aja. pengen lama lama disini, tempat nya tenang banget" jawab Amel
"waahhh , aku percaya sih. kamu kan anak kota ya. hehe, kalau kamu mau aku bisa lah bawa kamu jalan jalan keliling kampung sini, apalagi di perbatasan hutan sama sawah diseberang sana, ada air terjun nya, kamu pasti lebih takjub lagi" jelas Dian membuat Amel langsung menoleh kearah nya
"beneran kak?" tanya Amel dan Dian langsung mengangguk
"yah, tapi sayang, besok kami udah harus pulang. jadi waktu nya cuma sore ini aja" ungkap nya kesal
"sayang bener, tinggal aja lah beberapa hari lagi" harap Dian masih menatap wajah cantik gadis itu
"gak usah godain anak orang deh Lo. disambet bapak nya tau rasa Lo" seru Bambang membuat Dian mendengus kesal sedangkan Amelia tertawa dan melirik Ivan yang juga ikut tertawa
"sini Mel duduk, capek kan habis lari lari tadi" ajak Ivan sembari menepuk tempat disebelah nya, Amel pun langsung beranjak dan berjalan mendekat kearah dimana Ivan berada
"sirik aja Lo berdua, baru juga Nemu kebahagiaan gue, kapan lagi coba ada bidadari yang turun kesawah kayak gini" dengus nya
" suka banget deh ngejekin Amel, body shaming itu tau" ketus nya membuat Ivan terbahak
"dia emang gitu Mel, ngungkapin perasaan nya dengan cara yang berbeda, dia ngejek tapi sebenar nya mengagumi" jawab Bambang membuat Amel terkesiap dan Ivan masih saja tertawa
"mengagumi dari mana. modelan kak Ivan emang begini dari jaman dulu" sahut Amel
"iya, mata nya meleng ni anak, gak bisa ngeliat cewek secakep ini" kata Dian pula
"sembarangan Lo, ganteng gini dibilang Meleng" dengus Ivan
"atau jangan bilang Lo belum move on" terka Dian dan kali ini Ivan, Bambang dan Amelia langsung terkesiap membuat Dian langsung menutup mulut nya dan tertawa canggung
"hehe keceplosan gue" kata nya lagi
"sialan lo" ketus Ivan
"kan gue nanyak, Lo kayak belum bisa move on, Sampek cewek secakep ini dianggurin" kata Dian lagi
"ssstt diem lah. itu orang nya Dateng" sahut Bambang pelan melirik Karina dan Jonathan yang sudah mendekat kesaung dimana mereka berkumpul. Amelia masih terdiam menatap Ivan yang tidak perduli dengan perkataan teman nya dan menoleh kearah Karina yang tersenyum manis dalam genggaman Jonathan
"hai kakak kakak , apa kabar" sapa Karina ramah, dia melambaikan sebelah tangan nya pada mereka dan sebelah nya lagi masih berada dalam genggaman Jonathan
Terlihat jelas posesiv nya makhluk es itu, terbukti setiap Karina ingin melepaskan tangan nya namun ditahan oleh Jonathan apalagi ketika melihat kedua teman Ivan itu, atau ada sesuatu yang lain yang membuat nya tidak merasa risih atau malu.
"baik dong, makin baik kami mah" jawab Dian
__ADS_1
"apa kabar Jo?" tanya Bambang pada Jonathan yang masih berwajah datar itu
"baik" jawab Jonathan singkat sembari membungkukan sedikit kepala nya
"kita ngapain ya enak nya ini" tanya Ivan pada yang lain.
"nyanyi aja kak. itung itung nostalgia" jawab Karina
"iya , kebetulan gue bawa gitar" jawab Dian pula
"gue juga bawa minuman sama cemilan ini, buat ngilangin haus" kata Bambang pula
"boleh lah, cus mulai" kata Ivan langsung merebut gitar dari tangan Dian. Jonathan mengambil minuman kaleng didekat Bambang sedangkan Amelia masih terdiam memperhatikan mereka satu persatu
Ivan mulai memetikan senar gitar hingga membentuk sebuah alunan lagu indah ditambah suara nya yang memang merdu.
Dia menyanyikan lagu yang berjudul Cinta Karena Cinta yang populer dibawakan oleh Judi*a.
