Story Of The Twins

Story Of The Twins
Takdir Yang Aneh


__ADS_3

Selama perjalanan pulang kekampung nya, Ivan lebih banyak diam, fikiran nya masih menerawang tentang apa yang dia lihat saat dikota tadi. Entah memang hanya kebetulan atau salah melihat, namun hal itu membuat fikiran nya sedikit terganggu.


Setelah tiba dirumah,  Ivan langsung bersih bersih dan masuk kedalam kamar.  Sementara kang Tejo sedang mengobrol dengan pak Tarman dan beberapa warga.


"gue kok masih kepikiran yang tadi ya,  kenapa tu anak mirip banget sama gue? Ini bahkan udah yang kedua kali gue lihat dia" kata Ivan sendiri sambil berbaring menatap langit langit rumah nya yang mulai usang dan rapuh.


"gak mungkin kan cuma kebetulan ada orang yang semirip itu,  apa mata gue yang salah liat ya? , tapi tu anak juga sama kayak gue,  liat muka gue kayak liat hantu"


Kata Ivan dengan pikiran yang masih melayang layang.


Hingga tak sadar ia melamun hingga akhirnya terlelap dalam pikiran nya.


...


Sementara ditempat lain


Jonathan pun tengah berbaring didalam kamar mewah nya.  Ia pun masih memikirkan kejadian hari ini.  Masih tak menyangka dengan apa yang baru dilihat nya siang tadi.


"kenapa aku kepikiran terus ya,  kenapa wajah anak itu mirip sekali dengan ku.


Tidak mungkin kan hanya kebetulan ada dua orang yang begitu mirip. Aku kira waktu itu aku hanya salah melihat, tapi tadi aku melihat nya lagi dan ditempat yang sama pula"


Pikir Jonathan menerawang jauh


"tidak mungkin juga aku salah lihat,  anak itu juga sama terkejutnya dengan ku,  atau jangan jangan aku punya saudara kembar? " pikir Jonathan mengada ngada.


"ah,  tapi tidak mungkin,  kalau pun ada tidak mungkin mama tidak memberitahukan aku"


"CK, takdir apa ini". batin Jonathan frustasi


Akhirnya dia pun terlelap dalam peraduan nya.


...


  Keesokan pagi nya


Malam telah usai, kini pagi menjelang, Ivan yang masih betah dalam selimut karena udara pagi yang begitu sejuk didaerah pegunungan itu.  Ia masih betah terlelap dalam selimut nya hingga sesuatu mengejutkan nya.


Gubraakkkk


"heh,  dasar anak pemalas,  apa koe gak tau iki wes jam berapa ha!!! " teriak Sari sambil menarik kasar selimut Ivan.


Ivan langsung membuka mata nya dan terduduk.


"bangun,  pergi sono cari duit,  jangan cuma tau nya mangan tidur aja koe iki" ucap Sari ketus dan langsung melemparkan selimut tipis itu ke wajah Ivan yang masih berusaha tersadar dari mimpi nya.


"iya bu iya" jawab Ivan serak, dia pun mulai bangun dan beranjak keluar kekamar mandi.


Dilirik nya jam masih menunjukan pukul 07.05 .


"masih juga jam segini udah berisik, duh badan gue pegel semua , berasa remuk. " kata Ivan sembari meregang kan otot otot nya.


Setelah selesai mandi,  ia langsung bergegas keluar rumah menuju peternakan sapi perah pak Tarno.  Ia pergi tanpa mengisi perut karena mendengar omelan Sari yang tak ada berhenti berhenti nya.


"lama lama gak betah gue dirumah itu.  Mumet.  Ibu tau nya cuma maraah terus,  heran gue" keluh Ivan dalam hati disela perjalanan nya.


Brakkk


"eh maaf bang, maaf,  saya gak sengaja" kata Ivan memegang bahu nya yang bertubrukan dengan seseorang.


"apaan sih lo van,  maka nya jalan tu jangan ngedumel aja,  gue lewat pun lo gak nampak" balas Bambang yang juga hendak pergi kerja.


Sedangkan Ivan hanya cengengesan menanggapi bambang.


"kenapa sih lo,  muka lo kusut gitu,  belum dikasih jatah lo? " tanya Bambang merangkul pundak Ivan


"iya belum dikasih jatah sarapan gue,  kesiangan gue bangun" jawab Ivan.


"haha,  rasain lo.  Tau emak galak masih juga cari masalah.  Yauda nanti kita sarapan kalau udah siap kerjaan.  Masih tahan kan lo? " tanya Bambang


"tahan lah,  kayak anak kecil aja gue.  Nahan perasaan aja gue tahan kok,  apalagi cuma nahan laper,  dah biasa gue" timpal Ivan cengengesan.


