
Aliran air sungai terdengar begitu bergemerisik menghempas bebatuan bebatuan besar yang menghadang laju nya.
Udara disekitar sungai itu terasa sangat sejuk dan menyegarkan, apalagi disore hari seperti itu.
"hati hati sayang, licin" kata Ivan pada Amel yang tengah menggandeng lengan nya, saat ini mereka sudah hampir tiba dipinggiran sungai, melewati bebatuan dan rerumputan yang menghiasi jalanan setapak itu.
"iya" jawab Amel yang melangkah perlahan, namun tiba tiba dia mengaduh dan mengangkat sebelah kaki nya membuat Ivan terkesiap kaget
"kenapa yang?" tanya Ivan pada Amel yang meringis sakit
"kaki aku kena duri deh kayak nya" kata Amel yang sudah terduduk diatas rumput membuat Ivan langsung panik
Ivan langsung melepaskan sepatu sepatu ditangan nya, dan ikut berjongkok didepan Amelia. Dia langsung memeriksa kaki Amelia yang sudah berdarah.
"ya ampun, jangan disentuh, kita cuci dulu." kata Ivan yang langsung menggendong Amelia
"yang, nanti jatuh" seru Amel ngeri, pasal nya jalanan itu sedikit licin dan berbatu
"enggak, tenang aja. Kaki kamu kalau dibawa jalan bisa semakin masuk duri nya," sahut Ivan
Tidak lama, karena sungai itu memang sudah ada didepan mata
Ivan mendudukan Amelia diatas sebuah batu besar. Dia segera membasuh kaki gadis itu dengan lembut
"biar aku aja yang" ucap Amelia namun Ivan tidak bergeming
"gak apa apa, duri nya harus segera diambil, takut infeksi" kata Ivan yang masih membasuh perlahan kaki Amelia yang kotor karena lumpur, hingga membuat duri yang menancap tidak kelihatan
Amelia meringis sakit saat tangan Ivan menyentuh bagian yang tertusuk duri, namun rasa sakit itu sedikit terobati dengan perlakuan Ivan yang begitu lembut pada nya. Sungguh, Ivan benar benar membuktikan perkataan nya untuk menjadikan gadis itu ratu dihidup nya. Dan Amelia begitu beruntung memiliki Ivan.
"seharus nya tadi kita pinjam sendal si Dian kalau tahu begini" sesal Ivan membuat Amelia tersenyum ditengah ringisan nya
"enggak apa apa, aku yang salah, gak hati hati jalan nya" ucap Amelia
"tahan ya, duri nya udah kelihatan" kata Ivan menatap wajah Amelia yang sedikit takut, namun tetap mengangguk
Ivan meraba duri yang memang belum masuk sepenuh nya, namun karena cukup besar, jadi cukup membuat rasa sakit yang menggigit. Mungkin duri akar pohon yang merambat.
"uuugghh" geram Amelia tertahan saat Ivan berhasil mencabut duri itu, membuat darah kembali keluar dari luka nya
Wajah Amelia memejam menahan rasa sakit dan perih membuat Ivan iba melihat nya.
"sakit banget ya" kata Ivan menatap wajah Amelia yang memerah
"kayak digigit semut" jawab Amelia yang masih meringis saat Ivan membersihkan luka itu
"bohong banget, wajah kamu aja sampai pucat begitu" dengus Ivan membuat Amelia terkekeh pelan
"hehe, enggak terlalu kok. Sakit karena rindu aja bisa ditahan, apalagi cuma sakit karena duri gini. Masih kecil lah" jawab Amelia, namun kemudian
"aaahhh sayang!!" teriak nya memukul pundak Ivan yang tertawa melihat wajah Amelia yang kesakitan dan kesal karena dia sedikit menekan luka nya
"sakitan mana sekarang" goda Ivan namun Amelia langsung menangis membuat Ivan langsung kelabakan
"loh kok nangis" tanya Ivan yang langsung berdiri tegak dan menangkup wajah Amelia, namun langsung ditepis oleh Amelia
"kamu jahat banget, sakit tahuu ...." teriak Amelia menutupi wajah nya dan menangis dengan kuat
"maaf maaf, kamu sih ngomong nya begitu. Udah dong jangan nangis , maafin aku" kata Ivan begitu panik, dia ingin menarik tangan Amelia namun Amelia menghindar dan semakin menguatkan suara nya
"huaaa... huuuuuu" seru Amelia semakin kuat membuat Ivan benar benar bingung sekarang
"sayang maaf dong" kata Ivan memelas
"enggak mau" jawab Amelia
"sayang" panggil Ivan namun Amelia masih mengeluarkan suara tangis nya
"yang, jangan begitu, nanti dikira orang orang aku jahatin kamu lagi" kata Ivan panik, dia melirik sekeliling nya yang tidak ada orang, namun suara Amelia pasti mampu mengundang orang orang yang berada dibawah
