
Acara pernikahan Faiz berjalan dengan lancar. Ikrar ijab kabul mereka juga dia lantangkan begitu fasih dan lancar. Tidak salah memang asisten sekaligus sahabat Ivan ini. Dia benar benar menjadi tegas dan benar benar penuh wibawa mengikat Diana didepan walinya.
Meski hubungan mereka ternilai baru seumur jagung, namun Faiz terlihat begitu serius dan yakin dengan pilihan nya.
Wajah Faiz dan Diana terlihat sama sama bahagia. Kini mereka sudah duduk dipelaminan dan menyambut tamu tamu undangan yang telah tiba.
Ivan dan Amelia masih duduk dimeja yang memang disediakan untuk mereka. Ivan tidak membiarkan Amelia kesana kemari. Bahkan mereka belum ada mengucapkan selamat pada pengantin baru itu karena tamu undangan yang masih begitu banyak mengantri.
"Capek gak yang?" tanya Ivan
Ini sudah entah yang keberapa kali dia bertanya. Padahal mereka ada disana belum ada satu jam.
"Belum sayang, baru juga duduk" jawab Amel yang sedang menikmati jus mangga yang memang dibawa dari rumah, hanya itu yang membuat nya tidak mual diantara banyak nya manusia yang ada didalam gedung itu
"Nanti kalau udah capek bilang ya. Jangan dipaksain" ujar Ivan
"Iya" jawab Amel
Dia masih memperhatikan Faiz dan Diana yang persis seperti raja dan ratu. Sangat anggun dan penuh wibawa dengan baju adat mereka.
"Nak Amel, minum apa itu?" tanya bu Sari tiba tiba
Amel dan Ivan langsung menoleh pada Bu Sari yang baru datang dan bergabung dengan mereka. Dia datang bersama ibu Karina.
"Jus mangga Bu" jawab Amel dengan senyum lebar nya
"Belum bisa makan juga ya nak. Kata mama kamu , kamu cuma makan buah aja" tanya ibu Karina pula
"Iya Bu, gak tahu kenapa. Setiap lihat nasi bawaan nya mual terus" jawab Amel
"Gak papa, yang penting yang lain masih bisa dimakan" ucap Bu Sari
"Iya Bu, makan buah doang" jawab Amel
"Tapi kemarin bisa makan ikan yang" sahut Ivan
"Ikan mahal nak Jo" jawab ibu Karina dengan tawanya membuat Ivan juga ikut tertawa
"Iya Bu, anak Ivan masih didalem perut tapi minta nya udah aneh aneh" sahut Ivan
"Emang kenapa ikan nya?" tanya Bu Sari
"Ikan mahal Ri, dua miliar" bisik ibu Karina membuat bu Sari langsung terbelalak
"Walah yang bener???" tanya Bu Sari tidak percaya
"Lah iya. Karin yang bilang" jawab ibu Karina
"Emang ada ikan dua miliar?" tanya Bu Sari
"Entah, aku juga gak tahu. Tapi kalau orang kaya apa yang gak ada" jawab ibu Karina
Amel hanya tersenyum canggung mendengar itu. Dia sendiri bahkan terkejut saat mengetahui harga ikan itu yang benar benar mahal. Pantas saja wajah Jonathan begitu frustasi saat dia meminta ikan itu kemarin. Ternyata harga ikan yang benar benar mahal dan pastinya langka. Anak nya benar benar ajaib. Padahal jika tidak sedang hamil, Amel jarang sekali mau makan ikan
"Walah ngidam nya gak tanggung tanggung ya Mel" ucap bu Sari dengan tawa lucu nya
__ADS_1
"Gak papa lah Bu. Yang penting anak Ivan nanti sehat" jawab Ivan
"Iya, ibu udah gak sabar pengen gendong cucu" sahut bu Sari
"Iya, aku juga Ri. Tapi Karin mahal belum hamil" ucap ibu Karina
"Nanti juga nyusul. Sabar aja. Masih berapa bulan" sahut bu Sari
"Iya Bu, kalau kami sama sama hamil nanti mama bingung ngurus nya" sahut Amel
"Iya sih, tapi kan ibu juga was was" ungkap ibu Karina
"Mama juga dulu lama katanya baru dapet Ivan sama bang Jo. Lima tahun lagi, Karina sama bang Jo nikah baru tiga bulan" ungkap Ivan pula
"Iya sih, nama nya anak gadis semata wayang. Pasti ngarep nya cepat" jawab Ibu Karina
Mereka jadi membahas tentang kehamilan saat ini. Untung saja Karina dan Jonathan sedang menyambut tamu yang baru datang dari kampung. Jika mereka mendengar, entah apa fikiran Karina. Mungkin dia akan sedih.
...
Setelah tamu undangan Maxwel dan rekan bisnis Ivan mulai berkurang. Kini Ivan dan Amelia yang naik kepelaminan. Mereka ingin berfoto bersama sekaligus untuk mengucapkan selamat pada kedua pengantin baru itu.
Ivan mendampingi Amel sedari tadi, bahkan untuk berjalan pun dia begitu hati hati mengamati langkah kaki istrinya itu.
