Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kembali Kerumah


__ADS_3

Setelah bertemu Ivan ditoilet Jonathan kembali pada teman teman nya.


Dia bersama Dirga,  Samuel dan juga Erika memutuskan untuk mengantar Alex kerumah nya.


Pada awal nya Jonathan tak bisa mendapatkan restu dari delisha untuk ke rumah Alex namun karena bujukan teman teman nya akhirnya Delisha mengalah dan membiarkan Jonathan pergi tetap dengan pengawalan yang ketat.


Setelah tiba dirumah Alex, Jonathan dan teman teman nya duduk bersantai didalam kamar Alex.


"yang sakit siapa yang harus dikawal siapa,  heran gue" kata Samuel berceloteh


"haha,  iya ya,  bawa Jonathan pergi kayak bawa anak raja kita" kata Alex lagi


"dia kan memang pangeran,  pangeran es" ejek Erika


"sialan kalian, " jawab Jonathan melengos


"hehe,  maaf jo becanda" ujar Alex


"liat lah,  gara gara siAlex kecelakaan kita gak ada satupun yang pergi traveling kan" kata Dirga sembari memperlihatkan isi ponsel nya yang berisi foto foto mahasiswa yang tengah mengadakan acara traveling didesa xx.


"kan gue udah suruh,  lo pada yang gak mau" ucap Alex santai


"ya gak enak aja kalau gak lengkap bro" timpal Samuel


"iya,  apalagi Jonathan juga udah pasti gak ikut,  ya mana enak kalau cuma gue sama Samuel doank" ujar Erika lagi


"hhaaha , kalian memang the best lah.  " kata Alex


"iyalah,  kita kan setia kawan" ucap Samuel bangga


"heehhh gaya lu setia kawan, " ejek Dirga


Sementara Jonathan hanya tersenyum melihat celotehan teman teman nya.


Hingga tak terasa waktu sudah berlalu dan hampir senja.  Jonathan dan teman teman nya memutuskan untuk pulang.


..


Dirumah sakit


Hari sudah larut.  Jam pun sudah menunjukan pukul 11 malam.  Terlihat Sari sudah terlelap dalam tidur nya diatas tikar lipat dilantai rumah sakit.


Ivan sendiri masih asik memainkan game diponsel baru nya.


Sedari tadi ia ingin menghubungi Jonathan namun ia urungkan mengingat waktu sudah terlalu larut.


Setelah puas bermain game,  Ivan menyimpan ponsel nya kedalam tas ransel nya. 


Ia mulai berbaring diatas tikar dilantai rumah sakit itu.  Pikiran nya masih mengingat tentang Jonathan.


"kagum gue sama tu orang,  padahal baru ketemu tapi udah baik banget sama gue,  bukan nya cuma ganteng,  kharisma nya juga wow banget.  Eh tapi kan muka gue juga sama kayak dia ya, hehe" celoteh Ivan sambil senyum senyum sendiri.


"tapi beda deh,  beda jauh malah,  walaupun muka sama tapi dia lebih berwibawa,  hmhh sungguh gue kagum sama dia,  andai aja kita saudaraan pasti bangga banget gue punya saudara kayak dia"  batin Ivan mengharap


Hingga tanpa terasa ia pun mulai terpejam dan terlelap.


..

__ADS_1


Keesokan pagi nya


Ivan dan Sari tengah membereskan barang barang mereka.  Siang ini mereka akan pulang kekampung karena kondisi pak Tarman sudah jauh lebih baik.


"bapak beneran udah baik baik ajakan pak? " tanya Ivan pada pak Tarman yang tengah duduk dipinggir ranjang.  Terlihat juga selang infus yang sudah dilepas


"udah le,  udah lebih sehat malah" kata pak Tarman.


"syukurlah pak e,  nanti dirumah jangan kerja dulu pak.  Inget kata dokter tadi kan" ucap Ivan


"iya iya" kata pak Tarman


"yauda sono Van,  selesaikan dulu urusan rumah sakit yang kayak kata suster tadi.  Gak lama lagi Tejo pasti udah sampek" kata Sari pada Ivan


Ivan pun mengangguk dan keluar menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan urusan rumah sakit.


Setelah selesai ia kembali keruang perawatan pak Tarman


Siang hari nya..


Tejo sudah tiba dirumah sakit untuk menjemput Ivan dan orang tua nya.


"wes sehat to pak? " tanya Tejo menyapa pak Tarman


"wes,  iki liat wes lebih sehat jo"  balas pak Tarman tersenyum


"syukurlah,  yowes kita langsung berangkat aja yo pak e buk e" ajak Tejo


"lah koe gak mangan dulu jo" tanya Sari sembari menenteng tas nya


"aku wes mangan nang dalan tadi bu e,  wes istirahat juga.  Mumpung belum hujan ini, " ucap Tejo sambil menunjuk langit yang agak mendung.


Didalam perjalanan Ivan menatap dan menghayati setiap sudut dan suasana ibukota. Dia duduk dibelakang mobil bak terbuka seorang diri yang tertutup terpal biru diatas nya, sedangkan pak Tarman dan Sari duduk didepan bersama Tejo.


