
Swiss waktu setempat.....
Tidak terasa hampir sebulan sudah perjalanan cinta Ivan dan Amelia dinegara dengan pemandangan alam yang paling indah itu. Sebulan menikmati waktu waktu bulan madu dengan mengelilingi negara bermusim yang tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Namun itu tidak menjadi masalah untuk mereka. Tabungan mereka cukup banyak, lagi pula Maxwel juga sudah menyuntikkan dana kedalam kartu Ivan hingga mereka tidak lagi memikirkan masalah biaya.
Hampir sebulan mereka berkeliling Swiss, dari satu kota Kekota lain nya. Meninggalkan jejak jejak cinta yang akan mereka kenang untuk seumur hidup nantinya. Tidak ada beban apapun yang mereka rasakan selain menikmati waktu dan melakukan apapun yang mereka mau.
Hari ini, adalah batas terakhir mereka berlibur. Dan kota terakhir yang mereka kunjungi adalah kota Zurich. Kota terbesar di Swiss yang menampilkan bangunan bangunan tua serta danau yang memukau indah, tidak kalah dari tempat yang lain. Sudah empat hari mereka berada di Zurich, menginap disalah satu hotel yang berada tidak jauh dari danau Zurich, dan tentu pemandangan yang indah adalah tujuan utama untuk mereka.
Hari ini Amel dan Ivan akan berbelanja oleh oleh untuk keluarga tercinta mereka di Indonesia. Mereka telah berada disalah satu pusat kota yang menyediakan berbagai makanan dan tentunya segala macam barang yang unik dan menarik, khas negara itu.
Amelia bahkan sampai kalap ketika berada didalam satu toko cokelat yang paling terkenal disana. Ya, apalagi, semua orang juga tahu jika Swiss adalah negara penghasil cokelat yang terlezat didunia. Semua produksi cokelat bermerk dan berkualitas tinggi berasal dari Swiss.
"Aaaahhh cokelat" gumam Amelia begitu berbinar memandangi sudut sudut etalase yang dipenuhi oleh berbagai ragam cokelat dengan rasa dan bentuk yang berbeda
"Sayang, udah hampir sebulan kita makan cokelat terus. Tapi setiap lihat cokelat udah kayak lihat emas batangan aja" gerutu Ivan yang berjalan dibelakang Amelia
Amelia tertawa dan langsung merangkul lengan Ivan dengan manja
"Kapan lagi coba, selagi disini. Besok kita udah pulang" jawab Amelia
Ivan mencubit gemas hidung Amel
"Iya, tapi aku takut sampai dirumah kita berdua pada sakit gigi" ucap Ivan
"Hehe, gak apa apa. Nanti kita langsung kedokter gigi. Aku gak masalah sama itu, yang aku permasalahan ini." kata Amelia yang langsung menunjuk pipi nya yang semakin chubby
"Ini lagi" kini tangan nya beralih ke pinggang
"Ini juga" dan yang terakhir ke lengan nya. Wajah nya kesal, namun begitu menggemaskan membuat Ivan langsung tertawa dan mencubit gemas kedua pipinya
"Uuhhh makin gemoy tahu" goda Ivan
Amelia mendengus kesal dan memukul lengan Ivan dengan pelan
"Gendut iya" gerutunya
"Udah ah, ngapain dipermasalahkan. Aku juga makin gemuk, gak lihat nih perut aku udah gak berbentuk lagi" kata Ivan yang mengusap perut nya yang sedikit membuncit, dan tentu saja itu membuat Amel menjadi tertawa
"Iya kan, baru sebulan, tapi kita udah menggendut bersama" jawab nya
"Iya, makan tidur terus, memang enak banget" sahut Ivan
Mereka berdua tertawa lucu mengingat bagaimana sebulan ini mereka menghabiskan waktu. Hanya jalan jalan, makan makan yang memang menjadi hobi mereka. Hingga akhirnya badan mereka sama sama mengalami penaikan yang cukup drastis, apalagi mereka tidak ada berolahraga sama sekali. Hanya olahraga malam saja yang tidak pernah mereka lupakan. Itu seolah sudah menjadi candu yang tidak bisa dielakkan. Dan memang begitu kenyataan nya, mereka berbulan madu adalah untuk menikmati waktu berdua tanpa siapapun yang mengganggu.
Dan setelah masalah perdebatan berat badan selesai. Amelia dan Ivan langsung memborong berbagai macam cokelat untuk dibawa pulang ke Indonesia, mereka membeli cukup banyak dan tentunya dengan harga yang tidak murah juga.
Lama mereka berada di toko itu dan ketika hari sudah siang menjelang sore. Mereka pergi ketoko lain untuk membeli beberapa barang untuk orang tua mereka. Seperti pakaian ataupun tas dan juga makanan kering yang memang menjadi ikon oleh oleh seperti biasa.
