
Ivan yang merasa perut nya mulai berbunyi pun langsung meminta izin pada Sari untuk keluar membeli makanan.
"bu, aku cari makan dulu ya. Kita kan belum ada makan siang ini" kata Ivan pelan.
Dan Sari hanya menganggukan kepala nya.
Ivan langsung bergegas pergi keluar rumah sakit untuk mencari makanan.
Tidak jauh dia berjalan hingga tempat yang dituju pun berhasil ia temui. Sebuah kantin yang terletak dibelakang rumah sakit besar itu yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Ivan membeli dua bungkus nasi dan dua bungkus teh manis hangat. Sembari menunggu makanan nya dibungkus Ivan mengedarkan pandangan nya kesegala arah, menatap kagum bangunan rumah sakit yang begitu besar, juga beberapa gedung gedung yang menjulang tinggi.
Begitu banyak orang yang berlalu lalang disana membuat nya lagi lagi merasa kagum dan terpana , meski hanya dirumah sakit namun entah mengapa Ivan merasa senang dengan suasana dikota.
Hingga tak lama kemudian makanan yang dia pesan pun telah siap.
Setelah membayar ia langsung kembali kerumah sakit.
Namun ketika baru tiba dilobi rumah sakit ia melihat seseorang turun dari sebuah mobil mewah diikuti beberapa pengawal. Ivan langsung bersembunyi dibalik dinding agar tak terlihat oleh para pengawal orang itu.
"itu kan bang Jonathan, anak yang mirip denganku, kenapa bisa bertemu lagi? sedang apa dia disini ya " tanya Ivan dalam hati.
Ivan masih terus memperhatikan anak yang mirip dengan nya yaitu Jonathan.
Dengan masih berdiri dibalik dinding dia memperhatikan Jonathan dengan seksama.
"pakaian bagus, rapi, bersih, keren, diikuti pengawal pula. Sempurna sekali hidup nya." batin Ivan takjub memandang kharisma Jonathan.
Karena tak ingin dilihat dan membuat masalah ivan pun mengambil masker yang ada disaku dan memakai nya. Tak lupa juga ia membenarkan posisi topi nya.
"wah, untung gue bawa masker tadi. Kalau liat orang bisa heboh satu rumah sakit" kata Ivan dalam hati.
Ivan pun mulai berjalan masuk kedalam rumah sakit itu. Dia melirik kemana arah orang orang tadi pergi. Orang yang dimaksud Ivan adalah Jonathan.
Terlihat Jonathan berjalan kearah ruang vvip rumah sakit sedangkan Ivan kearah ruang ekonomi.
...
Jonathan akhir nya tiba didalam ruangan Alex. Terlihat didalam ruangan itu sudah ada Dirga, Samuel dan Erika. Sementara orang tua Alex belum tiba karena mereka tinggal diluar kota.
"gimana keadaan kamu Lex? " tanya Jonathan.
"gak papa kok Jo, cuma lecet dikit aja" kata Alex lemas
"lecet dikit gimana, lo gak liat apa kepala lo bonyok gitu," timpal Erika kesal
"lo sih bro, bawa mobil gak bisa pelan, udah kayak jalan nenek moyang lo aja. Untung gak mati lo" kata Samuel lagi
Alex hanya tersenyum menanggapi ocehan teman nya.
"udah udah, kok malah ribut kalian" lerai Dirga
"lo ngapain pakai masker sih jo, takut ketularan virus rumah sakit lo? " ejek Samuel yang melihat jonathan memakai masker.
"apa ada masalah? " kata Jonathan cuek.
"gak masalah sih, cuma heran aja gue. Oh ya mana bang Yoy, biasa ikut mulu dia? " tanya Samuel lagi.
"paling juga didepan pintu kan? " kali ini Dirga yang menjawab dan langsung diangguki Jonathan.
"orang tua mu sudah diberitahu Lex? " tanya Jonathan pada Alex.
"udah kok, mungkin lagi dijalan" kata Alex lagi.
__ADS_1
"yauda lo istirahat aja dulu. Jangan banyak gerak, inget kata dokter tadi" ucap Dirga
Dan Alex hanya mengangguk.
Setelah beberapa lama mengobrol terlihat orang tua Alex sudah tiba. Jonathan dan teman nya memutuskan untuk pulang kerumah mereka.
Dirga mengantar Erika dan Samuel pulang sedangkan Jonathan seperti biasa bersama Roy.
"Roy, saya mau ketoilet sebentar" ucap Jonathan
"baik tuan" kata Roy mengikuti Jonathan.
Pada saat yang sama Ivan pun tengah berjalan jalan disekitar toilet umum didekat ruang vvip.
Saat ia hendak melangkah keluar ia melihat Jonathan yang akan masuk.
Ia pun menghentikan langkah nya dan menyapa Jonathan.
"hai bang, ketemu lagi kita" kata Ivan sumringah
Jonathan menoleh dan sontak ia langsung terkejut.
"kamu? " kata Jonathan tak percaya
"hehe, iya bang aku Ivan" jawab Ivan cengengesan sembari tengkuk nya
"bagaimana bisa kamu berada disini? " tanya Jonathan dan langsung menarik bahu Ivan masuk kedalam toilet sembari melirik kesekeliling toilet yang terlihat sepi itu
"bapak ku lagi sakit bang, jadi dirawat disini" jawab Ivan
"abang disini juga ngapain? " tanya Ivan lagi
"oh teman saya juga dirawat disini, sakit apa bapak kamu? " tanya Jonathan penasaran.
