
Kawasan hijau yang penuh dengan persawahan diatas bukit sudah mulai kelihatan. Jalanan yang berliuk kekanan dan kekiri membatas antara hutan dan perkebunan milik warga membuat perjalanan itu terasa menenangkan.
Udara dikawasan perdesaan itu juga sangat menyejukan meski hari sudah melewati tengah hari.
Untuk Amelia yang baru pertama kali melihat itu begitu takjub akan keindahan alam yang bercampur tangan oleh karya Tuhan dan karya manusia itu. Sungguh menakjubkan.
"wow, ini indah banget" gumam nya menatap berbinar kearah luar jendela, dimana jalanan mulai memasuki area persawahan, yang dikelilingi oleh aliran sungai disisi jalan.
Ivan langsung menoleh kearah nya, tersenyum lucu melihat Amel yang begitu takjub melihat kawasan kampung nya. Ya, untuk seseorang yang baru pertama kali datang ketempat seperti ini pasti akan merasa senang, apalagi gadis dari kota seperti Amelia.
"kamu baru pertama kali ketempat kayak gini Mel?" tanya Ivan membuat Amel menoleh sebentar kearah nya.
"iya kak, ini amazing banget. Tempat nya tenang dan damai" jawab nya masih menatap keluar jendela.
"nanti aku ajak keliling kampung deh kak, sambil liat liat perkebunan dan sawah disini" kata Karina pula
"apa boleh?" tanya Amelia menatap Karina
"boleh dong, aku juga udah lama banget gak pulang, kalau pun pulang gak pernah kemana mana lagi" terang Karina
"wah, kalau gitu nanti kita ajak bang Bambang sama Dian ya Rin, sekalian ketempat nongkrong kita dulu, masih ada gak ya" kata Ivan pula
"ada kok kak, malah tempat nya udah bagus, udah diperbaiki sama bang Bambang" jawab Karina menoleh pada Ivan
"oh ya? udah setahun ini gak pernah lagi ketempat itu soal nya" kata Ivan lagi
"tempat kenangan ya kak" balas Karina membuat Ivan langsung mengangguk cepat
"iya, banyak banget kenangan nya, gak bisa dilupain, apalagi waktu kami dimarahin bapak kamu" ungkap Ivan sembari tertawa lucu hingga Karina juga ikut tertawa karena nya. Jonathan hanya melirik sekilas pada Karina sedangkan Amel juga ikut menatap kearah Ivan
"hahaha, kakak ih, malah itu yang diingat" jawab Karina tertawa lepas tanpa tahu wajah Jonathan sudah mengernyit masam
"ya memang cuma itu yang ingat" balas Ivan yang kini melirik Amel yang tersenyum canggung pada nya
"kamu harus liat nanti Mel, sesekali liburan kesawah, jangan ke mall Mulu" kata Ivan
"iya kak, Amel juga udah gak sabar pengen liat gimana bentuk padi" jawab Amel membuat Ivan dan Karin langsunb tertawa
"emang kamu gak pernah liat padi Mel" tanya Ivan tak habis fikir. Amelia langsung menggeleng pelan dan tersenyum canggung
"Amel cuma tahu makan doang kak" jawab nya polos, Ivan langsung tertawa mendengar nya
Jonathan masih diam sembari fokus pada kemudi nya
"kakak gak capek?" tanya Karina lembut
"tidak, sebentar lagi juga sampai" jawab Jonathan dengan senyum tipis nya
"bang, nanti aku singgahi keruko aja ya, Abang aja yang nganter mereka kerumah Karin" kata Ivan membuat semua orang menoleh kearah nya
"loh kak, gak ikut aja sekalian, ibu udah masak banyak Lo untuk kita" sahut Karina, Amel juga langsung menatap sedih pada Ivan
"enggak deh Rin, lain kali aja. sore nanti aja kita ngumpul ditempat nongkrong kita dulu" jawab Ivan
"kamu gak papa kan Mel, sore nanti kita ngumpul lagi. ada yang mau aku urus diruko" ungkap Ivan yang kini menoleh pada Amelia
"gak papa kak" jawab Amel pasrah
"nanti aku jemput kamu dirumah?" tanya Jonathan pula
"iya bang, aku diruko cuma sebentar kok" jawab Ivan dan Jonathan langsung mengangguk
Sebenar nya bukan karena urusan ruko, namun karena Ivan masih malas berhadapan dengan bapak dan Abang Karina. Meski sudah bertahun tahun berlalu namun dia masih saja terasa sakit hati mengingat ulah mereka dulu.
Dan tidak lama kemudian Jonathan memarkirkan mobil nya didepan ruko Ivan yang dikelola oleh Bambang dan Dian. Ruko itu kini sudah semakin besar, sudah ada empat pintu lain, bukan hanya menjual bahan bahan pangan dan sembako, tapi juga sudah merambat dengan berbagai macam bibit bibit tanaman serta berbagai macam pupuk untuk keperluan petani dikampung mereka dan juga kampung kampung yang lain nya.
