Story Of The Twins

Story Of The Twins
Rasa Sakit Amelia


__ADS_3

Ivan masih berada didalam kamar nya dimana Amelia masih terbaring disana. Gadis itu masih tertidur, dan Karina masih sering mengganti kompresan dikepala nya karena suhu tubuh gadis itu masih menghangat.


"kak Ivan istirahat aja, biar kak Amel aku yang jaga" kata Karina pada Ivan yang masih setia duduk disamping Amelia


"kamu gak pulang aja Rin, nanti orang tua kamu khawatir" balas Ivan,


Karina langsung menggeleng dan tersenyum sembari meletakan wadah air diatas meja


"enggak, aku udah nelpon bapak tadi untuk minta izin nginap disini malam ini" jawab nya.


"sebaik nya kamu memang harus istirahat Van, tubuh mu juga membutuhkan itu" kata Jonathan memandang wajah Ivan yang memerah akibat sayatan duri dan beberapa lembam dipelipis nya akibat terbentur batu sungai, jangan lupakan bagian tubuh lain yang juga penuh luka.


Ivan masih diam dan menoleh cemas kearah Amelia


"besok pagi kita kerumah sakit untuk memeriksa keadaan nya, kamu juga tidak baik baik saja, luka ditubuh mu perlu diobati" tambah Jonathan lagi


"aku enggak apa apa bang" jawab nya lemah. Hati nya benar benar cemas tentang keadaan Amelia saat ini. Suhu tubuh nya belum juga turun, apalagi melihat luka ditubuh gadis itu, meski tak sebanyak luka ditubuh nya, namun entah kenapa hati nya begitu sedih dan terasa sakit melihat Amelia seperti itu. Bahkan dia tidak memikirkan hal lain selain keadaan Amelia saat ini


"pergilah istirahat. Karina akan menjaga nya disini" kata Jonathan


"iya kak. nanti kalau ada apa apa aku langsung kasih tahu kakak kok. kakak juga perlu istirahat" sahut Karin pula


Ivan menghela nafas nya dengan berat, memang saat ini hari sudah menunjukan hampir tengah malam. Bahkan pak Tarman dan Sari pun sudah pergi beristirahat.


"tolong jaga dia ya" pinta Ivan pada Karin yang langsung mengangguk


namun belum lagi Ivan menapakan kaki nya kelantai, gumaman Amelia terdengar ditelinga nya


"kak Ivan" gumam nya terdengar begitu pelan


"kak" panggil Amel lagi dengan keringat dingin yang mulai mengucur kembali


"kak jangan pergi" ucap nya lagi


Ivan langsung menggenggam erat tangan nya dan mendekatkan wajah nya ditelinga gadis itu


"aku disini Mel, aku disini, tenanglah" bisik Ivan dengan begitu lembut


"jangan pergi, Amel takut" kata Amel lagi, namun kali ini mata nya perlahan terbuka dan terlihat begitu sayu menatap wajah Ivan yang masih berada dekat diwajah nya


Manik hitam Ivan mengerjap pelan menatap manik cokelat milik Amelia, mata yang biasa berbinar indah itu kini begitu redup dan dipenuhi oleh cairan bening yang siap untuk keluar.


Ivan mengusap kepala Amel dengan tangan kanan nya, sementara tangan kiri nya masih menggenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


"aku disini, aku tidak akan pergi, tenang lah" jawab Ivan masih begitu lembut.


Jonathan dan Karina mengerjapkan mata mereka mendengar perkataan Ivan, seumur hidup mengenal Ivan baru kali ini mereka mendengar Ivan berbicara begitu lembut seperti itu.


Tanpa mau menganggu, Jonathan langsung menarik tangan Karina untuk keluar dari kamar itu dan membiarkan Ivan dan Amel disana. Seperti nya hanya Ivan yang gadis itu butuhkan. Dan memang kelihatan nya Amelia begitu trauma dengan kejadian tadi.


