Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kabar Buruk


__ADS_3

Wajah Jonathan tampak menegang, bahkan gelas yang dipegang nya sejak tadi langsung terjatuh kebawah, membuat Karina yang sedang tiduran diatas ranjang langsung menoleh kearah nya.


Jonathan baru saja menerima telpon dari Dirga tentang pesawat Ivan yang lost Contact. Dia benar benar terkejut dan tidak bisa berkata apapun lagi.Jantung nya terasa berdenyut ngilu mendapat kabar buruk tentang saudara kembarnya itu.


Karina yang melihat Jonathan mematung dan tidak lagi berbicara dengan ponsel nya langsung turun dari ranjang dan mendekati nya.


"Kak ada apa?" tanya Karin heran


"Kita harus pulang Karin" ucap Jonathan tiba tiba. Dia mencoba menarik nafas nya dalam dalam menetralkan perasaan panik nya. Bahkan Karina dapat melihat jika tangan Jonathan tampak bergetar mengetik sesuatu diponsel itu


"Sebenarnya ada apa?" tanya Karina lagi sembari memungut gelas yang tergeletak diatas lantai


"Pesawat Ivan lost Contact" jawab Jonathan . Karina yang terkejut kembali menjatuhkan gelas ditangan nya. Tubuh nya yang masih tertunduk, mendongak menatap Jonathan yang masih sibuk pada ponselnya.


Lost Contact? Bukan kah itu buruk. Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana dengan keluarga disana? Amelia, gadis itu pasti begitu sedih.


Tanpa berfikir apapun lagi Karina segera berlari menuju lemari nya. Mengeluarkan koper nya dan mengemasi barang barang. Jonathan yang sudah selesai memesan tiket pagi itu juga langsung membantu Karina. Mereka mengemasi barang barang tanpa berbicara apapun lagi. Mereka hanya diam dengan perasaan yang sama sama tidak menentu. Cemas dan khawatir, mereka benar benar takut terjadi sesuatu pada Ivan.


Dan pagi itu juga Jonathan bersama Karina langsung terbang menuju Indonesia.


...


Sementara masih dibandara. Hari sudah malam, suasana dibandara sudah dipenuhi oleh orang orang yang menunggu kabar tentang hilang nya pesawat yang membawa keluarga mereka.


"Nak, kamu sebaiknya pulang" kata Maxwel pada Amelia yang berwajah kusut dan pucat itu. Dia masih duduk dikursi tunggu dan menatap nanar kedalam bandara. Berharap orang itu segera muncul disana


Amelia menggeleng lemah, dia masih ingin disini, dia masih ingin menunggu Ivan nya. Dia tidak ingin pergi kemanapun.


Maxwel menghela nafas berat, dia meraup wajahnya dengan kasar. Dia begitu menyesali dirinya sendiri yang tidak datang menyusul Ivan kesana. Proyek baru yang dia kerjakan juga ternyata memakan waktu yang cukup lama, dia baru tiba di Indonesia dua hari ini, ingin pergi tapi Ivan tidak ingin dia menyusulnya karena pekerjaan yang sudah rampung. Tapi yang terjadi malah seperti ini, ya Maxwel benar benar menyesal


Delisha sudah pulang bersama istri Rico beberapa waktu lalu. Wanita itu benar benar terpukul mendengar kabar ini, dia bahkan sudah tidak bisa berkata apapun sejak pesawat Ivan hilang kontak tadi. Jadi Maxwel meminta Roy mengantar Delisha pulang.


Amelia tertunduk lesu, Dirga duduk disebelah nya dengan wajah tak kalah cemas. Puluhan orang juga sama seperti mereka, menunggu apa yang sebenar nya terjadi.


Amelia benar benar berharap Ivan baik baik saja dan pulang kembali padanya. Amelia sungguh tidak bisa menerima kabar buruk tentang apapun lagi. Pernikahan nya sudah dekat, dan dia tidak siap jika Ivan harus pergi meninggalkan nya. Tidak, jika itu terjadi, maka untuk apalagi dia hidup. Sejak dulu Ivan adalah kehidupan nya, Ivan adalah semangat nya. Dan jika Ivan tidak ada, apalah arti hidup untuk nya.


"Mel, kita pulang ya" ajak Dirga. Dia benar benar tidak tega melihat gadis ini, tampak begitu terpuruk dengan wajah pucat nya. Dirga tahu Amel pasti begitu cemas dan khawatir saat ini

__ADS_1


Amel menggeleng lemah dengan pandangan masih tertunduk pedih


"Aku takut kak, aku takut" gumam Amel dengan begitu lirih dan tertekan


Dirga mengusap pelan bahu gadis itu, sangat lemah, mungkin dia sudah tidak bertenaga lagi saat ini. Kabar ini memang mengejutkan dan membuat mati rasa semua orang


"Masih ada harapan. Berdoa terus" kata Dirga memberi secercah harapan untuk nya


Amelia hanya menunduk pasrah. Dia mengusap air mata yang kembali menetes. Karena sungguh sejak tadi air mata itu tidak bisa terkendali.


Dan disaat saat ketegangan mereka dalam menunggu, sebuah suara dari tempat informasi bandara terdengar begitu menggema membuat semua orang yang ada disana langsung terdiam dengan detak jantung yang bergemuruh hebat.


"Pesawat dengan nomor penerbangan JT 653 Tarakan Jakarta, hilang kendali dan jatuh disekitar Gunung Latuk, Manilau." pengumuman itu membuat suara jerit tangis histeris semua orang yang menunggu sejak sore tadi. Apalagi beberapa gambar pesawat yang terbakar dan hancur tampak ditayangkan dibeberapa layar televisi yang ada disudut bandara itu.


