Story Of The Twins

Story Of The Twins
Amel Yang Sensitif


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu. Kehidupan yang dijalani Ivan dan Jonathan setiap hari semakin bertambah berarti. Apalagi sejak sudah mempunyai istri yang mengisi setiap hari hari mereka. Hal hal baru selalu mereka temui setiap saat. Lelah seharian bekerja tidak lagi mereka rasakan ketika telah tiba dirumah. Dimana senyuman manis dari istri mereka seolah pengisi energi yang selalu mereka nantikan.


Baik Ivan dan Jonathan masih tinggal dirumah utama. Waktu mereka masih ada sebulan lagi dirumah itu. Bukan tanpa alasan, melainkan mereka sudah mengadakan perjanjian dengan orang tua mereka, dan mereka juga perlu untuk mengisi peralatan peralatan dan merenovasi rumah baru mereka sesuai dengan keinginan mereka masing masing.


Saat ini Amelia dan Karina sedang berada di dapur bersama Delisha. Hari sudah sore dan mereka akan menyiapkan makanan untuk makan malam mereka nanti. Delisha begitu bahagia mendapat teman, menantu menantu nya yang cantik begitu antusias ketika diajak memasak. Sudah beberapa hari ini mereka memasak bersama.


Karina sudah lihai dalam memasak apapun karena dia sudah terbiasa dari dulu. Namun berbeda dengan Amelia, dia masih begitu kaku dan canggung. Seringkali dia merasa kesal karena selalu saja ada yang kurang dalam masakan nya.


Namun meskipun begitu dia tetap semangat untuk belajar memasak dan menyenangkan hati mertua dan suami nya.


Tapi hari ini dia sedikit lesu, tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan hari ini dia juga tidak ada kebutik nya.


"Ma, ini sudah selesai. Coba cicipi deh" ujar Karina yang baru saja selesai memasak sup daging. Dia memberikan sesendok pada Delisha untuk dicicipi. Delisha yang sedang membuat salad langsung menoleh kearah nya


"Kalau kamu sudah cocok, berarti pas. Masakan kamu udah enak banget, gak diragukan lagi" ungkap Delisha


"Mama jangan gitu, Karin juga masih belajar" kata Karina


Delisha mencicipi sup daging buatan menantu nya itu. Dan memang rasanya sangat enak. Karina memang tidak diragukan lagi


"Pas,.enak banget. Mereka pasti suka" puji Delisha membuat Karina langsung tersenyum senang.


Kini dia beralih pada Amel yang duduk dimeja,


gadis itu sedang memotong buah untuk dijadikan jus nantinya. Tapi dia seperti tidak bersemangat dan sangat lesu. Bahkan wajahnya sedikit pucat.


"Mel..." panggil Delisha


Amel langsung mendongak dan memandang mama mertuanya dan juga Karina yang tengah menuangkan sup kedalam mangkuk


"Kenapa, kok lesu banget. Kamu sakit?" tanya Delisha


Amel menggeleng lemah dan memijat kepala nya yang memang pusing sejak semalam


"Enggak kok ma. Cuma pusing sedikit" jawab Amel


Delisha mendekat kearah Amel dan meraba dahinya. Tidak panas, mungkin dia kelelahan


"Kamu kecapean kayak nya. Liburan sebulan, terus harus kebutik lagi. Yaudah, istirahat aja dulu dikamar. Ini biar mama yang nyelesain" ungkap Delisha


"Gak papa ma" tanya Amel tak enak


"Kan ada aku kak. Aman kok. Kakak istirahat aja. Kecapean, siang malem sih kerjanya" goda Karina yang berjalan mendekat kearah mereka.


Delisha tertawa kecil apalagi melihat Amel yang cemberut gemas.


"Istirahat saja sayang. Bersih bersih dulu baru tidur ya. Nanti mama anterin obat kamu" ujar Delisha


" Iya ma." jawab Amel yang langsung beranjak dengan lesu meninggalkan Delisha dan Karina. Dia langsung pergi kekamar nya. Tidak lagi mandi, hanya mencuci tangan dan kaki saja serta mengganti baju. Rasanya lemas sekali, kepala nya juga berdenyut. Apa mungkin magh nya kambuh? Tapi dia makan cukup teratur, Delisha dan Ivan begitu posesiv pada nya. Jadi seharusnya dia baik baik saja kan. Tapi ya mungkin karena kelelahan akibat liburan selama sebulan, dan juga iklim disana yang selalu dingin. Jadi tubuhnya drop sekarang.


