
Ivan menutup pintu kamar nya dengan begitu pelan. Tatapan nya sendu, hati nya begitu terusik mendengar ungkapan Amelia tadi. Tapi kenapa rasa nya sampai saat ini dia belum mengerti bagaimana perasaan nya pada gadis itu, gadis yang beberapa tahun ini selalu menemani nya dan tanpa dia sadari luka dihati nya memang sudah terkikis oleh kehadiran Amelia.
Ivan menghela nafas nya dengan berat, dan dia sedikit terkesiap melihat Jonathan yang terbaring dikursi panjang didepan kamar mereka tengah menatap nya dengan heran.
"kok tidur disini bang, Karin mana?" tanya Ivan menoleh kesekitar nya
"Karin sudah tidur, dia kelelahan seperti nya. Dan aku memindahkan nya kekamar" jawab Jonathan
Ivan duduk dikursi singgel disebalah kursi Jonathan. Dia memijat tengkuk nya yang terasa begitu berat.
"berarti kita tidur disini malam ini" tanya Ivan lagi dan Jonathan langsung mengangguk lemah seiring tubuh nya yang beranjak dan duduk menatap Ivan
"ya, mau bagaimana lagi, tidak mungkin kita tidur dengan mereka" jawab Jonathan
Ivan merebahkan kepala nya disandarkan kursi itu dan terpejam sebentar
"gak papa sih kalo Abang mau, gak da yang ngelarang juga" jawab Ivan asal membuat Jonathan mendengus
"sembarangan. Kamu mau Bu Sari mengamuk, dan besok pagi ada pernikahan masal disini" ketus nya, sudah sakit masih saja bisa berbicara sembarangan, memang menyebalkan adik nya itu.
"bukan ibu yang ngamuk, tapi papa" sahut nya terkekeh
"ya, itu bisa lebih parah akibat nya" gumam Jonathan mengangguk
"bagaimana keadaan gadis itu ?" tanya Jonathan lagi
"udah lebih baik. Mungkin dia tertidur sekarang, aku baru aja ngasih dia obat" jawab Ivan
Jonathan hanya mengangguk. Mereka terdiam beberapa saat membuat suasana dirumah itu menghening dan hanya menyisakan suara jangkrik disekitar area perkarangan rumah yang menemani mereka.
"kamu harus lebih peka Van" kata Jonathan tiba tiba, membuat Ivan membuka mata nya dan menoleh pada Jonathan yang masih duduk dan menatap kearah nya
"peka gimana?" tanya Ivan pula. Dia kini menegakan tubuh nya dan berhadapan dengan Jonathan
"jangan sampai kamu menyesal" ungkap Jonathan lagi
"Abang ngomong apa sih, gak ngerti aku" jawab Ivan, namun Jonathan hanya mendengus
"kamu tahu apa yang aku maksud" kata Jonathan beranjak dari duduk nya dan mengarah ke dapur meninggalkan Ivan yang masih termenung dengan perkataan Jonathan.
'aku bingung, aku sayang dia, tapi aku gak yakin ini perasaan cinta'. gumam Ivan tertunduk dan larut dalam lamunan nya.
Dan beberapa menit kemudian Jonathan kembali dengan dua gelas teh ditangan nya. Dia menyerahkan segelas pada Ivan yang langsung menerima nya dengan wajah aneh
__ADS_1
"sejak kapan Abang bisa buat minum?" tanya Ivan membuat Jonathan terkesiap, namun tak lama dia mendengus kesal
"jangan banyak bertanya, minum saja" ketus nya
"CK, nanyak juga" jawab Ivan dengan wajah sinis, namun dia tetap meminum teh yang dibuat oleh Jonathan, rasa nya begitu hangat hingga mampu membuat tubuh nya menjadi lebih rileks.
Ivan meletakan gelas teh nya yang telah habis setengah nya. Dan kembali merebahkan tubuh nya disandarkan kursi nya
"wajah mu pucat Van, kamu yakin tidak apa apa?" tanya Jonathan khawatir
"gak papa bang, cuma agak pegel pegel aja, paling dibawa istirahat sebentar udah enakan lagi" jawab Ivan
Jonathan berdiri dan beranjak dari duduk nya
"yasudah sini pindah, biar bisa istirahat" kata nya pada Ivan yang mengernyit namun tak enggan diapun pindah ketempat Jonathan sebelum nya dan langsung merebahkan diri nya disana.
...
Amelia terlihat gelisah dalam tidur nya, kejadian tadi sore masih begitu membekas dalam ingatan nya hingga rasa nya dia benar benar ketakutan setiap mengingat itu. Bagaimana tubuh nya yang terombang ambing dibawa arus sungai yang begitu deras, dan beberapa terjangan ranting ranting kayu yang hanyut dan juga batu batu yang berusaha dia elakan.
Rasa nya dia begitu takut, dan seakan saat itu adalah saat saat terakhir nya dia hidup. Tapi harapan nya muncul ketika dia melihat Ivan terjun bebas kedalam sungai untuk menolong nya, bagaimana tubuh Ivan yang juga berusaha sekuat tenaga meraih tubuh nya dan membawa nya ketepi ditengah keadaan yang begitu genting.
