Story Of The Twins

Story Of The Twins
Malaikat Penolong


__ADS_3

Keesokan pagi nya Ivan masih terduduk dikursi ruang tunggu.  Ia masih tak berani menemui Sari.  Ia juga belum menceritakan bahwa uang untuk biaya operasi bapak nya hilang.


Ivan hanya duduk terdiam sembari memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang itu.


Ditatap nya langit langit rumah sakit sambil menyandarkan tubuh nya dikursi tunggu itu. Dengan wajah kusut dan rambut acak acakan dia masih betah duduk sambil memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk operasi pak Tarman.


..


Sementar disisi lain.


Jonathan tengah bersiap siap hendak menuju rumah sakit tempat Alex dirawat.


Karena ia tak ada mata kuliah pagi akhirnya dia pun memutuskan untuk kerumah sakit terlebih dahulu.


Sebenar nya bukan hanya untuk menjenguk Alex saja, namun niat dan tujuan awal nya adalah untuk bertemu dengan Ivan.


Setelah sarapan dan berpamitan pada Delisha Jonathan langsung pergi kerumah sakit bersama Roy dan pengawal lain nya.


Jonathan hanya sendiri menjenguk Alex.  Sementara Erika,  Dirga dan Samuel memutuskan sepulang dari kuliah baru menjenguk Alex.


Hampir 45menit dimobil akhir nya Jonathan tiba dirumah sakit.


Ia bergegas keruangan dimana Alex berada,  namun belum sampai kaki nya melangkah ia langsung berhenti karena mengingat niat nya untuk menemui Ivan.


"sebaik nya nanti saja menemui Alex,  aku ketempat Ivan saja dulu" Jinathan pun memutar langkah nya menuju ruangan ekonomi.


"loh,  kenapa tidak jadi masuk tuan? " tanya Roy heran


"saya ketoilet sebentar,  kau tolong belikan buah tangan.  Aku lupa membeli nya tadi" titah Jonathan


"baik tuan" jawab Roy namun dia juga merasa heran.


'bukan kah didalam ruangan itu ada toilet juga' gumam Roy


Ketika Roy tengah memerintahkan anak buah nya Jonathan langsung bergegas berlari kearah ruangan ekonomi yang dikira nya orang tua Ivan pasti dirawat disana.


Dia berjalan sembari melihat kesana kemari.  Dan benar saja dugaan nya,  terlihat Ivan tengah duduk termenung dikursi ruang tunggu dengan wajah yang nampak lesu dan terlihat sedang melakukan sesuatu.


Jonathan bergegas mendekati nya dan langsung duduk disebelah Ivan.


Karena masih pagi jadi suasana rumah sakit masih sepi dari pengunjung.  Hanya beberapa orang suster yang lewat.


"hai Van" sapa Jonathan yang sontak membuat Ivan terkejut


Ivan pun langsung memandang orang yang menyapa nya.  Karena Jonathan menggunakan masker Ivan agak mengernyitkan alis nya memandang Jonathan.


Melihat itu Jonathan langsung membuka masker nya sebentar dan tersenyum lalu memasang masker nya kembali.

__ADS_1


"eh abang,  maaf bang,  kirain siapa tadi.  Hehe" jawab Ivan cengengesan


"nih pakai masker mu" kata Jonathan sembari menyerahkan sebuah masker pada Ivan.


"iya bang,  makasih" jawab Ivan sambil memakai masker nya


"abang ada apa kesini,  kan masih pagi" tanya Ivan sambil memandang kearah Jonathan yang duduk disebelah nya


'benar benar sempurna' batin Ivan dalam hati


"sengaja,  saya ingin bertemu denganmu" Jonathan langsung mengeluarkan sebuah papperbag dan memberikan nya pada Ivan.


"apa ini bang? " tanya Ivan heran


"itu ponsel,  untuk mu" jawab Jonathan


"eh,  tapi bang,  gak usah deh" kata Ivan tak enak dan langsung dikembalikan pada Jonathan.  Namun ditolak oleh jonathan


"ambil saja,  agar kita bisa berhubungan.  Saya tau kamu juga merasakan seperti apa yang saya rasakan.  Bagaimana kita bisa semirip ini.  Jadi sepaling tidak kita bisa berkomunikasi kapan saja.  Apa kamu tidak ingin menjadi temanku Ivan? " tanya Jonathan ramah, dan baru kali ini dia bisa ramah pada seseorang yang baru saja dikenal nya.


"eh,  bukan gitu bang. Tapi apa ini gak berlebihan? " tanya Ivan lagi


"tidak,, kamu tenang saja.  Ambilah " jawab Jonathan tersenyum dalam masker nya


"ya bang,  terima kasih banyak ya bang" ucap Ivan sambil membungkukan badan nya.


