Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kampung Halaman


__ADS_3

Mata Ivan berbinar dengan senyum yang mengembang diwajah tampan nya ketika memasuki kawasan perdesaan itu. Tidak banyak berubah, masih sama seperti saat terakhir kali dia melihat nya.


Yang berbeda hanya beberapa rumah dan toko toko yang banyak dibangun warga disana, namun tetap saja, pemandangan disana tidak berubah sama sekali, masih terasa menenangkan.


Ivan memelankan laju kendaraan nya ketika dia hampir tiba didepan rumah bapak dan ibu nya.


Lagi lagi dia tersenyum saat melihat Sari sedang menyapu diteras rumah itu.


Dari jauh Sari melihat sebuah mobil mewah menuju rumah nya, dan dia langsung berteriak memanggil pak Tarman yang sedang menganyam tikar disamping rumah.


Bukan hanya pak Tarman yang terkejut, namun juga beberapa tetangga mereka yang langsung keluar rumah karena teriakan Sari dan juga penasaran siapa pemilik mobil mewah itu. Karena sudah lama kampung mereka tidak didatangi oleh mobil mobil mewah, hanya sesekali Toni datang dengan memakai mobil yang dibeli dari hasil jerih payah nya, namun tidak semewah milik keluarga Ivan.


Dengan tergopoh gopoh pak Tarman mendatangi Sari yang masih memandangi mobil mewah milik Ivan


"Eneng opo sih Bu" tanya pak Tarman


"itu Lo, pak, siapa?" tanya Sari menunjuk kearah luar pagar rumah mereka, membuat pak Tarman langsung melihat sebuah mobil yang berhenti didepan pagar rumah yang tertutup itu


"siapa ya, dia berenti didepan rumah" gumam pak Tarman sembari berjalan mendekat kepintu pagar


Mata nya terbelalak kaget saat melihat yang keluar dari dalam mobil adalah Ivan, anak angkat yang telah lama tidak ditemui nya


"Ivan" gumam nya begitu terkejut


"bapak, apa kabar?" tanya Ivan yang langsung mendekat dengan senyum nya yang lebar


"ya Allah, ini koe Van, koe udah pulang?" ucap pak Tarman begitu senang, dia langsung membuka pagar dibantu oleh Ivan


"hehe, iya pak, baru berapa hari, baru sempet kesini" sahut Ivan sembari mencium tangan pak Tarman yang langsung menarik dan memeluk nya


Sari dan beberapa warga datang mendekat kearah mereka, karena tahu yang datang ternyata adalah Ivan.


"ibu, sehat kan?" tanya Ivan kini beralih pada Sari dan memeluk nya dengan erat


Sari menepuk punggung Ivan dengan senang


"sehat Van, ibu sehat. Walah, udah lama gak ketemu, koe tambah ganteng Van, mirip artis artis yang ditivi itu" ucap Sari begitu kagum pada Ivan yang sekarang, bukan Ivan yang cengengesan dan urakan lagi, wibawa dan pesona nya kini sudah benar benar nampak nyata, membuat semua tetangga pak Tarman menatap kagum pada nya


"ibu bisa aja, Ivan kan memang udah ganteng dari dulu" jawab Ivan membuat semua orang disana tertawa mendengar nya


"dulu mah memang ganteng, tapi yang sekarang lebih ganteng lagi Van, ah rasanya gak nyangka kamu pernah hidup disini kalau ngeliat kamu yang sekarang" ungkap salah seorang warga


Ivan langsung tertawa mendengar nya


"kamu baru selesai sekolah ya Van, lama gak kesini" tanya warga itu lagi


"iya mang, baru beberapa hari juga pulang, baru sempat jenguk ibu sama bapak" jawab Ivan begitu ramah.


Dia menyalami satu persatu orang orang yang ada disana begitu ramah


"yowes ayok masuk dulu, kamu pasti capek" kata Sari dan Ivan langsung mengangguk

__ADS_1


"iya Bu, sebentar, Ivan bawa banyak oleh oleh dari kota, nanti amang sama ibu ibu berbagi" kata Ivan langsung berlari dan membuka mobil nya dengan cepat.


Dia mengeluarkan beberapa kantong plastik besar dan paper bag yang berisi makanan makanan dari kota, seperti roti rotian, pizza juga Snack Snack mahal yang sempat dibeli nya dipusat toko oleh oleh sebelum kemari


"ini, ini banyak, dibagi bagi ya Bu, mang" kata Ivan sembari menyerahkan itu dibantu oleh beberapa warga


"wah, kamu baik sekali, terimakasih ya Van" kata ibu ibu disana dengan wajah yang sangat gembira.


Mereka begitu senang mendapatkan oleh oleh dari Ivan, bahkan mereka memeluk Ivan bergantian karena bahagia nya, walaupun Ivan kaya raya, tapi dia tidak pernah sombong ataupun melupakan mereka.


"iya, yasudah, Ivan masuk dulu ya Bu, mang" ucap Ivan lagi


"iya terimakasih Van" seru mereka bersamaan


Ivan pun masuk kedalam mobil nya kembali untuk memarkirkan mobil itu tepat didepan rumah pak Tarman.


