Story Of The Twins

Story Of The Twins
Godaan Ivan dan Amelia


__ADS_3

Ivan berjalan cepat melewati koridor rumah sakit dimana Diana teman Karina dirawat. Hari sudah malam, dan dia ingin menemui Amelia yang menemani Diana disana. Faiz yang berjalan dibelakang nya tampak mengejar langkah Ivan yang lebar. Entah apa yang sedang dikejar oleh lelaki ini, dia begitu terburu buru sejak turun dari mobil tadi.


"Pelan pelan kenapa sih tuan muda" seru Faiz dengan nafas nya yang terengah engah


"Udah gak sabar gue" sahut Ivan yang terus saja berjalan


"Gak sabar apa?" tanya Faiz lagi


"Ketemu binik gue lah, memang apa lagi?" jawab Ivan


Seketika, Faiz langsung menghentikan langkah nya dan menatap Ivan dengan kesal. Lelaki itu terus saja berjalan tanpa memperhatikan dia dibelakang nya.


Bisa bisa nya Ivan seperti sedang mengerjakan sebuah misi saja, berjalan dengan tergesa gesa dan wajah yang begitu serius, Faiz kira telah terjadi sesuatu saat Ivan menjalankan misi nya tadi, ternyata dan ternyata, dia hanya ingin menemui calon istri nya. Menyebalkan memang !


Ya memang begitu adanya, Ivan sudah begitu pusing beberapa hari ini, mengurus perusahaan dan juga kasus yang menimpa Jonathan. Dan Amelia adalah obat dari segala rasa nya.


Meskipun lelah setelah seharian bekerja, dan baru bisa kembali setelah larut malam, namun Ivan tetap memutuskan untuk menyusul Amelia kerumah sakit. Dia tidak akan membiarkan Amelia sendirian disana, karena menurut nya sepasang pengantin baru itu pasti tidak akan menginap dirumah sakit.


Dengan hati yang bahagia dan senyum yang merekah, Ivan langsung membuka pintu tanpa mengetuk nya dulu.


dan


"Astaga!!" seru nya hampir terjungkal kebelakang saat melihat penampakan didepan pintu, seseorang dengan wajah datar dan begitu dingin menatap nya dengan begitu kesal.


Ivan langsung meraba tengkuk nya dan tersenyum dengan getir. Tamat lah riwayat nya sekarang.


Ternyata Jonathan belum kembali kerumah mereka, dan masih berada disini, padahal hari sudah hampir jam sembilan malam.


Jonathan berdiri dengan tangan yang dia lipat kedepan dada nya. Menatap Ivan dengan pandangan yang seperti ingin melahap nya saja.


"Eh bang, kok belum pulang?" tanya Ivan dengan begitu canggung.


Dia melirik kedalam dimana Karina dan Amelia duduk didekat ranjang Diana menatap nya dengan pandangan khawatir.


"Masih berani kamu kemari hm?" tanya Jonathan yang masih tidak beranjak dari depan pintu


"Aku mau nemui Amel " jawab Ivan


"Jangan harap" ketus Jonathan


"Kenapa?" tanya Ivan bingung


"Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan ku hari ini?" tanya Jonathan dengan mata yang memicing melihat Ivan yang terlihat gugup. Ya, sudah berpuluh puluh kali Jonathan menghubungi nya, namun sama sekali Ivan tidak mengangkat nya karena pesan dari Rico dan Dirga, jika Jonathan tidak perlu ikut menangani kasus ini, dan Ivan tentu saja setuju, namun seperti nya Jonathan begitu tidak terima sekarang


"Is itu" ucapan Ivan langsung tertahan saat melihat wajah Jonathan yang semakin kelam


"Duduk dulu lah bang, pegel aku berdiri disini" kata Ivan lagi yang langsung menerobos masuk dan menyenggol bahu Jonathan, membuat lelaki itu semakin kesal


Dia langsung duduk diatas sofa dan hanya menoleh pada Amelia yang menggeleng takut ditempat nya.


Jonathan juga ikut menghempaskan tubuh nya disamping Ivan. Menatap datar kedepan dengan wajah dingin dan tidak bersahabat.


Dia memang begitu kesal


"Apa yang akan kamu lakukan jika masalah ini terjadi padamu, apa kamu akan diam saja jika ada orang yang ingin mencelakai Amelia?" tanya Jonathan dengan nada datar dan tanpa menoleh pada Ivan sedikitpun


Ivan tampak terdiam sejenak dan tertunduk. Jika dia ada diposisi Jonathan, dia pasti tidak akan diam saja, apalagi menyangkut nyawa dan keselamatan wanita yang dia cintai. Tapi.....


Ivan menghela nafas nya sejenak dan menoleh pada Jonathan.

