
Kini keadaan Jonathan sudah mulai membaik. Sudah dua hari dia pulang dari rumah sakit.
Pagi ini mereka akan pergi kekampung tempat tinggal orang tua angkat Ivan.
Karena sudah dua minggu Jonathan meninggalkan kampung itu, dan itu berarti sudah hampir sebulan Ivan tidak bertemu dengan orang tua angkat nya. Dan memang saat ini mereka tengah kebingungan dengan Ivan yang belum juga kembali. Apalagi pak Tarman yang sangat sedih karena tahu jika sebentar lagi dia akan berpisah dengan anak angkat yang sangat disayangi nya itu.
Faiz hanya memberi tahu jika Ivan sudah bertemu dengan orang tua kandung nya, dan akan menemui pak Tarman jika saudara nya sudah pulih kembali.
...
Mereka pergi dengan tiga mobil. Satu mobil berisi Maxwel dan istri nya, satu mobil Ivan dan juga Jonathan dengan Roy dan satu mobil lagi pengawal Maxwel yang membawa buah tangan untuk orang tua angkat Ivan dan juga tetangga Ivan disana.
"sampek sekarang aku gak nyangka bang, ternyata kita saudaraan, " kata Ivan disela sela perjalanan mereka
"ya, aku juga tidak menyangka Van, takdir yang mempertemukan kita lagi" jawab Jonathan sambil tersenyum tipis menatap Ivan yang duduk disebelah nya
Mereka pun mengobrol sepanjang jalan tanpa memperdulikan Roy yang sedang mengemudi.
"wah, aku juga tidak menyangka anak yang hilang waktu itu masih hidup. Lihatlah mereka, sama wajah tapi sungguh berbeda sifat. Yang satu es, dingin banget, yang satu minyak, licin, haha" kekeh Roy yang hanya berani berkata didalam hati
"kenapa senyum senyum sendiri bang, kesambet" ledek Ivan yang memperhatikan Roy
"hehe, enggak tuan. Saya hanya senang melihat tuan muda kembali dan tuan muda Jonathan bisa tersenyum juga " dalih Roy yang masih fokus pada kemudi nya.
"wah, memang nya selama ini bang Jo gak pernah senyum apa? " tanya Ivan sembari melirik Jonathan yang bermuka datar itu
"hehe, susah tuan melihat tuan muda Jonathan tersenyum, suatu keberuntungan jika bisa melihat dia tersenyum seperti saat bersama anda tuan" jawab Roy sembari melirik kearah Jonathan yang sedang menatap nya tajam membuat Roy seketika tersenyum canggung
"haha, benarkah. Wah parah lo bang, pantesan aja lo dijuluki makhluk es sama anak sekampus, rup.. ." ocehan Ivan langsung terputus karena dilihat nya wajah Jonathan yang menatap nya seperti ingin memakan nya.
"hehe, ampun bang, ampun" kata Ivan langsung cengengesan sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal
Sementara Roy hanya bisa menahan tawa nya melihat kelakuan Ivan yang sungguh berani mengusili Jonathan
Hingga beberapa saat kemudian mereka pun tiba dikampung Ivan. Roy memarkirkan mobil nya didepan sebuah rumah kecil berdinding papan. Tampak beberapa warga menatap heran mereka. Karena tidak biasa nya ada mobil mewah datang kekampung itu. Apalagi sampai tiga mobil dan dikawal dengan beberapa orang berbadan tegap dan berjas.
__ADS_1
Beberapa warga pun langsung berkumpul melihat siapa yang turun dari mobil itu. Begitu juga dengan teman teman Ivan yang memang sedang berada dirumah Faiz.
Awal nya Delisha dan Maxwel yang turun dan mendekat kerumah pak Tarman, disusul dengan beberapa orang pengawal Maxwel yang membawa banyak tentengan.
Warga mulai heboh kasak kusuk membicarakan siapa gerangan tamu pak Tarman itu.
Terlihat pak Tarman beserta istri dan anak nya keluar rumah. Mereka terkejut melihat ada tiga mobil mewah dan juga banyak warga yang berkumpul.
Keterkejutan mereka dan warga pun masih berlanjut ketika Jonathan turun dari mobil. Dan Ivan masih didalam mobil. Jiwa kejahilan nya tiba tiba muncul karena melihat teman teman nya juga berada disana.
"Ivan! " ucap teman teman dan juga beberapa warga yang melihat Jonathan yang turun.
Teman teman Ivan pun langsung menghampiri Jonathan.
Namun Jonathan hanya terdiam dan tersenyum tipis menyambut mereka.
"sialan anak itu, kenapa dia tidak turun turun" kata Jonathan dalam hati sembari melirik Ivan yang masih berada didalam mobil.
Melihat ekspresi itu, Faiz pun langsung mengerti bahwa itu bukan Ivan melainkan Jonathan.
Setelah melihat keadaan nya, Ivan pun langsung turun dari mobil dengan wajah sok cool nya mengikuti gaya Jonathan.
