Story Of The Twins

Story Of The Twins
Mencari Tahu


__ADS_3

Pagi itu Ivan dan juga Dirga sudah bersiap siap untuk pergi kekampus mereka seperti biasa.  Sementara Delisha tetap berada dirumah Rico bersama Nina istri Rico.


Meski berat melepas anak nya untuk sekolah, namun Delisha tidak punya pilihan lain karena Ivan terus meyakinkan nya bahwa dia akan baik baik saja dikampus.


Setelah berpamitan pada orang tua mereka, Ivan dan Dirga berangkat bersama dengan Roy yang sudah menjemput nya. Juga pengawal tambahan yang ditugaskan Rico untuk menjaga Ivan.


Sesampai nya dikampus mereka langsung disambut oleh beberapa teman teman mereka.  Seperti biasa mahasiswi seangkatan maupun senior Ivan menyapa dan mencari perhatian idola mereka. Apalagi sekarang Ivan yang dikenal ramah dan ceria mau menanggapi ocehan mereka. Julukan pangeran es seperti nya sudah mulai musnah dari kampus itu.


"hai bro,  baru dateng kalian" sapa Samuel dan Alex tiba tiba


"ceria amat lo Sam,  kesambet" ejek Dirga sembari menepuk bahu Samuel


"ya,  seneng aja gue sekarang,  berasa gak tinggal dikutub utara lagi gue,  liat noh sekarang kalo deket sama Jo dikerubungi cewek kita.  Berasa kayak artis.  Hahaha" gelak Samuel


Ivan dan juga Alex hanya geleng geleng kepala


"haha, parah lo, isi otak lo cuma cewek doank ya" sindir Dirga


"ya jelas,  udah dewasa bro, udah bisa cari cewe gue sekarang" ujar Samuel cengengesan


"halah,  mana ada yang mau sama lo. " ejek Alex


"sepele lo sama gue,  lo gak liat wajah tampan gue ini,  beda tipis aja sama si Jo itu" kata Samuel sambil menunjuk wajah nya sendiri


"ya kalau diliat dari monas memang beda tipis,  tapi kalo disandingin beda jauh" ejek Ivan pula


Mereka pun hanya tertawa hingga tak terasa sudah berada didalam kelas mereka.


Mereka pun memulai pelajaran seperti biasa.  Sesekali Ivan dan Dirga saling melirik dan melihat kearah meja Andrean yang kosong.  Tampak nya manusia satu itu tidak masuk hari ini.


Siang hari ketika jam pelajaran usai.  Ivan dan Dirga memutuskan untuk bertemu diperpustakaan agar tidak ada teman teman nya yang tau tentang pembicaraan mereka.


Meski teman teman yang lain heran melihat mereka berdua karena beberapa hari belakangan mereka terlihat selalu berdua dan seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"dari pagi gue gak ada liat si Amel Dir,  kemana ya,  biasa nya ada terus tu anak" ucap Ivan sembari membolak balikan lembaran buku ditangan nya.


"iya,  gue juga gak liat,  apa kita cari kekelas nya aja ya" ajak Dirga sambil melirik Ivan


"emang lo tau kelas nya dimana,  setau gue dia kan anak desain" ungkap Ivan


"iya sih,  gue gak tau.  Kita jalan aja ke arah gedung seni,  siapa tau ketemu" kata Dirga memberi saran.


Ivan pun melihat kerah jam tangan nya.


Kemudian mengangguk dan langsung berdiri


"yauda ayok,  masih ada 45 menit waktu kita" jawab Ivan


Mereka pun bergegas pergi ke arah gedung fakultas seni.


Disepanjang gedung itu tampak seluruh mahasiswa maupun mahasiswi melihat kearah Ivan dan Dirga.  Senior mereka yang selama ini selalu menjadi perbincangan dikampus mereka.


Bagai mendapat durian runtuh untuk para mahasiswi digedung itu melihat secara jelas idola kampus mereka.  Mulai yang dari rooftop maupun yang didalam kelas keluar untuk melihat Ivan. Pangeran es yang selama ini mereka kenal.


