
Amelia duduk termenung didepan jendela kamarnya. Pandangan matanya kosong dan begitu nanar. Siang itu hari hujan, sejak pagi air seakan tidak ingin berhenti turun membasahi bumi.
Matanya masih berair dan terus berair, wajah nya pucat, bahkan tidak ada binar ataupun rona merah lagi dipipi chubby nya.
Hatinya hampa, kosong dan seakan mati. Rasanya dia benar benar tidak menyangka ini akan terjadi. Rasanya semua masih terasa seperti mimpi. Bukankah Ivan telah berjanji akan pulang, bukankah Ivan berjanji akan menikahi nya. Pernikahan nya bahkan tinggal dua Minggu lagi. Semua persiapan sudah enam puluh persen dilakukan. Tapi kenapa Ivan malah pergi, dia pergi meninggalkan Amel sendirian.
Tidak, Amel tidak terima ini. Bertahun tahun dia menunggu saat saat ini. Bertahun tahun dia meraih cinta Ivan, dan ketika dia sudah mendapatkan nya kenapa takdir begitu kejam dan memisahkan mereka.
Tidak, Amel tidak terima.
Kepala Amel menggeleng pelan, air mata terus berjatuhan diwajah pucat nya. Bahkan sangat terlihat menyedihkan.
"Ivan, kamu bohong" gumam Amel. Tangan nya mencengkram sofa dengan begitu kuat
"Kamu bilang kamu akan menikahi ku, tapi nyatanya kamu malah pergi"
"Enggak, aku gak terima. Aku gak terima..Ivaaaannnn!!!!!!" Amel berteriak begitu kencang, dia menarik kuat rambut nya dan melemparkan semua bantal yang ada disofa itu
"Ivan pulang Ivan, kamu jahat ... kamu jahat!!!" Teriakan Amelia semakin histeris, bahkan dia sudah seperti orang gila sekarang. Rambut nya acak acakan dengan piama tidur yang sudah tidak berbentuk
Amel menangis meraung dan berjalan kearah meja hias nya. Menghamburkan semua barang barang yang ada diatas sana
"Huaaaa.... aku benci kamu. kamu pembohong!!!!" semua barang barang yang ada dikamar itu dia hempaskan dengan kuat, bahkan beberapa pajangan guci guci semua pecah berserakan
Indah, kakak iparnya yang sedang keluar melihat anak nya kembali berlari masuk kedalam kamar dan begitu terkejut melihat Amelia yang mengamuk seperti orang gila
"Amel, ya Allah Mel. Sadar!!!" teriak Indah, namun Amelia tetap menggila. Dia bahkan menangis meraung sembari menghempaskan apa saja yang ada dihadapan nya membuat Indah tidak berani mendekat. Dia berlari kembali keluar kamar dan berteriak memanggil manggil nama suami nya
"Mas... mas Andre!!!!!" teriak Indah begitu panik
Andrean yang hari itu memang tidak keperusahaan mendengar suara teriakan istrinya langsung naik kekamar Amel. Dibelakang nya diikuti oleh Diana yang baru tiba. Gadis itu pagi tadi pulang kerumah kost nya untuk mengganti pakaian, dan baru kembali lagi siang ini.
"Amelia" Andrean begitu panik melihat Amelia, apalagi saat gadis itu meraih pecahan kaca yang berhamburan dilantai, dia ingin mengarahkan pecahan kaca itu kepergelangan tangan nya namun Andrean dengan segera berlari dan menampar kuat tangan Amelia, membuat pecahan kaca itu terhempas dan tubuh Amelia yang juga ikut jatuh terduduk.
"Jangan gila Amel" bentak Andrean kalap
__ADS_1
Amelia kembali menangis dan mengerutkan tubuhnya
"Ivan, aku mau Ivan" Isak tangis Amelia begitu pedih membuat Diana dan Indah juga ikut menangis melihat nya. Mereka tahu Amel pasti begitu hancur, hari pernikahan sudah didepan mata, tapi Ivan malah tidak kembali karena kecelakaan pesawat itu
Andrean langsung menarik Amelia kedalam dekapan nya. Hati nya begitu sakit melihat Amelia seperti ini.
"Aku mau Ivan kak, aku mau Ivan" kata Amelia dengan nada terputus putus, suara nya begitu serak bahkan nyaris tidak terdengar. Bahkan Andrean tahu tubuh Amelia begitu lemah dan nafas nya tersengal sengal seperti kesulitan untuk bernafas
"Sabar sayang, ikhlaskan" kata Andrean begitu lirih
Amelia menggeleng pelan dengan isak tangis yang seakan tidak bisa berhenti. Bagaimana mungkin dia bisa ikhlas. Tidak, dia tidak bisa. Ivan segala nya, bagaimana mungkin dia melepaskan Ivan begitu saja. Ivan adalah sumber kehidupan Amelia sejak dulu.
"Ivan...." gumam Amelia lagi seriring dengan tubuh nya yang kembali terkulai lemas dalam dekapan Andrean
"Mel" panggil Andrean, namun Amel sudah tidak lagi sadarkan diri
Andrean melepaskan pelukan nya, sementara Diana dan Indah langsung mendekat dan melihat keadaan Amel yang begitu menyedihkan
Indah memeriksa keadaan Amelia, denyut nadi nya sangat lemah, itu berarti jantung nya mulai bermasalah saat ini
Andrean langsung mengangguk dan mengangkat tubuh Amelia yang sudah pucat bahkan memang nyaris membiru.
