
Pagi ini Karina dan Jonathan sudah berada diperjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Diana. Pagi pagi sekali mereka sudah bangun dan bergegas bersiap siap melihat keadaan orang yang sudah rela mengorbankan nyawa untuk menolong Karina, dan itulah yang membuat Karina menjadi merasa bersalah. Malam tadi dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, malam pengantin yang seharus nya indah dan dipenuhi kenangan, menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Malam tadi karena Karina yang terus gelisah membuat Jonathan juga tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus menenangkan gadis yang sudah menjadi istri nya itu. Mereka masih sama sama canggung karena sudah berada didalam kamar yang sama, apalagi tidur berdua, namun Jonathan tidak meminta hak nya sama sekali, dia tahu dikeadaan yang seperti ini Karina pasti tertekan, dan dia tidak mau menambah beban fikiran gadis itu. Apalagi dia juga masih risau tentang siapa dalang yang ingin mencelakai Karina, baik Ivan maupun papa nya tidak ada memberinya kabar sampai detik ini.
Satu jam kemudian mereka tiba didepan rumah sakit besar dimana Diana dirawat. Jonathan diantar oleh Roy yang masih setia mengawal nya hingga saat ini. Sedangkan Dirga, dia sudah harus pergi keperusahaan, karena Jonathan mengambil cuti untuk satu bulan ini.
"Pelan pelan Karin" ucap Jonathan saat melihat Karina jalan dengan begitu tergesa gesa. Namun Karina hanya diam dan terus mempercepat langkah nya, dia begitu khawatir sejak semalam dengan teman nya ini, teman dekat sejak dia masuk bekerja diperusahaan Jonathan.
Saat sudah didepan ruangan yang diberi tahu oleh perawat, Karina langsung membuka pintu tanpa mengetuk nya. Dapat dia lihat Amelia masih ada disana menemani Diana yang masih terbaring lemas diatas ranjang nya.
"Karin, kak Jo" sapa Amelia sedikit terkejut, dia sedang merapikan selimut Diana saat Karina dan Jonathan masuk kesana
"Gimana keadaan Diana?" tanya Karina yang langsung mendekat kearah Diana yang masih begitu pucat wajah nya
"Udah lebih baik bu" jawab Diana dengan senyum dan suara yang lemah. Jonathan hanya diam berdiri dibelakang Karina, sedangkan Amel sudah berpindah disisi lain ranjang
"Maafin aku ya, gara gara nolong aku kamu jadi kayak gini" ucap Karina dengan mata yang berkaca kaca, dia begitu sedih melihat kondisi Diana, meski sudah terlihat baik, namun tetap saja dia merasa begitu bersalah
"Gak apa apa bu, saya yang mau, lagian saya juga reflek" jawab Diana
"Kamu tahu siapa orang itu?" tanya Jonathan pula
"Dia salah satu karyawan dibagian Hrd tuan, baru masuk beberapa bulan ini" jawab Diana
"Karyawan perusahaan" gumam Karina tidak percaya, namun Diana langsung mengangguk
Kini Jonathan beralih pada Amelia diseberang nya
"Ivan kemana Mel?" tanya Jonathan
"Kak Ivan udah keperusahaan kak, ada meeting pagi ini, belum lama juga pergi nya" jawab Amelia
Jonathan tampak terdiam sejenak. Dia tidak mungkin diam saja, ini bukan hal yang sepele, dia harus mencari tahu siapa orang nya, dia yakin jika wanita itu adalah suruhan seseorang
"Karin, kamu tunggu disini, aku akan keluar sebentar" kata Jonathan pada Karina yang tampak mengernyit
"Mau kemana?" tanya Karin ragu, begitu pula dengan Amelia, pasal nya kalau dia sudah bertindak maka semua yang terlibat pasti akan celaka
"Aku tidak bisa diam saja seperti ini, sebentar lagi mama dan ibu akan tiba, kamu temani Diana saja" jawab Jonathan yang langsung mengecup singkat pucuk kepala Karina dan langsung pergi dengan tergesa, bahkan mulut Karin baru saja ingin mengucap, namun Jonathan sudah pergi
"Duh, padahal kak Ivan bilang supaya kak Jo jangan kemana mana lo Rin" ucap Amelia langsung cemas
"Gimana, dia mana bisa dicegah, udah dari tadi malem dia maksa buat pergi, untung ada mama sama bapak yang menghalangi" jawab Karina
"Lagian siapa sih yang berani cari masalah, gak takut mati apa ya" kata Amelia lagi
__ADS_1
"Seperti nya ini ada hubungan nya sama Cyintia deh bu" gumam Diana, membuat Karina langsung mengernyit bingung
"Cyintia siapa? mantan sekretaris kak Jo?" tanya Karin dan Diana langsung mengangguk
"Memang nya kenapa sama dia?" tanya Karina bingung, pasal nya dia tidak tahu tentang masalah Cyintia yang menjadi dalang dibalik kecelakaan lift yang menimpa nya beberapa bulan lalu.