"loh kok ada dua" kata Dian spontan
"apa apaan ini, kok bisa" ucap Bambang pula
"walah walah, la ya kok nak Ivan ada dua ya" kata beberapa warga disana
Mereka semua yang ada disana hanya bisa terpelongo heran
"hay bro, ini gue Ivan. Hehe. Gak usah melongo gitu lah" kata Ivan sambil merangkul Dian dan Bambang yang masih terpelongo dengan wajah bingung mereka
"lo beneran Ivan, lah dia siapa, Ivan juga? " tanya Dian konyol
"iya, dia kembaran gue. Mirip ya. Hehe" jawab Ivan tertawa lucu melihat wajah wajah bingung teman teman dan tetangga nya
__ADS_1
Teman teman nya masih terpelongo melihat betapa mirip nya Ivan dan juga Ivan yang kedua itu fikir mereka.
Ivan pun kemudian melihat bapak, ibu dan juga Toni yang sama terkejut nya dengan teman teman nya. Ia hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Sementara Jonathan, ya seperti biasa dengan gaya cool nya tetap berdiri disamping orang tua nya.
Ivan menghampiri kedua orang tua angkat nya itu dan menyalami punggung tangan mereka. Juga menepuk pelan pundak Toni yang heran menatap nya.
Maxwel yang melihat wajah bingung ke dua orang tua angkat Ivan dan juga semua warga disana pun mulai membuka suara.
"selamat siang bapak dan ibu serta semua warga yang ada disni. Saya minta maaf karena kedatangan kami membuat kalian semua bingung. Bapak ibu perkenalkan saya Maxwel dan juga ini istri saya Delisha. Dan ini anak saya Jonathan. Kami adalah orang tua kandung Jovankha atau yang sering kalian kenal sebagai Ivan ini. Dia adalah kembaran Jonathan. Dia hilang diculik orang ketika masih bayi. " ungkap Maxwel menjelaskan pada semua orang yang ada disana.
Sontak saja penjelasan Maxwel membuat semua orang terperanga.
Ternyata Ivan adalah anak orang kaya yang terbuang. Begitu fikir mereka.
Maxwel beserta istri dan anak anak nya pun langsung dipersilahkan masuk oleh pak Tarman dan istrinya.
Sedangkan teman teman dan warga yang lain memilih untuk membubarkan diri dengan gibahan mereka yang belum berhenti.
Didalam rumah terlihat pak Tarman dan juga Sari nampak kebingungan dan juga takut dan khawatir.
"bapak ibu, maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu kalian. Saya kemari ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar besar nya karena telah merawat anak kami selama ini" kata Maxwel tulus
"iya tuan, sama sama. Tapi saya minta maaf tuan, bukan saya yang menculik Ivan, saya hanya menemukan nya disebuah bangunan kosong, sungguh saya tidak tau siapa yang menculik nya tuan" kata pak Tarman takut takut membuat Maxwel tersenyum hangat
"iya pak, saya sudah tau cerita nya, saya juga tau siapa yang menculik anak saya, dan memang bukan bapak. Saya sungguh berterima kasih pada bapak dan ibu" ucap Maxwel lagi menatap pak Tarman dan Sari yang terus menunduk takut.
Delisha hanya mampu terdiam memandangi rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal anak nya. Sungguh tidak layak dan sangat menyedihkan fikir nya. Selama ini mereka hidup mewah dan makan enak sedangkan Jovankha pasti menderita dan serba kekurangan disini. Mata Delisha terlihat berkaca kaca menahan tangis. Ivan yang melihat itu hanya bisa mendesah nafas pelan, dia tahu mama nya itu pasti iba dengan kehidupan nya selama ini.
Sedangkan Sari hanya mampu tertunduk takut. Tak berani menatap orang tua kandung Ivan itu. Sungguh dia takut jika kelakuan kasar nya diketahui oleh orang tua kandung Ivan yang ternyata adalah orang kaya itu.
Sementara Toni dia pun tampak mematung sesekali melirik kearah Ivan dan juga Jonathan yang tengah asik mendengar pembicaraan pak Tarman dan juga Maxwel.
"ternyata Ivan anak orang kaya. Beruntung banget nasib nya. Tapi gue sedih juga, gak ada lagi temen berantem gue kalau dia pergi" lirih Toni dalam hati
"saya bermaksud untuk membawa kembali Ivan bersama kami pak" kata Maxwel meminta izin pada pak Tarman yang sudah membesarkan Ivan dari kecil itu
__ADS_1
"iya tuan, meskipun rasa nya berat harus berpisah dari Ivan yang sudah seperti anak kandung saya sendiri, kami enggak apa apa tuan. Kami bahagia Ivan sudah bertemu kembali dengan orang tua kandung nya" ucap pak Tarman tulus namun dengan mata yang terlihat berkaca kaca membuat Ivan juga langsung tertunduk sedih, bagaimana pun selama sembilan belas tahun ini pak Tarman lah yang telah membesarkan dan merawat nya dengan penuh kasih sayang meski ibu nya selalu bersikap kasar pada nya.
Tak bisa dipungkiri bahwa Ivan berat untuk berpisah dari pak Tarman, namun dia juga tidak bisa tinggal disana lagi mengingat orang tua kandung nya juga ingin mereka berkumpul kembali.