Dan petualangan mereka berakhir ketika hari telah gelap. Mereka berdua terduduk kelelahan disebuah resto siap saji yang ada dikota itu.
__ADS_1
Semua belanjaan mereka sudah ada didalam mobil yang dibawa oleh driver yang memang disewa Ivan.
"Ya ampun, capek banget" gumam Amelia yang mengusap lutut nya yang terasa pegal dan ingin patah. Berjalan kaki satu harian membuat nya serasa ingin berbaring sekarang. Rasanya lelah sekali, bahkan melebihi berkeliling lapangan bola
"Kamu sih , udah aku bilang pakai mobil aja. Bandel" ucap Ivan yang menarik kursi nya mendekat kearah Amel. Ivan menarik kaki Amel dan meletakan nya diatas pangkuan nya
"Eh jangan yang" Amel berusaha menarik kembali kaki nya namun Ivan masih menahan nya
"Udah diem, biar gak sakit. Takut nanti malah gak bisa jalan. Lihat nih udah bengkak" omel Ivan yang menunjuk tumit kaki Amelia setelah dia membuka sepatu istrinya itu
Amelia mengerucutkan bibirnya dan memandang sekitar. Meskipun banyak orang disana namun tidak ada satupun dari mereka yang memperhatikan perlakuan Ivan. Ya, orang orang disana bukan seperti orang Indonesia yang sangat perhatian bukan.
"Mungkin karena udah keberatan badan kali ya" gumam Amel yang sudah menikmati pijatan dikaki nya
Ivan tertawa dan menggeleng pelan. Dia memperhatikan Amelia yang sedang memperhatikan tangan nya. Amel memang sedikit terlihat lebih gemuk, tapi dia tetap saja terlihat cantik dan menggemaskan. Dan itu terkadang membuat Ivan tidak habis fikir, kenapa semakin lama kadar cintanya semakin bertambah pada gadis ini, gadis yang telah menjadi istrinya.
"Kenapa coba lihatin begitu?" tanya Amelia tiba tiba dan membuat Ivan sedikit terkesiap
"Enggak apa apa, kamu makin hari makin cantik" jawab Ivan namun Amelia malah memasang wajah jelek nya
"Bohong banget, aku makin gendut makin lebar, malah dibilang makin cantik" gerutunya
"Tapi Dimata aku kamu makin cantik sayang. Gak tahu kenapa, tapi setiap hari aku malah makin cinta sama kamu" ungkap Ivan. Meskipun Amelia terlihat mendengus, namun pipi chubby nya yang merona tidak dapat dia tutupi. Ivan memang selalu bisa membuat nya salah tingkah dengan semua kebucinan nya itu.
"Gombal" ucap Amel yang langsung memalingkan wajah nya yang merona
Ivan tertawa dan seraya menukar sebelah kaki Amel untuk dia pijat.
"Bener gak cuma modus?" tanya Amel dan Ivan langsung mengangguk
"Iya, palingan cuma minta jatah buat malem." jawab nya begitu santai
"Dih, sama aja. Gak bosen bosen, sebulan gak ada libur nya " sahut Amelia
"Ya namanya enak yang" jawab Ivan dengan tawa tengil nya membuat Amel langsung mendengus gerah
"Eh iya tapi kamu kok gak ada menstruasi sih, biasanya kan cewe tiap bulan?" tanya Ivan, namun beberapa detik kemudian dia langsung terkesiap bahkan sebelum Amel menjawab pertanyaan nya
"Atau jangan jangan kamu udah hamil yang?" tanya Ivan dengan mata yang melebar.
Amel langsung menampar lengan nya dengan gemas
"Sembarangan, baru juga sebulan udah main hamil aja. Dikira kucing cepet banget jadinya. Sehari sebelum kita nikah aku dapet halangan yang terkahir, dan aku juga sering telat dapet nya. Jadi gak mungkin lah hamil secepat ini, baru juga telat dua hari" ungkap Amel
"Aku kira hamil, siapa tahu bibit aku unggul dan pabrik kamu paten. Kan bisa cepat dapet reward kita" ucap Ivan dengan tawa nya. Amel juga ikut tertawa mendengar itu
"Kamu udah pengen ya?" tanya Amel dan Ivan langsung mengangguk pelan seraya terus memijat kaki Amel yang membengkak
"Kepengen udah pasti, nama nya juga udah nikah. Cuma aku gak mau maksa, kapan dikasih nya aja. Lagian aku masih pengen dimanja sama kamu. Sebulan ini berasa bahagia banget aku" ungkap Ivan membuat Amelia kembali tertawa
__ADS_1
"Iya, kamu memang udah kayak bayi besar aku" jawab Amelia
"Dan kamu mommy kecil aku" sahut Ivan. Mereka berdua kembali tertawa lucu seolah rasa lelah tadi kini telah hilang tergantikan dengan melihat tawa dan senyum dari bibir pasangan masing masing. Kebahagiaan yang tidak terkira bagaimana besarnya
"Gak terasa ya, kita udah mau sebulan aja disini. Rasanya cepet banget" ungkap Amelia seraya menurunkan kaki nya dari atas pangkuan Ivan.
