Story Of The Twins

Story Of The Twins
Ternyata ?


__ADS_3

Jonathan membantu Karina turun dari mobil dengan cepat. Bahkan dia langsung berjalan masuk kedalam rumah disusul oleh Karina dibelakang nya. Hari sudah larut malam saat dia tiba dirumah utama.


Keadaan rumah itu terasa begitu suram. Disaat dia masuk hanya wajah wajah lesu yang dia dapati menyambut kepulangan nya.


"Kalian sudah pulang bang" sapa Toni yang duduk didepan rumah bersama Roy dan yang lain


Jonathan mengangguk singkat


"Dimana yang lain?" tanya nya


"Didalam, diruang tengah" jawab Toni lesu


Tanpa berkata apapun, Jonathan dan Karina langsung berjalan masuk. Wajah Jonathan begitu kelam, sedih, kecewa dan kehilangan. Masih ada rasa tidak percaya dihatinya. Dia berharap ketika dia tiba dirumah, semua kabar itu hanya rekayasa dan candaan Ivan saja. Tapi kenyataan nya, wajah semua orang yang dia temui, menunjukkan kebenaran yang menyakitkan.


Semua orang yang ada diruang tengah langsung menoleh kearah Jonathan dan Karina. Mereka berharap Ivan yang datang, namun nyata nya Jonathan.


"Papa" Jonathan langsung mendatangi Maxwel yang duduk dengan wajah lesu nya


Maxwel langsung memeluk Jonathan dengan begitu terpukul. Jika bisa menangis, mungkin dia akan menangis dengan kencang


"Apa ini benar?" tanya Jonathan


"Seharus nya papa menjemputnya. Ini salah papa" kata Maxwel yang masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri


Jonathan menggeleng, melepaskan pelukan nya dan mengusap bahu Maxwel.


"No, ini bukan salah papa. Jo juga salah karena membiarkan nya pergi dan malah bersenang senang di Paris. Apa om Rico sudah kembali" tanya Jonathan lagi


"Sedang diperjalanan" jawab Maxwel yang kembali duduk


Karina beralih pada ibu Sari, dan menangis didalam pelukan nya. Dia juga tidak menyangka dengan kabar ini


"Lalu bagaimana kabar nya?" tanya Jonathan lagi


Maxwel menggeleng lirih. Serasa ada beban yang begitu berat dipundak nya saat ini. Hati nya bagai diremas oleh sesuatu yang tidak nampak

__ADS_1


"Tidak ditemui sedikitpun jejak adik kamu, bahkan Faiz juga tidak ada. Banyak mayat korban yang hancur dan tidak lagi bisa ditemui" ungkap Maxwel begitu pedih


Jonathan menggeram, meraup kasar kepala nya dan menghempaskan tangan nya dengan kuat. Dia benar benar tidak terima dengan kejadian ini. Seharusnya sebentar lagi mereka merayakan hari pernikahan Ivan, bukan nya malah merayakan hari kematian nya.


Sungguh lelucon yang sangat membuat luka dihati.


"Dimana mama?" tanya Jonathan lagi


"Dikamar" jawab Maxwel.


Dan tanpa berkata apapun lagi, Jonathan langsung berlari menuju kamar Delisha. Mama nya itu pasti begitu terpukul saat ini. Ivan adalah anak kesayangan nya, anak yang dia nantikan selama sembilan belas tahun, tapi pergi dengan cara yang begitu tragis


Dan benar saja, saat Jonathan membuka pintu, dia hanya melihat Delisha duduk dengan pandangan mata yang begitu kosong diatas tempat tidur nya. Wajah nya pucat dan tidak berseri sama sekali. Kelihatan hancur dan sangat sedih. Bahkan air mata masih terlihat menetes beberapa kali


"Mama" panggil Jonathan begitu lirih


Delisha menoleh, dia sedikit terkesiap, dan tersenyum dengan bahagia. Bahkan dia langsung turun dari tempat tidur nya, namun Jonathan segera berlari mendekati nya


"Ivan, kamu pulang nak" ucap Delisha. Jonathan langsung mematung sejenak, apalagi saat Delisha memeluk nya begitu erat, penuh rindu, rasa takut dan kesedihan yang mendalam


"Kamu pulang sayang. Kamu pulang, mama takut sekali, mama takut kamu pergi" kata Delisha menciumi wajah Jonathan. Namun Jonathan segera menangkup wajah nya dan menatap Delisha dengan sedih. Sungguh air matanya tidak bisa dia bendung melihat mama nya ini


"Ini Jo ma. Ini Jonathan, bukan Ivan" kata Jonathan dengan Isak tangis yang tidak bisa tahan


Delisha menggeleng, menggeleng dengan kuat menatap Jonathan begitu terpuruk


"Tidak, kamu Ivan nak, kamu Ivan" kata Delisha yang kembali meraung dengan begitu pedih


Jonathan kembali memeluk mama nya dengan erat, mencoba menenangkan namun dirinya sendiri juga tidak bisa tenang. Bahkan air mata sudah mengalir deras membanjiri wajah tampan nya.


