
Ivan keluar dari ruangan operasi dengan wajah kusut dan sembab nya.
Delisha dan Maxwel yang sedari tadi menunggu langsung mendekat kearah Ivan. Mereka benar benar cemas sekarang. Dua jam lebih mereka menantikan kabar cucu dan menantu mereka.
"Bagaimana nak?" tanya Delisha dengan cepat.
Bukan nya menjawab Ivan malah langsung memeluk Desliha dan kembali menangis. Ya ampun, dia benar benar tidak bisa menahan air matanya saat ini.
"Nak, Mereka baik baik ajakan?" tanya Delisha seraya mengusap pundak Ivan dengan lembut.
"Anak Ivan udah lahir ma, anak Ivan udah lahir. Mereka baik baik aja. Ivan takut banget tadi" adu Ivan yang semakin memeluk erat Desliha.
"Alhamdulillah... syukurlah nak. Kamu udah jadi ayah sekarang" ucap Delisha yang juga bisa bernafas dengan lega.
"Terimakasih udah lahirin Ivan kedunia ini ma, lihat perjuangan Amel, buat Ivan inget mama, mama pasti juga menderita waktu lahirin Ivan kemarin" ucap Ivan.
Delisha tersenyum dan melepaskan pelukan nya dari Ivan. Dia menangkup wajah Ivan dan mengusap air mata diwajah tampan itu.
"Udah kodrat nya wanita seperti itu sayang, yang terpenting kamu harus bisa menghargai pengorbanan Amel, kamu lihat sendiri kan, gak mudah untuk dia selama ngandung dan ngelahirin anak kamu" ungkap Delisha.
Ivan langsung mengangguk dengan cepat
"Iya ma, Ivan janji Ivan akan selalu inget pengorbanan Amel ini, Ivan akan sayang istri sama anak Ivan, juga mama" ucap Ivan. Delisha tersenyum dan mengusap pundak Ivan dengan lembut.
Maxwel yang mendengar itu juga ikut terharu.
"Selamat nak, sekarang kamu sudah jadi ayah. Harus kuat dan gak boleh cengeng" ucap Maxwel.
Ivan tertawa dan langsung memeluk papa nya.
"Ivan terharu banget pa. Ivan takut banget Amel gak kuat tadi" ungkap Ivan.
"Papa ngerti perasaan kamu nak" jawab Maxwel.
Maxwel menepuk pundak Ivan dengan lembut, dia sudah tidak sabar untuk melihat cucu pertama nya.
Dan mereka langsung menoleh kearah pintu saat para dokter keluar membawa ranjang Amel untuk dipindahkan keruang perawatan.
Ivan dan kedua orang tuanya juga langsung mengikuti mereka.
Keadaan Amel masih begitu lemah, bahkan dia tampak tidak sadarkan diri saat dibawa. Ivan benar benar sedih melihatnya.
Dokter Sandra dan rekan nya, langsung mengurus Amel sedangkan bayi Amel masih dibersihkan oleh perawat.
"Gimana keadaan menantuku San?" tanya Delisha langsung saat dokter Sandra baru selesai memeriksa Amel kembali.
"Keadaan nya masih lemah, dia sempat pendarahan tadi, tapi untung nya masih bisa ditangani. Untuk saat ini biar dia istirahat dulu ya" ujar dokter Sandra.
"Cucu kami dimana?" tanya Maxwel yang sudah tidak sabar.
"Masih dibersihkan tuan, sebentar lagi perawat kemari untuk membawa nya. Bayi nya sehat dan cantik. Cuma ibunya yang lemah dan masih butuh perawatan beberapa hari disini" ungkap Dokter Sandra lagi.
"Yasudah, gak apa apa. Terimakasih" ucap Delisha.
"Kalau begitu saya pamit dulu, kalau ada apa apa tolong beri tahu saya" ucap dokter Sandra
"Iya" jawab Delisha.
Setelah dokter Sandra keluar, Delisha mendekat kearah Amel.
__ADS_1
Ivan berdiri disamping nya dan mengusap lembut kepala Amel yang masih begitu pucat.
"Jangan diganggu, biar dia istirahat dulu" ujar Delisha dengan pelan.
"Iya ma, Ivan gak tega lihat Amel begini" ucap Ivan begitu sedih.
Delisha tersenyum dan mengusap pundak Ivan
"Berdoa semoga Amel cepat sehat dan pulih." kata Delisha lagi. Dan Ivan hanya mengangguk saja.
Dan tidak lama kemudian, dua orang perawat masuk kedalam ruangan itu membawa bayi Ivan, bertepatan dengan Jonathan dan Karina yang datang.
"Ya ampun cucu opa" Maxwel langsung berdiri dan mendekat kearah perawat itu.
"Papa, jangan berisik" ucap Delisha seraya melebarkan matanya pada Maxwel.
Maxwel tersenyum canggung dan kembali menoleh pada cucunya.
"Cantik sekali nona muda ini tuan. Tuan Ivan bisa mengazankan nya terlebih dulu jika mau" ujar perawat itu.
"Pergilah bebersih dulu, ini pakaian kamu" ujar Jonathan seraya menyerahkan paper bag pada Ivan
Ivan langsung melihat penampilan nya,.dan benar saja dia hanya memakai celana pendek dan baju kaus. Astaga.
Ivan mengangguk dan langsung kekamar mandi untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Sementara Delisha langsung meraih anak Ivan untuk dia gendong. Wajahnya sangat cantik dan mungil, perpaduan antara Ivan dan amelia. Karina bahkan sampai begitu takjub melihat nya.