Ivan yang membantu Amelia memakai sepatu boot nya juga langsung mengangguk setuju
"Iya, gak terasa juga udah sebulan kita nikah" sahut Ivan
Amelia tersenyum dan mengangguk. Dia menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan nya perlahan hingga asap keluar dari mulutnya karena suhu udara yang begitu dingin disana
"Semoga aku bisa jadi istri yang baik buat kamu ya. Kalau aku salah, kamu harus bisa kasih tahu aku" pinta Amelia memandang Ivan dengan lekat
Ivan tersenyum, meraih tangan Amel dan menggenggam nya dengan erat
"Tentu sayang. Kamu juga gitu ya. Kita berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Belajar untuk saling mengerti dan memahami" ucap Ivan. Memandang wajah Amel penuh cinta dan kelembutan
"Iya pasti... aku pasti bakalan berusaha jadi istri yang baik buat kamu, aku bakalan belajar masak nanti. Biar kamu betah dirumah" kata Amel begitu antusias, dan Ivan langsung tertawa lucu mendengar itu
"Sayang, walaupun kamu gak bisa masak, aku pasti bakalan betah dirumah. Yang penting ada kamu, ada senyum kamu. Itu udah cukup" jawab Ivan begitu lucu. Namun Amelia malah menggeleng tidak setuju
"No, setelah dari sini kita harus bisa berhemat. Kalau aku gak bisa masak,. pengeluaran kita juga makin banyak. Kamu tahu sendiri kan kita udah hampir bangkrut sebulan liburan disini" ungkap Amelia dengan wajah yang begitu serius, namun Ivan malah langsung terbahak-bahak mendengar nya. Amelia begitu lucu, dia bahkan sampai memikirkan itu
"Ya ampun yang, jiwa emak emak kamu udah mulai muncul ternyata" ucap Ivan masih dengan sisa tawa nya. Amel mendengus kesal dan menampar lengan Ivan dengan gemas
"Aku serius sayang" seru Amel
"Haha, iya iya. Tapi kita gak akan bangkrut. Tenang aja. Donatur kita masih ada kok" jawab Ivan
"Gak enak tahu nyusahin papa. Udah bersyukur kamu dikasih cuti sebulan. Kak Jo aja cuma dua Minggu, itupun gak sampai full gara gara kamu" omel Amelia pada Ivan yang masih menahan tawanya
"Iya iya maaf. Tapi emang nya kalau aku bangkrut kamu gak mau lagi ya sama aku?" tanya Ivan
"Gimana pun kamu aku tetap mau. Tapi kan hidup juga harus realistis sayang. Aku gak mau anak anak kita sudah nanti. Aku hidup susah sama kamu ya gak masalah. Hidup dikampung juga gak papa. Tapi aku gak rela anak aku susah, aku pengen anak anak aku nanti juga bisa keliling dunia kayak gini" ungkap Amelia
Ivan tersenyum dan mengusap lengan Amel dengan lembut
"Anak kita sayang. Anak kita" kata Ivan meralat perkataan Amel
"Aku kan udah pernah bilang, kalau aku udah memikirkan itu semua. Untuk apa coba aku berhemat selama ini. Ya semua itu untuk masa depan kita. Kamu gak perlu berhemat, apa yang kamu mau kamu bisa beli. Biar aku yang usaha dan kerja keras untuk masa depan kita. Kamu cukup diam dan jaga hati buat aku aja" ungkap Ivan begitu yakin
"Kamu baik banget sih" gumam Amel dengan mata yang berkaca kaca mendengar penuturan Ivan
"Aku cinta kamu. Dan kamu segalanya buat aku. Kebahagiaan kamu, adalah kebahagiaan aku" jawab Ivan
Amel langsung beranjak dan melompat memeluk Ivan yang dengan reflek menangkap nya
"Makasih sayang. Bahagia banget aku punya kamu" ucap Amel
__ADS_1
"Aku juga bahagia punya kamu" balas Ivan yang memeluk Amel dengan erat dan penuh perasaan. Tidak perduli dimana mereka berada, yang terpenting perasaan mereka bisa sama sama bahagia.