
Ivan menatap Amelia dengan perasaan tidak menentu. Sungguh untuk saat ini dia belum mau bertemu dengan gadis itu. Tapi kenapa dia bisa berada digedung ini, apa Amel mencari nya, batin Ivan.
Beberapa mahasiswa yang berlalu lalang akan pulang memperhatikan mereka yang hanya mematung saling pandang dalam diam. Mereka larut dalam fikiran mereka masing masing, hingga tak ada lagi yang dapat mereka dengar selain detak jantung yang saling bergemuruh.
Faiz menatap dua orang itu dengan perasaan iba, mereka saling suka, dan Faiz tahu itu. Tapi sungguh nasib percintaan mereka begitu rumit.
Faiz menoleh pada Amelia yang mata nya sudah berkaca kaca seolah sebentar lagi pertahanan nya akan runtuh
"selesaikan masalah kalian baik baik, jangan sampai ada penyesalan" kata Faiz sembari menepuk pundak Ivan dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ivan terkesiap dan langsung tersadar, dia mencoba tersenyum pada Amelia.
"kita duduk disana" ajak nya sembari menarik tangan Amelia kesebuah taman tak jauh dari gedung itu
Amelia hanya diam dan terus mengikuti langkah kaki Ivan.
Perasaan takut, kecewa, dan rindu, semua seolah semakin memporak porandakan hati nya yang begitu rapuh.
Jalanan yang sedikit berbatu seolah terasa begitu lama bagi Amelia, ingin rasa nya dia mendekap erat tubuh gagah ini, rindu, dia sangat rindu, diabaikan oleh Ivan membuat nya menjadi tak menentu sehingga dia memutuskan untuk menemui Ivan langsung digedung fakultas nya setelah pagi tadi dia mendengar anak anak kampus yang berkata bahwa Ivan telah kembali masuk kuliah.
Amelia berjalan terseret dibelakang Ivan dengan tangan nya yang masih digenggam Ivan yang berjalan sedikit mendahului nya.
Ivan sama sekali tak membuka mulut nya, bahkan dia hanya diam dan tak menoleh sedikitpun.
Sampai disebuah kursi taman Ivan duduk dan menarik tangan Amel untuk duduk disamping nya, namun Amel malah langsung melepas tangan Ivan dan berdiri didepan nya.
Dia menatap menatap Ivan yang terpaku disana
"apa Amel punya salah sama kakak?" tanya Amel dengan suara yang bergetar, sebisa mungkin dia menahan tangis nya agar tak keluar dan terlihat lemah didepan Ivan
Ivan masih diam dan tak bergeming, dia menghela nafas nya dan tertunduk dengan tangan yang berada diatas paha nya
"jawab kak" kata Amel lagi, namun Ivan hanya menggeleng pelan
"Amel tahu, Amel gak begitu penting dalam hidup kakak, Amel cuma figuran yang hanya kakak cari ketika kakak butuh. Amel tahu itu, Amel bukan siapa siapa yang harus kakak perdulikan" ungkap nya begitu pedih, suara nya benar benar bergetar, bahkan air mata langsung menetes diwajah nya namun segera dia tepis dengan kasar.
"tapi bisa kah sedikit aja kakak hargai kehadiran Amel, bukan malah menghilang kayak gini," lirih nya dan mulai terisak
Ivan mengangkat kepala nya dan melihat wajah itu dengan hati yang begitu pedih
"Mel" panggil nya pelan
Amel menggeleng
__ADS_1
"terkadang kakak selalu buat Amel merasa kayak seorang gadis yang kakak sayang, tapi dalam sekejap kakak buat Amel kayak seorang yang gak ada harga nya" ungkap nya, dan Ivan langsung menggeleng lemah
Ivan langsung berdiri dan melangkah kedepan namun Amel malah memundurkan langkah nya membuat Ivan terhenti dan meringis sakit, hati nya sakit, sungguh dia tak kuasa melihat gadis ini menangis, apalagi menangis karena diri nya
"ini hati kak, hati Amel cuma satu. Semua perhatian dan rayuan kakak buat Amel semakin jatuh terlalu dalam, Amel bukan gadis munafik, Amel.....hiks....Amel udah jatuh cinta sama kakak" ungkap nya terisak dan tertunduk menangis ditempat nya
Ivan tertegun mendengar nya, dia tahu, bahkan sangat tahu bagaimana perasaan gadis itu, tapi mendengar langsung dari mulut nya membuat hati nya semakin bergetar dengan hebat
"Mel...aku" balas Ivan namun Amel langsung memotong nya
"jangan bilang apapun, Amel tahu semua yang kakak lakuin supaya kakak bisa ngelupain Karina kan" kata nya pada Ivan yang kembali tertegun
"semua perhatian dan rayuan kakak cuma bentuk dari pelarian kakak dari hati kakak yang patah, Amel tahu....hiks....Amel tahu itu" ucap nya lagi, Ivan menggeleng lemah dan tertunduk dengan perasaan yang begitu merasa bersalah
"Amel cuma pelarian kakak, dan sekarang kakak gak butuh Amel lagi, maka nya kakak menghilang gitu aja dan mengabaikan Amel"
"ini sakit kak.... sakit sekali," Isak Amelia tersedu sedu sembari memegang dada nya yang terasa sesak
Ivan menarik tubuh Amel, namun gadis itu malah menepis nya dan menatap tajam wajah Ivan yang kini memerah dengan perasaan bersalah nya
"sekarang jawab pertanyaan Amel kak" kata Amel serius ditengah Isak tangis yang berusaha ditahan nya, meski suara nya terdengar begitu bergetar
"apa kakak punya perasaan yang sama ke Amel?" tanya Amel pada Ivan yang masih terdiam dan tertunduk, seolah tak berani menatap wajah gadis itu
"apa selama ini kakak menganggap Amel hanya sebagai boneka yang bisa kakak permainkan sesuka hati?" tanya nya lagi
Ivan menatap wajah Amel
"Mel... aku...
