
Siang ini anggota Opema tengah berkumpul diaula kampus untuk membicarakan beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan mereka.
Jonathan selaku ketua sedang mengarahkan tugas tugas yang harus dikerjakan oleh anggota lain nya.
Disebelah kanan nya ada Dirga dan disebelah kiri nya ada Ivan yang terlihat tidak begitu semangat.
Beberapa kali Ivan melirik kearah Karina yang tengah memperhatikan Jonathan berbicara. Bukan seperti yang lain menatap kagum Jonathan, Ivan tau tatapan Karina adalah tatapan penuh cinta.
"ah, bodoh nya aku, seharus nya aku tau dari dulu jika mereka memang saling suka" batin Ivan dalam hati
Hingga hari sudah mulai menjelang sore, setelah kegiatan mereka selesai mereka pun pergi ke arah kendaraan masing masing.
Dari jauh Ivan melihat Jonathan tengah mengobrol dengan Karina dan nampak nya mengajak Karina untuk pulang bersama.
"sabar, udah ah ayok pulang" kata Faiz memecah lamunan Ivan
"hemm" gumam Ivan tak semangat
Mereka pun pulang kerumah Faiz, Ivan masih enggan untuk pulang kerumah nya. Karena hati nya saat ini memang sedang tidak baik baik saja.
Sesampai nya dirumah Faiz Ivan langsung berbaring disofa ruang tamu yang ada dirumah itu. Terlihat tToni menghampiri mereka dengan membawa beberapa kaleng minuman dingin.
"kenapa muka lo kusut gitu bang? " tanya Toni sembari meletakan minuman yang dibawa nya keatas meja, melirik Ivan yang terlihat lesu tidak seperti biasa nya
"patah hati dia, lo gak liat muka nya udah kayak bungkus kerupuk. Lecek banget" ejek Faiz
"sialan lo" dengus Ivan sewot
"haha, pasti gara gara Karina sama bang Jo kan" kata Toni tergelak
"lo tau Ton? " tanya Faiz heran, sementara Ivan masih tetap diam memejamkan mata nya dengan lengan yang diletakan diatas dahi nya
"tau lah, udah beberapa kali gue liat mereka berdua" jawab Toni
"wah van, kalah cepet lo. Gue bilang juga apa" kata Faiz menepuk pundak Ivan yang langsung mendengus kesal
"walaupun gue duluan yang nembak, udah pasti ditolak, gue tau iz tatapan mata nya beda saat sama gue dengan saat sama bang Jo" lirih Ivan
"lah kok udah nyerah gitu sih bang, Mereka juga belum jadian kan" kata Toni pula
"iya tu van, harus tetap semangat. Sebelum janur kuning melengkung" timpal Faiz
"gak lah, kalau orang lain saingan gue mungkin gue hembat, tapi ini abang gue sendiri, gila aja rebutan cewe. Jelas jelas cewe itu memang suka nya sama dia bukan sama gue" jelas Ivan dengan muka masam nya
"haha, iya juga ya, jadi sekarang lo gimana,? " tanya Faiz lucu namun juga iba melihat sahabat nya ini, karena yang dia tahu dari dulu yang ada Dimata Ivan hanya Karina.
"gimana, gak tau gue, ikhlasin ajala" jawab Ivan pasrah
"pasrah amat lo bang" ucap Toni meledek
"mau gimana lagi Ton, gak mungkin kan hanya karena cewe gue sama bang Jo berantem. Gue udah dapet semua nya dari dia, orang tua, harta, dia juga sayang banget sama gue walaupun sikap nya dingin begitu. Jadi sekarang gue rasa gue yang harus ngalah" ungkap Ivan bijak, meski hati nya benar benar patah saat ini.
__ADS_1
"hmmh, yauda lah van. Kalau jodoh gak kemana kok, lo fokus aja dulu sama cita cita lo" balas Faiz
"ya bang, masih banyak cewe diluar sana yang lebih cantik dari Karina kok" kata Toni pula
"ya, gue mau cari yang lain aja la. Sayang tampang gue yang ganteng ini kalo dianggurin" jawab Ivan dengan gaya sombong nya yang langsung membuat Faiz dan Toni kesal bukan kepalang
"ishh mampus kali gue denger nya, " kata Toni melengos
"tau lo itu ganteng ganteng mubajir, banyak cewe yang deketin tapi satupun gak ada yang nyangkut" ejek Faiz
"sialan lo" kata Ivan menimpuk kepala Faiz dengan bantal sofa
"udah ah, gue balik dulu. Lo baik baik ton, jangan keluyuran" kata Ivan pada Toni
"siap bang" jawab Toni sambil meletakan tangan nya dikepala seperti tanda hormat.
Ivan pun pulang kerumah nya. Sesampai nya dirumah lagi lagi dia harus berpapasan dengan Jonathan yang juga baru pulang.
Nampak raut wajah nya tampak sangat bahagia berbeda dengan Ivan yang sedang patah hati.
"ah, mesti kuat hati gue sekarang" lirih Ivan dalam hati.
Melihat anak anak mereka baru pulang Delisha dan juga Maxwel pun tersenyum bahagia.
"malam pa ma" sapa Jonathan dan Ivan hanya tersenyum pada orang tua nya, entah kenapa rasa nya dia ingin cepat bersembunyi dibalik kamar nya saat ini, payah hati ini membuat nya seperti orang gila, meski dia sudah berusaha untuk meredam nya.
