Story Of The Twins

Story Of The Twins
Sembilan Belas Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Sementara dibagian wilayah lain Ivan yang baru pulang dari mengamen bersama Faiz duduk sendiri dibelakang rumah didekat pinggir sungai.


Dia memutuskan untuk tidak lagi mencari rumput untuk pakan ternak pak RT semenjak kejadian ribut dengan Aldo tempo lalu.


Sudah cukup dia dihina, dan dia tidak akan lagi menampakan batang hidung nya disana.


Ivan memandang aliran air sungai yang lumayan deras, menghempas bebatuan besar hingga membuat suara berisik nan riuh.


Sesekali dia menarik nafas nya dengan berat, fikiran nya masih saja dipenuhi oleh pertanyaan kenapa nasib nya seburuk ini, dia bukan anak kandung orang tua nya, dan dia juga tidak tahu siapa orang tua kandung nya yang sebenar nya.


Kenapa juga mereka tega membuang nya, apa dirinya sebegitu tidak berharga.


Atau memang ada alasan lain yang membuat dia terpisah dari orang tua nya ? begitulah batin Ivan, meski dia terlihat baik baik saja, tapi sungguh kenyataan ini membuat sebuah pertanyaan dan luka yang cukup besar dihati nya.


"Van" panggil seseorang membuat Ivan terkesiap kaget karena sedang melamun


"koe ngapain disini le?" tanya pak Tarman yang baru saja pulang dari ladang, tangan nya langsung meletakan cangkul yang dipanggul nya dibahu ketanah.


"eh pak. gak ada pak. cari angin" jawab Ivan dengan tersenyum tipis


pak Tarman langsung duduk disebelah Ivan sembari mengipas wajah nya dengan topi caping milik nya. Padahal udara terasa sejuk sore itu apalagi dipinggir sungai seperti ini, dan itu sedikit membuat Ivan heran


"koe marah sama bapak le?" tanya Pak Tarman menatap wajah Ivan yang tertunduk sembari mencabuti rumput rumput kecil yang ada dihadapan nya.


"enggak lah pak. Kenapa juga Ivan marah" jawab Ivan, padahal hati nya sedang tidak baik baik saja saat ini.


"bapak tahu kamu kecewa, tapi bapak harap kamu gak berubah sama kami. Bapak itu sayang sama kamu, sama kayak ke Toni" ungkap pak Tarman membuat Ivan menoleh kearah nya sejenak dan memalingkan wajah nya kembali.


"Ivan tahu pak. Ivan juga sayang sama bapak. Dan beruntung punya bapak yang udah mau ngerawat Ivan Sampek sebesar ini" jawab Ivan sendu membuat pak Tarman tersenyum dan menepuk pelan bahu Ivan.


"kamu itu anak bapak, jangan berfikiran macem macem, apalagi Sampek gak pulang kayak semalem" kata Pak Tarman membuat Ivan terkekeh pelan


"maaf pak, Ivan cuma kalut" jawab nya canggung


"udah, Ojo sedih lagi" kata pak Tarman sembari mengusap kasar bahu Ivan

__ADS_1


"bapak tahu siapa orang tua kandung ku?" tanya Ivan menatap pak Tarman yang langsung terpaku dan menggeleng pelan


"bapak gak tahu le, gak ada tanda apapun yang bisa bapak pakek untuk tahu tentang orang tua mu" jawab pak Tarman membuat Ivan tertunduk lesu


"berarti memang Ivan sengaja dibuang. kenapa mereka tega ya pak" ungkap Ivan sedih membuat pak Tarman menatap nya dengan iba


"Le, kita gak tahu apa alasan mereka. jangan berfikir yang enggak enggak. Gak baik" jawab Pak Tarman membuat Ivan melengos


"dimana bapak nemuin Ivan waktu itu?" tanya Ivan yang sedikit banyak nya mulai penasaran tentang asal usul dirinya.


