
Ivan merebahkan kepala nya didekat bahu Amelia. Sudah hampir satu jam dia duduk disana, namun Amel belum juga ada menunjukkan sedikitpun pergerakkan. Dokter yang memeriksa keadaan Amelia hanya berkata jika Ivan harus tetap berusaha untuk membangunkan nya. Keadaan Amel memang sangat lemah sehingga dia begitu sulit untuk bangun dan sadar.
Rasanya Ivan benar benar lemas dan tidak berdaya melihat Amel yang seperti ini. Dia sangat merasa bersalah, karena dia Amel jadi seperti ini.
Diluar ruangan, Diana dan Karina yang sudah tiba sejak tadi hanya duduk diam ditempat duduk. Mereka tidak ingin masuk dan mengganggu Ivan. Mereka membiarkan Ivan didalam bersama Amelia, karena hanya Ivan yang Amel butuhkan saat ini.
Jonathan dan Andrean duduk tidak jauh dari tempat Karina berada. Mereka semua tampak sedih dengan keadaan Amel. Ya, siapapun tahu jika Amel sangat mencintai Ivan, dan sudah pasti mendengar kabar meninggalnya Ivan tentu membuat nya akan hancur dan tidak berdaya. Apalagi sebentar lagi mereka akan menikah. Tentu nya kabar kecelakaan pesawat itu membuat siapapun terkejut bukan main. Tapi mereka semua juga bersyukur karena ternyata Ivan selamat dan masih bisa berkumpul bersama mereka.
..
Didalam ruangan, Ivan membuka mata nya dan kembali menatap wajah Amelia yang masih terpejam dengan rapat. Hanya suara denting monitor pendeteksi detak jantung Amel yang menghiasi ruangan yang terasa begitu sepi dan sunyi.
Ivan menarik nafas nya yang terasa begitu berat dan sesak. Kenapa jadi seperti ini? hanya perkataan itu yang selalu ada dihatinya sejak tadi.
"Sayang... bangun" bisik Ivan lagi. Dia duduk dengan tegak dan masih menggenggam tangan Amelia yang mulai menghangat. Mungkin karena sejak tadi dia tidak melepaskan genggaman tangan itu
"Kamu mau pernikahan kita dibatalkan ?" tanya Ivan. Dia menopang kepala nya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Amel.
"Aku kangen" gumam Ivan begitu lirih
"Maafin aku"
Ivan terdiam dan memejamkan matanya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana membangunkan Amelia. Rasanya dia tidak mempunyai cukup tenaga melihat Amel yang seperti ini.
"Aku cinta kamu Mel. Cinta banget." ungkap Ivan begitu tulus
Dia mengusapkan tangan Amelia diwajah nya, terus membisikan kata cinta pada Amel. Rasa sayang, cinta dan rindu yang menggebu membuat nya benar benar tidak berdaya
"Ayo bangun ya, kata nya mau nikah. Kamu harus bangun. Aku janji, nanti akan bawa kamu honeymoon ke Swiss, seperti keinginan kamu dulu. Kita disana sebulan, gak papa deh uang tabungan aku habis, nanti aku bisa minta papa lagi. Yang penting kamu bangun"
"Kita buat anak yang banyak disana" bisik Ivan dengan sedikit tawa kecil, tapi kembali merebahkan kepala nya saat Amel hanya diam saja
"Aku kayak ngomong sama patung yang. Kalau kamu gak mau bangun aku bakalan pergi lagi nih" ancam Ivan menatap wajah Amel.