"malam, kalian baru pulang" tanya Delisha lembut
"iya ma" jawab Jonathan
"kalian gak lagi bertukar posisi kan nak" tanya Delisha heran
Jonathan dan Ivan juga saling pandang heran
"tidak ma, kenapa? " tanya Jonathan lagi
"tidak ada, mama cuma heran, biasa nya Ivan yang menyapa, kenapa sekarang diem aja, kamu baik baik aja kan nak? " tanya Delisha lagi yang kini fokus menatap wajah Ivan yang memang terlihat agak lesu
"Ivan gak papa kok ma, cuma agak capek aja" jawab Ivan lemas dengan senyum yang dipaksakan.
"beneran, kamu tidak sedang patah hati kan" kata Maxwel menggoda membuat Ivan sedikit terkesiap kaget
"apaan sih pa, mulai deh, ya enggak lah. Yauda Ivan naik dulu ma, pa" kata Ivan langsung meninggalkan tempat itu dimana keluarga nya masih menatap nya dengan heran, karena tidak biasa Ivan diam begitu.
"kenapa dengan adik kamu nak? " tanya Delisha pada Jonathan
"jo juga tidak tau ma, dari pagi tadi dia memang kurang bersemangat, mungkin dia memang sedang kelelahan" jawab Jonathan yang juga ikut merasa aneh dengan sikap Ivan, namun dia tidak menyadari jika masalah nya ada pada diri nya.
"baiklah, seperti nya memang begitu. kamu pergi bersih bersih dulu, setelah itu kita makan malam" kata Delisha membuat Jonathan mengangguk patuh
Jonathan pun naik keatas menuju kekamar nya. Setelah bersih bersih mereka pun makan malam bersama. Masih seperti tadi Ivan lebih banyak diam. Entah lah dia masih berusaha untuk menata hati nya yang sedang patah.
__ADS_1
Selesai makan malam mereka semua pun kembali kekamar nya masing masing.
Ivan dan juga Jonathan kini tengah mengerjakan tugas kuliah mereka.
Berbeda dengan Jonathan yang sudah cepat selesai, Ivan jangankan mengerjakan tugas itu, membaca nya saja sudah membuat kepala nya semakin pusing.
Alhasil dia hanya duduk termenung dimeja belajar nya sambil mencoret coret buku nya.
Hingga Jonathan memanggil nya pun dia seolah tidak mendengar.
'kenapa dengan anak ini'. batin Jonatan heran
"hei" panggil Jonathan menepuk kuat pundak Ivan membuat pemuda terkejut bukan kepalang.
"eh bang, apaan sih, ngejutin aja" kata Ivan sambil memegang dadanya seolah takut jantung nya terlepas
"kamu kenapa, dari tadi aku panggilin tidak mendenger juga. Kamu ada masalah? " tanya Jonathan yang duduk disisi ranjang Ivan menatap lekat wajah saudara kembar nya itu
"enggak, cuma lagi males mau ngapa ngapain" jawab Ivan singkat membuat Jonathan langsung mengernyitkan alis nyaj
"kalau ada masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri. Aku tau kamu sedang ada masalah kan, gak biasa nya jadi pendiem begini" ungkap Jonathan menatap tajam Ivan
"beneran kok, gak ada apa apa" jawab Ivan lagi
"kamu gak mau berbagi sama saudara sendiri" kata Jonathan yang tentu saja itu langsung menusuk kehati Ivan membuat dia langsung tersenyum canggung
"yaelah bang tajem amat tu mulut. Gue gak papa. Bener deh" jawab Ivan lagi namun enggan menatap Jonathan yang masih menatap nya dengan tatapan tajam dan dingin
"yasudah terserah kamulah" kata Jonathan dan langsung berbaring diatas ranjang Ivan
"gimana mau cerita, kalau yang jadi masalah gue itu elo. Hiss ngeliat lo rasa nya pengen gue gibas, tapi sayang saudara. CK, malah disini aja lagi. Kalau gini cerita nya gue lebih milih lo buang ke kutub utara aja deh bang, mati mati deh gue disana" gerutu Ivan membatin dalam hati, dia langsung menarik nafas dengan berat sembari mencengkram kuat rambut nya
Jonathan menatap Ivan curiga, dia yakin pasti ada yang disembunyikan Ivan saat ini
"tuh kan melamun lagi. Kesambet baru tau rasa kamu" kata Jonathan dengan mata yang terpejam
"abang berisik deh. Tidur aja lo sono" kata Ivan mulai sewot
"his anak ini" gumam Jonathan, dia langsung bangkit dari tidur nya dan mendekat kearah Ivan
"yasudah kalau tidak mau cerita. Tapi ingat apapun masalah mu jangan sampai membuat kewajiban mu terbengkalai" kata Jonathan tegas sambil menepuk nepuk buku tugas Ivan. Setelah itu dia pun langsung keluar dari kamar Ivan yang masih terpelongo ditempat duduk nya
Ivan langsung melihat kearah buku tugas nya. Dan betapa terkejut nya dia melihat tugas yang baru sedikit itu sudah penuh dengan coretan.
"astaga,, astafiruloh, tugas gue.. Aaaarrghh" teriak Ivan frustasi
Jonathan yang masih berada didepan pintu kamar Ivan mendengar suara ivan yang menjerit frustasi hanya bisa terkekeh pelan.
"dasar bodoh" gumam nya geli
Sementara Ivan dengan kesal nya dia merobek robek buku itu dan membuang nya ketong sampah kamar nya
__ADS_1
"sialan, gara gara mereka tugas gue jadi ancur. Ngulang lagi kan" gerutu Ivan sembari mengerjakan tugas nya dengan wajah yang masih saja lesu tidak bersemangat.
.....