"huuuuu ... kamu gak tahu rasa sakit nya gimana" kata Amelia yang masih menutupi wajah nya, namun sesekali mengintip wajah frustasi Ivan dari balik tangan nya
"iya iya, maaf. aku tahu kok. pasti sakit nya melebihi rasa rindu kan" kata Ivan membuat Amelia tidak tahan lagi untuk tertawa
"lebih dari itu" sahut Amelia
Ivan langsung menggaruk pelipis nya dan menatap kaki Amelia yang seharus nya sudah baik baik saja karena darah juga sudah berhenti
"melebihi rasa sakit ditentang papa" tanya Ivan dan Amelia kembali menggeleng dengan menahan tawa nya
Dia membuka mata nya dan langsung mendorong tubuh Ivan dengan kuat hingga lelaki itu tercebur kedalam sungai dengan wajah bingung nya. Apalagi menatap Amelia yang tertawa terbahak bahak melihat Ivan yang sudah basah kuyup
"sayang!!!" teriak Ivan kesal
"hahahah, maka nya jangan usil, keterlaluan banget, sakit tahu" seru Amelia pula
"kamu ya, rasain nih" kata Ivan sembari menyirami Amelia dengan air sungai membuat gadis itu kembali tertawa terbahak bahak
__ADS_1
"aaahh, haha, ampun, sayang, basah ini" teriak Amelia pada Ivan yang tidak perduli
"yauda, biar sama, gak liat aku juga udah basah. nakal banget sih kamu" kata Ivan sembari menarik gemas hidung bangir Amelia
"hehe, maaf, kamu sih jail," kata Amelia manja, dia merangkul pundak Ivan sembari mencium kening lelaki itu sekilas
Ivan langsung melingkarkan tangan nya dipinggang Amelia dan menatap wajah gadis imut yang sangat dicintai nya itu
"jadi pengen cepet nikah deh kalau kayak begini" goda Ivan sembari mengedipkan sebelah mata nya pada Amelia yang tertawa lucu
"gak lama lagi kan" sahut Amelia
"pulang dari sini aja gimana, gak usah acara lamaran lamaran, yang penting nikah aja" kata Ivan. Amelia langsung memukul pundak nya dengan gemas membuat Ivan langsung tertawa
"enak aja. Jangan pelit wahai tuan muda. Aku kan juga pengen jadi ratu sehari, sekali seumur hidup tahu" jawab Amelia cemberut membuat Ivan semakin gemas melihat nya
"hehe, habis nya aku gak sabar buat jadiin kamu milik aku sepenuh nya" sahut Ivan
Amelia langsung mengusap lembut wajah tampan itu, wajah yang selalu hadir dalam mimpi nya setiap malam
"sabar. Aku kan memang udah milik kamu sekarang" kata Amelia
"tapi belum boleh di apa apain" rengek Ivan membuat Amelia kembali tertawa
"dih, emang nya mau diapain" kata Amelia
"mau dimakan" ucap Ivan dengan kerlingan mata yang menggoda
"mesum" sahut Amelia kembali memukul pundak Ivan yang tertawa
Ivan kembali menegakan tubuh nya, dia ingin merasakan madu manis dibibir Amelia. Hanya berdua ditepi sungai, ditambah suasana yang dingin dan tenang membuat setan datang untuk meminta nya berbuat lebih.
Namun baru akan mendekatkan tubuh nya sebuah suara mengejutkan mereka berdua
"wahai tuan muda, tolong jangan mencemari sungai !!!!!" teriak Faiz diatas tebing tidak jauh dari tempat Ivan berada
Ivan berdecak kesal dan menatap Amelia yang tertawa namun wajah nya merona karena ketahuan oleh Faiz
"berisik Lo Iz" teriak Ivan pula
"cepetan, yang lain udah pada nunggu" teriak nya lagi sembari berbalik arah meninggalkan Ivan
"ganggu aja" gerutu Ivan
"kayak nya memang kita udah kelamaan deh, yauda yuk" ajak Amelia yang mencoba turun dan dibantu oleh Ivan.
"nanggung kalau gak dilanjutin" ucap Ivan membuat Amelia mengernyit bingung.
Namun belum lagi membuka mulut nya untuk bertanya, Ivan sudah menyambar bibir nya membuat Amelia tertegun dan begitu terkejut
Awal nya dia berontak, namun lama kelamaan dia terbuai dengan ciuman hangat Ivan yang sangat memabukkan.
Lama, hingga Ivan merasa puas dan Amelia yang mulai kehabisan nafas barulah dia melepaskan ciuman nya.
Dia mengusap bibir Amelia yang terlihat memerah karena ulah nya
"terimakasih" ucap nya dengan senyum yang sangat manis membuat Amelia memalingkan wajah nya yang merona
"kamu ih, keterlaluan" dengus Amelia yang sangat malu saat ini. Karena ini kali pertama nya mereka berciuman hingga sangat lama, biasa nya hanya sekilas saja, namun saat ini terasa begitu berbeda, mungkin Ivan khilaf batin nya.
