
Pagi ini Ivan dan Amelia sudah berada di bandara untuk mengantarkan Jonathan dan Karina pergi berbulan madu. Mereka pergi bersama Delisha dan juga ibu Karina. Sedangkan Maxwel sudah harus keperusahaan pagi pagi sekali.
Dan tibalah waktu nya untuk mereka berpisah disana. Amelia memeluk Karina dengan erat, sahabat sekaligus calon kakak ipar nya itu tampak begitu bahagia, meskipun dia tutupi dengan senyum malu malunya.
"Pulang harus sudah bawa berita gembira ya bang" pinta Ivan pada Jonathan
"Berita gembira apa?" tanya Jonathan
"Keponakan buat aku lah" jawab Ivan
"Kamu kira seperti buat roti. Dikasih pengembang langsung jadi" dengus Jonathan. Ivan langsung tertawa mendengar nya
"Maka nya usaha yang kuat, atau perlu aku carikan obat kuat dulu" bisik Ivan. Jonathan langsung melebarkan matanya mendengar itu. Ivan memang benar benar kurang ajar, apa Ivan kira dia selemah itu
"Sebaiknya kamu yang menyiapkan itu" balas Jonathan
"Aku sudah sangat kuat. Lagi pula masih lama" jawab Ivan
"Kalian bisik bisik apa sih nak. Udah mau berangkat tuh." kata Delisha membuat Jonathan dan Ivan langsung menoleh pada mama mereka
"Yasudah, Jo berangkat ma" kata Jonathan memeluk Delisha sekilas
"Iya, hati hati. Jaga Karina baik baik ya. Nikmati waktu kalian" ucap Delisha. Dan Jonathan hanya mengangguk saja
"Pulang bawa oleh oleh yang banyak. Kado pernikahan yang bagus" pinta Ivan yang kini bergantian memeluk Jonathan
"Mau kado apa? " tanya Jonathan pula
"Kado yang gak ada dua nya dong" jawab Ivan dengan senyum tengil nya
"Nanti aku bawakan miniatur menara Eiffel" jawab Jonathan
"Memang pelit" dengus Ivan. Jonathan hanya tersenyum saja menanggapi nya
Jonathan dan Karina langsung melambaikan tangan nya pada mereka yang mengantarkan kepergian mereka. Lalu berbalik arah menuju pintu masuk
"Bang!" seru Ivan. Membuat langkah Jonathan terhenti dan berbalik kembali
"Hati hati" kata Ivan dengan senyum yang tidak seperti biasa. Senyum itu terlihat begitu tulus, teduh dan terasa hingga kehati nya.
Jonathan mengangguk dan membalas senyum Ivan dengan tipis. Ada rasa aneh, tapi entah apa.
Setelah Jonathan dan Karina pergi, mereka semua kembali keluar bandara bersama sama, dan akan berpisah disana
"Kalian jadi prewedding hari ini?" tanya Delisha
"Jadi ma, mendadak sih, tapi takut gak sempat nanti" jawab Ivan
"yasudah, tapi mama gak bisa menemani ya. Mama mau mengantar ibu Karina dulu beli oleh oleh" jawab Delisha
"Oke, gak masalah" jawab Ivan
"Ibu sekalian pamit nak" kini Ivan beralih pada ibu Karina yang berpamitan padanya
"Cepet banget Bu, gak nunggu nikahan aku aja" tanya Ivan sembari menyalami punggung tangan ibu Karina
"Nanti ibu Dateng lagi kok. Udah lama gak pulang, rumah gak ada yang ngurus" jawab ibu Karina
"Yasudah, kirim salam sama orang orang disana Bu" ucap Ivan
"iya. Apa kamu gak pulang kesana juga untuk ngundang ngundang gitu?" tanya ibu Karina
"Kalau sempat aku pasti pulang Bu" jawab Ivan
"Iya, kamu hati hati kerja. Jaga diri baik baik, inget mau nikah" kata ibu Karina lagi
"Pasti Bu" jawab Ivan
Kini ibu Karina beralih pada Amelia yang langsung memeluk nya dengan manja
"Yah, sedih deh Amel gak ada temen cerita lagi" kata Amelia begitu manja
__ADS_1
"Kamu bisa telpon ibu Mel." jawab ibu Karina
"Tapi nanti ibu cepet Dateng ya kepernikahan aku" pinta Amel
"Pasti toh" jawab ibu Karina. Dia mengusap sekilas kepala Amelia yang tampak berkaca kaca. Ibu Karina sangat baik padanya, sudah seperti ibu kandung nya sendiri
"Yowes. Ibu pamit dulu" kata ibu Karina.
Ivan dan Amelia langsung mengangguk dan melambaikan tangan mereka mengiringi kepergian ibu Karina.
"Kita pergi?" ajak Ivan saat mama nya dan ibu Karina sudah pergi dari sana
"Iya, yuk" jawab Amelia
Akhirnya, Ivan dan Amelia pergi ketempat mereka akan melakukan acara foto prewedding untuk pernikahan nanti.