Suasana ibukota siang itu masih sangat padat, bahkan meski awan mulai menghitam sekalipun tak membuat keadaan berubah.


Ivan melihat segerombolan anak muda yang baru pulang sekolah dan kuliah, juga beberapa gedung perkantoran yang ramai karyawan untuk istirahat makan siang. Jangan lupakan pengamen dan pengemis yang tersebar disepanjang jalan terutama didekat perempatan lampu merah.


Entah kenapa hati nya enggan untuk kembali, seperti ada sesuatu yang tertinggal dikota itu. Bahkan dia merasa hati nya memang terpaut ditempat ini dan bukan dikampung nya.


Dan lamunan nya seketika terkenang oleh sosok pemuda yang paras nya mirip dengan dia. Ivan menghela nafas nya dengan berat dan kemudian memejamkan mata nya menikmati hembusan angin yang cukup kencang dan debu polusi yang entah kapan akan dirasakan nya lagi


"semoga kita bisa bertemu lagi bang" ucap Ivan dalam hati yang mengingat tentang kebaikan Jonathan, seseorang yang dikagumi nya.


..


Setelah beberapa jam diperjalanan Ivan dan orang tua nya pun tiba dirumah.


Terlihat Toni dan juga Faiz bersama ibu nya tengah menanti kepulangan mereka.


Ivan pun membantu pak Tarman turun dari mobil.  Mereka langsung disambut beberapa warga yang menunggu.


"wah wes sehat kan pak" tanya seorang warga


Pak tarman tersenyum mengangguk.  Dia disapa dan disalami oleh beberapa warga.


Nampak warga antusias untuk melihat keadaan pak Tarman.

__ADS_1


Pak Tarman merupakan orang yang ramah tamah terhadap siapapun, jadi wajar jika banyak warga kampung itu yang menyukai nya.


Saat pak Tarman dan istrinya sedang berbincang dengan warga didalam rumah, terlihat Ivan, Faiz dan juga Toni tengah duduk diteras rumah mereka.


"sepi kampung gak da lo Van" kelakar Faiz


"haha , kan udah ada lo yang buat rame" jawab Ivan


"gak da yang bikin ribut van kalo gak da lo, " ejek Faiz lagi


"sialan lo,  emang gue apaan tukang bikin ribut" kata Ivan melengos


"iyalah,  kan lo tukang bikin ribut Karina sama Aldo.  Hahaha" tawa Faiz lantang


"sialan lo ya,  seneng amat liat temen sengsara" jawab Ivan sambil menimpuk kepala Faiz dengan tangan nya


"lo suka sama Karina bang? " tanya Toni tiba tiba


"eh,  enggak enggak,  ini lagi anak kecil ikut aja" kilah Ivan dan langsung menambah tawa Faiz.


"enak aja lo bilangin gue anak kecil" sewot Toni


"lo kalah sama anak kecil ini Van,  dia aja udah punya cewe" timpal Faiz


"ha? Yang bener Ton? " tanya Ivan melongo


"iyalah,  emang elo ganteng ganteng mubajir" ejek Toni tertawa


"haha,  sialan lo.  Sekolah dulu yang bener" timpal Ivan


"sekalian bang. Hehe " kata Toni cengengesan


Mereka pun menghabiskan waktu bersama hingga para warga yang bertamu pulang kerumah nya masing masing.


Toni pun masuk kedalam rumah untuk menemui bapak nya.


Sementara Ivan dan Faiz masih duduk diteras.


"si Toni nampak nya udah berubah Van" ucap Faiz tiba tiba


"entah lah,  gue rasa sih gitu,  semenjak dia tau gue bukan saudara kandung nya memang gue perhatiin sikap nya berubah sama gue.  Malah jadi lembut,  lo liat kan,  dia udah mau becanda sama gue.  Padahal sebelum nya jangankan ngmong,  senyum pun susah" ucap Ivan lirih


"iya sih,  tapi ada bagus nya juga kan,  jadi lo sama dia gak usah ribut ribut lagi" ujar Faiz


"iya sih" kata Ivan singkat.


"yauda, gue balik dulu ya,  udah malem ni.  Lo juga pasti capek" kata Faiz menepuk pundak Ivan.


"hu'um,  makasi yo" balas Ivan.


Setelah berpamitan pada pak Tarman dan bu Sari Faiz pun pulang kerumah nya.


Sedangkan Ivan langsung mandi dan masuk kedalam kamar untuk merebahkan tubuh nya yang terasa lelah.


Berada hampir seminggu dirumah sakit membuat ia juga ikut merasakan sakit.  Bagaimana tidak,  tidur tak pernah nyenyak,  makan tak teratur hingga bernapas pun berasa ikut ikutan susah.


Tak sampai menunggu lama Ivan pun sudah terlelap dalam tidur nya.

__ADS_1


..


jangan lupa like and coment juga vote nya guys


__ADS_2