Dan tanpa menunggu lama, Amel langsung tertidur dalam selimut yang menggelung tubuh kecilnya.

__ADS_1


Dilantai bawah Delisha dan Karina masih sibuk menyiapkan makan malam mereka. Hari juga sudah senja dan sebentar lagi ketiga lelaki itu pasti sudah pulang.


Makanan juga sudah tersaji dengan rapi dan menggiurkan. Karina tersenyum puas dengan hasil masakan hari ini. Dia memang paling senang jika memasak, karena hanya itu pekerjaan yang bisa dia lakukan setelah menjadi istri Jonathan. Lelaki itu tidak memperbolehkan Karina bekerja lagi, dan tentu saja Karina begitu bosan. Terkadang dia hanya ikut Amel kebutik ataupun ikut Delisha berbelanja untuk mengisi kebosanan, selebihnya dia hanya menghabiskan waktu dirumah. Tidak tahu jika sudah rumah sendiri nanti, dia pasti akan sangat bosan.


Dan tidak lama kemudian, suara tawa Ivan sudah terdengar memenuhi rumah itu. Membuat Delisha dan Karina langsung tersenyum dan menoleh keasal suara. Dan tentu saja setiap pulang kerumah kedua lelaki itu pasti datang kedapur untuk melihat apa yang dilakukan oleh istri mereka


"Sore ma" sapa Ivan yang langsung menyalami punggung tangan Delisha


"Tumben cepet pulang, barengan lagi" kata Delisha yang kini menjulurkan tangan nya pada Jonathan


"Udah gak ada kerjaan ma" jawab Jonathan. Dia kini beralih pada Karina yang langsung tersenyum dan menyalami nya, dan Jonathan membalas mencium dahi istrinya itu


"Iya, gak tahu juga kenapa barengan. Kok cuma berdua. Istri Ivan mana?" tanya Ivan seraya menoleh kearah kamar mereka


"Istri kamu lagi gak enak badan kayak nya. Dia tidur waktu mama mau kasih obat. Bangunin dulu ya, ajak makan nanti" ujar Delisha


"Iya ma, kecapean mungkin. Gak ada istirahat nya. bandel banget dibilangin gak usah kebutik juga" sahut Ivan


"Kamu yang buat dia gak istirahat"kata Jonathan langsung


Ivan tertawa pelan dan mengusap tengkuk nya sekilas


"Mana ada begitu, cuma sesekali kok" gumam nya dengan canggung


"Sesekali nya setiap malam" ejek Jonathan


"Berisik ah bang, kayak kalian enggak aja. Udah deh aku naik dulu" Ivan langsung berlari menuju pintu lift meninggalkan Mama dan Abang nya yang masih terlihat berbincang. Maxwel belum pulang, dia sedang mengurus proyek baru bersama Rico,.entah kapan tuan besar itu akan pensiun. Dia cukup berambisi untuk terus membesarkan dan meluaskan kekuasaan Agueenno grup.


Ivan duduk disisi ranjang, tangan nya langsung meraba dahi Amel. Dahi nya mengernyit, tidak panas, tapi dapat dia lihat jika wajah Amel memang pucat.


Merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya, mata Amel langsung terbuka. Dia mengerjap perlahan dan ternyata Ivan yang kini tengah memandang nya dengan senyum teduh dan menenangkan


"Kamu udah pulang" tanya Amel dengan suara yang begitu serak, dia langsung beranjak untuk duduk dibantu oleh Ivan yang menarik nya dengan lembut.