Diana langsung menceritakan kejadian itu, tentang Cyintia yang sengaja membayar petugas yang bertugas dibagian fungsi sistem untuk membuat Karina celaka, Dia juga memberitahu bagaimana Jonathan yang mengamuk dan hampir membunuh gadis itu, bahkan satu perusahaan terkena imbas nya, untung saja ada Ivan dan Maxwel yang meredakan amarah nya, jika tidak, mungkin perusahaan akan kacau balau hari itu.
Mendengar itu Karina tampak membelalakan mata nya, begitu seramkah suami nya itu, Karina memang tahu jika emosi Jonathan memang sulit untuk dikendalikan, tapi dia tidak tahu jika akan seperti itu mengerihkan nya.
"Bisa jadi sih Rin, mungkin aja si Cyintia itu dendam sama kalian" kata Amelia yang juga ikut mendengar kisah Diana
"Tapi masalah nya dia kan udah dipenjara nona" sahut Diana
"Iya juga ya, jadi siapa dong" gumam Amelia lagi, sementara Karina hanya menggeleng bingung. Dia tidak pernah merasa punya musuh. Hidup nya datar datar saja dan sedari dia bekerja diperusahaan itu, tujuan hidupnya adalah untuk membuat Jonathan bangga
"Apa mungkin ada Cyintia yang lain" ucap Amelia lagi membuat Karina dan Diana langsung menoleh kearah nya
"Secara kan kak Jo itu bos besar, tampan dan sempurna, udah pasti banyak yang naksir" ungkap nya membuat Karina langsung mendengus kesal
"Resiko memang punya suami ganteng" gerutu nya membuat Amelia langsung tertawa lucu
"Udah lah, semoga kejadian ini cepat terungkap, dan mudah mudahan Diana cepet sehat ya Di" kata Amelia pada Diana yang langsung mengangguk dan tersenyum, namun tidak dengan Karina
"Seharus nya kamu gak usah nyelametin aku Di, lihat kamu jadi terluka begini, pasti sakit banget" kata Karina begitu sedih namun Diana langsung tersenyum melihat nya
"Tapi itu gak sebanding dengan pengorbanan kamu Di" sahur Karina lagi
"Saya ikhlas bu, kita udah temenan dari lama sampai sekarang, ibu udah saya anggap temen deket saya, bahkan lebih" ungkap Diana lagi membuat Karina langsung terharu dan meneteskan air mata nya. Dia langsung duduk dan memeluk Diana sebentar
"Aahh, aku berhutang nyawa sama kamu, terimakasih banyak, aku pasti akan selalu inget kebaikan kamu Di" ucap Karina dan Diana hanya mengangguk dan tersenyum melihat Karina. Gadis yang sudah banyak menolong kehidupan nya, sejak dari menjadi karyawan biasa hingga menjadi istri dari anak pemilik perusahaan, Karina tidak pernah sombong dan selalu membantu nya untuk membayar biaya rumah sakit ibu nya dikampung
"Oh ya, apa ibu kamu sudah dikabari?" tanya Karina lagi namun Diana langsung menggeleng
"Ibu kan tahu, ibu saya gak sehat, saya takut dia khawatir, lagi pula saya baik baik saja, kata dokter semingu dirawat udah boleh pulang" jawab Diana
"Yasudah, saya pasti temeni kamu disini kok" ucap Karina
"Ehh mana bisa begitu, kamu kan lagi dalam masa pengantin baru, kalian juga harus honeymoon kan, Diana biar aku yang jaga" sambar Amelia cepat
"Iya bu, gak enak sama tuan bos, saya juga gak kenapa kenapa, besok juga udah bisa jalan sendiri" sahut Diana pula
"Mana bisa begitu, kamu begini karena aku, masak iya aku malah liburan" protes Karina
"Biar cepet dapet penerus bu" jawab Diana membuat Amelia langsung tertawa geli sedangkan Karina tampak melebarkan matanya
__ADS_1
"Hihihihi, bener Di, aku yakin malam tadi mereka belum buka segel" goda Amelia membuat Karina langsung terkesiap dan merona malu, membayangkan nya saja dia takut, hanya tidur berdua saja dia sudah begitu canggung tadi malam, apa lagi harus melakukan itu, ah wajah nya semakin memerah membuat Diana dan Amelia langsung mentertawakan nya
.....