__ADS_1


"Bang, aku tahu Abang pengen ikut turun tangan untuk nangkep pelaku nya. Bukan nya aku sesuka hati dan sok jagoan, tapi ini juga karena permintaan papa" jawab Ivan


"Papa gak ingin Abang meluapkan emosi Abang dan terjadi sesuatu yang gak diinginkan disana nanti. Abang sama Karina baru aja nikah, baru dihitung beberapa jam, papa gak ingin merusak hari bahagia kalian, jadi dia memutuskan biar dia sendiri yang nangani kasus ini" ungkap Ivan lagi


Jonathan masih diam dan hanya menghela nafas nya saja.


"Lagian ini juga karena orang yang gak suka sama papa" ucap Ivan membuat Jonathan sedikit terkesiap dan langsung menoleh pada Ivan yang mengangguk. Sementara ketiga gadis itu juga saling pandang bingung dan semakin ingin tahu tentang apa yang sebenar nya terjadi


"Rival papa?"tanya Jonathan dan Ivan langsung mengangguk


Ivan lalu menceritakan tentang dalang dibalik kejadian ini. Bagaimana ayah Cyintia, tuan Beni yang menyimpan dendam karena sakit hati kerja sama nya ditolak oleh Maxwel, ditambah dengan Cyintia yang mereka penjarakan.


Ivan juga menceritakan tentang Kasih yang dengan terpaksa melakukan penyerangan itu, karyawan nya yang menjadi pion tuan Beni.


"Jadi sebenar nya dia mau membunuhku?" tanya Jonathan dan Ivan langsung mengangguk


"Ya, tuan Beni udah menyiapkan racun yang akan diberikan Kasih malam itu sama Abang, tapi Kasih gak tega, karena racun itu gak ada penawarnya. Jadi mau gak mau dia melakukan penyerangan secara terang terangan, supaya kita bisa mengusut kasus ini" ungkap Ivan


"Tapi dia malah mencelakai Karina" geram Jonathan


"Kak, dia begitu karena gak ingin buat kakak celaka, dia pasti terpaksa ngelakuin itu" sahut Karina yang kini berjalan mendekat dan duduk disebelah Jonathan yang tampak masih tidak terima, walau bagaimanapun dia sudah hampir membuat Karina celaka jika tidak ada Diana yang menghalangi nya


"Seperti nya dia memang terpaksa tuan, soal nya dia ragu ragu untuk menusukkan pisau itu. Hanya pisau dapur kecil, dokter juga berkata jika luka saya tidak terlalu dalam, hanya karena hampir mengenai lambung jadi agak lama proses penyembuhan nya" tambah Diana pula


"Kasih terpaksa karena adik nya mau dijual oleh tuan Beni pada seorang mucikari " kata Ivan lagi


"Astaga" gumam Karina dan Amelia bersamaan


"Beneran kak?" tanya Karina dan Ivan langsung mengangguk


"Kami udah cari tahu, dan memang benar. Ternyata tuan Beni juga melakukan perdagangan manusia. Banyak gadis gadis yang masih belia disekap nya disebuah rumah jauh dari pemukiman warga, mereka akan dijual nya pada mucikari yang yang memang menampung gadis gadis itu untuk dijadikan pelacur dirumah pelacuran" ungkap Ivan


"Lalu apa mereka udah kalian bebasin?" tanya Amelia pula, kini dia berjalan kearah sofa dan duduk disamping Ivan


"Udah, sore tadi aku sama Dirga dan rombongan bang Jhon yang kelokasi, ada sekitar enam orang gadis kecil disana, termasuk adik Kasih" jawab Ivan


"Pelaku nya sudah tertangkap?" tanya Jonathan dan Ivan langsung mengangguk


"Sudah, dia dan komplotan nya sempat melarikan diri. Tapi papa bareng anggota kepolisian dan orang orang Agueenno berhasil nangkep nya" jawab Ivan


"Berarti sekarang udah aman kan?" tanya Karina


"Aman kok. Besok kalau Abang mau lihat pelaku nya, Abang bisa kekantor polisi" ucap Ivan dan Jonathan hanya mengangguk tipis. Dia masih tidak menyangka jika sebenar nya mereka ingin mencelakai dirinya, dan bukan Karina. Benar benar cari mati memang


"Terus, apa Kasih akan tetap ditahan?" tanya Karina pada Ivan yang terlihat menghela nafas nya sejenak. Dia menoleh sekilas kearah Diana yang duduk diatas ditempat tidur


"Dia akan tetap ditahan karena bagaimana pun dia udah buat Diana celaka, tapi mungkin masa tahanan nya bisa ditangguhkan, itu terserah pada papa dan Diana sendiri nantinya. Aku gak ikut campur tentang itu" jawab Ivan


"Lalu adik Kasih dimana sekarang?" tanya Amelia pula


"Dirga yang urus, gak tahu deh kemana" jawab Ivan dengan senyum tipis nya, dia masih ingat bagaimana Dirga yang menggerutu kesal karena diminta untuk mengurus adik Kasih tadi


Dan tidak lama kemudian pintu terdengar diketuk membuat mereka langsung menoleh kearah pintu yang terbuka dimana ternyata Faiz yang masuk kedalam dengan senyum tengil nya


"Permisi tuan dan nona, apa saya menganggu?" tanya Faiz, ditangan nya ada beberapa kantong yang entah apa isi nya


"Dari mana lu, bisa bisa nya ilang, padahal tadi dibelakang gue" gerutu Ivan dan Faiz hanya terkekeh kecil sembari mendekat kearah sofa dan meletakkan belanjaan nya diatas meja


"Beli makanan buat bergadang" jawab Faiz yang mengeluarkan banyak Snack dan minuman kaleng disana

__ADS_1


"Wah, tahu aja kalau aku pengen ngemil" ucap Amelia yang langsung meraih sebungkus Snack dari atas meja.


