Story Of The Twins

Story Of The Twins
Hari Terakhir Dikampung


__ADS_3

Saat ini Ivan sedang bermotor ke toko Bambang dan Dian bersama Amel. Hari sudah larut malam, namun mereka masih ingin berjalan jalan mengitari kampung halaman Ivan dimana malam hari terasa sangat menyenangkan.


Ivan mengendarai motor pak Tarman, Amelia ingin berjalan jalan malam itu sebelum besok hari mereka kembali Kekota.


Senyum Amelia tidak pernah luntur dari wajah imut nya ketika melihat beberapa warga yang menyapa mereka dengan ramah.


Suasana dikampung itu masih terasa menyenangkan, hal yang tidak pernah dirasakan oleh gadis kota itu selama ini. Dia yang selalu disibukan oleh pekerjaan dan tentu nya kehidupan hiruk pikuk kota yang penuh dengan kesibukan tidak menentu. Namun dikampung ini, dapat dia lihat ketenangan dan keceriaan orang orang yang terasa begitu hangat dan tanpa beban.


Anak anak remaja yang baru pulang mengaji, para bapak bapak yang sedang berkumpul dibeberapa pos ronda untuk berjaga jaga. Anak anak muda yang berkumpul dibeberapa tempat hanya untuk bermain gitar dan nongkrong menghabiskan malam. Sungguh sangat berbeda dengan kehidupan dikota


"bang Ivan, awas bidadari nya jatoh!!!" seru beberapa pemuda yang dilewati Ivan


"aman" balas Ivan sembari mengangkat tangan nya sekilas


Amelia tertawa melihat itu


"enak banget disini ya uang. Tenang, damai, beda banget sama dikota" ungkap Amelia sembari mendekatkan wajah nya ketelinga Ivan


"ya, terkadang, memang rindu masa masa seperti ini" jawab Ivan. Tangan kiri nya mengusap pelan lutut Amelia yang masih asik dengan pemandangan mata nya


"nanti kalau udah nikah, kita sering liburan kesini ya" ajak Amelia membuat Ivan tertawa kecil


"kenapa malah kesini, aku kira kamu pengen nya liburan keluar negeri, duit aku udah banyak kok" ucap Ivan . Amelia langsung memeluk pundak Ivan dengan gemas


"iya tahu deh aku duit kamu banyak. Aku kan cuma pengen ketenangan kayak gini, tapi liburan keluar negeri juga harus dong" kata Amel juga sembari tertawa kecil


"haha, iya iya, apa sih yang enggak buat kamu" goda Ivan


"yah punya suami kaya kan harus dimanfaatin uang nya" goda Amelia, mereka kembali tertawa bersama sembari menikmati udara malam dipedesaan itu yang lumayan dingin


"tenang aja yang, kita habisin duit gaji aku. Nanti kalau duit aku habis, duit kamu kan ada buat nyambung hidup" kata Ivan dengan tawa nya membuat Amelia juga tertawa terbahak bahak


"hahaha, bener bener. Nanti kalau duit kita sama sama udah habis, baru deh kita jadi gembel" kata Amelia


"hahaha, jangan dong. Ya paling enggak pulang kekampung, jadi petani lagi" kata Ivan terkekeh geli


"hihi, ya ampun, miris banget. Jangan ah, aku takut kamu cepet tua nanti kalau jadi petani. Gak ganteng lagi dong" goda Amel


"jadi kalau aku jelek, kamu gak cinta lagi gitu?" tanya Ivan langsung , dan Amel langsung terkikik geli


"iya lah, aku udah cantik begini masak suami nya jelek." sahut Amelia membuat Ivan langsung mencubit gemas lutut gadis itu membuat Amelia menggelinjang geli


"jahat banget kamu, gak tulus dong kalau begitu" kata Ivan kesal


"hihi, becanda sayang, gitu aja ngambek" kata Amel yang langsung memeluk Ivan dan mencium singkat pipi nya membuat Ivan langsung tertawa dan begitu senang


"cinta aku kekamu kayak sungai Nil, panjang dan gak akan pernah ada ujung nya" kata Amelia membuat Ivan mendengus senyum


"pinter banget ngegombal sekarang" kata Ivan membuat Amelia tertawa geli, tangan nya masih setia memeluk pinggang Ivan


"kan kamu yang ngajari" sahut Amel


"gak pernah tu, aku gak pernah ngegombal. Semua yang aku bilang itu ungkapan isi hati sayang" kata Ivan


"ya aku juga" sahut Amel


"aaah jadi pengen bawa kamu ke penghulu" kata Ivan lagi


"dih mana ada penghulu yang buka malam malam begini" sahut Amel membuat Ivan terbahak


"ada, kalau kamu aku bawa masuk ketengah sawah, aku jamin, besok pagi kita langsung sah jadi suami istri" jawab Ivan dan Amelia langsung memukul pundak nya kesal


"jangan yang aneh aneh. Malu banget aku, iya kali, setelah itu berita kita viral. CEO Agueno group ditangkap basah berbuat mesum dengan pemilik Amei BOUTIQUE ditengah sawah, ya Tuhan. Amit amit, gak banget deh," seru Amelia kesal dan panik membayangkan semua itu.