"yaelah malah curhat ni anak" ucap Bambang memukul ringan pundak ivan. 


Dan lagi lagi Ivan hanya cengengesan.


Setelah beberapa menit kemudian mereka pun tiba dipeternakan sapi pak Tarno.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka dengan warga yang lain.


Dari semenjak masuk SMA Ivan sudah bekerja dipeternakan sapi itu bersama Bambang yang usia nya 3tahun lebih tua dari Ivan.


Hasil bekerja ia berikan pada ibu nya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan juga membantu biaya sekolah Toni.


Sementara hasil mencari rumput ia simpan untuk keperluan nya.


Setelah selesai bekerja ia dan Bambang pun mencari makan diwarung kopi pinggir jalan.


"hei,  pujaan hati loh tu" kata Bambang tiba tiba menyikut lengan Ivan.


Ivan pun menoleh kearah yang dimaksud Bambang.


"hai kak,  lagi pada makan yaa? " tanya Karina yang sudah berada disamping Ivan.

__ADS_1


"eh,  iya ni.  Kamu baru pulang sekolah ya,  sini makan dulu bareng kita" ajak Ivan ramah.


"iya sini makan dulu,  biar Ivan bandar" timpal Bambang


Karina menggelengkan kepala nya


"enggak deh kak,  makasih,  lain kali aja.  Aku masih kenyang, tadi udah makan disekolah".


Ivan hanya menganggukkan kepala nya.


"kak,  mau bantuin aku gak? " tanya Karina pada Ivan dan Bambang.


"bantuin apa Rin? " tanya Bambang


"aku ada kegiatan disekolah,  ekstrakulikuler tentang seni,  aku pengen ikut,  tapi aku gak bisa mainin alat musik,  nah aku liat kakak kakak pada kan bisa main gitar,  mau gak ajarin aku" pinta Karina  memelas.


"bisa donk,  tuh mintak ajarin aja sama Ivan,  dia jago nya main gitar" ujar Bambang menepuk bahu ivan.


Uhuk uhuk


Ivan seketika langsung tersedak mendengar perkataan Bambang.


"kok gue sih,  kalau ketahuan bapak nya bisa habis gue" kata Ivan lirih


"ish kakak,  ya enggak segitu nya la bapak ku" kata Karina mengerucutkan bibir nya.


"kamu gak tau aja rin gimana sadis nya bapak mu itu" kata Ivan dalam hati.


"mau ya kak,  bantuain aku.  Pliissss" kata Karina memohon sambil mengatupkan kedua tangan nya didepan dada.


"hmmh yauda deh,  kebetulan siang ini mau ngumpul bareng anak anak,  kalau kamu mau kamu bisa ikut kita" kata Ivan kemudian


"yeayyy,,  mau donk,  makasih ya kak,  " kata Karina sambil memeluk lengan Ivan.


Sementara Ivan menjadi salah tingkah mendapat perlakuan seperti itu.


"waaah ada yang salting nih! " ejek Bambang


"eh,  siapa kak?  Aku? " tanya Karina polos.


Sementara Ivan sudah melototkan mata nya pada bambang.


"hehe,  bukan kok Rin" jawab Bambang cengengesan.


Akhirnya mereka pun pergi bersama ke pondok tempat biasa Ivan dan teman teman nya berkumpul.


"hai bro,  wah tumben nih bawa anak gadis orang,  gak takut diamuk bapak nya? " ejek Faiz pada Ivan.


"Karina mau belajar main gitar bareng kita" timpal Bambang menjelaskan.


"ehehehe,,  becanda becanda" kata Dian pula cengengesan.


"kamu mau langsung main atau dengerin kita dulu" tanya Bambang


"dengerin kakak pada main aja deh,  lagian aku juga gak buru buru kok, tapi mintak catetan tentang kunci kunci nya dulu ya, biar bisa belajar dirumah" kata Karina sembari mengeluarkan pena dan kertas dari dalam tas nya.


"yaudah sini biar aku yang nyatetin,  kamu dengerin aja tuh para kunyuk main gitar" balas Ivan sambil mulai mencatat.


Karina hanya mengangguk dan menatap Faiz yang mulai memainkan gitar nya,  dengan suara yang lumayan merdu ia pun memulai aksi nya.


Aku telah lelah mengikuti semua langkah kakimu


Hingga aku mengorbankan hidupku


Berbagai cara telah aku lakukan untuk hidupmu


Hingga aku mengorbankan hidup ku.....


"wah ni anak sialan ngapain juga nyanyi lagu itu" kata Ivan dalam hati sambil melirik tajam Faiz.


