Story Of The Twins

Story Of The Twins
Kencan Pertama


__ADS_3

Dan disinilah Faiz berada sekarang. Disebuah pasar malam yang berada didekat taman kota. Dia baru saja tiba bersama Diana. Diana meminta nya untuk ketempat ini dan menghabiskan malam disini. Tentu saja Faiz membawa nya, karena ternyata Diana tidak ribet. Saat ditanya ingin kemana, dia langsung saja meminta kemari


Ini adalah kencan pertama Faiz selama hampir dua puluh delapan tahun kehidupan nya. Dan tentu saja dia sedikit canggung. Setiap perkataan yang diberikan oleh Ivan langsung buyar, bahkan dia jadi lupa ingin memulai berbicara bagaimana. Apalagi saat melihat Diana begitu antusias melihat lihat berbagai wahana permainan disana. Senyum nya yang merekah manis membuat Faiz jadi terpesona dan lebih memilih memandang nya dari pada berbicara.


"Wow tinggi banget. Kak naik itu yuk" ajak Diana menunjuk sebuah wahana permainan bianglala yang menjulang begitu tinggi.


Faiz memandang keatas dan mengamati wahana itu, namun belum sempat dia berkata apapun, Diana langsung menarik lengan nya, membuat Faiz langsung terkesiap dan segera mengikuti langkah kaki Diana.


Diana membeli karcis untuk dua orang, dan langsung saja mereka naik keatas.


Mereka duduk berhadapan sembari memandang kota Jakarta yang tampak indah malam itu.


"Kamu sering ketempat kayak gini?" tanya Faiz. Diana yang sedang mengamati kebawah langsung menoleh kearah nya.


Dia tersenyum dan mengangguk


"Sering dulu, tapi udah lama banget sih, terakhir kali mungkin tiga tahun yang lalu" jawab Diana


"Bareng pacar kamu?" tanya Faiz


Diana tersenyum dan mengangguk, namun nampak sedih jika mengenang itu


"Jadi kamu minta aku kesini karena mau mengenang itu?" tanya Faiz lagi


Diana memandang Faiz dengan helaan nafas nya


"Enggak juga sih sebenar nya. Aku cuma kangen tempat ini aja. Lagian selagi ada temen nya. Kakak juga udah janji bakalan nemenin aku jalan jalan kan" tanya Diana pula


"Iya, tapi jalan sama aku kamu inget nya mantan kamu" sewot Faiz, namun Diana malah terkekeh


"Kenapa, cemburu ya" goda Diana


"Enggak juga. Kan udah mantan, lagian bentar lagi kamu juga jadi istri aku" kata Faiz dengan bangga nya


"Hmh iya iya. Lagian juga gak perlu kesal. Dia juga udah gak ada" jawab Diana yang kembali sedih dan memandang jauh hiruk pikuk dibawah sana


"Gak ada kemana?" tanya Faiz


"Udah meninggal" jawab Diana dengan hati yang kembali sedih jika mengingat itu


"Meninggal" gumam Faiz


Diana langsung mengangguk.


"Dia udah meninggal tiga tahun yang lalu. Sakit leukimia " ungkap Diana


Faiz terdiam memandang wajah sendu itu


"Dia laki laki terhebat yang pernah aku kenal. Meski dia sakit, tapi dia gak pernah ngeluh sedikitpun. Dia tetap berjuang untuk sembuh dan selalu buat bahagia orang orang didekatnya" kata Diana yang tanpa sadar malah mengenang mantan kekasih nya


"Terakhir kali sebelum dia meninggal, dia minta dibawa ketempat ini. Dia mau lihat keindahan didunia yang gak akan bisa dia lihat lagi. Dia bahagia banget malam itu. Malam terakhir kali dia hidup, karena besok paginya, dia pergi..." ungkap Diana dengan pandangan nanar. Namun beberapa detik kemudian dia sedikit terkesiap dan memandang Faiz dengan canggung


"Ah... aku malah curhat. Maaf kak. Hehe" kata Diana yang mengerjap ngerjapkan matanya beberapa kali. Seperti nya dia terbawa suasana. Meski heran, tapi sedikit banyak nya Faiz memang ingin tahu


"Kamu udah lama pacaran sama dia?" tanya Faiz, membuat Diana kembali menoleh padanya


"Belum, cuma dua tahunan. Itu juga gak dibilang pacaran, cuma Deket aja" jawab Diana


"Deket aja" gumam Faiz. Dan Diana langsung mengangguk


"Aku sama dia gak ada komitmen apapun. Dia baik sama aku, dia pengertian dan selalu buat aku bahagia. Mungkin karena dia tahu umur dia gak panjang, makanya dia gak ada ngajak pacaran ataupun nikah, dia cuma minta aku nemenin hari hari dia aja." jawab Diana. Dia memandang kearah bawah arena pasar malam itu sejenak, dan kemudian menoleh lagi pada Faiz