"Kamu sakit yang?" tanya Ivan mengusap wajah pucat itu


Amel menggeleng dan langsung merebahkan kepala nya didada Ivan


"Enggak, cuma pusing aja. Dibawa tidur udah enakan" jawab nya masih begitu pelan


"Kamu pasti kecapean. Maafin aku ya, kayak nya aku udah keterlaluan deh" ungkap Ivan seraya mengusap punggung Amel dan menciumi pucuk kepala nya


"Bukan salah kamu kok. Kan akunya juga mau" jawab Amel begitu datar, namun cukup mampu membuat Ivan langsung terbahak dan mengacak gemas rambut nya


"Yauda malam ini kita libur. Kamu harus istirahat. Jangan kebutik dulu" ujar Ivan


Amelia langsung mengangguk dan melepaskan pelukan nya dari Ivan


"Mau kemana?" tanya Ivan saat melihat Amel ingin beranjak dari tempat tidur


"Mau nyiapin air hangat buat kamu mandi" jawab Amel. Namun Ivan segera menarik tangan nya

__ADS_1


"Gak usah, aku bisa sendiri. Kamu istirahat aja disini. Lagi gak enak badan kok malah masih mikirin aku" sahut Ivan


"Kan memang udah tugas aku yang. Cuma itu yang bisa aku lakuin, nyiapin semua keperluan kamu. Untuk masak aku masih belum bisa, padahal udah sering belajar sama mama" ungkap Amelia tertunduk sedih, bahkan matanya berkaca kaca hanya dengan mengungkapkan itu.


"Sayang, aku gak apa apa kamu gak bisa masak. Baru juga belajar seminggu, gak mungkin cepat bisa" jawab Ivan yang meraih tangan nya dan menggenggam dengan erat


"Tapi Karina udah bisa" sahut Amel dengan cepat. Wajahnya cemberut dan seperti menahan tangis, Ivan menjadi bingung melihat nya.


"Karina kan memang udah terbiasa dari dulu" jawab Ivan


Dan entah kenapa mendengar itu air mata Amel langsung mengalir membuat Ivan terkesiap kaget


"Loh kok malah nangis, aku beneran gak apa apa kamu gak bisa masak yang" ucap Ivan panik, dia mengusap air mata itu namun malah ditepis oleh Amel


"Hiks.... kamu perhatian banget bisa tahu dia udah biasa masak. Kamu masih cinta ya sama dia...." ucap Amel yang mulai terisak


Ivan melongo dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Kenapa malah jadi kesitu?


"Sayang, bukan gitu maksud aku. Aku....."


"Kamu jahat, katanya cinta sama aku tapi malah muji Karina... huaaaa" tangis nya semakin menjadi membuat Ivan bertambah kebingungan. Memuji apa nya? Dia cuma bilang begitu kenapa Amel malah menangis?


"Sayang... " panggil Ivan yang menarik tangan Amelia yang kini menutupi wajahnya


"Aku benci sama kamu...huuuu" kata Amelia yang masih saja menangis


Ivan benar benar tidak tahu harus apa. Kenapa Amel jadi aneh begini. Dan beberapa hari ini dia memang lebih sensitif. Tidak tahu kenapa.


Melihat Amel yang terus menangis dan tidak mau disentuh, Ivan langsung memeluk nya dengan erat. Tubuh Amel yang kecil tidak bisa bergerak lagi dalam rengkuhan Ivan, dia hanya bisa menangis. Namun lama kelamaan dia malah terbuai dan membalas pelukan itu


"Udah dong jangan nangis lagi. Kamu kan tahu aku cinta nya sama kamu" ucap Ivan masih terus memeluk Amel


"Aku cuma sedih" jawab Amel dengan suara serak nya


"Sedih kenapa sayang?" tanya Ivan lagi


"Aku sedih gak bisa masak" jawab Amel


Ivan tersenyum dan mengangkup pipi chubby yang sudah mulai menyusut itu. Dia mengusap air mata Amel yang membasahi pipinya


"Aku gak apa apa kamu gak bisa masak.Aku nikahin kamu buat jadi istri aku. Bukan jadi pelayan aku. Kan udah ada mbak yang masak, kamu cukup ngurusin aku aja, gak perlu yang lain lain" ungkap Ivan


"Beneran" tanya Amel dengan wajah yang begitu menggemaskan bagi Ivan


"Iya sayang, bener" jawab Ivan


Amel kembali memeluk Ivan dengan manja


"Jangan nangis lagi, dan jangan mikirin yang macem macem" pinta Ivan


"Iya maaf" jawab Amel

__ADS_1


__ADS_2