Story Of The Twins

Story Of The Twins
Perasaan Maxwel


__ADS_3

Hari hari berlalu sebagaimana mesti nya, terlalu cepat untuk yang sedang bahagia, dan terasa lama untuk mereka yang sedang dirundung perasaan gelisah.


Hari hari yang dijalani Ivan dan Amelia terasa mengawang, mereka ada, tapi seperti saling tak terlihat. Hidup disatu tempat yang sama, mengetahui cerita hidup masing masing, namun tampak seperti orang asing.


Hari ini adalah hari wisuda sekaligus perpisahan dengan teman teman nya. Tidak ada yang berarti bagi Ivan, karena lebih cepat dia pergi dari kota ini, maka itu akan lebih baik untuk nya.


Sungguh dia sangat tersiksa selama sebulan ini, meski tidak selalu bertemu dengan Amelia, namun kaki nya tetap saja berkhianat dan ingin sekali menemui gadis itu.


Setiap masuk kampus, Ivan selalu menyempatkan diri untuk sekedar melihat Amelia di universitas nya. Cukup melihat nya dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi Ivan.


Semakin hari, dia semakin sadar, jika rasa cinta nya semakin besar pada gadis itu. Dan itu tentu saja membuat nya semakin tidak berdaya, disatu sisi ingin sekali dia memperjuangkan cinta nya, namun dilain hal, dia tidak ingin mengecewakan orang tua nya.


Amel benar, hidup tanpa orang tua kandung itu seperti hidup dalam kesendirian tanpa ada penopang dan panutan. Tapi Ivan juga sadar, hidup tanpa Amel, dia benar benar merasakan kehampaan dan rasa sakit yang tak bisa diungkap kan.


Benar benar dilema, dia tidak ingin berada di situasi seperti ini. Dia menghargai orang tua nya, tapi dia benar benar membutuhkan Amel.


Semua nya terasa menyesakkan bagi Ivan. Rasa sakit nya tak bisa terjabarkan. Kenapa harus dia, dulu dia mengalah untuk saudara nya, dan sekarang dia harus kembali mengalah karena orang tua nya. Apa dia tidak boleh mengeluh dengan semua ini.


Dan rasa sakit serta kecewa itu membuat Ivan terlihat lebih banyak diam untuk sekarang. Rasa nya benar benar tidak mempunyai semangat apapun untuk saat ini.


"Van!!" seru Jonathan sembari menepuk punggung Ivan, hingga membuat Ivan terhenyak kaget karena sedari tadi dia tengah melamun disofa kamar nya sehingga tidak mengetahui keberadaan Jonathan


Jonathan menatap Ivan dengan wajah datar nya


"ayo turun, kenapa masih disini" tanya Jonathan lagi


Ivan hanya mengangguk dan menghela nafas berat. Dia berjalan keluar kamar nya bersama Jonathan yang berjalan duluan.


Mereka berjalan kemeja makan dimana Delisha dan Maxwel sudah berada disana untuk sarapan, dan nanti mereka akan pergi kekampus Ivan dan Jonathan untuk menghadiri acara wisuda mereka.


Seperti biasa, Delisha melayani suami dan anak anak nya dengan begitu lembut dan telaten


"ganteng ganteng banget deh anak anak mama" ucap Delisha melihat Ivan dan Jonathan yang begitu rapi dengan kemeja dan jas mereka. Tampak begitu pas ditubuh atletis mereka. Pakaian yang sama dari ujung kepala sampai keujung kaki, membuat mereka semakin susah untuk dibedakan


Jonathan dan Ivan hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari mama nya. Sementara Maxwel hanya memandang kagum dua anak kebanggan nya itu. Ya, meski sekarang rumah nya tak seceria dulu karena Ivan lebih banyak diam.


Maxwel tahu Ivan pasti kecewa dengan keputusan nya, namun untuk saat ini dia memang masih belum siap untuk menerima anak dari orang yang pernah menghancurkan keluarga nya dahulu.