Tempat itu berada didekat taman kota, ada sebuah danau hijau yang dikelilingi oleh Padang rumput dan beberapa tanaman bunga yang terawat dengan baik. Ivan dan Amelia memutuskan untuk melakukan sesi foto ditempat itu saja. Sederhana namun harus tetap romantis.
Rencana awal ingin melakukan sesi prewedding disebuah perbukitan, namun karena waktu, mereka terpaksa membatalkan nya.
Saat tiba ditempat itu, semua orang yang bertugas sudah siap dengan tugas mereka masing masing. Perias yang akan merias Amelia, dan fotografer serta cru nya juga sudah tampak sibuk mempersiapkan segala nya.
Acara dadakan ini meski terlihat tergesa, namun mampu berjalan dengan baik.
Cuaca juga sangat mendukung, tidak panas dan terasa sejuk dihari itu
Ivan duduk disebuah kursi yang disediakan untuk nya sembari menunggu Amelia dirias sedikit oleh MUA yang dipilih oleh Amel sendiri. Sedangkan fotografer nya mereka memakai Petro dan Bento seperti Jonathan kemarin.
Ivan memandang jauh hamparan danau hijau yang terbentang dihadapan nya. Terlihat alami karena dipenuhi oleh bunga teratai dan ganggang hijau di beberapa sisinya.
Hembusan angin siang itu menambah rasa tenang didalam hatinya.
Sudah sejauh ini, dan sebentar lagi semua akan berakhir. Penantian cintanya yang penuh dengan lika liku drama yang tidak ada habis nya.
Dia pernah berharap bisa merengkuh kasih dengan seseorang, tapi orang itu tidak ditakdirkan untuknya. Dan Tuhan yang maha baik malah menggantikan nya dengan seseorang yang mampu membuat Ivan mengerti arti cinta yang sesungguh nya.
Amelia...
Gadis mungil yang tanpa disengaja bisa masuk kedalam hidup nya. Menjadi obat dari segala luka dan rasanya. Gadis baik hati yang mampu menunggu cinta nya selama bertahun tahun. Gadis tangguh yang bisa membuktikan pada dunia jika kesalahan dimasa lalu bisa diperbaiki dengan tekad yang teguh.
"Sayang" panggil Amelia. Ivan yang sedang melamun sedikit terkesiap, namun dia segera membalikkan tubuh nya menghadap Amelia yang baru datang setelah selesai dirias
Mata Ivan langsung berbinar, bibir nya tersenyum dengan indah melihat penampilan Amelia yang sangat cantik dan begitu manis.
Sangat kontras dengan pemandangan alam yang ada disana, bahkan Amelia lebih indah daripada bunga bunga yang menghiasi taman itu
"Cantik sekali" gumam Ivan yang langsung berdiri dan menatap lekat wajah Amelia yang tersipu malu.
Dress pendek bewarna soft pink, dengan bahu yang terbuka dan merenda dibeberapa sisi sangat pas ditubuh mungil nya. Rambut nya yang pirang tersanggul keatas dengan sisa anak rambut yang menjuntai membuat nya benar benar segar dan menyenangkan. Apalagi ditambah dengan riasan tipis diwajah cantik nya, membuat Ivan benar benar jatuh hati untuk kesekian kali nya dengan gadis ini
"Beneran cantik?" tanya Amelia. Dan tentu saja Ivan langsung mengangguk cepat
Ivan mendekat kearah Amelia dan ingin mengusap wajah nya, namun seruan Bento membuat tangan nya terambang begitu saja
"Tuan, ganti baju dulu" seru Bento dari tenda tempat mereka menyimpan perlengkapan
Ivan langsung mendengus kesal melihatnya. Merusak suasana saja
"Pergilah, aku tunggu disini" ucap Amelia
Ivan langsung mengangguk dengan pasrah, dia mengecup sekilas pipi chubby itu dan langsung berlari menuju tenda untuk berganti pakaian. Meninggalkan Amelia yang tampak melebarkan mata nya, karena lagi lagi Ivan memang selalu tidak tahu tempat.
Namun mau bagaimana lagi, dia juga suka.
Jovankha Alexander, sebentar lagi semua akan dimulai, kehidupan yang baru dan perjuangan yang baru.
...
Saat ini, disinilah mereka berada. Dipinggir danau dimana burung burung kecil berterbangan diatas nya, menambah kesan alami untuk sesi foto mereka.
Ivan sudah rapi dengan hanya memakai kemeja putih dan celana moka lembut nya. Sederhana dan terlihat santai, tapi sama sekali tidak mengurangi ketampanan dan pesona yang dia miliki.
__ADS_1
Petro dan Bento sudah siap diposisi mereka masing masing untuk mengambil gambar pertama yang akan mereka abadikan
Tangan Ivan dan Amelia saling menggenggam dan menatap hamparan danau hijau itu. Petro tidak memposisikan bagaimana harus nya Ivan dan Amelia berpose. Dia hanya ingin mengambil kesan alami yang mereka keluarkan dengan sendirinya.