Maxwel terduduk lemas dikursi nya dengan pandangan nanar. Matanya kosong dan dia tidak dapat berkata apa apa lagi. Putera nya, Ivan, dia disana, dia ada diserpihan pesawat yang hancur itu.


Rico menegang ditempat nya, dia tidak bisa berkata apapun saat ini. Apalagi Dirga, dia bahkan terperangah melihat semua stasiun tv yang menayangkan kabar jatuhnya pesawat malam itu. Dan didalam sana ada orang yang mereka tunggu.


"Belum diketahui penyebab jatuh nya pesawat, namun semua penumpang beserta awak pesawat dinyatakan tidak ada yang selamat" lagi lagi perkataan itu membuat jantung mereka semua hancur luluh lantak dan tidak berbentuk.


Amelia menatap kosong sebuah layar besar dihadapan nya. Apa ini benar nyata? Apa ini benar? Ivan nya memang benar pergi. Ivan nya pergi.


Amel menggeleng lirih dan beranjak dari duduk nya, namun kaki nya lemas dan dia langsung jatuh berlutut dan menjerit histeris memanggil nama Ivan.


"Ivaaann.........!!!!" teriak Amelia begitu kuat, sekuat tenaga nya yang sudah tidak berdaya. Dia menangis begitu hancur , mengalahkan tangis semua orang yang ada disana.


Dirga langsung berlutut disamping nya mencoba menenangkan gadis itu. Namun Amel tetap menangis kencang


"Ivan, dia gak mungkin pergi. Dia gak mungkin pergi!!!" teriak Amel begitu pilu. Amelia menangis meraung membuat Dirga bingung dan begitu sedih


"Kak Dirga, Ivan pasti pulang kan. dia pulang kan. Dia pasti pulang untuk nikahin Amel kan kak... huuuu" Amelia menarik kemeja Dirga dengan kuat, menatap lelaki itu yang tak dapat berkata apa apa selain berusaha menenangkan Amelia yang tidak terkendali


"Ivan pulang, Ivan gak mungkin pergi.. huaaaaaa" tangis Amel begitu pilu, begitu hancur dan tidak bisa dijelaskan bagaimana sakit nya. Dia menangis dan memukul bahu Dirga beberapa kali hingga akhirnya Amel terkulai lemah didalam pelukan Dirga.


"Mel" panggil Dirga menatap Amel yang sudah pingsan dan tidak lagi sadarkan diri dengan wajah yang begitu menyedihkan. Ya, bagaimana tidak sedih, jika orang yang dinantikan, telah dikabarkan tewas tanpa jejak. Hari pernikahan mereka bahkan tinggal dua Minggu lagi, tapi yang terjadi malah seperti ini.


"Bawa pulang Dirga" ujar Rico.

__ADS_1


Dirga langsung mengangguk dan mengangkat tubuh lemah Amel kedalam gendongan nya dan membawa untuk pulang kerumah.


Melihat Amel, membuat Maxwel semakin tidak menentu perasaan nya. Dia benar benar menyesal, dia sangat menyesal telah membiarkan Ivan pergi. Lagi lagi karena kebodohan nya Ivan celaka, dulu karena dia tidak bisa menjaga Ivan dengan baik, mereka harus terpisah selama sembilan belas tahun, dan sekarang demi pekerjaan, dia harus kehilangan Ivan untuk selama nya


Air mata penyesalan yang tidak bisa dibendung nya terus saja keluar. Wajah gagah itu terlihat begitu hancur mengenangkan kepergian anak kebanggaan nya. Apalagi jika mengingat sebentar lagi putera nya akan menikah, membuat Maxwel benar benar merasa bersalah.


"Tuan sebaiknya kita pulang, saya akan mencari informasi nya dengan Jhon dan yang lain" kata Rico pada Maxwel. Tuan nya itu terlihat begitu terpuruk


Maxwel hanya mengangguk pasrah. Dia beranjak dengan begitu berat. Serasa tidak ada lagi tenaga untuk menginjak tanah. Rasanya dia benar benar mati rasa.


Jovankha nya, secepat itukah pergi?


....


Malam itu, semua orang dikejutkan dengan kabar pesawat jatuh didaerah Kalimantan. Apalagi yang mengetahui jika pesawat itu juga membawa Ivan dan Faiz.


Ibu Faiz bahkan sudah pingsan sebanyak dua kali dirumah nya. Untung saja ada pelayan nya yang dengan setia menjaga nya malam itu. Dia benar benar tidak terima jika anak semata wayang nya pergi secepat ini. Anak nya itu pamit bekerja, dan kenapa pulang sudah tinggal nama, bahkan mayatnya pun tidak dapat lagi dia ketahui.


Diana juga begitu syok mendengar kabar itu. Malam itu juga dia langsung pergi kerumah Amelia untuk menemui gadis itu dan mencari tahu yang sebenar nya. Dan ternyata semua memang benar, bahkan ketika sampai disana dia mendapati Amelia yang tidak sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat ditemani oleh kakak iparnya.


...


Sementara didalam pesawat...


Jonathan terduduk lemas mendengar berita yang disiarkan didalam ponselnya. Wajah nya memucat, dengan mata yang berkaca kaca.


Bahkan dia tidak lagi bisa menenangkan Karina yang sudah menangis disamping nya. Hati nya sendiri pun sudah tidak berbentuk lagi mendengar kabar buruk ini.


Ivan pergi?


Ivan tidak akan kembali lagi?


Benarkah secepat ini?


...


*cerita cuma khayalan author aja ya. Mon maaf jika ada kesalahan tempat, nama atau apapun itu. Cuma khayalan!

__ADS_1


__ADS_2