Tapi, dengan melihat Ivan yang seperti ini, dia benar benar bingung dan juga merasa bersalah. Apalagi dengan nasehat dari istri nya, dan juga Jonathan beberapa waktu yang lalu.


flash back on


Malam itu Jonathan mendatangi Maxwel diruang kerja nya. Sudah cukup bagi nya melihat Ivan yang seperti orang lain dirumah ini. Dia tidak bisa melihat adik nya itu kecewa. Dia tidak ingin rumah ini kembali sepi tanpa canda dan tawa dari Ivan. Dia baru bertemu dengan adik nya, dia baru merasakan kehangatan dalam keluarga itu ketika Ivan datang, namun kini, semua terasa berbeda ketika Maxwel dan Ivan saling bertentangan. Dan Jonathan tidak ingin ini berlangsung lama.


"pa, boleh Jo masuk?" tanya Jonathan sembari mengetuk pelan pintu ruang kerja papa nya


"masuk lah nak" jawab Maxwel dari dalam

__ADS_1


Jonathan masuk dan melihat Maxwel masih sibuk dengan pekerjaan nya.


"apa papa sedang sibuk?" tanya Jonathan lagi, dia duduk didepan meja Maxwel dan menatap papa nya dengan lekat


Maxwel menggeleng dan menutup laptop nya sembari mengarahkan wajah nya pada Jonathan


"ada apa nak?" tanya Maxwel


Jonathan terlihat menghela nafas nya sejenak


"apa papa menyayangi Ivan?" tanya Jonathan langsung tanpa basa basi membuat Maxwel sedikit terhenyak mendengar itu


"apa maksud mu bertanya seperti itu?" tanya Maxwel bingung


"aku hanya ingin tahu pa. Aku tidak ingin papa pilih kasih antara aku dan dia" kata Jonathan lugas


"tentu saja, dia anak papa, papa menyayangi dia seperti papa menyayangi mu. Tidak ada beda nya" jawab Maxwel pula. Dia kurang suka mendengar pernyataan dari Jonathan saat ini


"benarkah?" tanya Jonathan masih dengan wajah datar nya


"sebenar nya apa yang ingin kamu sampaikan Jonathan?" tanya Maxwel menatap wajah Jonathan dengan wajah datar pula. Lelaki berkarakter sama itu saling berhadapan dengan wajah yang benar benar serius dan terkesan dingin, jika ada Delisha, maka dia akan sport jantung dengan dua orang ini.


"pa, tidak bisakah sedikit saja papa membuang ego papa demi dia, demi kebahagiaan yang baru saja berkumpul dengan kita" ungkap Jonathan membuat Maxwel tertegun mendengar nya


"sembilan belas tahun dia terbuang dari keluarga ini, sembilan belas tahun dia merasakan kehidupan yang benar benar berat diluar sana, dan sembilan belas tahun dia hidup tanpa kasih sayang dari kalian" ungkap Jonathan lagi


Maxwel tertegun dan tertunduk sedih, dia tahu itu. Dia tahu karena dia pun sangat bahagia karena bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan anak nya


"dia tidak pernah meminta apapun pada papa selama ini, dia tidak pernah memberatkan papa, dia selalu menghargai papa sebagai orang tua nya. Tapi kenapa hanya karena satu keinginan nya, papa tidak bisa mengabulkan nya?" tanya Jonathan lagi


"kamu tidak mengerti Jo, papa sebenar nya juga tidak ingin membatasi gerak nya, tapi kamu tahu kan, karena keluarga gadis itu kita hancur dan terpisah" jawab Maxwel pada Jonathan yang langsung menggeleng


"papa hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita. Papa hanya ingin dia mencari kebahagiaan lain" lirih Maxwel


"pa, maafkan Jo, tapi apa papa tidak bisa melihat, jika sekarang Ivan berubah karena kebahagiaan nya yang hilang. Dia rela melepaskan kebahagiaan nya demi papa, demi orang tua yang baru saja ditemukan nya, tapi apa papa tidak sadar, kebahagiaan kita juga hilang karena Ivan yang tidak lagi sehangat dulu." ungkap Jonathan