Ruko itu terlihat ramai pembeli sehingga Jonathan memutuskan untuk tidak singgah lagi dan langsung kerumah Karina meninggalkan Ivan disana.
Amel terlihat berat karena Ivan mengabaikan keberadaan nya, tapi apa mau dikata, dia hanya bisa pasrah sekarang .
__ADS_1
Ivan menghampiri Bambang yang sedang mengecek barang barang yang baru masuk, sedangkan Dian sedang memantau para pekerja yang sedang merapikan persediaan mereka disebuah gudang yang berada di paling ujung bagian ruko
"hai Bang" sapa Ivan, Bambang langsung menoleh dan begitu terkejut dengan keberadaan Ivan disana, pasal nya dia memang sedang begitu sibuk sehingga tidak memperhatikan kedatangan Ivan.
"loh Van, Lo disini" sambut Bambang segera menepuk bahu Ivan yang mendekat kearah nya
"hehe iya, Abang sibuk banget Sampek gak tahu aku Dateng" jawab Ivan
"ah iya, Lo bisa lihat kan, barang baru Dateng begini, jadi gue cuma ngecek aja. yuk ah masuk, Lo naik apa kesini?" tanya Bambang sembari berjalan masuk kedalam ruko tempat dimana mereka beristirahat
"gue Dateng sama bang Jo" jawab Ivan sembari memperhatikan keadaan Ruko nya. Dia begitu kagum dengan jerih payah kedua teman nya ini. Ruko yang awal nya tidak terlalu besar kini sudah semakin maju pesat dan menjadi yang terbesar diwilayah itu.
"sama kembaran Lo?" tanya Bambang lagi, dia menyiapkan dua minuman kaleng dingin dihadapan Ivan yang sudah duduk dikursi nya
"iya" jawab Ivan menganggukan kepala nya
"lah terus dia kemana,?" tanya Bambang pula
"kerumah Karina" jawab Ivan dan Bambang langsung mengangguk
"waaaaahhh Van, Lo Dateng" sapa Dian yang langsung duduk disebelah Ivan setelah saling berjabat tangan
"apa kabar, nambah gemuk Lo, baru juga tiga bulan gak ketemu" kelakar Ivan membuat Dia langsung terbahak
"iya lah, tenang hati dan fikiran gue sekarang, maka nya begini" jawab nya
"iya, tinggal nyari bini aja ini yang belum" timpal Bambang pula, Ivan langsung tertawa mendengar penuturan teman masa kecil nya itu
"hahaha, cari lah, yang penting jangan lupa undang gue" jawab Ivan
"wah ya pasti lah. siapa tahu amplop dari Lo tebel ya kan" kelakar Dian hingga Ivan dan Bambang kembali terbahak
"sialan Luh" umpat Ivan sembari memukul pundak Dia yang masih terbahak
"eh, lu Dateng sama siapa, sama Faiz?" tanya Dian, namun Ivan malah menggeleng
"sama bang Jo" jawab Ivan
"kerumah Karina" jawab Ivan
Bambang dan Dia saling pandang dengan senyum canggung mereka. Ya mereka tahu jika kini yang menjalin hubungan dengan primadona desa itu adalah saudara Ivan, awal nya mereka begitu terkejut mengetahui itu, karena yang mereka tahu Ivan begitu tergila gila pada anak pak RT tersebut.