Amel tersenyum perih ketika melihat Ivan tak bisa melanjutkan kata kata nya, dan dia tahu arti semua nya
"ternyata selama ini Amel memang gak ada harga nya Dimata kakak. Tapi gak apa apa, Amel udah cukup bahagia melihat kakak bahagia, Amel udah cukup senang ada didekat kakak dan Nerima semua perhatian kakak" ungkap nya tersenyum namun air mata seolah tak bisa berhenti mengalir diwajah nya, seolah bendungan yang selama ini ditahan nya pecah hari ini
Dia mengusap wajah nya dengan kasar dan tertawa getir
"harga diri Amel rendah banget ya kak" gumam nya
"Mel ... jangan begitu " kata Ivan lemah dia berusaha mendekat namun Amel malah kembali memundurkan langkah nya
"pergilah, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Terimakasih untuk semua nya, semoga setelah ini kakak bisa menemukan gadis yang benar benar kakak cintai" ungkap Amel dengan suara yang pelan namun begitu bergetar, bahkan keringat sudah membasahi tubuh nya karena menahan sakit yang teramat dalam
Dia menatap Ivan kembali dan tersenyum, menatap wajah tampan yang telah memenuhi seluruh lubuk hati nya
__ADS_1
Sakit, sungguh. tapi apa boleh buat, setidak nya dia lega telah mengungkap kan isi hati nya selama ini
"Mel... maafkan aku" kata Ivan yang sedari tadi terasa begitu berat untuk mengungkap kan semua isi hati nya, padahal rasa nya dia benar benar lemah melihat tangisan gadis itu, hati nya juga sakit , sungguh sakit
"kakak gak perlu minta maaf, kakak gak salah. Amel lah yang salah udah jatuh cinta sama kakak, Amel salah karena terlalu percaya diri kalau kakak juga punya perasaan yang sama dengan Amel. Harus nya Amel sadar diri, Amel cuma anak pungut yang gak pantes dapetin hati seorang pangeran kayak kakak" ungkap nya, membuat jantung Ivan seperti ditusuk sembilu
"Mel" panggil Ivan
"selamat tinggal kak" ucap nya dan langsung berbalik meninggalkan Ivan yang mematung ditempat nya, dan tanpa Amel tahu, setetes air mata menetes diwajah tampan itu
Amel berjalan terhuyung dengan langkah yang begitu gontai, pecah sudah Isak tangis nya yang sedari tadi ditahan nya.
Sakit , ini begitu sakit, perasaan ini seperti ingin membunuh nya. Padahal dia sudah menyiapkan hati nya untuk ini, dia sudah tahu ini akan terjadi tapi kenapa sesakit ini.
Ya, Tuhan...
Amel jatuh terduduk dan menggerung tangis nya disebalik dinding gedung yang telah sepi dari para manusia
Dia menangis dengan hebat, tersedu sedu bahkan nafas nya terasa tersengal dan begitu sesak.
Dia memeluk lutut nya dan menyembunyikan suara tangisan nya di dalam sana.
Sakit sekali, sampai dia begitu lemas saat ini. Apalagi ketika tak dia dengar sedikitpun jawaban dari bibir Ivan, membuat hati nya semakin terluka.
Apa dia memang tak ada harga nya sama sekali, apa karena dia anak pungut, maka tak ada sedikitpun rasa yang tercipta dihati Ivan.
Dia tak mengharap dibalas, tapi setidak nya dia hanya ingin mendengar sesuatu yang melegakan hati nya dari mulut Ivan, dia tahu cinta tak mungkin selalu memiliki, tapi setidak nya jangan diabaikan seperti ini, dan dicampakan begitu saja. Hati nya sungguh hancur berkeping keping saat ini.
Hanya suara Isak tangis Amel yang terdengar disekitar tempat itu karena dia berada dibelakang gedung yang memang sudah tak ada lagi penghuni nya
Dia menangis tersedu sedu seolah menumpahkan segala kesakitan nya, segala beban nya.
kenapa sesakit ini, kenapa sepedih ini, kenapa Ivan tega.... apa dia memang tak ada arti nya.
Berulang kali hanya kalimat itu yang selalu memenuhi kepala nya hingga dia benar benar tak bisa berhenti menangis
Namun sesuatu yang terjatuh didepan nya membuat nya menengadah dan sedikit terkejut.
Ivan, kenapa dia disini
lalu
kenapa.... dia menangis ??????
__ADS_1