Bambang dan Dian ikut menyanyi begitu pula dengan Karina. Mereka terlihat begitu menikmati waktu kebersamaan mereka.
Hingga waktu beranjak dan beberapa lagu telah mereka nyanyikan. Ivan masih asik dengan gitar nya dan Karina yang memang selalu senang ketika mendengar suara Ivan juga ikut terus menyanyi.
Jonathan tersenyum tipis melihat Karina yang menyanyi dengan senyum yang terus mengembang diwajah cantik nya, tangan nya masih terus berada dalam genggaman Jonathan. Dia kini berada diantara Jonathan dan Ivan, sedangkan Amelia berada disebelah Ivan. Sedari tadi dia hanya diam dan tersenyum getir, bagaimana tidak Ivan sibuk menyanyi namun pandangan nya hanya tertuju pada Karina, mereka terlihat seperti berduet bersama tanpa memperdulikan dia yang ada disebelah nya.
Amel menarik nafas nya dengan berat dan memalingkan wajah nya menatap hamparan sawah yang begitu luas dibawah kaki gunung itu. Dia mulai melangkah meninggalkan saung itu untuk berjalan jalan sebentar. Tidak ada seorang pun yang menyadari kepergian nya karena mereka sibuk bernyanyi, hanya Bambang dan Dian yang tahu namun mereka hanya diam saja.
Amel menoleh sekilas dan menatap kearah Ivan yang masih sibuk dengan gitar nya bersama Karina. Dia langsung berjalan kearah belakang saung dengan senyum nya yang terlihat getir
"bahkan dia tidak memperdulikan keberadaan ku disana" lirih nya dengan mata yang memandang nanar area persawahan itu.
Angin berhembus menerpa helaian anak rambut nya hingga meninggalkan sensasi dingin diwajah nya. Cukup untuk menenangkan hati nya yang terasa panas saat ini.
"apa aku begitu tidak penting kak. Kau menganggap ku ada ketika kau membutuhkan ku, selebih nya aku hanya figuran dalam hidup mu" gumam nya lagi, langkah kaki nya terus berjalan tanpa tujuan, tapi sayup sayup dia mendengar gemuruh seperti air yang mengalir. Dan benar saja, beberapa menit dia berjalan, didepan nya sedikit menjorok kebawah ada sebuah sungai berbatu yang arus nya lumayan deras.
Kaki nya perlahan berjalan menuruni bebatuan menuju pinggir sungai itu.
Sedikit licin karena berlumut, namun Amel begitu tergoda melihat air sungai itu yang begitu jernih bahkan meski arus ditengah cukup deras namun dipinggiran sungai itu begitu indah. Hingga dia ingin merasakan sensasi kesejukan air nya.
Tertatih tatih dia berjalan hingga akhir nya kaki nya tiba dan menapak dipinggir sungai diatas sebuah batu besar. Dan benar saja udara begitu sejuk dan dingin hingga menembus tulang nya.
Amel merentangkan tangan nya dan memejamkan mata nya menikmati percikan air yang membias diatas batu yang diterjangnya.
Ah sungguh begitu menyejukan, setelah puas menikmati suasana dia berjongkok dan mulai memasukan tangan nya kedalam air, dan membasuh wajah nya dengan air itu, terasa ringan, hingga sedikit beban hati nya berkurang
"hah, harus nya hati ku tahu diri untuk tidak jatuh pada mu kak" batin Amel. Dia duduk diatas batu besar sembari melepas sepatu nya hingga menampakan kaki putih nya yang mulus yang dia masuk kan kedalam air sungai hingga arus nya menghantam lembut kaki indah itu.
"entah sampai kapan, tapi jika terlalu lama hati ku pasti bisa mati. seharus nya jika kau tidak bisa membalas nya, coba lah untuk bisa menghargai nya sedikit kak" lirih nya tertunduk. Mata nya berkaca kaca menahan sakit dihati nya, yang hanya dia seorang yang tahu
...
Disaung tempat Ivan berkumpul
"loh kak Amel kemana?" tanya Karin saat Ivan telah menyelesaikan nyanyian nya
Ivan terkesiap dan menoleh kesebelah nya yang memang gadis itu tidak ada lagi, dia mengedarkan pandangan nya kesegala arah namun tak juga ditemui nya gadis bertubuh mungil itu.
__ADS_1