Sedangkan yang dilirik hanya tersenyum mengejek dan melanjutkan aksi nya.


... Buka hati muuuu


Buka lah sedikit untuk ku


Sehingga dirikuu bisa memilikimu...


Bambang dan Din ikut melantunkan lagu yang dibawakan Faiz, membuat Ivan semakin meradang


"memang mau ngajak ribut ya" kata Ivan dalam hati dan sudah melotot pada teman teman nya.


... Buka hatimuuu


Bukalah sedikit untuk ku


Sehingga diriku bisa memilikimu...


Nyanyi mereka dengan lantang sehingga Ivan melengos sambil menatap tajam teman teman nya.


Faiz yang mengetahui reaksi Ivan menghentikan lagu nya dan mulai menyanyikan lagu lain.


.... Walaupun kita saling cinta

__ADS_1


Derajat kita berbeda


Disana jurang memisahkan


Tak mungkin hidup bersama..


Ivan menggaruk kepala yang tak gatal,  "punya temen gak ada akhlak" kata nya dalam hati.


Bambang dan Dian terlihat menahan tawa mereka melihat wajah Ivan yang mulai memerah


...memanglah nasibku


Jadi orang yang tak punya


Selalu tersisih dan terbuang


"kampret kampret" lagi lagi hanya berani dalam hati


...mengapa cinta kita begini


Mengapa cinta kita terjadi


Dosakah bila kujalin cinta suci ini


Biarlah ku pendam cinta ini


Biarlah ku pendam rindu ini


Kalau memang berakhir sampai disini


"awas kalian nanti ya,  tunggu pembalasan gue" mata Ivan menatap tajam teman luknut nya.


..Demi untuk mu bahagia aku rela segalanya


Biarkanlah kumenangis


Tangisan pilu perpisahan ini...


"erhhhmmm" Ivan berdehem panjang menatap tajam teman teman nya.  Seolah mata nya hendak menerkam mereka.


"oppss,,  udah mulai emosi dia" bisik Dian pada Faiz.  Sementara Faiz cengengesan.


"apasih Van,  gue nyanyi ekspresi lo gitu.  Yauda ni lo yang gantian main" kata Faiz sambil memberi gitar pada ivan.


Sementara Bambang dan Dian sudah menahan tawa mereka.


"ayo donk kak,  gantian.  Aku pengen denger suara kakak" timpal Karina


"kan udah ada mereka yang nyanyi tadi,  aku gak begitu bisa nyanyi Rin" kata Ivan.


"yaah,  pelit kakak ih" rengek Karina.


"nanti aja kapan kapan ya,  ni rumus kunci kunci nya,  kamu hafalin dulu" ucap Ivan memberi kertas itu.


"tinggal nyanyi aja sih Van,  banyak banget alasan nya" kata Dian


Ivan melengos melihat teman teman nya yang melece dan sedang tertawa.


Hingga tak lama kemudian,


"heii,,,  apa yang kalian lakukan disini, " bentak seseorang tiba tiba mengejutkan mereka.


"ba bapak" kata Karina tergagap.


  Sementara Ivan dan yang lain hanya menunduk takut.


"kau ini anak gadis bukan nya pulang malah keluyuran ngumpul gak jelas sama pengangguran kayak mereka" kata pak rt marah.


"mau jadi apa kau hah?"  Bentak pak rt


"maaf pak, Karina cuma mau belajar main gitar sama kami pak" jawab Ivan pelan.


"halah,  gak usah alasan.  Pasti kau kan yang mengajak anakku" tuduh pak rt.


Ivan hanya menggelengkan kepala nya.


"pak!" seru Karina namun tak dihiraukan pak rt


"kalian itu orang miskin susah,  gak punya masa depan,  gak pantes deket deket anak saya.  Kalian cuma bisa ngasih pengaruh buruk buat anak saya,  tau kalian,  dasar anak muda pemalas" bentak pak rt menghina Ivan dan teman teman nya.


"ayo pulang, awas kalau sampai saya lihat kalian dekat dekat dengan anak saya ya,  habis kalian! " seru pak rt sambil menarik tangan Karina dan pergi menjauh.


Ivan dan teman teman nya hanya terdiam mendengar ucapan pak rt.


"sabar bro,  gak usah diambil hati" ujar Bambang menenangkan.


Ivan hanya mengangguk menatap Karina yang sudah menjauh dari pandangan nya.


"kalau jodoh gak kan kemana" timpal Faiz


"serem banget bapak nya,  sampek tegang semua bulu gue liat muka tu rt! " seru Dian memecah suasana.


"dasar sue lo! " ujar Faiz memukul kepala Dian.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka tertawa,  walaupun Ivan hanya tertawa terpaksa.


__ADS_2