Sementara diperusahaan cabang, Ivan baru saja selesai melaksanakan meeting nya, dia baru saja keluar dari ruangan rapat, namun Faiz segera mendekati nya.
"Tuan" panggil Faiz, sembari menyerahkan ponsel nya pada Ivan. Ivan langsung meraih nya dan membaca pesan yang ada diponsel itu, pesan dari Roy yang mengatakan jika Jonathan sedang menuju kekantor polisi saat ini. Mata Ivan langsung melebar dan dengan cepat dia langsung melangkah pergi meninggalkan Faiz yang terpelongo melihat nya.
"Tuan mau kemana" seru Faiz
"Menyusul nya, jangan sampai dia membuat kerusahun dipenjara, bisa gawat urusan nya" jawab Ivan yang terus berjalan, namun Faiz dengan cepat menghadang langkah nya
"Apa sih Iz, awas" kata Ivan terlihat kesal
" Ya kalau mau pergi ponsel saya jangan dibawa dong" sahut Faiz yang juga ikutan kesal. Ivan langsung mengangkat tangan nya dan dia langsung terkekeh saat melihat ponsel Faiz yang dia bawa
"Sorry, lupa" kata Ivan sembari menyerahkan ponsel nya
"Jaga perusahaan ya, gue pergi dulu" ucap Ivan yang kembali berjalan meninggalkan Faiz yang tampak mendengus kesal
"Hmh, udah jadi sultan masih aja urakan" gumam Faiz
Ivan melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, dia khawatir jika Jonathan akan membuat Kasih takut apalagi jika sampai abang nya itu mengamuk disana, tidak bisa dia biarkan. Lagian kemana mama dan Karin, bukankah mereka seharusnya melarang Jonathan untuk tidak pergi, ini malah sudah kekantor polisi saja. Maxwel dan Rico saat ini sedang melakukan penangkapan kepada tuan Beni ditempat nya, dan siang nanti rencana nya Ivan akan menyusul kesana bersama Dirga untuk mencari adik Kasih, tapi jika Jonathan sudah kekantor polisi, urusan nya akan semakin rumit. Abang nya itu kalau sudah mengamuk, apapun akan dilakukan nya.
Tidak sampai satu jam kemudian dia sudah tiba didepan penjara, dan benar saja, Roy tampak duduk diruang tunggu dengan wajah gelisah
"Bang, dimana dia?" tanya Ivan langsung, bahkan nafas nya tersengal sengal karena harus berlari dari parkiran kedalam kantor polisi
"Didalam tuan, baru saja" jawab Roy
"Duh, kenapa gak dicegah sih, kalau dia ngamuk bisa gawat" gerutu Ivan yang langsung berlari disusul oleh Roy
"Ya bagaimana, saya juga sudah diamuk nya tadi gara gara mencoba menghalangi" keluh Roy dan tentu saja Ivan tidak bisa untuk tidak tertawa. Abang nya itu memang sedikit gila
Mata Ivan langsung melebar sempurna saat Kasih sudah berlutut didepan nya dengan Jonathan yang berdiri dengan wajah yang begitu mengerihkan, meski ada kedua polisi yang berjaga dengan wajah sangar, namun wajah tampan milik Jonathan bisa mengalahkan seram nya wajah mereka, menakjubkan memang.
"Katakan, kau memang cari mati ha!!!" bentak Jonathan pada kasih yang sudah bergetar takut
Jonathan hendak mengangkat tangan nya namun Ivan segera menghalangi nya
"Bang, jangan!" seru Ivan, membuat Jonathan langsung menoleh kearah nya dengan nafas yang menggebu
"Dia cuma disuruh, papa sama om Rico sedang melakukan penangkapan sama dalang nya" jawab Ivan langsung. Roy langsung mengkode anggota polisi itu untuk membawa masuk kembali Kasih yang tampak ketakutan
"Lalu kenapa satupun diantara kalian tidak ada yang memberi tahuku ha!" bentak Jonathan pada Ivan
__ADS_1
"Bang, kalian baru nikah, Karin pasti syok dengan kejadian malam tadi, kasus ini biar kami yang nangani, abang seharus nya cukup nenangin Karin dirumah. Nanti kalau pelaku nya udah ketangkep pasti kami kabari" jawab Ivan juga, namun Jonathan langsung mendengus kesal dan langsung berlalu meninggalkan tempat itu.
Ivan tampak meraup wajah nya dengan kasar, dia menatap punggung Jonathan yang telah hilang dibalik dinding disusul oleh Roy yang mengejar nya dengan tergesa gesa, perjaka tua itu pasti akan terkena imbas kemarahan singa yang sedang terlepas dari kandang nya.