"waktu itu malam hari, gak jauh dari kota sewaktu bapak baru pulang nganter barang sama Tejo. Bapak kebelet, terus cari tempat dibelakang gedung kosong, gak sengaja bapak denger suara bayi, nangis kenceng banget. Awal nya bapak gak terlalu perduli, bapak kira mungkin anak orang disitu, tapi bapak liat lagi disekitar situ gak ada rumah, tapi suara bayi itu Deket. Bapak cari cari rupa nya bayi itu tergeletak di samping gedung kosong,


bayi putih bersih, badan nya gembul, ganteng banget. Bapak sampek jatuh cinta lihat dia pertama kali" ungkap Pak Tarman dengan mata berbinar dan Ivan tertegun mendengar penuturan bapak nya.


"Dia nangis kedinginan dan kelaparan mungkin. Apalagi waktu itu hari nya gerimis.


Bapak gendong bayi itu, terus bapak bawa keklinik, sambil cari tahu siapa tahu ada yang kehilangan bayi. Tapi ditunggu sampek pagi gak ada kabar juga, ya akhir nya bapak bawa pulang, apalagi waktu itu bapak sama ibu belum punya anak" ungkap pak Tarman panjang lebar .


Ivan mendengus mendengar penuturan pak Tarman.


"kalau gak ada bapak entah gimana Ivan waktu itu" lirih nya


"yowes, Ojo sedih. walaupun kamu bukan anak kandung bapak, tapi kamu tetep anak kebanggan bapak le," ucap pak Tarman membuat mata Ivan langsung berkaca kaca


"terimakasih pak. Ivan gak tahu harus gimana untuk membalas semua kebaikan bapak" jawab Ivan sendu


"gak usah dipikirin. ini udah tugas bapak sebagai orang tua. kamu itu anak bapak. Jangan mikir yang aneh aneh" kata pak Tarman


"iya pak" jawab Ivan


"yauda, ayok pulang, udah mau Maghrib" ajak pak Tarman yang langsung bangun dari duduk nya diikuti oleh Ivan yang membawa cangkul pak Tarman.


mereka berjalan beriringan untuk kembali kerumah.


"oh ya, itu muka kamu kenapa. berantem?" tanya pak Tarman membuat Ivan langsung meraba wajah nya

__ADS_1


"eh, hehe enggak kok pak. ini cuma salah paham aja tadi" jawab Ivan tak enak


"dasar anak muda" jawab pak Tarman sembari menggelengkan kepala nya


..


Sesampai nya dirumah Ivan langsung membersihkan diri nya sekalian menimba air untuk memenuhi bak mandi dirumah itu.


Ivan menarik tali timba air yang tergantung disumur buatan dengan fikiran melamun.


Membayangkan siapa sebenar nya orang tua kandung nya, dan kenapa dia dibuang atau memang ada alasan lain nya. Dia berharap jika suatu saat nanti mereka bisa bertemu, Ivan tidak akan kecewa dengan alasan mereka.


Suara deritan tali karet yang bergesekan dengan katrol tak bisa membuat Ivan tersadar dari lamunan nya.


Hingga suara teriakan ibu nya lah yang membuyarkan seluruh lamunan nya


"Van, koe itu kayak anak gadis disumur. aku juga mau mandi ini" teriak Sari dari luar


"iya Bu" balas Ivan


Dengan cepat dia membersihkan diri nya dan segera keluar dari sana.


Dan tampaklah Sari yang bertekan pinggang menatap nya dengan sadis


"lama bener" ketus nya


"maaf Bu" jawab Ivan pelan


..


Malam semakin larut dan Ivan sudah berada didalam kamar nya, terbaring terlentang menatap langit langit kamar yang telah usang


Entah kenapa tiba tiba fikiran nya teringat dengan anak yang wajah nya begitu mirip dengan dia.


"apa aku ada hubungan nya dengan dia ya" gumam Ivan

__ADS_1


"ah, tapi gak mungkin lah, didunia ini banyak kok yang wajah nya mirip" bantah nya dalam hati.


__ADS_2