
Ivan tengah menyantap makan siang disebuah warteg bersama kang Tejo.
Ia makan sambil memikirkan balasan pesan Jonathan tadi.
"kenapa ngajak aku ketemu diSPBU lagi ya, aneh tu orang" kata Ivan dalam hati.
"eh, tapi bagus juga deh, kan biar kang Tejo gak tau juga" batin Ivan lagi
"woy, ngopo koe melamun, " tanya kang Tejo mengejutkan Ivan.
"eh, hehe enggak bang" jawab Ivan sembari menggaruk kepala nya
..
Setelah selesai makan Ivan bersama kang Tejo pun segera kembali kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Didalam perjalanan Ivan tak tenang. Fikiran nya memikirkan Jonathan.
Hingga mobil yang dikendarai kang Tejo pun seperti biasa singgah di SPBU tempat Ivan dan Jonathan janji untuk bertemu.
'wah kebetulan yang menguntungkan ini' batin Ivan
Setelah mobil berhenti untuk mengantri Ivan pun langsung memakai masker nya dan keluar dari mobil.
"bang, biasa, aku ketoilet dulu ya" kata Ivan cepat dan langsung berlari kearah toilet.
Sedangkan kang Tejo hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Ivan.
"anak itu ya kebiasaan" ucap Tejo sambil melihat Ivan yang sudah menjauh.
Sesampai nya didepan toilet Ivan sudah melihat pengawal Jonathan tengah berdiri rapi menunggu tuan nya.
Ivan pun langsung masuk dengan santai tanpa mengundang kecurigaan pengawal Jonathan.
Setelah sampai didalam Ivan melihat Jonathan tengah berdiri didepan cermin.
"hai bang, udah lama nunggu? " tanya Ivan basa basi.
"belum, baru saja" jawab Jonathan memandang Ivan.
"apakah kamu mau membantuku Van? " tanya Jonathan langsung tanpa basa basi membuat Ivan kebingungan
"apa itu bang, aku pasti bantu kok, " jawab Ivan yakin meski terlihat bingung melihat wajah Jonathan yang tampak serius
"mau kah kamu bertukar posisi denganku? " tanya Jonathan yang membuat Ivan terkesiap kaget
"ha? Maksud nya" tanya Ivan terkejut dengan maksud Jonathan. Ia langsung menutup mulut nya karena sedikit meninggikan volume suara nya
"kamu ingin merasakan jadi saya bukan, jadi biarkan saya juga merasakan jadi dirimu. " jawab Jonathan lirih. Ivan melihat raut wajah Jonathan yang terlihat sangat merasa tertekan.
"tapi apa abang sanggup jadi aku, kehidupan ku berat lo bang, setiap hari abang harus kerja, ngamen, kekebun juga. " ungkap Ivan ragu mengingat betapa keras nya hidup nya, dan Jonathan yang ia rasa tidak pernah kerja berat.
"saya sanggup Van, walaupun tak sekuat kamu tapi akan saya usahakan untuk melakukan apa yang kamu kerjakan" ucap Jonathan yakin dan lugas
"abang yakin" tanya Ivan lagi
Jonathan hanya mengangguk
Ivan pun terdian sejenak
"tak ada salah nya mencoba. itung itung balas budi" kata Ivan dalam hati.
"oke, aku setuju" kata Ivan. Dan Jonathan langsung tersenyum.
" oke ikut saya sekarang," kata Jonathan menarik tangan Ivan kedalam kamar mandi.
"buka pakaian mu" titah Jonathan.
Ivan hanya melongo belum mengerti mengapa disuruh membuka pakaian.
"ayolah, saya tak akan memperkosa mu bodoh. Kamu mau pengawal saya heran melihat dirimu memakai pakaian lusuh ini? " tanya Jonathan sambil memegang baju Ivan.
"eh, hehehe iya bang, iya. Maaf" kata Ivan cengengesan baru mengerti.
Mereka pun saling membuka pakaian mereka masing masing dan saling bertukar.
Setelah Saling bertukar pakaian mereka keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ivan dan jonathan saling melihat kecermin, mereka memandang wajah dan tubuh mereka masing masing. Dan akhirnya mereka berdua saling pandang dan kemudian tertawa lucu
"tuan, apakah anda sudah selesai? " tanya Roy dari luar.
"iya sebentar" jawab Jonathan.
"yasudah, pergilah pengawalmu sudah memanggil" kata Jonathan tersenyum sembari merapikan sedikit rambut Ivan, dan, sempurna, batin nya.
"hehe, siap bos" kata Ivan cengengesan. Ia hendak melangkah namun ditahan oleh Jonathan.
"eh tunggu dulu, ini barang barang saya, dan kemarikan ponselmu" kata Jonathan memberikan dompet dan ponsel nya dan mengambil ponsel Ivan
"nanti selanjutnya kita bicarakan lewat ponsel saja" kata Jonathan
"oke bang" kata Ivan melambaikan tangan nya dan berjalan keluar menuju ketempat pengawal Jonathan.
Jonathan hanya memandang Ivan takjub.
"semoga bukan sesuatu yang buruk. Maafkan aku ma" lirih Jonathan dalam hati.
Setelah melihat Ivan menaiki mobil nya Jonathan pun juga keluar dan berjalan kearah mobil kang Tejo.