Namun dia langsung terkesiap saat merasa tangan Amel yang dia genggam sedikit bergerak. Ivan tersenyum dengan senang melihat itu
"Ayo bangun, kalau kamu gak bangun nanti aku dinikahi mama sama perempuan lain. Kamu mau?" Ivan berbicara hal yang tidak disukai Amelia, seperti nya dia merespon itu. Terlihat matanya bergerak gerak ingin terbuka
Ivan sedikit beranjak dan memencet tombol pemanggil dokter
"Banyak loh yang ngejer ngejer aku. Kamu pasti tahu itu. Apalagi calon suami kamu ingin ganteng nya gak ketulungan, saingan kamu banyak yang." perkataan Ivan benar benar direspon Amelia. Dia sepertinya berusaha sekuat mungkin untuk membuka mata nya. Bahkan perlahan tangan nya mulai bisa membalas genggaman tangan Ivan meski sangat lemah, tapi Ivan tahu jika Amel memang ingin menggenggam tangan itu
Mata Ivan berkaca kaca, dia tersenyum dengan senang melihat Amel yang akhirnya mulai sadar
"Kalau kamu gak bangun, nanti aku pergi lagi" bisik Ivan
"Van......" suara Amel terdengar begitu lemah dan hanya seperti sebuah gumaman saja
Air mata terlihat meleleh disudut matanya, membuat Ivan juga sangat bersedih melihat itu. Dia mengusap air mata Amel dan mendekatkan bibir nya ditelinga Amel
"Ini aku sayang, aku disini... bangun ya" pinta Ivan dengan air mata yang juga menetes diwajah nya
"Van....." suara Amel terdengar lagi, seperti nya hanya Ivan yang ada dalam alam bawah sadarnya
__ADS_1
"Iya sayang, ini aku. Aku kembali" sahut Ivan
Mata Amel mulai terbuka, sangat lemah dan begitu sayu. Ivan langsung tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan nya
"Ini aku, aku disini. Aku gak pergi ninggalin kamu" kata Ivan menciumi kening Amel dengan begitu lembut.
Lagi lagi air mata Amel menetes dan melirik Ivan dengan lemah
"Ini kamu...."bisik nya
Ivan langsung mengangguk dan tersenyum
"Ini aku. aku pulang" jawab Ivan
Air mata Amel semakin deras memandang Ivan penuh kepedihan dan kerinduan, membuat Ivan semakin pedih hati nya.
"Maafin aku, aku pergi terlalu lama. Tapi aku udah janji kan, aku pasti pulang" kata Ivan menciumi tangan Amel yang mulai bisa membalas genggaman tangan itu
"Aku takut...." gumam Amelia
Ivan langsung memeluk tubuh lemah itu, memeluk dan menangis bersama Amel yang juga tidak menyangka jika orang yang dia rindukan ada didepan matanya sekarang.
"Maafin aku, maaf sayang. Maaf" bisik Ivan menciumi wajah Amel yang masih menangis terisak
"Jangan pergi" pinta Amel memandang Ivan penuh harap. Raut kesedihan, ketakutan masih tergambar jelas diwajah nya
Ivan mengangguk dengan yakin. Dia tersenyum dan mengusap air mata nya dengan cepat
Tiba tiba pintu terbuka, memunculkan seorang dokter dan perawat yang akan memeriksakan keadaan Amel.
Ivan langsung beranjak dan ingin menjauh sebentar, tapi tangan Amelia masih memegang tangan nya. Ivan memandang Amelia yang menggeleng sedih, seperti nya dia masih tidak ingin ditinggal Ivan
"Tidak apa apa tuan. Nona Amel masih ingin anda disini" ucap dokter wanita itu
Ivan tersenyum dan mengangguk. Dia hanya bergeser sedikit membiarkan dokter itu memeriksa keadaan Amelia. Ivan masih berdiri sedikit mengarah dikaki nya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Amelia
Ivan langsung mengeryit saat melihat mata Amelia yang terpejam kembali
"Sayang" panggil Ivan sedikit menggoyangkan tangan Amel.
Mata Amel terbuka kembali membuat Ivan langsung bernafas dengan lega
"Nona, jangan fikirkan apapun. Semua sudah baik baik saja. Nona harus beristirahat dengan baik" ucap dokter itu begitu lembut
"Tidak ada yang serius kan dokter?" tanya Ivan masih khawatir
Dokter itu tersenyum dan menggeleng
"Tidak tuan, keadaan nona sudah membaik. Dia hanya perlu istirahat dan menjaga mental nya agar tidak merasa cemas yang berlebihan. Jantung nona lemah, sehingga sedikit saja dia merasa khawatir yang berlebih tentu itu bisa membuat nya tidak sadar kembali" ungkap dokter itu
Ivan langsung mengangguk mengerti, meski hati nya benar benar sedih melihat keadaan Amelia
Perawat itu tampak membuka alat bantu pernafasan Amelia karena saat ini detak jantung Amel sudah mulai normal.