"Diana, kamu bantu siapin pakaian Amel, kakak ambil anak kakak dulu" seru Indah cepat yang langsung berlari keluar kamar. Anak nya masih berumur beberapa bulan, jadi Indah tidak bisa mengabaikan nya juga.
Diana langsung berlari kearah lemari pakaian Amel, dia melangkahi setiap pecahan kaca dan barang barang yang berserakan. Bahkan saat mengambil pakaian Amel, tangan nya bergetar hebat. Dia juga panik, dia juga merasa terpukul, meski baru beberapa hari kenal, tapi Faiz dan Ivan cukup membekas dihati nya. Apalagi dia masih ingat dengan perkataan Faiz yang membuat nya terngiang sampai hari ini.
Hari itu, Amelia langsung dibawa kerumah sakit. Jantung nya melemah, dokter memvonis nya terkena syok kardiogenik yang membuat nya kehilangan kesadaran dan tentu saja itu bukan hal yang sepele.
...
Sementara dirumah keluarga Alexander, tidak jauh berbeda dengan Amel. Delisha, ibu Ivan juga hanya duduk diam diatas tempat tidur nya. Dia begitu kehilangan saat ini. Dirumah nya sudah ramai orang orang yang berkumpul.
Ibu dan bapak Ivan dari kampung juga sudah datang, mereka datang bersama Toni. Mereka juga sangat merasa kehilangan, dan setelah mendapat kabar jika pesawat jatuh yang sedang viral diseluruh stasiun tv itu ternyata adalah pesawat yang membawa Ivan dan Faiz, pagi pagi sekali mereka langsung datang kerumah keluarga Alexander.
Maxwel tidak banyak bersuara. Mereka sangat terpukul dengan kejadian ini. Rico dan Jhon beserta orang orang nya yang lain saat ini sudah terbang ke Kalimantan untuk mencari jasad Ivan yang mereka harap masih bisa ditemukan. Mereka tidak bisa berdiam diri saja dan mengharapkan kabar dari tim SAR.
__ADS_1
"Tuan Apa memang semua korban tidak ada yang selamat?" tanya Pak Tarman memberanikan diri. Dia dan Maxwel duduk disofa ruang tamu mereka. Rumah itu benar benar suram sekarang, hanya dipenuhi oleh duka yang begitu mendalam
Maxwel mendongak, wajah nya begitu kusut, dia begitu kehilangan dan sangat menyesali perbuatannya yang acuh
"Sampai sejauh ini tidak ada yang selamat pak" jawab Maxwel kembali tertunduk
Pak Tarman juga sangat bersedih, Ivan adalah anak yang dia rawat selama sembilan belas tahun. Tentu saja dia merasa kehilangan.
"Sebaiknya kita membuat acara doa bersama tuan. Agar semua dipermudah" ucap pak Tarman
Maxwel menarik nafas nya dalam dalam, meraup wajah nya dengan kasar. Dia masih tidak ingin ini terjadi. Dia masih berharap ini hanya lah sebuah mimpi, dan dia masih bisa bertemu dengan anak nya lagi
"Saya begitu menyesali kepergian nya pak. Seandainya saja waktu itu saya yang pergi, dia pasti masih ada disini sekarang. Dia pasti akan bahagia karena sebentar lagi menikah" kata Maxwel begitu putus asa. Bahkan dia langsung menangkup wajah nya dan menyembunyikan tangis pedih nya. Tangisan seorang ayah yang begitu terpukul dengan kepergian anak nya.
"Tuan ikhlaskan. Jika memang kita tidak bisa lagi bertemu dengan nya. Maka semua sudah diatur oleh Gusti Allah" kata Pak Tarman mencoba menenangkan Maxwel
Maxwel menggeleng pelan dan menghapus air matanya
"Saya hanya merasa bersalah. Saya benar benar belum siap pak. Sampai saat ini saya bahkan masih saja tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk nya" ungkap Maxwel
"Ivan pasti bangga punya ayah yang hebat seperti tuan. Jika kita hanya terpuruk seperti ini. Kita hanya akan membuat dia bersedih" kata pak Tarman lagi
Maxwel hanya mengangguk pelan. Rasa nya dia masih belum sanggup untuk mengiyakan kata hatinya jika Ivan sudah tiada.
...
Didalam pesawat, Jonathan duduk dengan gelisah. Sudah beberapa jam mereka didalam pesawat. Namun rasanya begitu lama. Masih ada empat jam lagi untuk tiba dirumah. Dan empat jam itu terasa seperti empat Minggu untuknya.
"Kak, makan dulu ya" ucap Karina pada Jonathan
"Kamu saja yang makan" jawab Jonathan
Karina tertunduk lesu, memandangi makanan yang ada dihadapan mereka. Mata nya sembab karena sudah beberapa kali dia menangis. Dia bahkan tidak berselera untuk makan, apalagi Jonathan. Dia tahu suami nya itu pasti begitu terpukul dengan kabar Ivan yang ikut menjadi korban kecelakaan pesawat itu.
Sungguh ini benar benar duka mendalam bagi mereka
__ADS_1