Tidak lama Ivan didalam kamar mandi, tidak sampai sepuluh menit dia sudah keluar dengan wajah yang lebih segar.
Delisha langsung menyerahkan bayi mungil itu pada Ivan.
Semua orang langsung diam dan membiarkan Ivan mengazankan anak nya dengan suara yang begitu lembut namun jelas.
Air mata seakan ingin menetes kembali saat mengazankan putri kecilnya itu. Sungguh Ivan sangat bahagia dan terharu.
Amel bahkan langsung sadar saat mendengar suara azan Ivan. Delisha mendekat kearah nya, dan mengusap lengan Amel dengan lembut. Amel tersenyum memandangi Ivan yang nampak serius dan begitu terharu.
"Gimana keadaan kamu nak, kalau lemas, bawa istirahat dulu" ucap Delisha.
"Gak apa apa ma, cuma masih nyeri aja sama lemas" jawab Amel masih begitu lemah
"Selamat ya kak,.udah jadi ibu sekarang" ucap Karina yang juga mendekat kearah Amel.
Amel hanya mengangguk dan tersenyum saja, dia benar benar masih lemas. Tapi suara Ivan tadi langsung membangunkan tidur nya.
"Ya ampun, cucu opa cantik sekali" ucap Maxwel yang kembali mendekat pada Ivan saat Ivan sudah selesai mengazankan putrinya.
"Mirip siapa ini" tanya Jonathan pula.
Ivan tersenyum dan mencium lembut pipi merah putrinya. Dia masih begitu kaku menggendong bayi ini.
"Ma,.tolong, Ivan masih takut" kata Ivan pada Delisha.
Delisha langsung mendekat dan meraih cucunya, dia langsung duduk diatas kursi sedangkan Ivan beralih pada Amelia.
"Cantik banget kan ma" ucap Karina seraya mengusap lembut pipi keponakan nya ini.
"Siapa dulu bunda nya" sahut Ivan, membuat semua orang langsung mendengus senyum. Karena memang anak Ivan cukup cantik, meski masih sangat merah dan mungil. Bahkan Jonathan dan Maxwel begitu ngerih untuk menyentuh bayi ini.
"Kalian udah siapin nama?" tanya Maxwel pula
__ADS_1
Ivan langsung memandang Amel, dan kembali memandang kearah papa nya.
"Udah pa" jawab Ivan.
"Namanya, Vamella Anastasya Alexander" jawab Ivan begitu lugas
"Wow, nama yang cantik seperti orang nya" sahut Karina.
"Bagus, papa suka. Vamella" ucap Maxwel.
"Semoga watak nya tidak mengikuti ayahnya" gumam Jonathan.
Ivan langsung tertawa mendengar itu, begitu pula dengan yang lain.
"Gak apa apa, biar ramai rumah" jawab Ivan.
Amel yang sedang berbaring hanya tersenyum saja menanggapi mereka yang sedang bercanda. Bahkan Maxwel begitu senang dengan cucu pertamanya ini. Sedari tadi dia terus menoel noel pipi Vamella yang ada di gendongan Delisha. Sepertinya opa dan Oma baru itu benar benar bahagia.
Namun tidak lama kemudian, tiba tiba suara Karina mengejutkan mereka.
"Aaaauhhh kak" rintih Karina yang tiba tiba memegangi perut nya, bahkan dia sudah bersandar dimeja untuk menahan tubuhnya.
"Karin kenapa?" tanya Jonathan yang langsung mendekat dan mengusap perut Karina.
"Sakit...".ucap Karina dengan nafas yang tersengal.
"Ya ampun, kok bisa sakit nak." Delisha langsung beranjak dan meletakkan bayi Ivan didekat Amel. Dan dia langsung berbalik mendekati Karina yang merintih kesakitan.
"Apa mau lahiran juga?" tanya Maxwel
"Tapi masih dua Minggu lagi pa" jawab Jonathan yang juga benar benar panik.
Delisha mendekat dan membantu Karina untuk duduk. Sementara Ivan langsung memencet tombol pemanggil dokter didekat ranjang Amel.
"Tarik nafas dulu nak, pelan pelan. Apa yang kamu rasain" tanya Delisha, dia jadi panik lagi sekarang, padahal baru saja bernafas dengan lega.
"Aaahh mules ma, sakit juga" ucap Karina seraya menghela nafas nya yang terasa menggebu.
"Ma, gimana ini" tanya Jonathan yang tidak tahu harus bagaimana.
"Bentar lagi dokter Sandra Dateng, udah aku panggil" sahut Ivan yang juga ikut bingung sekarang. Apa Karina juga mau lahiran? Kenapa bisa menular?
Dan benar saja tidak lama kemudian dokter Sandra datang keruangan Amel.
Bertepatan dengan air ketuban Karina yang juga pecah.
"Mama, Karin ngompol" ucap Karina seraya meringis sakit.
"Astaga, air ketuban nya udah pecah. Kita keruangan bersalin sekarang ya" ajak dokter Sandra
"Hah mau lahiran?" tanya Delisha
"Iya, air ketuban nya udah pecah" jawab dokter Sandra
"Kok bisa, tapi seharusnya dua Minggu lagi" gumam Ivan
"Jo, ayo bantu Karina" ujar Delisha seraya menepuk pundak Jonathan yang malah melamun. Dia masih tidak menyangka jika hari ini istrinya juga akan lahiran. Astaga.
Jonathan dan Delisha akhirnya membawa Karina keruangan bersalin. Meninggalkan Ivan dan Amelia yang masih terdiam bingung, Maxwel juga tetap tinggal diruangan itu. Dia jadi bingung harus melihat yang mana sekarang.
__ADS_1