Dia masih bisa merasakan dekapan perlindungan yang diberikan oleh Ivan, bagaimana lelaki itu melindungi nya dengan sekuat tenaga, dan bisikan bisikan yang terus didengar nya sebelum dia kehilangan kesadaran nya.
Takut, cemas, dan begitu mengerihkan, membuat Amelia kembali mengeluh dalam tidur nya dan keringat dingin kembali mengucur dipelipis nya, namun itu tidak lama terjadi, karena lagi lagi genggaman hangat dan usapan lembut dikepala nya membuat nya tenang kembali, serta kata kata manis yang membuat nya kembali tertidur dengan lelap.
...
Hati Amel menghangat melihat wajah tampan itu yang masih terpejam dengan erat, dan dengan perlakuan manis nya ini. Bagaimana hati nya tidak jatuh terlalu dalam jika perlakuan Ivan seperti ini.
Amel mengusap kepala Ivan dengan tangan kanan nya dan bibir nya yang tersenyum lembut. Egois memang, saat malam tadi dia menyuruh Ivan pergi nyata nya dia malah tidak bisa jauh dari lelaki ini.
Tapi tunggu dulu, Amel terperanjat kaget, dan kembali dia menyentuh kening Ivan, panas, apa dia demam, batin Amel.
Perlahan Amel melepaskan tangan nya dari dekapan Ivan membuat lelaki itu juga ikut terbangun dan langsung tersenyum menatap Amelia yang kini berusaha untuk duduk.
"kamu udah bangun" tanya Ivan dengan suara nya yang terdengar begitu serak,
"kakak demam" kata Amel mengusap keringat dingin diwajah pucat Ivan
"gak papa, demam dikit" jawab Ivan sembari meraih tangan Amelia diwajah nya dan kembali merebahkan kepala nya disamping Amelia dengan tangan yang masih menggenggam tangan gadis itu.
Kepala nya benar benar pusing, bahkan rasa nya semua terasa berputar
__ADS_1
"Amel mau keluar dulu, kakak istirahat disini ya, gantian" kata Amel lagi namun Ivan malah menggeleng lemah dan tetap pada posisi nya
Amel bingung harus apa, siapa yang harus dimintai nya tolong, suhu tubuh Ivan rasa nya lebih panas dari suhu tubuh nya malam tadi, dan lagi, kenapa pula dia ada disini dan bukan nya beristirahat, batin Amel
Dalam kebingungan nya tiba tiba pintu terbuka menampakan Karina dan Bu Sari masuk kekamar itu
"Bu, kak Ivan demam" kata Amel cepat membuat Sari langsung beranjak dan Ivan menegakan kepala nya menatap sayu ibu nya
Sari langsung memegang kening Ivan dan sedikit terkesiap
"ya Allah Van, panas bener badan mu, ayo tiduran dulu dikamar sebelah" kata Sari menarik tangan Ivan namun ditepis Ivan dengan lembut
"Ivan gak papa Bu" jawab Ivan
"jangan ngeyel, kamu harus sarapan, biar ibu panggil pak mantri" kata Sari lagi
"Ivan disini aja" kata nya lagi, dan merebahkan kembali kepala nya, membuat Sari gemas sendiri, Amel dan Karina saling pandang canggung
Dan tiba tiba Jonathan masuk kedalam kamar itu dengan pak Tarman karena mendengar kebisingan mereka
"ada apa Bu,?" tanya Pak Tarman
"ini Ivan demam, disuruh istirahat malah gak mau" jawab Sari kesal
Jonathan langsung mendekat kearah Ivan dan melihat Ivan yang merebahkan kepala nya disamping Amel dengan mata terpejam dan memang wajah nya terlihat begitu pucat
"pak Bu, biar saya bawa saja kerumah sakit, mereka perlu diperiksa, takut luka luka ditubuh mereka infeksi" kata Jonathan menatap Sari dan Pak Tarman yang saling pandang
"iya nak, sebaik nya memang begitu" jawab pak Tarman
"ya, sekalian kami pamit" tambah Jonathan lagi
"apa kami perlu ikut nak Jo, biar ada yang ngurusin Ivan dan nak Amel" tanya Sari pula.
Jonathan tersenyum dan menggeleng pelan
"tidak perlu Bu, rumah sakit berada dikota, dan disana sudah ada mama dan kakak Amelia, tidak perlu harus merepotkan ibu dan bapak" jawab Jonathan
"kami gak merasa direpotkan kok nak" jawab pak Tarman pula
"tapi kami yang merasa tidak enak pak, Bu. Tidak apa apa, dua Minggu lagi bapak dan Ibu juga harus kesana kan, kita berkumpul disaat itu saja" kata Jonathan begitu sopan
"baiklah nak, jika itu memang keputusan kamu" jawab pak Tarman
__ADS_1
Dan akhir nya pagi itu Jonathan memutuskan untuk membawa Ivan dan Amelia kembali kekota. Karena keadaan Ivan benar benar lemah, untuk jalan saja dia harus dibantu Jonathan dan pak Tarman.
Mereka pergi setelah sebelum nya Jonathan pamit terlebih dahulu kerumah orang tua Karina untuk kembali kekota bersama anak nya.