"gadis itu gadis yang baik. Jo tahu itu. Jo tidak mungkin membiarkan saudara Jo mendapatkan gadis yang tidak baik." ungkap Jonathan lagi


Maxwel masih terdiam dengan fikiran nya


"pa, Jo tidak ingin Ivan berfikir jika papa pilih kasih antara Jo dan dia. Karina hanya gadis dari desa, dia bukan orang berada namun papa bisa menerima nya dengan baik. Sementara pada Amelia yang status dan prestasi nya bagus, papa tidak bisa menerima nya hanya karena dia anak angkat dari musuh papa. Apa itu adil?" tanya Jonathan sembari menggeleng


"Maaf pa, Jo hanya tidak ingin kebahagiaan yang baru kita rasakan hilang hanya karena ego papa" ucap Jonathan yang langsung beranjak dari duduk nya


"Jo permisi" kata Jonathan lagi.


Maxwel langsung tersandar dikursi nya sembari memijat pelipis nya. Apa yang dikatakan Jonathan benar, dia terlalu egois kepada Ivan. Tapi dia masih ragu untuk menerima gadis itu.

__ADS_1


Dan Maxwel langsung menghubungi Rico saat itu juga untuk mencari tahu sesuatu


Flash back off


Setelah sarapan mereka berangkat kekampus Ivan dan Jonathan bersama, meski dengan mobil yang berbeda


Didalam mobil, Jonathan menoleh kearah Ivan yang berwajah datar dan tidak bersemangat itu, begitu pula dengan Roy


"Van?" panggil Jonathan


Ivan hanya menoleh dan menatap Jonathan seolah menanyakan ada apa untuk nya


"apa kamu mau bertukar posisi dengan ku?" tanya Jonathan membuat Ivan mengernyitkan dahi nya


"buat apa?" tanya Ivan pula


Namun Jonathan langsung mengendikan bahu nya


"ya, seperti nya akhir akhir ini kamu mengambil posisi ku tanpa seijin ku, benar kan Roy?" tanya Jonathan pada Roy yang langsung mengangguk


Ivan mengernyit semakin bingung


"iya tuan, seperti nya tuan muda Ivan ingin mengikuti gaya tuan muda Jo yang tidak banyak bicara seperti biasa nya" jawab Roy membuat Ivan mendengus dan Jonathan langsung tersenyum sinis


"kamu tidak boleh merebut posisi ku. Ice prince hanya boleh disematkan untuk ku, kamu ingin aku merebut semua fans mu ha?" tanya Jonathan sinis membuat Ivan menatap nya dengan kesal


"siapa juga yang mau ngikuti gaya Abang, gak seru banget" jawab Ivan melengos


"bukti nya para fans mu dikampus tidak lagi mendekatimu kan, itu karena wajah mu yang tidak menarik lagi" ungkap Jonathan


Ivan langsung menatap wajah Jonathan dengan mata yang menyipit


"wajah kita sama. Ingat, sama!!" kata Ivan sedikit menekan kan kata kata nya membuat Roy yang sedang mengemudi langsung tertawa mendengar nya


"wajah sama. Tapi pembawaan jelas berbeda. Aku dingin dengan pesona ku, sedangkan kamu dingin tapi lesu dan menyeramkan, kamu tahu" ketus Jonathan membuat Ivan tertegun


"menyeramkan, dikira aku hantu apa" dengus nya


"ya, hantu gentayangan yang sedang patah hati" ejek Jonathan


"sialan lu bang" umpat Ivan membuat Jonathan terkekeh kecil


"apa begitu sakit sehingga kamu merubah dirimu sendiri sekarang?" tanya Jonathan membuat Ivan kembali tertegun


"tidak juga, hanya saja seperti kehilangan semangat" jawab Ivan begitu lirih


"jika dia takdir mu, seperti apapun rintangan nya, dia pasti menjadi milikmu" ungkap Jonathan dan Ivan hanya mengangguk lemah

__ADS_1


'semoga'. batin nya


__ADS_2