Ivan langsung tertawa terbahak bahak mendengar nya


"hahaha , dan setelah itu aku juga bakal dicoret dari KK keluarga Alexander" sahut Ivan dan kali ini Amelia yang terbahak


"ya, dan kita bakalan jadi gembel beneran" tambah Amelia lagi


Mereka kembali tertawa bersama malam itu, membahas hal hal random dan bahkan hal receh sekalipun. Seperti tidak ada lagi beban dalam hidup mereka ketika mereka bersama. Dan semua itu memang benar. Ivan dan Amelia begitu menikmati waktu kebersamaan mereka.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu mereka sudah tiba di toko yang dikelola oleh Dian dan Bambang. Toko yang sudah sangat besar dan begitu maju.


Terlihat Dian , Faiz dan Dirga sudah duduk disebuah pondok kecil yang tersedia disana sembari bernyanyi dengan gitar yang ada ditangan Faiz. Asisten nya itu terlihat lebih santai saat berada dikampung, sangat berbeda ketika mereka sedang bekerja. Tidak ada teman dan sahabat, hanya ada bawahan dan atasan saja karena mereka harus profesional seperti perkataan Maxwel.


"wajah bidadari gue udah Dateng" ucap Dian membuat Ivan mendengus, sedangkan Faiz dan Dirga juga Amel tertawa melihat wajah kesal Ivan


"bidadari Mbah lu" sungut Ivan


"jealous aja tuan muda. Nyapa doang" kata Dian menatap Ivan dengan jengah


"sini duduk Mel, biar gak banyak nyamuk" kata Dian lagi sembari menepuk tempat disebelah nya dan Ivan hanya membiarkan itu, karena memang tempat itu masih lapang dan nyaman untuk Amelia


"jangan lu sentuh binik gue" kata Ivan menatap tajam Dian yang terbahak sembari duduk didepan Amel


"yaelah, gue masih sayang nyawa kali Van" jawab Dian


"Lo kalau cemburu jangan sama Dian lah tuan muda, gak ada gitu yang lebih ganteng yang bisa Lo cemburuin" goda Dirga


"tahu nih, sama Dian aja cemburu. Bukan level ya nyonya" kata Faiz yang menatap Amelia . Amelia hanya tertawa mendengar perkataan mereka


"sialan Lo pada, mentang mentang gue jelek, item, dekil, Kumal, pendek, gak kaya pulang, langsung pada begitu" kata Dian sewot . Ivan dan yang lain langsung tertawa mendengar nya, apalagi melihat wajah kesal Dian


"hahaha, jujur banget sih Lo" kata Dirga tertawa geli. Teman teman Ivan disini, memang begitu seru dan ramah, sangat berbeda dengan teman teman nya dikota yang sekarang terlihat sangat berkelas dan mereka juga jarang berkumpul karena kesibukan masing masing


"udah deh, suka banget godain kak Dian" kata Amelia menengahi perdebatan mereka


" Kak, ada cemilan apa , Amel pengen ngemil nih" tanya Amel pada Dian yang langsung berbinar memandang Amel membuat Ivan berdecak kesal melihat nya


"kamu mau apa bidadari, ada Snack, roti bakar, bakso bakar, gorengan, atau jagung bakar?" tanya Dian begitu semangat membuat Amelia tertawa melihat nya


"banyak banget, dikira Amel sapi apa ya" sahut nya


"tahu nih, binik gue udah cantik cantik begitu lu kasih makan banyak, mau jadi apa dia" ucap Ivan


"kan gue nawarin doang, tinggal pilih. memang sirik aja nih tuan muda" dengus Dian


"gimana kalau kita bakar jagung aja. Enak nih sama cuaca yang dingin begini" kata Faiz membuat mereka langsung mengangguk setuju


"kayak nya enak tuh" sahut Amel


"gak usah, itu ada didalem, tinggal buat api unggun nya aja" sahut Dian


"oh oke" jawab Faiz


"biar gue siapin api nya, kalian ambil jagung nya didalem ya" kata Dian pada Faiz dan Dirga


"oke" jawab mereka


"Karin sama kak Jo kemana sih?" tanya Amel pada Ivan


"ya malem mingguan lah, mereka kan pasangan terbucin nomor dua" sahut Dirga yang ternyata masih mendengar nya.