Namun Ivan hanya menggeleng sedih


"kenapa? " tanya Jonathan mengernyitkan dahi nya.  Ia heran melihat raut wajah Ivan yang sedih dan seperti menyimpan beban.


"gak papa bang" jawab Ivan pelan.


"hei,  ayolah cerita sama saya.  Siapa tau saya bisa membantu.  Kita teman bukan? " kata Jonathan serius


Pada awal nya Ivan ragu untuk menceritakan kejadian itu karena dia tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan Jonathan,  namun entah mengapa hati nya berkata lain


"uang untuk operasi bapak hilang dijambret orang bang,  jadi aku gak tau harus gimana.  Mau ngomong ke ibu pun aku takut" lirih Ivan. Entah mengapa ia merasa sedang berbagi rasa bersama saudara nya sendiri.


"oh ya,  memang berapa biaya nya? " tanya Jonathan lagi


"sekitar 25 juta bang,  itupun belum lagi biaya perawatan selama disini" ucap Ivan sendu


Entah mengapa mendengar penuturan Ivan membuat hati Jonathan tersentuh.  Dia seperti ikut merasakan apa yang tengah Ivan rasakan.


"yasudah pakai ini, dan selesaikan biaya rumah sakit bapak kamu sekarang." kata Jonathan sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompet nya dan menyerahkan pada Ivan.


"ini apa bang? " tanya Ivan heran sambil membolak balikan kartu itu. 

__ADS_1


"ini kartu kredit,  kamu bisa gunakan kartu itu untuk melunasi biaya rumah sakit bapakmu. " jawab Jonathan tersenyum melihat Ivan masih dengan tatapan heran nya


"lucu sekali anak ini, apa dia tak pernah melihat kartu seperti itu" kata Jonathan dalam hati


"ah masak iya bang? " tanya Ivan lagi


"iya,  sudah sana pergi,  sebelum ibu mu tau dan sebelum pengawalku datang" kata Jonathan menepuk pundak ivan


"eh,  tapi apa gak papa aku pakai duit abang dulu.  Banyak banget lo itu bang" kata Ivan lagi menatap Jonathan tidak enak


"tidak apa, bukan seberapa itu. Password nya 230395" jelas Jonathan membuat Ivan langsung mengingat nya.


"Sudah cepat lah pergi,  saya mau kedepan dulu. " kata jonathan bangkit dari duduk nya.   


Ia khawatir jika Roy sampai mengamuk dan mengacak ngacak isi rumah sakit jika tidak kunjung melihat nya.


"iya bang,  iya,  tapi nanti balikin nya dimana bang?" tanya Ivan sedikit berteriak


Jonathan hanya mengangkat ponsel nya,  pertanda mereka harus menghubungi dulu baru bertemu.


Ivan hanya tersenyum lega.


"oh tuhan,  terima kasih.  Akhirnya kau turunkan malaikat penolong untuk keluargaku" kata Ivan dalam hati.


Ivan pun segera keruang administrasi,  ia mengeluarkan kartu yang diberikan Jonathan tadi pada petugas.


Setelah selesai melakukan transaksi kartu itu dikembalikan lagi pada Ivan.


"terima kasih dek,  silahkan tunggu diruangan saja.  Nanti suster akan menyiapkan segala keperluan untuk operasi pasien" jawab petugas itu ramah


"iya mbak,  tapi apakah sudah semua biaya bapak saya lunas mbak? " tanya Ivan lagi


"iya dek,  tapi adek sendiri yang bilang tadi akan melunaskan semua biaya selama dirumah sakit ini" kata petugas itu.


"eh,  hehe iya mbak.  Yasudah saya permisi dulu mbak " kata Ivan ramah.


Ivan pun berjalan keruangan bapak nya.


"wah hebat sekali dia,  dengan kartu yang kayak gini aja bisa ngelunasi biaya rumah sakit bapak yang banyak itu.  Malah dibilang nya gak seberapa.  Enak bener ya jadi orang kaya.  Apa apa tinggal enak" celoteh Ivan dalam hati.


Setelah tiba didepan ruangan pak Tarman, Ivan langsung masuk dan mendekat kearah Bu Sari


"bu,  untuk operasi bapak udah aku selesain,  kita tinggal nunggu dokter nya aja" kata Ivan pada sari.


"yowes,  belikan aku makan sono,  wes laper perutku" titah Sari.


"iya bu" jawab Ivan.

__ADS_1


dia langsung bergegas keluar dari rumah sakit untuk mencari makanan dengan masih menenteng papperbag yang diberikan oleh Jonathan tadi.


__ADS_2