
Suasana pagi dirumah mewah keluarga Alexander begitu damai dan tenang. Hilir mudik para pelayan dan penjaga terlihat saling berpapasan untuk melaksanakan tugas mereka masing masing.
Sementara sang pemilik sedang menikmati sarapan mereka dimeja makan mewah nya.
Pagi ini mereka semua tampak sudah begitu rapi, apalagi dua kembar tampan itu. Setelan jas mahal melekat sempurna ditubuh gagah mereka. Hari ini adalah hari dimana mereka akan mulai menjalankan perusahaan milik Maxwel Alexander, ayah mereka.
"kalian sudah siap untuk hari ini?" tanya Maxwel menatap dua putera kebanggan nya
"sudah pa" jawab mereka serentak
"bagus, semoga kalian tidak mengecewakan papa" harap Maxwel. Ivan dan Jonathan langsung mengangguk yakin.
Setelah selesai sarapan, mereka pergi dengan mobil masing masing dan tentu nya bersama asisten mereka masing masing pula.
Delisha melepas kepergian anak dan suami nya dengan senyum nya yang hangat.
"tidak terasa mereka sudah dewasa sekarang" gumam nya.
...
Sedangkan ditempat lain..
Karina berjalan cepat dan sedikit berlari menuju jalan utama dimana taksi nya sudah menunggu. Dia terlihat begitu kesulitan dengan sepatu high heels nya dan juga beberapa tumpukan dokumen ditangan nya, dan jangan lupakan tas selempang yang juga menghambat jalan nya.
"uuuhh bisa terlambat ini, mobil nya pakek ngulah segala lagi" gerutu nya yang masih fokus pada jalanan yang agak berbatu.
Dan tidak berapa lama kemudian dia sudah tiba ditempat taksi itu menunggu. Tanpa basa basi Karina langsung masuk kedalam taksi itu sembari mengatur nafas nya yang terlihat memburu.
"pak tolong cepetan ya, saya terkejar waktu nih" kata Karina dengan nafas yang tersengal
"siap neng" jawab supir taksi itu
Karina kembali mengatur nafas nya, dan setelah merasa tenang, dia segera memperbaiki riasan diwajah nya, juga rambut nya yang masih berantakan.
"gara gara lembur, jadi kesiangan, mana mobil pakek acara mogok lagi. Bisa gawat kalau terlambat" gumam nya sembari terus merapikan diri nya
"duhh, pak lebih cepet dong, saya bener bener udah terlambat ini" kata Karina benar benar gelisah dan khawatir.
"gak bisa neng, macet. Ini udah ngebut bapak" jawab supir taksi itu membuat Karina semakin bertambah gelisah
"gimana ini, mana hari ini rapat besar lagi, ya Allah, pliss tolong Karin" gumam nya sembari melihat jalanan ibukota yang memang macet dijam pagi seperti itu.
__ADS_1
Beberapa kali Karina mengecek jam ditangan nya, dan beberapa kali pula teman kantor nya menghubungi nya, membuat Karina semakin cemas dan panik bukan kepalang. Pasal nya hari ini dia akan mengikuti rapat besar yang diadakan oleh tuan Maxwel, jika dia terlambat maka tamat lah riwayat nya.
Setelah hampir tiga puluh menit, akhir nya taksi yang membawa Karin tiba dilobi perusahaan. Dengan sigap Karina langsung membayar ongkos taksi itu, dan langsung berlari kedalam sekuat tenaga nya.
Semua karyawan nya menatap gadis itu dan menggelengkan kepala nya melihat Karina yang tergesa gesa.
Karina langsung berlari masuk kedalam lift dan memencet tombol kelantai paling atas dimana rapat akan diadakan sebentar lagi.
Nafas nya memburu, bahkan keringat mulai mengucur didahi nya.
"astaga tujuh menit lagi" gumam nya panik saat melihat jam dipergelangan tangan nya
"cepetan dong!!!" gerutu nya frustasi
dan
Ting
saat lift terbuka Karina langsung berlari keluar tanpa melihat lihat lagi, hingga membuat nya menabrak seorang yang sangat dikenali nya.
"ya ampun Karina, pelan pelan" ucap Danil maneger pemasaran yang juga akan mengikuti rapat besar itu.
Dia langsung membantu Karina memungut laporan yang jatuh bertebaran dibawah kaki nya.
"kamu terlambat, tumben sekali" tanya Danil menatap lekat wajah Karina yang berkeringat namun tetap cantik dimata nya
"mobil saya mogok pak" jawab Karina singkat
"yasudah ayo masuk, tuan Maxwel sebentar lagi tiba" ajak Danil sembari mengarahkan tangan nya kepintu ruang rapat
Karina hanya mengangguk dan tersenyum melihat meneger diperusahaan itu.
Mereka pun masuk kedalam ruang rapat tanpa tahu diujung lorong Jonathan dan Maxwel bersama yang lain sudah berada disana dan sempat melihat mereka.