"Aku juga sama kayak kakak, gak pernah pacaran. Deket sama cowo juga cuma sama dia, dan kali ini sama kakak" jawab Diana


"Masak sih?" tanya Faiz tidak percaya


"Gak percaya?" tanya Diana dan Faiz langsung mengangguk cepat membuat Diana tertawa kecil dan kembali memalingkan wajahnya


"Kamu cantik, karir kamu bagus, mustahil gak pernah pacaran" kata Faiz yang sedari tadi tidak memalingkan wajahnya dari Diana.

__ADS_1


"Lalu gimana dengan kakak? kakak juga ganteng, mapan, semua udah punya. Aku juga gak nyangka kakak gak pernah pacaran kalau bukan ibu kakak yang bilang" balas Diana pula yang kini membalas tatapan teduh milik Faiz


"Aku gak suka ribet, aku kan udah bilang sama kamu" jawab Faiz


"Aku juga gak suka ribet, tapi bukan itu alasan aku gak pacaran" ungkap Diana


"Lalu kenapa?" tanya Faiz pula


"Gak ada laki laki yang pas dihati aku. Selain dia dulunya." jawab Diana


"Lalu kenapa kamu Nerima tawaran aku?" tanya Faiz


"Karena kakak maksa" jawab Diana. Faiz langsung melebarkan matanya membuat Diana tertawa kecil. Bersamaan dengan bianglala yang berhenti dan mengharuskan mereka untuk turun.


Faiz dan Diana langsung turun dan kembali berjalan mengitari arena pasar malam itu.


Malam itu cukup cerah, bahkan tempat itu semakin malam semakin ramai.


Diana merapatkan jaket Hoodie nya karena merasa sedikit kedinginan.


Mereka kini duduk disalah satu kursi kosong yang tersedia dipinggir arena. Memperhatikan hiruk pikuk orang orang yang berseliweran disana. Ada banyak tawa yang lepas, ada banyak kebahagiaan yang tercipta dimalam itu, dan ini benar benar bisa membuat fikiran mereka sedikit lebih rileks setelah seharian bekerja.


"Diana" panggil Faiz tiba tiba setelah sejak tadi mereka hanya diam dengan fikiran masing masing


Diana langsung menoleh pada Faiz yang memandang nya dengan lekat


"Aku bukan orang yang cukup bisa mengerti seseorang. Dan sebentar lagi kita menikah. Apa kamu bisa menerima ku dan ibu?" tanya Faiz


Diana mengerjapkan matanya perlahan


"Apa kakak juga bisa menerima keluarga ku?" tanya Diana pula


"Aku udah bilang kan. Seharus nya kita saling kenal dulu, kita harus saling memahami satu sama lain, supaya kedepan nya lebih enak" kata Diana lagi. Faiz hanya menghela nafasnya sejenak dan berkata


"Aku tahu. Tapi aku sudah yakin dengan pilihan ku" jawab Faiz


"Kesepakatan?" tanya Faiz dan Diana langsung mengangguk


"Mulai hari ini, gak boleh ada satu hal apapun yang kita tutupi kalau memang kita bener bener serius. Aku bisa nerima keluarga kakak, dan seharusnya kakak juga begitu kan. Aku anak perempuan satu satu nya, meski aku gak Deket sama mama, tapi sesekali pasti mama pengen ketemu aku. Dan kakak juga gak boleh larang aku buat ketemu mama dan pulang kerumah" kata Diana


Faiz langsung tersenyum dan mengangguk


"Aku gak sejahat itu. Aku minta kamu bahagian ibu aku, berarti aku juga harus buat hal yang sama ke ibu kamu" balas Faiz pula


"Oke , harus janji" kata Diana yang mengangkat jari kelingking nya kearah Faiz


Faiz tersenyum dan menyambut nya dengan senang


"Janji" jawab Faiz


"Berarti kamu memang udah serius ya nikah sama aku" kata Faiz lagi.


