
Pagi ini seperti biasa Ivan sedang sarapan disofa kamar seraya memperhatikan Amel yang masih tertidur. Jika sedang tertidur seperti ini, Ivan merasa sedikit tenang. Tapi jika Amel sudah muntah muntah kembali, dia benar benar tidak tega.
Ivan sudah rapi dan mengenakan kemeja kerja nya. Ada rapat pagi ini, dan dia harus cepat pergi keperusahaan.
Setelah sarapan, dia mendekati Amel. Tapi sebelum itu, dia mencium dulu kemeja nya, jangan sampai ada wangi apapun yang lengket, jika tidak maka Amel pasti akan muntah lagi.
Setelah memastikan semua nya aman, dia segera duduk disamping Amel dengan begitu hati hati. Wajah Amel pucat, tapi jika tidur seperti ini, dia terlihat sangat tenang. Ivan jadi tidak tega untuk membangunkan nya, tapi jika tidak dibangunkan, Amel pasti akan marah.
"Sayang" bisik Ivan seraya menciumi wajah Amel
"Hmmm" gumam Amel yang langsung menggeliat sedikit
Ivan tersenyum, dia mengusap wajah cantik dan imut milik istrinya. Wajah yang setiap hari selalu menambah kadar cintanya.
"Aku mau berangkat ya" pamit Ivan
Amel mulai membuka matanya, dan memandang Ivan dengan sayu
"Udah mau berangkat?" tanya Amel, suaranya masih begitu serak
Ivan tersenyum dan mengangguk. Dia mencium bibir Amel sekilas. Tangan nya memeluk tubuh mungil yang masih dalam selimut itu.
"Iya, ada rapat pagi ini. Kamu gak apa apa aku tinggal kan?" tanya Ivan
Amel mengangguk, namun dia langsung melingkarkan tangan nya keleher Ivan membuat Ivan langsung terkekeh dan memeluk Amel dengan gemas
"Manja banget deh sayang aku" ucap Ivan yang langsung menciumi seluruh wajah Amel
"Aku kirim ya yang" ucap Amel
"Kirim apa?" tanya Ivan yang masih mendekatkan wajah nya kewajah Amel
"Aku kepengen martabak telor. Tapi telor nya lima butir, sama gak pakek cabe, eh pakek deh, satu butir aja" ungkap Amel. Mata nya yang masih mengantuk langsung tampak berbinar dengan indah
"Oke" ucap Ivan yang kembali menciumi wajah Amel dengan gemas
"Sayang udah dong, kata nya mau pergi" Amel langsung menjauhkan wajah Ivan dari wajah nya. Ivan tertawa dan kembali mengecup bibir Amel
"Aku kangen tahu, udah sebulan puasa" ungkap Ivan dengan wajah sedih nya. Amel tertawa, dia mengusap wajah Ivan dengan lembut
"Maaf, aku juga pengen. Tapi dokter Sandra bilang belum boleh. Janin nya masih lemah banget" jawab Amel dengan wajah sendu nya
Ivan tersenyum dan mengangguk
"Enggak apa apa. Aku memang kangen banget, tapi demi anak kita. Aku masih bisa tahan kok. Yang penting, kamu dan dia sehat" ungkap Ivan seraya mengusap perut Amel
"Kami pasti sehat, yang penting ayah juga harus tetap sehat biar bisa jagain bunda" ucap Amel dengan senyum lucu nya
"Iya bunda, ayah pasti jagain bunda selalu" balas Ivan
Mereka berdua langsung tertawa lucu dan sedikit geli dengan panggilan itu. Tapi mereka memang sudah sepakat ingin dipanggil ayah dan bunda untuk anak anak mereka nanti.
"Aku udah boleh pergi" tanya Ivan
Amel mengangguk dan dia langsung beranjak bangun dengan dibantu Ivan
"Iya, tapi tungguin aku ya. Aku juga mau turun" kata Amel
"Mau ngapain, kalau masih pusing dikamar aja" ujar Ivan namun Amel langsung menggeleng
__ADS_1
"Pengen cari udara seger didepan. Udah dua hari dikamar terus,.udah kayak mayat hidup aku" ucap Amel yang langsung beranjak kekamar mandi untuk mencuci muka nya. Jangan harap dia akan mandi.
Ivan membantu Amel membersihkan dirinya, mengganti pakaian, bahkan menyisir rambut panjang istrinya. Semua dia lakukan dengan begitu telaten. Bahkan terkadang Amel merasa tidak enak, yang seharusnya dia yang melayani Amel, kini malah Amel yang dilayani.
Setelah selesai, mereka turun kelantai bawah dengan menggunakan lift. Hari sudah siang, sudah jam tujuh lewat. Dan Amel memutuskan untuk duduk diteras rumah besar itu.
"Aku pergi ya. Kalau ada apa apa hubungi aku" ucap Ivan seraya mencium kembali dahi Amel
Amel mengangguk dan menyalami punggung tangan Ivan
"Iya, kamu hati hati. Cepet pulang, jangan lupa pesanan aku" ujar Amel
"Siap sayang. Kamu juga hati hati" sahut Ivan
"Ayah pergi ya nak. Jangan nakal, jangan buat bunda susah" Ivan mengusap perut Amel yang sudah sedikit terasa keras dan menonjol
"Iya ayah" sahut Amel
Sekali lagi Ivan mencium dahi Amel dan mengusap kepala istrinya
"Udah mau pergi nak?" tanya Delisha yang baru datang dari dalam rumah
"Iya ma, ada rapat dikantor. Ivan pergi ya, titip Amel" pamit Ivan seraya mencium punggung tangan Delisha
"Iya, hati hati. Berangkat sama Roy kan?" tanya Delisha seraya menoleh pada Roy yang sudah berdiri disamping mobil Ivan
"Iya, males nyetir. Yaudah Ivan pergi dulu, dah sayang" pamit Ivan pada istri dan ibu nya
"Hati hati" sahut mereka berdua
Amel melambaikan tangan nya melihat mobil Ivan yang sudah mulai pergi dan keluar dari gerbang rumah. Setelah itu , dia kembali duduk dikursi yang ada disana
"Gak terlalu ma, makanya bisa keluar. Bosen dikamar" ucap Amel
Delisha tersenyum dan duduk disebelah Amel
"Mau makan sesuatu? Biar mama buatin" tawar Delisha
Namun Amel malah menggeleng. Dia sangat susah untuk makan apapun. Selama sebulan ini dia hanya makan buah dan roti. Melihat nasi dia benar benar tidak bisa, apalagi bau masakan. Perutnya serasa diaduk dengan kuat.