Air mata menetes diwajah mungil yang masih begitu pucat itu. Ivan langsung mengusap nya dan membenarkan kompresan didahi Amel.


"jangan takut, aku disini, tidak akan meninggalkan mu lagi" kata Ivan menatap lekat mata indah yang masih tergenang itu


"aku janji" tambah Ivan lagi


Amel langsung beralih memiringkan tubuh nya dan memeluk tubuh Ivan yang langsung terkesiap kaget, namun dengan cepat pula dia membalas pelukan itu.


"jangan pergi" lirih nya terisak pilu


"tidak akan" jawab Ivan yakin sembari mengusap punggung Amel yang memeluk pinggang nya


Lama Ivan berusaha menenangkan gadis itu, Amel masih begitu betah dalam pelukan Ivan. Dan memang seperti itu keadaan nya, Amel merasa lebih tenang ketika berada didekat Ivan, dan memang hanya Ivan yang dia butuhkan saat ini. Tidak perduli dengan perasaan nya, yang terpenting dia hanya mau Ivan saat ini.


Rasa takut akan kejadian tadi membuat nya benar benar trauma.


Amel melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Ivan yang tersenyum lembut pada nya.


"sudah tenang?" tanya Ivan


"minum obat dulu ya, supaya lebih baikan" kata Ivan lagi. Amel hanya diam membiarkan Ivan beranjak dari sisi nya. Kepala nya memang masih terasa begitu pusing saat ini, bahkan seluruh tubuh nya terasa begitu remuk.


Ivan kembali dengan membawa beberapa butir obat ditangan nya dan segelas air putih.


Dia membantu Amel untuk duduk, dan dengan sedikit meringis Amel berusaha untuk duduk dan meraih obat ditangan Ivan namun Ivan menolak nya.


"buka mulut kamu" kata Ivan menyodorkan sebutir obat kemulut gadis itu. Amel yang biasa nya malu malu karena merasa tersipu dengan perlakuan manis Ivan kini hanya diam dan menurut tanpa banyak bicara.


Ivan langsung meminumkan air putih pada Amel setelah gadis itu menelan obat nya.


"sekarang istirahat lagi, besok pagi baru kita kerumah sakit untuk memeriksakan keadaan kamu" kata Ivan lagi dan kini membantu Amelia berbaring kembali


"Amel gak papa kok kak" jawab Amel lemah dan memejamkan mata nya sejenak


"jangan membantah, aku takut ada yang serius sama kamu" sahut Ivan lagi namun Amel hanya diam, membuat Ivan menghela nafas nya sejenak


"maafin aku ya, yang gak bisa jagain kamu" kata Ivan menyesal membuat Amel kini menoleh pada nya

__ADS_1


"bukan salah kakak, ini memang salah Amel yang ceroboh" jawab Amel namun Ivan menggeleng


"kenapa kamu gak bilang kalau mau kesungai,?" tanya Ivan pada Amel yang hanya tersenyum getir mengingat dia sendiri pun tidak tahu kenapa dia bisa kesana, yang dia tahu dia begitu sedih diabaikan oleh lelaki itu


"Amel cuma gak ingin ganggu kesenangan kakak" jawab nya tanpa mau menatap wajah Ivan yang mengernyit


"kesenangan apa" tanya Ivan bingung


"kakak kelihatan senang sekali berkumpul dengan teman teman kakak, apalagi dengan Karina sampai kakak lupa keberadaan Amel, dan Amel memilih pergi karena seperti nya Amel tak cukup mampu membuat kakak tersenyum lepas saat ketika bersama mereka" ungkap Amel sedih membuat Ivan tertegun, dan rasa bersalah itu semakin menyergap dalam hati nya.