Diana langsung mendengus dan menurunkan tangan nya


"Dari kemarin juga memang udah iya" sahut nya cemberut


"Kalau gitu gak boleh inget mantan lagi" pinta Faiz


"Udah cemburuan aja" kata Diana terkekeh pelan


"Cemburu kan tanda sayang" jawab Faiz


"Emang udah sayang?" tanya Diana pula


"Kalau gak sayang ngapain diajak nikah" kata Faiz pula


Diana kembali tertawa dan memalingkan wajah nya yang merona


"Modus banget" gumam Diana

__ADS_1


"Modusin calon istri sendiri kan gak papa" jawab Faiz dengan tawa kecil nya


"Diihh bilang nya gak pernah deket cewe, tapi udah pinter ngomong" kata Diana yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Faiz yang masih tertawa


"Ivan bilang cewe suka digombalin" ucap Faiz seraya beranjak dan berjalan mengikuti Diana


"Tuan Ivan" tanya Diana yang menoleh kebelakang memandang Faiz


Faiz mengangguk dengan wajah polos nya


"Kamu suka gak, tapi aku bingung mau gombalin gimana?" kata Faiz lagi


Diana langsung meringis dan menggeleng pelan. Sudah lah, kenapa ada orang seperti Faiz. Dia sudah tua, tapi tidak punya naluri untuk berusaha sendiri. Memang menyebalkan, tapi.... dia suka


"Udah deh, dari pada mikir itu, mending cari makan disana. Yuk" ajak Diana yang langsung merangkul lengan Faiz dan membawa nya kestand penjual makanan yang beraneka ragam


Faiz terdiam dan memandang Diana yang merangkul lengan nya. Canggung dan aneh, karena seumur hidupnya baru kali ini dia disentuh wanita selain ibu nya. Ada rasa yang menggelitik yang tidak dia ketahui. Tapi dia juga tidak mengerti apa. Bahkan saat Diana merangkul nya begini, jantung Faiz jadi berdebar debar tidak menentu.


"Waahh gulali" seru Diana tiba tiba membuat Faiz sedikit terkesiap dan ikut memandang beberapa gulali dengan bentuk yang unik dan cantik


"Kamu mau?" tanya Faiz, dan Diana langsung mengangguk dengan cepat


"Mau dong, yuk ah" ajak Diana yang kembali menarik lengan Faiz. Mereka berjalan kestand gulali dengan berbagai bentuk itu. Diana begitu antusias memilih milih nya. Wajah cantik yang terbalut tutup kepala jaket nya itu sangat manis dan menggemaskan. Membuat Faiz tidak bisa memandang nya


"Bang mau satu, yang ini" tunjuk Diana pada gulali berbentuk bunga


"Ini neng, 50 ribu" ucap si Abang


Diana langsung merogoh uang dalam tasnya namun Faiz sudah membayar nya langsung


"Makasih bang" ucap Faiz yang meraih gulali itu dari tangan penjual nya


Diana mematung dan memandang Faiz yang menyerahkan gulali nya


"Nih, mau apa lagi?" tanya Faiz


Diana tersenyum dan meraih gulali nya


"Makasih. Jalan dulu deh, liat kesana" kata Diana seraya menunjuk tempat yang lain


Faiz mengangguk dan tiba tiba matanya melirik seorang penjual batagor


"Kamu mau itu gak, aku pengen makan itu deh" Diana langsung menoleh kearah yang ditunjuk oleh Faiz


"Batagor." tanya Diana dan Faiz langsung mengangguk


Dan tanpa menunggu jawaban Diana, Faiz langsung saja pergi ketempat itu dan memesan nya.


"Kamu mau?" tanya Faiz lagi dan Diana langsung mengangguk saja


Akhirnya mereka duduk berdua sembari memakan batagor mereka. Faiz makan dengan lahap tanpa risih atau canggung. Diana memandang nya dengan heran. Pasal nya ini makanan kaki lima, tempat nya juga kurang bersih, tapi kenapa Faiz yang dia kenal rapi dan berwibawa mau makan ditempat seperti ini? Seorang asisten sultan makan disini??


"Kok gak dimakan? gak enak ya?" tanya Faiz membuat Diana sedikit terkesiap dan menggeleng canggung


"Terus kenapa?" tanya Faiz seraya mengusap mulutnya dengan tisu


"Aku kira kakak gak mau makan jajanan dikaki lima kayak gini" jawab Diana


Faiz langsung tersenyum dan memandang Diana


"Kenapa memang nya, karena tempat nya kurang bagus? gak higienis, gitu?" tanya Faiz dan Diana langsung mengangguk


"Ini makanan favorit aku sama Ivan. Gak ada yang lebih enak selain makan ditempat kayak gini" jawab Faiz


"Masak sih?" tanya Diana tidak percaya. Sekelas sultan dan asisten nya suka makan ditempat seperti ini??? yang benar saja.


"Nanti aku bakalan ceritain ke kamu semua tentang aku, tentang kehidupan aku dulunya. Yang kamu lihat sekarang, cuma buah dari keberhasilan yang aku raih. Dulu aku cuma anak kampung yang susah, untuk makan aja harus kerja dulu. Gak seenak seperti yang kamu lihat sekarang" ungkap Faiz.


Diana masih terdiam memandang Faiz. Benarkah seperti itu???

__ADS_1


__ADS_2