"yang nomor satu siapa?" tanya Faiz


"ya tuan muda Lo lah" sahut Dirga membuat Faiz dan Dian langsung tertawa terbahak bahak


"sirik aja kalian para jomblo" dengus Ivan yang hendak membantu Dian membuat bara api. Untung arang sudah tersedia disana, jadi mereka tidak perlu bersusah payah mencari nya


"udah biar gue aja. Tangan Lo item nanti" kata Dian menepis tangan Ivan yang hendak meraih arang dalam karung


"yakin Lo" tanya Ivan


"iya tuan muda" jawab Dian membuat Ivan dan Amelia terkekeh kecil


"ah, salah nya bang Bambang gak bisa ikut dia ya" sesal Ivan yang kini sudah duduk bersama Amel diatas pondok sembari menikmati cemilan kacang dan kuaci disana


"ya, binik nya lagi bunting besar. Mana tega dia ninggalin nya. Lagian sore tadi udah sama kita satu harian" sahut Dian


"iya bener" kata Ivan


"coba telpon kak Jo yang, siapa tahu mereka mau ngumpul" ucap Amelia

__ADS_1


"iya, biar makin ramai" sahut Dian pula


"percuma juga ngajakin tuan muda itu. Dia juga gak bakalan ikut makan" sahut Dirga yang baru tiba dengan beberapa jagung ditangan nya


"makan, tenang aja. Ada pawang nya kok. Lo gak liat sore tadi gimana dia pasrah nya" kata Ivan tertawa sembari mengotak ngatik ponsel nya


"ya beda circle dia sebenar nya sama kita" sahut Faiz yang kini sedang mengupas jagung nya


"nanti juga lama lama terbiasa. Kalau udah sama Karina, mereka pasti sering kesini" ungkap Amel membuat Ivan mengangguk.


Dia sedang berbicara dengan Jonathan sekarang. Hanya sebentar.


"harum banget" gumam Amel. Dia langsung turun dan mendekati Faiz yang sedang membakar jagung nya


"mau rasa apa nyonya?" tanya Faiz pada Amel yang sudah berada didepan nya


"keju aja deh kak" jawab Amel


"oke siap" jawab Faiz , namun langsung direbut oleh Ivan


"biar gue aja" kata Ivan membuat Faiz langsung bergeser menjauh. Sedangkan Dian dan Dirga hanya menggeleng jengah


"posesif banget" gumam Dian


"belum itu, Lo aja gak tahu setiap satu jam sekali mereka telponan, kadang gue mabuk dengar nya" sahut Faiz


"berisik Iz" dengus Ivan membuat Dirga langsung tertawa


"persis banget kayak tuan gue" kata Dirga. Mereka langsung tertawa bersama.


Saling bercanda dan berbagi cerita malam ini, sebelum besok hari mereka kembali ke kehidupan mereka yang dipenuhi oleh kesibukan.


...


Tidak lama kemudian, Karina dan Jonathan tiba ditempat itu. Mereka mengendarai mobil sport Lamborghini milik Jonathan. Memang lelaki satu itu selalu dipenuhi oleh kemewahan hingga membuat orang orang kampung yang melihat nya selalu berdecak kagum. Mereka juga sangat memuji Karina yang bisa mendapatkan hati kembaran Ivan itu.


"lama banget kalian. Udah mau habis ini" kata Ivan yang tengah mengunyah jagung nya disamping Amel


"dari mana?" tanya Amel pada Karina yang duduk disebelah nya


"jalan jalan kak. Tuh keatas bukit condong" jawab Amelia sembari mengambil sebuah jagung yang telah tersedia


"wuih, main nya dibukit bukit" goda Dian pada Karin yang langsung tertawa. Hanya Dian dan Ivan yang berani menggoda Karina dan Jonathan, Faiz dan Dirga hanya diam dan ikut tertawa. Mereka tidak punya cukup nyali menggoda makhluk es itu


"iya dong, bosen tahu liat sawah terus. Sesekali aja kak Jo main ketempat yang berbeda" jawab Karina


"emang udah bisa mobil masuk ya Rin?" tanya Ivan


"udah kok. Sekarang kan udah jadi tempat wisata. Jalanan nya udah bagus, udah diaspal juga. Malam hari gini malah ramai pengunjung nya" jawab Karin


"iyalah, enak itu saling ngadem berdua" sahut Dian membuat Karina tertawa


"enggak lah. Disana banyak kunang kunang nya kak, terus kita juga bisa nikmati sunset juga" jawab Karina


"otak lu ngeres aja" sungut Ivan


"udah kelamaan jomblo mah gitu" sahut Dirga


"kayak lu enggak aja" kata Dian pula


"kak, cobain" ucap Karina menyerahkan jagung itu pada Jonathan yang menatap nya aneh, seperti biasa Dirga, Faiz dan Dian saling pandang dan mengangguk menahan tawa mereka melihat tuan muda yang sangat menjaga kebersihan ini


"aku masih kenyang, nanti saja" kata Jonathan dengan senyum tipis nya


"enak kok, cobain dulu" kata Karina lagi


"bersih kok bang. Aman lah, sesekali jadi orang desa" sahut Ivan pula membuat Jonathan langsung mendengus


Dia langsung menggigit jagung dari tangan Karina


"pasti ribet ya Rin ngasih makan Abang gue" kata Ivan pada Karina yang langsung terbahak mendengar nya

__ADS_1


"hahaha, ribet ribet dikit lah kak." jawab nya dengan tawa lucu menatap Jonathan yang langsung mengacak gemas rambut nya


Mereka menghabiskan malam hingga begitu larut. Bercanda bersama tanpa memperdulikan tatapan orang orang kampung yang menatap mereka dengan penuh arti


__ADS_2