"Sebenernya Amel pengen sesuatu, tapi Amel takut mau bilang nya" ucap Amel yang langsung tertunduk tidak enak
"Pengen apa sayang, bilang aja. Gak apa apa" kata Delisha
"Beneran boleh???" tanya Amel begitu ragu. Namun Delisha langsung mengangguk dan tersenyum dengan yakin.
"Beneran, gak apa apa. Mama pasti turutin" sahut Delisha
"Amel...Amel pengen makan ikan ma" ucap Amel dengan wajah sendu nya
"Ya ampun, kenapa gak bilang. Mau makan ikan apa biar mama masakin" tanya Delisha. Mau makan ikan saja kenapa Amel takut begini?
"Tapi... ikan yang ada di kolam belakang ma" ucap Amel
Mata Delisha langsung mengerjap perlahan mendengar nya
"Ikan koi milik Jonathan?" tanya Delisha dan Amel langsung mengangguk dengan cepat
"Amel mau bilang kak Ivan, tapi gak berani" ungkap Amelia
__ADS_1
Delisha langsung tersenyum getir mendengar nya. Seperti nya ini benar benar cucu Sultan nya. Mengidam bukan hal yang murah, bahkan dia tahu jika harga satu Ikan koi itu ratusan juta bahkan ada yang lebih dari satu miliar, apalagi sudah besar dan berumur. Mudah mudahan saja Jonathan tidak marah
"Gak boleh ya ma" tanya Amel dengan mata yang berkaca kaca , apalagi melihat wajah Delisha yang meragu
Namun Delisha langsung tersenyum dan menggeleng. Demi cucu, tidak masalah, batin nya
"Boleh sayang, mama akan menyuruh Jhon untuk ambil ikan nya ya" ujar Delisha. Namun belum lagi beranjak, sebuah mobil masuk kepekerangan rumah mereka. Dan itu adalah mobil Jonathan yang pasti akan mengantar Karina
"Tapi Amel mau kak Jo yang ambil boleh ma" pinta Amel lagi saat melihat Jonathan. Entah kenapa dia jadi berubah fikiran.
Sungguh demi apapun, Delisha benar benar bingung sekarang.
"Boleh, nanti mama suruh dia" sahut Delisha. Dia segera beranjak dan berjalan menuju keteras rumah. Tangan nya melambai, membuat Karina yang sudah turun terlihat heran
"Panggil Jonathan sebentar nak" ujar Delisha
Karina kembali menoleh kearah mobil dan memanggil suami nya. Dan tidak lama Jonathan juga turun dari mobil dan berjalan masuk bersama Karina.
Dia memandang heran Delisha yang terlihat tersenyum getir. Dan kembali menoleh kearah Amel yang masih berwajah pucat itu tampak mengharapkan sesuatu. Ada apa???
"Kamu bisa siangan dikit gak pergi keperusahaan?" pinta Delisha
"Kenapa ma?" tanya Jonathan heran
"Amel ngidam pengen makan ikan" jawab Delisha
Jonathan terlihat mengernyitkan dahi nya. Mau makan ikan? Lalu apa hubungan nya dengan dia.
"Amel pengen makan ikan koi kamu"
deg
"Dia juga pengen kamu yang ambilin"
Mata Jonathan langsung terbelalak sekilas bahkan dia memandang Amel dengan wajah terperangah, namun adik ipar nya itu malah tersenyum tanpa merasa bersalah
"Ikan koi aku?" tanya Jonathan sekali lagi. Dan Delisha langsung mengangguk
Karina tampak menahan tawanya mendengar itu. Memang cucu Sultan yang sesungguhnya
"Ikan koi kan banyak dijual Mel, kenapa ikan dikolam?" tanya Jonathan tidak percaya
"Lagi pula itu ikan udah tua" sahut nya lagi
"Tapi Amel pengen kak" sahut Amel dengan wajah memelas nya
Delisha langsung menampar lengan Jonathan dengan kesal
"Jangan pelit, ambilin aja deh. Kamu mau keponakan kamu nanti ileran" tanya Delisha dengan kesal
"Bukan pelit ma, tapi masak iya aku yang harus ngambil" sahut Jonathan keberatan. Namun melihat tatapan tajam Delisha dan wajah sedih Amel dia langsung menghela nafas pasrah
"Ambilin deh kak. Bentar doang" sahut Karina pula
"Kayak nya, anak Ivan balas dendam sama Jo deh ma" ucap Jonathan begitu pasrah
"Balas dendam" gumam Karina bingung
Namun Delisha yang tahu cerita nya langsung tertawa lucu. Sepertinya memang begitu. Dulu Jonathan pernah menenggelamkan motor Ivan dikolam itu karena marah. Dan sekarang anak Ivan yang membalaskan dendam ayahnya.
__ADS_1