"dan maaf, Amel malah membuat kakak ikut dalam bahaya karena menolong Amel" kata nya lagi


"jangan ngomong begitu, sungguh aku gak bermaksud mengabaikan mu, aku cuma terlalu asik menikmati waktu yang udah lama gak aku rasain, kamu tahu kan disini tempat ku, mereka juga temen temen ku dari aku kecil. tolong jangan berfikiran yang enggak enggak, apalagi pada Karina, dia teman ku dari dulu, dan akan selalu seperti itu" jawab Ivan dan Amel kembali tersenyum getir. Rasa sakit atas pengabaian Ivan dan penolakan nya benar benar membuat nya menjadi orang bodoh.


"ya, Amel memang gak punya hak untuk berfikiran yang tidak tidak, Amel bukan sesuatu hal yang penting." ucap nya terasa begitu getir dihati Ivan


"Mel" panggil Ivan sembari kembali menggenggam tangan Amelia


"terimakasih sudah mau menolong Amel kak. Sekali lagi Amel berhutang nyawa pada kakak" ucap nya memotong perkataan Ivan


"itu sudah tanggung jawab ku" jawab Ivan, namun hati Amel menangkap lain arti dari perkataan lelaki itu, ya tanggung jawab, hanya tanggung jawab karena dia lah yang membawa Amelia ketempat ini.


"pergilah istirahat kak, kakak juga pasti lelah" ucap Amel terdengar begitu dingin membuat Ivan sedikit aneh mendengar nya. Baru beberapa saat yang lalu gadis itu meminta nya untuk jangan pergi, namun sekarang malah meminta nya untuk beristirahat.


"tapi kamu" tanya Ivan sedikit tidak rela


"Amel sudah lebih baik. terimakasih" jawab nya dan kini memejamkan mata nya kembali.


Ivan menghela nafas nya sejenak dan menatap wajah Amel yang masih terlihat pucat namun tidak seperti tadi


Ivan terdiam lama disana, memastikan gadis itu benar benar terlelap. Tubuh nya saat ini juga memang sudah tidak bisa diajak berunding karena terasa begitu remuk dan berdenyut ngilu.


Dan setelah melihat Amel yang tetap memejamkan mata nya tanpa mau membuka mulut nya lagi meski Ivan memanggil nya, Ivan pun mulai beranjak dan bangun dari duduk nya. Dia berdiri menatap wajah Amel.


Dan tanpa disadari nya sedari tadi jantung nya berdesir hangat melihat tatapan sendu manik cokelat itu. Dan satu hal yang Amel tidak tahu, jika Ivan mempertaruhkan nyawa nya bukan hanya sekedar tanggung jawab melainkan ketakutan yang luar biasa saat mendengar nya berada dalam bahaya.


Dan juga ada rasa sakit yang dirasakan Ivan ketika mendengar Amel berkata jika dia bukan bagian yang terpenting dalam hidup Ivan, dan rasa nya Ivan tidak terima dengan perkataan itu, tapi entah kenapa lidah nya terasa kelu untuk menyangkal nya, ingin dia berkata jika Amel adalah salah seorang yang begitu penting dalam hidup nya, bahkan tanpa disadari nya dia tidak bisa tenang tanpa kehadiran gadis itu.


Ivan mengusap lembut kepala Amel dan mengecup nya singkat, lalu segera berlalu keluar kamar meninggalkan Amelia sendiri.


Dan tanpa Ivan tahu, Amelia belum tertidur, dia hanya sekedar memejamkan mata nya karena tidak sanggup untuk terus menatap wajah tampan itu.


Wajah tampan yang selalu membuat nya berada diantara ambang suka dan luka.

__ADS_1


Air mata menetes disudut mata nya, merasakan kecupan singkat namun terasa begitu dalam yang diberikan Ivan


'kamu benar benar membuatku tidak berdaya kak. kau terbangkan hati ku setinggi langit, tapi dalam sekejap saja kau menghempaskan nya kembali, selalu seperti itu dan tidak cukup sekali. Rasa nya begitu sakit. tapi aku tidak berdaya untuk pergi, hatiku berkhianat padaku dan lebih memilihmu' batin nya begitu perih


__ADS_2