Jika saja waktu bisa diulang, dia tidak akan membiarkan Ivan pergi, dia bersenang senang disana, namun Ivan malah harus menjadi korban. Ivan pergi, padahal sebentar lagi hari pernikahan nya, hari yang paling dia tunggu sejak dulu. Tapi semua itu belum sempat dirasakan nya. Bahkan Jonathan tidak tahu bagaimana keadaan Amelia saat ini.


....


Ditempat lain.....

__ADS_1


Dua orang pemuda masih duduk didalam pesawat ekonomi yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta. Hari sudah larut malam, namun mereka baru mendapatkan tiket pesawat dimalam hari itu dikarenakan beberapa insiden yang terjadi.


Pemuda tampan yang duduk didekat jendela tidak berhenti menggerutu kesal pada teman nya sejak tadi.


"Seharus nya kita udah sampai dirumah dari kemaren, ini baru bisa naik pesawat. Memang gak bisa buat hati seneng" gerutu nya untuk yang kesekian kali. Tangan nya merapatkan jaket yang dia kenakan ditubuh nya


"Ya mending sih, dari pada kita mati semalam. Amit amit, mana belum kawin" balas teman nya tak kalah kesal


Pemuda itu tertegun dan menoleh kearah teman nya.


"Iya sih. Tapi kasihan bapak sama anak nya. Mereka jadi korban" gumam pemuda yang tidak lain adalah Ivan dan teman nya Faiz


"Udah ajalnya" gumam Faiz


"Dipesawat itu tercantum nama kita Iz, apa orang orang dirumah gak panik ya. Entar mereka ngira kita pada lewat lagi" tanya Ivan pada Faiz


Faiz tampak menghela nafas nya dengan berat. Dan mengangguk pelan


"Udah pasti lah. Tuan besar pasti cari tahu semua nya. Apalagi jelas semua korban gak ada yang selamat dipesawat itu" jawab Faiz


Dan kali ini Ivan yang terlihat sedih dan memandang keluar jendela, dimana langit sudah begitu gelap karena hari memang sudah sangat larut


"Gue bersyukur banget kita gak jadi pulang siang itu, kalau jadi pulang, gak tahu deh gimana jadinya. Mana pernikahan tinggal dua Minggu lagi" ungkap Ivan


"Walaupun gitu, tapi mereka pasti tetep ngira kita udah lewat Van" kata Faiz yang mengenangkan ibu nya


"Iya sih, semoga mereka gak panik lah. Ponsel gue mati dari semalam, gak sempat ngecas" kata Ivan


"Sama, ada batere dikit, sinyal yang ilang." sahut Faiz


Mereka membatalkan penerbangan siang semalam karena tiba tiba proyek yang mereka jalani mengalami kecelakaan sedikit. Padahal Ivan dan Faiz sudah tiba dibandara saat itu. Hari itu cuaca memang sedikit buruk, dan saat setengah jam lagi pesawat akan berangkat, mereka disusul oleh salah seorang kontraktor diproyek itu yang mengabarkan jika ada beberapa bangunan yang roboh dan memakan beberapa orang korban jiwa. Tentu saja Ivan dan Faiz harus kembali.


Namun ada seorang pria paruh baya bersama anak lelaki nya, dia meminta untuk mengganti tiket Ivan dan Faiz, karena dia ingin cepat pulang ke Jakarta melihat istrinya yang sakit. Dan tentu saja Ivan memberikan nya, dia juga sudah tidak butuh lagi tiket itu.


Dan karena itu mereka terlambat pulang, tapi mereka bisa selamat dari insiden pesawat jatuh. Meski terlambat pulang, tapi Ivan dan Faiz masih sehat dan baik baik saja. Meski sekarang, semua orang yang ada di Jakarta begitu sedih mengenang mereka yang dikira telah tewas.

__ADS_1


__ADS_2