"Ya, tuan bos kalau udah buru buru gak inget bawa makanan, padahal malam nanti dia sendiri yang ribut lapar" sindir Faiz membuat Ivan terkekeh pelan


"Ya apa guna nya asisten coba" jawab nya hingga Faiz terdengar mendengus kesal


"Udah ada kami, kalian mending pulang aja" kini Ivan beralih pada Karina dan Jonathan


"Dih ngusir" kata Karina tak terima


"Pengantin baru kok nginep dirumah sakit, mana bisa mesra mesraan" jawab Ivan sembari mengunyah Snack dari tangan Amelia


"Bener, sekarang kan kita udah tenang, gak ada yang perlu dirisaukan lagi" timpal Amelia pula


"Tapi Diana" Karina menoleh Diana yang tampak tersenyum dan mengangguk


"Gak papa buk. Saya udah baikan kok. Sendiri juga gak apa apa, nona Amel sama tuan muda juga pulang aja, saya gak apa apa disini sendiri" jawab Diana


"Gak apa apa lah Di, aku juga gak ada kerjaan dirumah" jawab Amelia


"Iya, kami belum halal, dari pada gak bisa ketemu mending disini aja, bisa berduaan juga" kata Ivan dengan tawa kecil nya, apalagi dengan cubitan kecil dari Amelia dipinggang nya


"Saya dong yang jadi obat nyamuk nya" sahut Diana


"Tuh, si Faiz ada" tunjuk Ivan pada Faiz yang langsung terkesiap dan menoleh pada Diana yang tampak tersenyum canggung


"Ya, gak usah khawatir kamu, saya pasti menemani malam malam mu yang menyebalkan bersama dua orang ini" sahut Faiz


"Dih sembarangan, kalau gak ada kami gak rame ni rumah sakit" ucap Amelia


"Ya, masalah nya kasian si Diana harus ternodai mata nya karena kalian" jawab Faiz


"Hahaha, dikira kami live streaming apa, noh yang penganten baru yang lebih bisa menodai otak dan fikiran" kata Ivan menunjuk Karina dan Jonathan


Wajah Karina langsung memerah, sedangkan Jonathan biasa saja, padahal sebenar nya dia juga sudah tidak sabar untuk itu


"Mereka kan didalem kamar, gak keliatan, kalau kalian yang gak tahu tempat" sindir Faiz lagi membuat Ivan langsung melemparkan Snack nya kearah wajah Faiz yang langsung mengelak dan tertawa kecil


"Udah lah bang, pulang aja kalian, pasti udah gak sabar kan" kini Ivan beralih pada Jonathan yang tampak mendengus jengah


"Seperti kamu saja yang sudah tidak tahan" jawab Jonathan yang beranjak dari duduk nya dan menatap Karina yang terperangah bingung


"Heleh,, aku tahu,.jangan mengelak" kata Ivan lagi


Jonathan hanya diam dan menjulurkan tangan nya pada Karin yang langsung menyambut nya dengan cepat.


"Kami pulang duluan ya" ucap Karina pada Amelia yang langsung mengangguk dan tersenyum menggoda


"Oke, sukses ya" jawab Amelia membuat Karina langsung melebarkan mata nya


"Di, gak apa apa aku tinggal kan?" kini Karina berjalan kearah ranjang Diana sembari mengambil tas nya


"Gak apa apa Bu, selamat bersenang senang ya Bu, semoga cepat jadi" bisik Diana


Karina langsung mendengus kesal dan menampar lengan Diana dengan pelan, namun dia tidak bisa menutupi wajah merah merona nya. Godaan godaan Amelia dan Diana membuat nya malu sekarang, dan tentu saja fikiran liar langsung menyerbu isi kepala nya.


"Sukses ya bang, jangan lupa minum jamu" seru Ivan saat Jonathan dan Karina sudah mau keluar dari ruangan itu.


Jonathan langsung menyelis kearah nya dengan kesal, adik nya ini benar benar keterlaluan. Karina bahkan hanya bisa tersenyum malu dibalik punggung nya.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada tiga orang yang tampak nya sefrekuensi itu, Karina dan Jonathan akhir nya beranjak dari ruangan itu untuk pulang kerumah utama mereka, dimana Delisha dan Ibu Karina sudah berada disana, karena untuk beberapa waktu kedepan, Karina dan Jonathan akan tinggal dirumah itu, mungkin sampai Ivan menikah dengan Amelia barulah Maxwel akan memberikan mereka rumah masing masing


__ADS_2