__ADS_1
"Kami permisi tuan, nona. Jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi kami" kata dokter itu lagi
"Baik dokter, terimakasih" jawab Ivan
Ivan kembali duduk dikursi setelah dokter dan perawat itu keluar.
Dia mengusap wajah Amel yang sudah tidak sepucat pagi tadi saat dia datang
"Aku gak mimpi kan" ucap Amel yang sedari tadi memandang Ivan penuh rindu
Ivan tersenyum dan menggeleng
"Enggak, ini nyata, ini aku. Aku pulang" jawab Ivan meletakkan tangan Amel diwajah nya. Amel tersenyum membelai wajah itu, tapi mata nya kembali berkaca kaca dan menangis lagi
"Aku takut kamu pergi, aku gak bisa hidup tanpa kamu" ungkap Amel
Ivan mengusap air mata itu, sungguh sedari dulu dia tidak bisa melihat Amel menangis, apa lagi menangis karena dia
"Maaf sayang, aku udah janji untuk pulang. Aku gak akan ninggalin kamu" jawab Ivan
"Mereka bilang kamu pergi. Mereka bilang kamu ninggalin aku. Aku takut" ucap Amelia begitu lirih, dia kembali terisak namun Ivan segera memeluk tubuhnya yang lemah
"Aku gak akan ninggalin kamu, aku udah janji buat nikahin kamu. Aku gak akan pergi." ungkap Ivan
"Jangan pergi, aku takut" pinta Amel yang juga membalas pelukan Ivan
"Aku gak akan pergi" jawab Ivan
"Aku sayang kamu" ucap Amel
"Aku juga sayang kamu, sayang banget" balas Ivan
Ivan melepaskan pelukan nya, namun belum beranjak dari atas tubuh Amel. Dia hanya menahan tubuh nya dengan siku tangan nya dan memandang Amelia begitu dalam..
Sungguh dia benar benar mencintai gadis ini. Gadis yang hanya orang asing tapi bisa mencintai dia dengan begitu besar. Tidak ada orang lain yang bisa mencintai Ivan sebesar cinta Amelia padanya. Dan Ivan tidak akan pernah menyia-nyiakan gadis ini. Tidak akan
"Jangan takut, kamu harus percaya sama aku. Seberapa jauh pun aku pergi, aku pasti pulang untuk kamu" Ivan membelai wajah Amel begitu lembut, mengusap air yang belum surut dari matanya
"Kamu rumahku, kamu tempat aku kembali Mel" ungkap Ivan
Amelia tersenyum dan mengangguk. Dia memejamkan matanya saat Ivan mulai mendekatkan diri dan mencium bibir nya dengan lembut dan hangat.
Amel merasa seperti mimpi saat membuka mata tadi. Dia masih tidak menyangka jika Ivan yang dia sangka telah pergi, ternyata masih ada, dan dihadapan nya sekarang. Rasanya benar benar seperti mimpi indah yang tidak ingin dia lewatkan. Dan ketika merasakan sentuhan ini, dia semakin yakin, jika Ivan nya memang ada dan kembali untuk nya.
Amel sangat bahagia dengan ini. Dia melingkarkan tangan nya dileher Ivan, menikmati sentuhan Ivan yang sangat dia rindukan. Rasa hangat dan aroma tubuh Ivan benar benar bisa menghempaskan rasa takut dan hati nya yang hancur dua hari lalu.
Ya, dia benar benar takut Ivan pergi, dia takut Ivan tidak kembali. Tapi sekarang, Tuhan masih berbaik hati mengembalikan Ivan nya. Dan dia sangat bersyukur untuk itu.
Mereka berciuman cukup lama, saling melepaskan rasa rindu yang lebih dari seminggu tidak bertemu, rasa sakit, takut dan sedih semua melebur tergantikan dengan rasa bahagia yang tiada tara.
cklek
pintu terbuka tiba tiba membuat Ivan langsung melepaskan ciuman nya dan menoleh kearah pintu. Dimana dia bisa melihat wajah Karina dan Diana yang tersenyum canggung dan Jonathan yang mendengus gerah melihat nya.
__ADS_1