Ivan tidak ada meninggalkan Amel, dia hanya menghilang sebentar untuk menyambut rekan bisnis nya sebentar tadi, dan setelah itu dia kembali pada Amelia. Rasanya Ivan benar benar tidak bisa jauh dari Amel, apalagi sampai membiarkan Amel kelelahan.
"Udah aku bilangin padahal jangan pake high heels, bandel banget" omel Ivan saat mereka menaiki beberapa anak tangga
"Enggak tinggi juga kok. Ini aja aku udah kelihatan pendek" sahut Amel
Amel hanya mendengus kesal melihat betapa posesif nya Ivan. Tadi mama mertuanya yang mengomel karena dia pakai high heels, dan sekarang Ivan. Benar benar meresahkan
"Kenapa sih, pada ngomel. Ngerusak suasana aja" kata Faiz yang ternyata mendengar omelan Ivan
"Ah nona hati hati" Diana langsung menyambut Amel yang tertawa kecil dan langsung meraih tangan nya
"Bandel banget. Aku ngerih dia pakek high heels begitu" ucap Ivan yang kini berdiri disebelah Faiz
"Yakan percuma ada suami. Itu tugas suami untuk jagain istri" ungkap Faiz
"Nah bener, kali ini ada yang belain aku" kata Amel dengan tawa nya membuat Ivan langsung mendengus kesal
"Hah, payah emang ngomong sama ibu hamil" gumam Ivan tanpa didengar oleh Amel yang kini sedang berpelukan bersama Diana
"Cantik banget kamu Di. Kayak ratu kidul" ledek Amelia. Diana langsung tertawa seraya melepaskan pelukan mereka
"Bisa aja nona. Saya kira nona sorean datengnya. Kami sempat sedih kirain kalian gak bisa nyaksiin akad kami" ungkap Diana
Amel tersenyum dan mengusap lengan Diana
"Dateng dong. Maklum, ini Dedek bayi payah banget diajak bangun pagi" jawab Amel seraya mengusap perut nya
"Gak apa apa. Yang penting sehat. Moga cepet nular kesaya" kata Diana yang juga mengusap perut Amel
"Wah kode tuh Iz" sahut Ivan yang ternyata mendengar ucapan Diana
__ADS_1
"Tenang, nanti malam gas" jawab Faiz yang ternyata sudah mengerti
"Mana bisa. Aku lagi dapet" ungkap Diana membuat Ivan langsung terbahak sedangkan Faiz langsung memandang Diana dengan tidak percaya
"Bohong kamu" ucap Faiz
"Beneran kok. Gak percaya nanti lihat" jawab Diana
"Wow wow, takut khilaf si Faiz nanti" ujar Ivan
Amel langsung tertawa dan mencubit lengan Ivan dengan gemas
"Apaan sih yang ngomong nya" sahut Amel
"Pokok nya harus cepat nyusul. Biar sebaya anak kita nanti" pinta Amel.
"Doain aja nona" jawab Diana
"Iya, biar turun temurun anak kita sahabatan" sahut Amel
Mereka langsung tertawa bersama diatas pelaminan itu hingga Jonathan dan Dirga juga naik keatas bersama Karina dan Kasih
"Wah ketawa gak bagi bagi nih" sahut Dirga
"Bahas malam pertama, yang belum nikah gak boleh ikutan" jawab Ivan dengan tawanya
"Kamu selalu menebar racun dimana mana" sahut Jonathan
"Emang, otak orang yang dekat sama tuan muda ini langsung oleng semua" ucap Faiz
"Kalian aja, gue enggak" sahut Dirga dan keempat lelaki itu langsung tertawa bersama
Sedangkan Karina dan Kasih sudah bergabung bersama Diana dan Amel
"Setelah ini kamu yang harus nyusul" ucap Amel pada Kasih yang terlihat cantik
"Masih lama nona" jawab Kasih dengan wajah yang malu malu
"Ngapain nunggu lama lama. Biar enak kita bisa gabung yakan" ujar Karina pula
"Iya, siapa tahu hamil nya juga barengan" sahut Diana pula, tanpa sadar telah membuat raut wajah Karina berubah sekarang
"Wah saya masih jauh nona. Belum ada rencana" jawab Kasih
Amel langsung meraih lengan Karina, ipar nya ini jika sudah membahas tentang kehamilan pasti langsung terdiam. Apalagi hari ini semua orang bertanya padanya tentang sudah hamil atau belum. Membuat mood Karina menjadi jelek saja
"Kita foto yuk, udah ramai lagi tuh yang antri" ujar Amel mengalihkan suasana
"Yuk" ajak Diana
Keempat lelaki itu juga langsung mengangguk setelah mereka saling berbincang hal random dan menggoda Faiz
Sekarang, formasi mereka sudah lengkap. Tuan muda dan asisten bersama pasangan masing masing. Senyum bahagia langsung terpatri diwajah mereka.
Berbagai pose dan juga senyum mereka lancarkan dihari itu. Saling berbagi kebahagiaan masing masing.
__ADS_1