Dia keluar dengan tentangan di tangan nya yang penuh


"bawa apa sih Le, banyak banget" tanya Sari yang langsung membantu Ivan, begitu pula pak Tarman


"oleh oleh buat ibu sama bapak" jawab Ivan


"Oalah, kami koe Dateng wes seneng Van. Bapak udah kangen, tiga tahun kita gak jumpa" ungkap pak Tarman sembari membawa masuk beberapa barang dari tangan Ivan


Mereka masuk kedalam rumah dan meletakan semua barang barang bawaan Ivan diatas meja hingga meja itu penuh


"Ivan juga kangen pak, buk, tiga tahun dinegeri orang boleh juga lah" balas Ivan membuat pak Tarman terkekeh sedangkan Sari langsung beranjak kedapur namun suara nya masih terdengar hingga kedepan


"enak disana Van, pasti wong bule semua ya" kata Sari dari arah dapur


Sari langsung tertawa mendengar nya, dia baru datang dari dapur dengan membawa dua gelas teh hangat ditangan nya


"jadi kalau gak makan nasi makan opo to Van?" tanya Sari pula, kini tangan nya membuka satu persatu paper bag diatas meja


"makan roti, makan mie, ya makan makanan orang bule lah Bu, payah jelasin nya, nama nya ribet" jawab Ivan membuat pak Tarman dan sari tertawa kembali


"tapi badan mu sehat kok, si Faiz juga sekarang udah ganteng dia, udah kurusan, kekar juga" kata Bu sari membuat Ivan langsung tertawa karena ingat Faiz yang begitu berjuang untuk membentuk tubuh ideal nya


"olahraga Bu" jawab Ivan


"Oalah ini kok banyak bener ya, makanan, pakaian, bagus bagus lagi" gumam Bu Sari masih asik dengan bawaan Ivan


"iya, itu sebagian dari mama, sebagian Ivan bawa dari Amerika" ungkap Ivan


"mama kamu baik banget ya Van, kadang dia kirimin juga makanan kota kalo Toni pulang kemari" ungkap Sari, membuat Ivan langsung tersenyum


"nama nya keluarga Bu" jawab Ivan


"Toni udah jarang pulang ya pak" tanya Ivan sembari menyeruput teh nya


"iya, paling setahun bisa dihitung berapa kali dia pulang, kata nya gak bisa libur lama lama, gak enak sama tuan Maxwel, kerjaan nya juga banyak" jawab pak Tarman

__ADS_1


"bapak sama ibu pasti sepi disini" gumam Ivan menatap sendu dua orang tua yang telah membesarkan nya itu. Wajah mereka sudah terlihat tua, bahkan keriput telah menghiasi wajah sendu itu


"gak papa Van, ada tetangga disini, bapak juga sering kepeternakan sama ngeliat kebun, jadi gak terasa sepi nya" jawab pak Tarman


"iya, lagian ibu sama bapak udah seneng, anak anak kami udah pada kerja, udah sukses, kemaren itu siToni Sampek nangis seneng dia bisa beli mobil sendiri hasil kerja dia" ungkap Sari dengan mata yang berkaca kaca namun tetap tertawa menatap Ivan yang juga ikut tersenyum bangga


"iya, Toni memang hebat, kerja diperusahaan itu gak gampang, banyak aturan nya pak, bu. Gak bisa sembarangan, dan Toni bisa betah kerja disana udah alhamdulilah" balas Ivan


"la ya wong gaji nya gede, padahal dia cuma karyawan tetap" kata Sari


"yakan perusahaan besar, wajar lah Bu" sahut pak Tarman cepat membuat Ivan dan Sari langsung mengangguk


"jadi setelah ini apa rencana mu Van" tanya pak Tarman


"kerja pak, papa nyuruh Ivan buat ngurus perusahaan" jawab Ivan


"bareng nak Jonathan" tanya pak Tarman lagi


"iya pak" sahut Ivan


"setelah itu nikah lah Van, biar ibu cepet punya cucu" kata Sari membuat Ivan langsung tersedak mendengar nya


"belum lah Bu, papa masih nyuruh Ivan kerja dulu" jawab Ivan sembari meneguk air putih


"lah ya kan sekalian, kamu masih sama anak cantik dan imut kan, siapa sih nama nya, ibu lupa" kata Sari dengan dahi yang mengernyit bingung


"Amelia Bu" jawab Ivan


"nah iya itu, nanti ibu jamin anak kalian pasti cantik dan ganteng ganteng" kata Sari lagi membuat Ivan langsung tertawa lucu, belum apa apa ibu nya itu sudah jauh memikirkan kesana


"hehe, nanti kalau sudah waktu nya Ivan pasti bilang sama ibu dan bapak" jawab Ivan


"iya, wong masih muda juga" sahut pak Tarman


"udah mau dua puluh enam kan Van" tanya Sari dan Ivan langsung mengangguk


"nah, udah pas itu untuk nikah. Ah iya, si Bambang temen kamu dulu juga lusa mau nikahan dia sama gadis kampung sebelah" ungkap Sari membuat Ivan terkesiap


"bener Bu?" tanya Ivan


"iya, koe datengin aja, dia pasti seneng koe bisa Dateng" kata Sari lagi


"iya, aku juga mau kesana nanti" sahut Ivan


"oh ya Bu, malam ini tolong masakin makanan kesukaan Ivan ya, hehe" ucap Ivan lagi


"rendang jengkol, ikan bakar, sambel terasi sama lalapan" kata Sari membuat Ivan langsung mengangguk senang


"wah ibu masih ingat" jawab Ivan senang


"ya iya lah, gak ada lagi yang minta dibuatin itu kalau koe gak ada" kata Sari membuat Ivan dan pak Tarman terkekeh

__ADS_1


"hehe, iya Bu, tiga tahun gak ngerasain makan itu, udah kangen" jawab Ivan


"ya, asal jangan lupa sama rasa nya Van, takut nya koe gak doyan udah keseringan makan roti disana" ejek pak Tarman membuat Ivan kembali tertawa lagi


__ADS_2