Background danau hijau yang ada disana sudah cukup mampu memperkuat chemistry mereka berdua.
"Sayang" panggil Ivan. Amelia langsung menoleh dan sedikit mendongak kearah nya dengan senyum tulus dan penuh cinta, hingga satu gambar berhasil diabadikan dengan baik oleh Petro dan Bento. Rasa nya mereka sedang menonton film siaran langsung saat ini
"Terimakasih telah bertahan sampai sejauh ini" ucap Ivan. Dia seakan tidak perduli ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Orang orang itu tidak akan tahu apa yang mereka bicarakan, mereka hanya bisa melihat tanpa bisa mendengar.
Ivan menggenggam kedua tangan Amelia dengan lembut, membuat mereka kini saling berhadapan satu sama lain
"Terimakasih sudah selalu sabar untuk menunjukkan padaku arti cinta yang sesungguhnya" kata Ivan lagi
Mata Amelia tampak berkaca kaca sekarang. Dia masih begitu ingat bagaimana saat saat dia mengharapkan cinta Ivan, perjuangan nya dan semua yang dia lakukan.
"Aku begitu beruntung bertemu dengan mu" ucap Ivan begitu tulus
"Aku sangat mencintai kamu, tetaplah menjadi Amelia yang selalu kuat dan penuh semangat" pinta Ivan begitu tulus.
Tanpa terasa air mata langsung menetes diwajah Amelia yang mengangguk pasti. Harapan dan kebahagiaan begitu dia harapkan untuk bisa mereka raih bersama
Ivan mengusap air mata itu dengan lembut. Menarik Amelia kedalam pelukan nya. Mata nya memejam dengan lembut sembari menikmati kehangatan tubuh Amelia yang menjadi semangat dalam hari harinya
"Tetaplah bersinar meski hidupmu tidak semudah orang lain" gumam Ivan
"Terimakasih,terimakasih untuk semua nya" ucap Amelia
Bento dan Petro tampak begitu terbawa perasaan, bahkan mereka sampai harus menahan nafas melihat ini. Sejak tadi tangan Petro selalu mengambil gambar yang dia rasa begitu pas, hingga diadegan selanjutnya membuat mereka semua tampak melebarkan mata namun tidak ada yang berani membuka suara
Ivan melepaskan pelukan nya, menatap Amelia penuh cinta. Mengusap lembut wajah cantik itu. Wajah yang akan dia cintai seumur hidup nya
"Aku mencintaimu" bisik Ivan
"Aku juga sangat mencintai kamu" balas Amelia
Ivan mendekatkan diri pada Amelia, sedikit menundukkan tubuh dan memiringkan wajah nya. Mendekat dan semakin mendekat pada bibir ranum yang begitu menggoda, membuat semua orang yang melihat merasa panas dingin karena nya
Dan
Mata Amelia terpejam saat mendapat sentuhan itu. Sentuhan yang entah kenapa terasa berbeda dari biasa nya, sentuhan ini benar benar terasa begitu mengusik hatinya. Ada rasa tidak rela, rasa sedih dan rasa takut yang luar biasa.
Bahkan tanpa sadar, mata mereka berdua tampak mengeluarkan air mata. Membuat Amelia langsung melepaskan ciuman Ivan dan menatap heran Ivan yang tampak mengerjapkan mata nya
"Kamu menangis yang?" tanya Amelia sembari mengusap air mata Ivan
Ivan tersenyum lucu dan menggeleng pelan
"Padahal lagi senang, kok bisa nangis. Ini air mata bahagia mungkin" kata Ivan yang langsung meriah pinggang Amelia
"Cengeng banget" goda Amelia membuat Ivan langsung mencubit gemas hidung nya
"Keluar sendiri sayang" jawab Ivan
Mata nya kini beralih pada Petro dan Bento yang masih terdiam diposisi mereka, membuat Ivan dan Amelia saling pandang bingung
"Kalian kenapa diem aja coba. Kita udah nungguin dari tadi" ucap Ivan dengan tanpa rasa bersalah nya
"Lah kita juga udah mulai dari tadi tuan muda" sahut Bento
"Udah dapet beberapa. Keren. kalian memang suka banget buat kami panas dingin" goda Petro
Mata Amelia langsung melebar, apalagi menatap wajah wajah yang tersenyum menggoda melihat mereka
"Curang banget, kenapa gak bilang bilang coba" protes Amelia dengan malu sementara Ivan hanya terkekeh lucu melihat nya
"Suasana nya pas nona. Dan cukup romantis dengan pembawaan kalian" jawab Petro
"Oke, setelah ini kita beralih keperahu kecil itu ya" Bento menunjuk sebuah perahu kecil yang ada dipinggir danau
"Apa gak apa apa tuh, gak tenggelem?" tanya Amel ngerih
__ADS_1
"Aman kok nona, dari atas perahu pasti lebih estetik" jawab Petro
"Coba aja yang, kan ada aku" kata Ivan merangkul pundak Amelia yang langsung mengangguk pasrah.