"wah itukan kakak ganteng yang jadi bahan cerita itu kan"


"iya, itukan si pangeran es itu"


"wah,  ternyata asli nya lebih dari apa yang gue fikirin"


"aduh mak oy,  ganteng banget.  Jadi pembantu nya pun gue mau"


"meleleh adek bang,  seger bener tu muka"

__ADS_1


Begitulah sebagian gumaman beberapa mahasiswi yang Ivan lewati


Ivan yang diperhatikan seperti itupun tampak risih.  Dia melihat kesana kemari mencari seorang gadis.


"kenapa mereka liatin kita begitu sih .  Kayak punya salah gue sama mereka" gumam Ivan pada Dirga


"ya memang lo salah,  siapa suruh punya tampang begitu.  Liat tu cewek cewek pada ngiler liatin lo" ejek Dirga


"sialan lo, muka gue juga gak setampan bang Jo" timpal Ivan kesal. 


"muka lo sama si Jo kan sama bego" balas Dirga membuat Ivan terkesiap dan langsung tertawa


Mereka sudah melewati beberapa kelas namun belum juga menemukan orang yang mereka cari hingga Ivan memberanikan diri untuk menanyakan pada sekumpulan mahasiswi yang tengah berkerumun disana.


"maaf,  apa kalian mengenal Amelia? " tanya Ivan ramah


"Amelia yang mana ya kak, dikelas ini gak ada yang nama nya Amelia" kata seorang gadis


"dia putih mungil dan rambut nya juga pirang" kata Ivan lagi


"oh Amelia Kasyafani tu pasti,  dia dikelas lantai dua kak. Dikelas mawar 2" kata gadis lain


"oh oke,  thanks ya" ucap Ivan sembari memberikan senyum tipis nya pada mereka.


Gadis itu pun girang bukan main.


"wah,  apa Amelia pacar nya ya,  patah hati deh gue. Beruntung banget dia" ucap gadis gadis itu


Ivan dan Dirga pun langsung naik keatas menuju kelas Amelia.


Sesampai nya didepan dikelas itu mereka disambut oleh beberapa mahasiswi.


"apa Amelia ada? " kali ini Dirga yang bertanya


Ivan dan Dirga hanya bisa menghembuskan nafas kesal.


"apa kalian tau dimana alamat rumah nya? " tanya Ivan pula


"gak ada yang tau kak.  Soal nya dia anak nya misterius banget.  Pendiem lagi" kata gadis yang lain membuat Ivan langsung mengernyitkan alis nya.


"masak sih pendiem,  setau gue biasa aja deh" gumam Ivan dalam hati


"yauda,  makasi ya" kata Dirga ada mereka.


Para mahasiswa maupun mahasiswi hanya bisa terbengong bengong melihat Ivan. 


Dalam hati mereka bertanya tanya ada hubungan apa mereka mencari gadis cantik tapi misterius itu.


...


Ivan dan Dirga kini tengah berada dikantin kampus yang nampak nya mulai sepi.


"gimana cara kita cari tau nya ya Van kalo orang nya gak masuk" tanya Dirga


"kita tunggu besok aja,  mudah mudahan dia masuk. "ucap Ivan dan hanya diangguki oleh Dirga yang sedang meminum minuman nya


"tapi gue heran deh Dir,  mereka bilang si Amel itu pendiem dan misterius kan,  tapi selama gue kenal dia kayak nya anak nya biasa aja kan,  ceria dan ramah banget pun" ungkap Ivan sambil memegang dagu nya


"iya,  mungkin sama lo aja yang kayak gitu.  Sama temen nya mungkin dia males bersosialisasi kali" balas Dirga


"sama bang Jo dulu gimana? " tanya Ivan lagi


Dirga tampak mengerutkan kening nya

__ADS_1


"setau gue sih dia gak seagresif kayak sama ke elo deh, pendiem juga,  beda sama ke elo.  Tapi mungkin karena si Jo juga gak nanggepin dia kali" jawab Dirga


Ivan hanya mengangguk anggukan kepala nya.