"oh, semoga cepat sembuh ya" kata Jonathan
"amin bang, yauda aku keluar dulu bang" kata Ivan pamit dan melangkah keluar.
Sementara Jonathan masih termenung ditempat nya.
"aku kira dia saudara kembarku seperti ditv tv yang bertemu setelah lama tidak berjumpa, tapi ternyata dia juga punya orang tua. Astaga takdir apa sebenar nya ini" pikir Jonathan menggelengkan kepala nya.
..
Setelah bertemu Ivan tadi Jonathan pun pulang kerumah nya.
Namun ditengah jalan ia berfikir untuk membeli sebuah ponsel. Entah apa yang ada dibenak nya namun ia sangat ingin dekat dengan Ivan.
"Roy, berhenti ditoko ponsel. Aku ingin membeli ponsel" titah Jonathan pada Roy
"baik tuan" kata Roy cepat
Setelah beberapa menit mencari akhirnya mereka berhenti disebuah toko ponsel yang lumayan besar. Jonathan tidak turun dari mobil nya dia hanya memerintahkan Roy untuk membeli nya.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau Jonathan pun kembali melanjutkan perjalanan nya.
Ia tiba dirumah saat senja.
Terlihat Delisha sudah menunggu nya diruang tamu.
"bagaimana keadaan teman mu nak" tanya Delisha pada Jonathan yang sudah duduk disamping nya.
__ADS_1
"tidak terlalu parah ma, hanya cidera kecil dikepala" jelas Jonathan singkat
"oh syukurlah kalau begitu" ucap Delisha
"yasudah, kamu bersih bersih dulu sana, kamu pasti lelah" ujar Delisha
Jonathan pun hanya mengangguk dan langsung pergi kekamar nya.
Sementara ditempat Ivan, nampak Ivan tengah duduk dikursi tunggu rumah sakit didepan ruangan bapak nya. Ia terlihat melamun mengingat pertemuan nya kembali dengan Jonathan sore tadi.
"siapa dia sebenar nya ya, berasa udah kenal dia lama gue" lirih Ivan.
"pasti besok dia kesini lagi, kan tadi kata nya ada temen nya yang dirawat juga disni" celoteh Ivan lagi.
Setelah duduk lama Ivan yang merasa bosan pun pamit pada Sari untuk keluar sebentar sembari mencari makanan.
Ia berjalan jalan memutari area rumah sakit. Ia yang tidak terlalu mengenal area jalan itupun hanya mengikuti langkah kaki nya berjalan hingga tak terasa sudah jauh dari area rumah sakit. Ia tak menyadari jika dia diikuti oleh beberapa preman.
Bukk
Ivan terjatuh karena ditendang oleh salah satu preman itu, sedang kan dua orang lain nya memegang tangan Ivan dan mengambil tas selempang yang dikenakan nya.
Setelah mengambil tas itu preman itu langsung berlari menjauh.
"woy, maling, berenti woy! " teriak Ivan sambil berlari kencang mengejar jambret itu.
Namun naas bagi Ivan ia tertinggal jejak karena mereka menggunakan sepeda motor.
Ivan hendak meminta tolong namun dilihat nya kekiri dan kekanan tidak ada satupun orang yang lewat.
Ivan pun terduduk lemas dipinggir jalanan yang sepi itu.
"astaga tuhan, bagaimana ini, didalam tas itu kan uang buat operasi bapak. Habis lah aku" lirih Ivan frustasi
Ia mengacak ngacak rambut nya frustasi. Ingin rasa nya ia menjerit. Ia merutuki kebodohan nya yang membawa uang itu pergi berjalan ditempat ia tak mengenal tempat.
"bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan. Oh tuhan"
"bagaimana bapak bisa dioperasi jika uang nya tidak ada" kata iIvan tertunduk sedih
"arrggjj bodoh bodoh bodoh!!! " teriak Ivan kesal.
Dia terduduk lama ditrotoar jalan. dengan sesekali mengacak ngacak rambut nya. tampak wajah nya sangat frustasi dan sedih.
Setelah hampir satu jam ia berdiam ditempat itu Ivan pun kembali berjalan kerumah sakit.
Ia berjalan tertatih tak bersemangat.
"apa yang akan aku katakan pada ibu, cuma itu uang kami" lirih Ivan sedih
Akhirnya dia pun tiba didepan ruangan bapak nya, dibuka nya pintu sedikit dan terlihat Sari tengah tertidur dilantai rumah sakit beralaskan tikar lipat.
Ivan pun menutup kembali pintu nya.
Ia terduduk dikursi tunggu dengan pikiran yang kacau.
"apa yang harus aku lakukan, atau aku pinjam uang diFaiz saja ya, ah tapi percuma bagaimana menghubungi nya sedangkan kang Tejo sudah pulang kesana. " kata Ivan sendu
"aaarggh bagaimana ini? " celoteh Ivan yang semakin frustasi.
"oh tuhan, tolong lah aku kali ini saja" pinta Ivan dalam hati.
__ADS_1
Hingga semalaman Ivan nyaris terjaga karena memikirkan uang untuk operasi bapak nya.
Ia bingung harus mencari bantuan pada siapa, apalagi dia tidak mengenal siapapun dikota besar ini.