Dia melirik sekilas kearah mobil yang membawa Ivan, ia mengulas senyum tipis diwajah nya.
"konyol" kata Jonathan dalam hati.
"lama amat koe Van? " tanya kang Tejo melihat Jonathan
"sakit perut" jawab Jonathan singkat dan dingin seperti biasa
Mendengar jawaban singkat Jonathan yang dikira Ivan, kang Tejo langsung mengarahkan pandangan nya ke arah Jonathan.
"kenapa anak ini, kesambet setan WC kah ?" tanya Tejo dalam hati
..
Sementara Ivan tengah duduk terdiam di dalam mobil.
Terihat Toy duduk didepan bersama sopir nya.
Sedangkan pengawal lain nya menggunakan mobil sendiri.
"kayak gini rupa nya naik mobil mewah ya, enak nyaman, gak kepanasan, enak banget jadi bang Jo" kata Ivan dalam hati
..
Sementara Jonathan
"koe gak papa kan Van, dari tadi kok diem aja. Biasa nya ngoceh terus" tanya kang Tejo melihat aneh Jonathan yang dikira Ivan hanya diam saja sepanjang jalan .
"gak papa bang" ucap Jonathan berusaha tersenyum ramah.
'bang, kok beda' tanya Tejo dalam hati
Hingga tak lama kemudian ia mengingat sesuatu.
"oh astaga" seru Jonathan sehingga membuat kang Tejo terkejut.
"eneng opo van? " tanya kang Tejo merendahkan laju kendaraan nya
"eh, tidak apa" jawab Jonathan terbata.
Kang tejo pun hanya menggelengkan kepala nya menatap heran Jonathan.
'kok aku merinding ya' batin Tejo lagi
Jonathan pun mengambil ponsel Ivan dan mengirim pesan ke Ivan.
Ting
(Ivan)
"bilang pada Roy, kembali saja kerumah. Tidak usah jadi kerumah Dirga"
"Ivan?.ah iya itukan nama ku . lupa kan kalau hp nya juga tukaran' batin Ivan terkekeh dalam hati
"eh tapi siapa Roy, siapa pula Dirga? " tanya Ivan lagi sambil menggaruk kepala nya.
__ADS_1
Roy yang melihat itu pun seketika menoleh.
"ada apa tuan? " tanya Roy
"eh anu, kita pulang aja, gak usah kerumah Dirga" kata ivan terbata.
"loh kenapa, rumah nya sudah dekat" kata Roy yang membuat Ivan kebingungan.
"ee anu, Dirga nya gak ada dirumah, iya, dia gak ada dirumah. Kita pulang aja" jawab Ivan lagi
"oh baiklah tuan" ucap Roy heran melihat sikap tuan nya yang terlihat jauh berbeda.
'kenapa tuan muda jadi aneh begitu' batin Roy dan supir nya saling melirik
"mati aku, serem banget lagi muka pengawal bang jo ini" celoteh Ivan dalam hati.
Akhirnya mobil yang Ivan kendarai pun putar haluan.
Mereka kembali menuju rumah Jonathan.
Ivan mengambil ponsel nya dan mengirimi pesan pada Jonathan.
(Ivan)
"serem banget pengawal mu bang, takut aku. Hehe"
(Jonathan)
"nama nya Roy, panggil saja Roy. Kalau perlu apa apa kamu bisa minta pada nya"
(Ivan)
"oke, dan supir abang itu nama nya kang Tejo ya, "
(Jonathan)
"oke. nanti dirumah, kamar saya ada dilantai atas pintu kedua. Biasa nya ada bu May yang akan menyambut mu pulang dan mengurus segala keperluan mu"
(Ivan)
"siap bang, dirumah ku juga ada bapak, ibu sama Toni adik ku bang"
(Jonathan)
"apa yang harus saya kerjakan jika sudah berada dirumah mu?
(Ivan)
"pagi hari abang kepeternakan sapi untuk merah susu, setelah itu kekebun bapak, lepas tengah hari abang bakalan dijemput teman ku mengamen sampai sore. Malam baru istirahat"
(Jonathan)
"ternyata harimu sibuk ya "
(Ivan)
"hehe, semoga tahan ya bang. oh ya, ibu ku agak galak. jangan di ambil hati sama sikap ibu ya bang"
(Jonathan)
"it"s oke. Ingat setiap hari kau harus berangkat kekampus. Jangan bolos"
(Ivan)
"siap bang"
Ivan dan Jonathan pun menikmati perjalanan mereka dengan situasi yang baru.
Saling bertukar pengalaman.
Entah itu baik atau tidak tapi itulah jalan takdir yang harus mereka lewati.
Karena sifat Jonathan yang pendiam dan dingin membuat kang Tejo merasa heran dan terus bertanya dalam hati.
'kesambet setan apa anak ini ya. perasaan kok beda tenan. lebih kinclong dan dieman. ih, kok jadi merinding aku ya' batin Tejo dalam hati sambil mengusap tengkuk nya
sementara dimobil mewah, Roy dan sopir nya yang merasa heran melihat tingkah Ivan yang mereka kira Jonathan sedang melihat keluar jendela mobil dengan pandangan takjub dan sesekali tersenyum.
__ADS_1
'ada apa dengan tuan muda, kenapa berubah drastis ya' batin Roy sesekali melirik Ivan dari kaca depan mobil