Setelah dari kantin mereka pun kembali ke kelas nya dan melanjutkan pelajaran seperti biasa.  Hingga pelajaran usai dan mereka kembali ke rumah Dirga.


..


Di tempat lain


"apa kakak yakin kita pergi dari rumah ayah kak? " tanya seorang gadis pada Andrean yang tengah duduk dikursi sambil memainkan ponsel nya


"apa kamu mau kita terus tersiksa disana? " tanya Andrean menatap sendu adik nya


Gadis itu hanya menggelengkan kepala nya


"tapi dia kan ayah kandung kakak" lirih gadis itu


"walaupun dia ayah kandung kakak,  tapi apa yang dilakukan nya itu salah.  Kakak tidak mau lagi mengikuti nya.  Sudah cukup kita menderita selama ini" ungkap Andrean


"baiklah,  Amel ikut kakak aja, Amel juga gak punya siapa siapa lagi selain kakak" kata Amelia menatap kakak nya


"tenanglah kakak akan selalu jaga kamu.  Kamu gak papa kan kalau kita tinggal dirumah kecil seperti ini" tanya Andrean


"gak apa apa kak,  Amel bisa tinggal dimana aja yang penting sama kakak. Terima kasih kak,  kakak udah jadi kakak yang terbaik buat Amel walaupun Amel bukan saudara kandung kakak" lirih Amel sambil menahan tangis nya


"hei, jangan bilang seperti itu,  kamu tetap adik kakak yang paling kakak sayang walaupun kita tidak punya ikatan darah.  Jangan bersedih kita harus saling menguatkan agar ibu bisa sembuh,  oke" ucap Andrean sembari mengusap sayang rambut Amelia.


Amel hanya menganggukan kepala nya dan menangis pelan


"sudah jangan menangis.  Oh ya kakak tau kamukan yang memberitahu pada Jonathan tentang rencana ayah malam itu? " tanya Andrean menatap mata Amel


Amel hanya terdiam takut dan menundukan kepala nya


"tenanglah jangan takut,  kakak tidak akan marah" ucap Andrean mengangkat dagu Amel


"maaf" lirih amel


"kenapa kamu lakukan itu,  kamu menyukai nya? " tanya Andrean pelan


"Amel hanya tidak ingin dia dan keluarga nya terluka kak.  Sudah cukup dia kehilangan ayah nya,  Amel hanya kasian" lirih Amel


"Amel kakak tau itu, oleh sebab itu kakak juga tidak mau lagi menjadi orang jahat seperti ayah.  Tapi apakah kamu tau bahwa apa yang kamu lakukan akan membahayakan dirimu sendiri,  apalagi jika ayah sampai tahu" ungkap Andrean membuat Amel merasa bersalah.


"maaf kak" kata Amelia sendu


Dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada kakak nya itu.


"yasudah,  sekarang kamu harus lebih berhati hati.  Jangan sampai ikut campur lagi urusan ayah.  Kamu mengerti" kata Andrean serius


"iya kak,  Amel ngerti. Tapi apakah Amelia masih bisa kuliah kak" tanya Amel takut takut


"tentu saja.  Kamu harus tetap kuliah lanjutkan impian mu, kamu ingin jadi desainer terkenal bukan. kakak masih punya simpanan dan beberapa usaha yang bisa kakak jalankan tanpa sepengetahuan ayah.  Itu cukup untuk biaya hidup kita dan juga kuliah kamu" jawab Andrean sembari tersenyum tipis


"terimakasih kak,  maaf kalau Amel selalu menyusahkan kakak" lirih Amel


"ini sudah tugas kakak,  cuma kamu yang kakak punya. Tugas mu cukup jadi anak baik dan jadi kebanggaan kakak.  Oke" kata Andrean memegang lembut pipi Amel


"iya kak.  Pasti" kata Amel lalu memeluk erat Andrean, pemuda yang selalu menyayangi nya meski mereka bukan saudara kandung.


..


like ,coment and vote nya jangan lupa ya guys

__ADS_1


__ADS_2