"gue masih gak nyangka kalau Abang Lo yang bakal jadian sama Karina" gumam Bambang membuat Ivan langsung tersenyum getir
"ya gimana, jodoh gak ada yang tahu kan" jawab Ivan lemas ,
"mereka belum tentu jodoh lagi, masih bisa lah diharepin" kata Dian pula membuat Ivan langsung mendengus
"ya kali gue rebutan cewe sama saudara sendiri. lagian Karina nya juga suka nya sama dia, bukan sama gue" jawab Ivan
"yaudah sabar aja, nanti juga dapet pengganti yang lebih baik dari tu anak" sahut Bambang dan Ivan hanya mengangguk
"ganteng ganteng mubajir Lo, gue yang begini aja udah punya dua" kata Dian dengan bangga nya membuat Bambang mendengus gerah
"dua apa nya, anak kucing" dengus Ivan namun Dian malah tertawa
"itu, anak penjual nasi liwet didepan peternakan pak Tarno dipacari nya, sama pelayan warung makan diujung gang jua" jelas Bambang
"buseettt, banyak amat yan" jawab Ivan
"ya kan buat cadangan yang satu. Lo aja sia sia punya muka ganteng, tapi udah setua ini masih aja jomblo" ejek nya
"lu ngina gue" sinis Bambang, Ivan dan Dian langsung terbahak
"hehe, enggak bang, Abang mah gitu, cepat amat emosian nya, gue kan bilangin Ivan, patah banget dia Sampek gak bisa move on" jawab Dian cengengesan
"sepele Lo, nanti gue kenalin sama temen cewe gue, dia lagi dirumah Karin sekarang" jelas Ivan membuat Bambang dan Dian langsung menatap nya dengan lekat
"serius Lo" tanya Dian
__ADS_1
"iya lah" jawab Ivan cepat
"pacar Lo Van" tanya Bambang pula, namun Ivan malah tersenyum canggung dan menggeleng ragu
"bukan, cuma temen. gue masih pengen serius sama kuliah gue dulu" jawab Ivan
"lah, kan gak lama lagi sih" sahut Bambang
"dua bulan lagi gue mau lanjut diluar negeri bang, makanya gue kesini sekalian mau pamit sama kalian" ungkap Ivan
"buset, jauh amat keluar negeri Van" tanya Dian
"ya gimana, bokap gue mau nya gue ngelanjutin sekolah disana" jawab Ivan sembari meminum minuman nya
"berapa lama?" tanya Bambang pula
"kira kira tiga tahun la" jawab Ivan
"lama amat, jadi ini ruko gimana" tanya Dian lagi
"lah, kan ada kalian, gue gak bisa pulang selama sekolah gue belum selesai." jawab Ivan menatap kedua teman nya itu
"tapi harus tetap kasih kabar ya" kata Bambang pula
"pasti la bang" jawab Ivan
"Faiz juga ikut elo " tanya Dian lagi.
"iya, dia juga dapet beasiswa dari bokap gue" jawab Ivan membuat Bambang dan Dian mengangguk pasrah
"oh ya, nanti sore ngumpul yuk ditempat biasa, kangen gue" kata Ivan
"boleh, udah lama kan, tapi sayang Faiz gak ikut ya" jawab Bambang
"banyak tugas yang belum dia selesain bang, tapi nanti dia pasti kemari sebelun pergi" ungkap Ivan
"ajak saudara Lo juga Van, biar rame" sahut Dian
"iya lah, Karin sama temen gue juga ikut kok" jawab Ivan
...
Dirumah Karina, saat ini mereka sedang makan siang bersama. Pak RT yang sudah tidak menjabat RT lagi duduk dikursi utama nya, setelah sebelum nya dia beramah tamah dulu kepada Jonathan. Bukan kali ini saja Jonathan kerumah itu, jadi dia sudah terbiasa dengan keadaan nya disana, walau terkadang dia jengah melihat sikap bapak Karina yang seperti penjilat itu. Apalagi dia tahu bagaimana perlakuan bapak Karin dan Abang nya dulu pada Ivan, tapi apa mau dikata dia begitu jatuh cinta pada anak gadis nya ini, sehingga mau tidak mau dia mencoba menerima keluarga Karina.
"makan yang banyak nak Jo, jangan sungkan" kata Ibu Karina
"iya Bu, terimakasih" jawab Jonathan singkat dengan senyum tipis nya
"nak Amel juga, ayo tambah lagi" kata Ibu Karina pada Amel yang tersenyum canggung dan mengangguk
"tidak Bu , terimakasih, Amel udah kenyang" jawab Amelia begitu sopan
"gak enak ya masakan ibu" tanya Ibu Karina
"eh, enggak Bu, masakan ibu enak banget, cuma tadi dijalan kami udah ngemil terus, jadi perut nya tidak muat lagi" jawab Amelia terkekeh pela. membuat ibu Karin langsung tersenyum.
"iya Bu, kak Amel bawa banyak makanan tadi" timpal Karina pula
"iya ya, memang pengertian nak Amel, Karin beruntung itu punya temen kayak kamu, udah cantik, imut banget lagi, ibu aja gemes liat nya, " kata Ibu terkekeh pelan membuat Amelia tersipu malu
"ibu bisa aja" jawab Amelia
"pacar kak Ivan Bu" sahut Karin membuat Amel melebarkan mata nya dan pak RT melirik nya sekilas
"wah, jadi nak Amel pacar nak Ivan, Oalah, cocok banget lah kalian" kata Ibu Karin terkejut
"cuma temen kok Bu, Karin becanda aja deh" sewot Amelia menatap Karin yang tertawa lucu disambut oleh ibu, sementara Amel kini melirik sekilas Jonathan yang masih berwajah datar, dia benar benar takut pada Jonathan sebenar nya.
"hehe, biar jadi doa kak" jawab Karin, dan Amel hanya tersenyum canggung mendengar itu.
__ADS_1
Doa apa nya, untuk berharap lebih, dia pun begitu takut.