...
Karina duduk dikursi yang telah disediakan untuk nya. Dia menarik nafas nya sejenak dan kembali merapikan diri nya yang sedikit berantakan.
"kamu terlambat ya" bisik Nadia, teman satu ruangan Karina
"iya nih, mobil ku mogok" jawab Karina yang masih fokus pada penampilan nya
__ADS_1
"kamu gak deg degan Rin, hari ini kata nya tuan Maxwel akan memperkenalkan calon penerus perusahaan nya loh" ungkap Nadia membuat Karina langsung tertegun mendengar nya
"calon penerus" gumam nya
Namun belum sempat Nadia melanjutkan cerita nya, seruan dari sekretaris perusahaan membuat ruangan rapat itu seketika hening dan berubah tegang saat Maxwel Alenxander masuk kedalam bersama Rico.
Dan yang membuat jantung Karina hampir lepas adalah dua orang pemuda kembar yang masuk dengan langkah gagah mereka.
Karina mematung ditempat duduk nya menatap wajah pemuda itu. Apalagi pemuda berwajah datar dan dingin yang selalu dia rindukan kehadiran nya.
Wajah itu, wajah yang menjadi semangat kehidupan nya, kini dia telah berdiri gagah dengan tatapan datar nya.
Karina terperanjat saat Nadia menarik nya untuk berdiri dan memberi hormat kepada mereka.
Semua staf berdiri dan menyambut kedatangan Maxwel dan dua anak nya dengan penuh hormat, begitu pula dengan Karina.
Pandangan nya menatap Jonathan yang hanya menatap nya sekilas, kecewa, sudah pasti, namun dia tahu, saat ini mereka harus bersikap profesional karena masih dalam lingkup perusahaan.
Apalagi mata tajam Maxwel yang seperti elang itu, membuat Karina harus mampu menahan perasaan nya untuk saat ini. Meskipun dia begitu ingin berlari dan memeluk pemuda yang selalu mengisi hati dan fikiran nya selama tiga tahun ini.
Maxwel duduk dikursi utama. Jonathan disebelah kanan nya, dan Ivan disebelah kiri nya. Sementara asisten mereka berdiri dibelakang Maxwel dengan tatapan datar dan benar benar gagah, meski Dirga dan Faiz sedikit gugup untuk ini.
Semua staf memandang kagum dua pemuda tampan itu, benar benar berwibawa dan penerus kejayaan Agueno yang sesungguh nya.
Namun meskipun begitu mereka tidak berani melihat terlalu lama, karena sama saja itu akan membuat pekerjaan mereka hilang dalam waktu sekejap. Begitu pula dengan Karina, beberapa kali dia menghela nafas nya, hanya untuk menetralkan perasaan nya dan menahan gugup nya.
'kamu sudah kembali, dan aku sangat ingin memeluk mu, aku rindu' batin Karina sendu, bahkan mata nya berkaca kaca saat ini. Dia ingin menangis, menangis didalam dekapan Jonathan, dia ingin menumpahkan segala kerinduan nya selama ini.
Namun saat Maxwel mulai membuka suara, Karina kembali menghela nafas nya dan mengusap singkat wajah nya. Dan tentu itu tidak luput dari pandangan Jonathan.
Meski wajah nya datar dan dingin, namun saat ini hati nya benar benar bergemuruh hebat, rasa rindu, cinta dan kebahagiaan melebur menjadi satu.
"hari ini, aku akan memperkenalkan dua putera kebanggan ku. Mereka adalah calon penerus perusahaan ku. Disebelah kanan ku, Jonathan Alexander, dia akan aku tugaskan memimpin diperusahaan pusat ini. Dan disebelah kiri ku, Jovankha Alexander, dia akan aku tugaskan untuk memimpin perusahaan cabang dikota sebelah" ungkap Maxwel begitu lantang
"mereka akan bekerja bersama asisten mereka masing masing, meskipun begitu, aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja, aku masih tetap memantau kinerja perusahaan bersama Rico hingga mereka mampu berdiri sendiri suatu hari nanti" tambah Maxwel lagi
"selamat datang tuan, selamat bergabung diperusahaan" ucap semua staff disana
Jonathan hanya mengangguk datar, dan Ivan mengangguk sembari memberikan senyum nya yang hangat.
Maxwel kembali berpidato panjang lebar mengenai perusahaan mereka. Dan beberapa staff termasuk Karina juga mulai melaporkan hasil yang dia dapat setahun terakhir ini.
__ADS_1
Maxwel menanggapi nya dengan wajah datar. Sedangkan Jonathan terlihat tersenyum tipis mendengar Karina yang menjelaskan dengan penuh percaya diri, tegas dan sangat profesional. Meski dia tahu, jika kini mereka sama sama sedang menahan perasaan mereka masing masing.
'tunggu sebentar lagi Karina. Aku akan menjemputmu'. batin Jonathan menatap bangga gadis nya