"gak tahan banget liat bibir kamu yang menggoda" kata Ivan terkekeh membuat Amelia langsung memukul pundak nya
"mesum banget" dengus nya
"biarin, mesum sama calon istri sendiri juga" jawab Ivan begitu santai
"yauda sini aku gendong" kata Ivan
"eh jangan, berat tahu, jalan nya juga licin" kata Amelia
"enggak papa, nanti kaki kamu tambah sakit, nanti diatas kita obati, semoga bang Jo bawa kotak obat dimobil nya" kata Ivan
Dan mau tidak mau akhir nya Amelia pun pasrah saat Ivan menggendong nya hingga ketempat dimana teman teman mereka sudah mengumpul
Pandangan mata semua orang menatap sinis Ivan yang terlihat santai saja
"kakak kenapa?" tanya Karina terlihat khawatir saat melihat Amelia yang digendong Ivan
Amelia didudukan Ivan disamping Karina yang langsung menyambut nya
"gak papa kok. Cuma kena duri tadi waktu mau kesungai. Kak Ivan aja yang berlebihan" ucap Amelia
"gue kira kalian hanyut lagi disungai, ternyata sedang menghanyutkan sesuatu rupa nya" sindir Dian membuat Ivan mendengus kesal
"menghanyutkan apa" ketus nya
"menghanyutkan sesuatu yang tertahan" kata Faiz yang menahan tawa nya
__ADS_1
"disungai tu banyak setan nya Van, bisa bahaya lama lama disana" kata Bambang pula
"jangan jangan memang udah kesetanan nih tuan muda, maka nya lama banget disungai, ikan nya sampai udah pada Mateng" sahut Dirga pula
Mereka yang ada disana langsung tertawa melihat wajah kesal Ivan dan apalagi wajah merona Amelia
"sialan kalian. Dah lah, gue mau ganti baju dulu. Bang bawa baju ganti kan dimobil?" tanya Ivan pada Jonathan yang hanya terdiam dan menikmati Snack nya sedari tadi
"hmm" gumam nya
"kamu mau ganti baju juga yank" tanya Ivan pada Amelia yang menggeleng
"Pakaian aku dirumah Karin" jawab Amelia
"dimobil kak Jo juga ada pakaian aku kok kak. kakak pakai aja" sahut Karina
"nah, pas banget, yuk" ajak Ivan dan Amelia langsung mengangguk
"gila ya, memang udah prepare, mau nginap dimana kalian?" tanya Dian usil membuat yang lain tertawa karena nya
"sirik aja lu jomblo. Maka nya cari cewe biar gak ngiri liat kita." seru Ivan yang sudah berjalan menjauh bersama Amelia
"tahu nih bang Dian, cari cewe, umur udah tua" ejek Karina pula yang kini tengah meraih bungkus sambal untuk dimasukan nya kedalam wadah
"si Dian mah cewe aja yang banyak, diseriusin gak juga" sahut Bambang yang baru datang dengan dua ikan yang masih mengepul asap nya
"belum waktu nya bang. Mau cari yang kayak si Amel gue" gelak nya membuat Faiz langsung memukul kepala nya dan Dirga tertawa melihat itu
"tampang lu begitu, mau dapet yang kayak bule, mimpi lu" kata Faiz membuat Dirga kembali terbahak begitu pula Karina dan Bambang
"operasi plastik dulu sono ke Korea" kata Bambang pula
"iya, maka nya gue mau kumpulin duit dulu ini" sahut nya terdengar serius
"parah lu, kalau tahu Ivan bisa dibejek lu, dia posesif banget jadi lakik" kata Dirga yang telah menikmati ikan nya
"lah kan gue mau cari cewe yang kayak Amelia, bukan Amelia nya" jawab Dian sembari meraih gitar nya
"udah ah berisik, nih pada makan. Selagi masih hangat" kata Karina sembari menyerahkan beberapa piring sambal dan minuman kearah tiga pria itu.
"ah, terimakasih nyonya" ucap Dirga menyambut nya dengan senang hati
"wah, udah ganti gelar ya Rin" goda Dian membuat Karina terkekeh
"kak Dirga aja yang berlebihan" sahut Karina yang kini tengah mengambilkan makanan untuk Jonathan yang memandang aneh makanan itu
"yuk kak" aja Karina menatap Jonathan yang tersenyum getir, dia melirik Dirga sejenak, membuat asisten nya itu tergelak, begitu pula dengan Faiz yang tahu bagaimana selera Jonathan, lelaki yang penuh dengan kesempurnaan itu pasti geli makan ditempat seperti ini
Bambang dan Dian memandang Jonathan dengan bingung
"Bersih kok tuan muda, Aman , ini ikan lele yang banyak nutrisi nya" ungkap Dirga dan kali ini Karina yang tertawa sembari menepuk dahi nya sekilas
"ayo cobain dulu, tuan muda Jonathan, buka mulut nya" ucap Karina mengarahkan secuil potongan itu pada Jonathan
"tapi" ucap nya ragu, namun melihat wajah Karina dia menjadi tidak enak untuk menolak nya, meski pun dia benar benar ragu untuk memakan nya
Jonathan pun membuka perlahan mulut nya dan menerima suapan dari tangan Karina yang memandang nya dengan penuh senyuman
"enak kan, sesekali harus coba makan ditengah sawah, kenikmatan nya lebih berasa" ungkap Karina
Dan tidak lama kemudian Ivan dan Amel sudah tiba disana dengan pakaian yang telah berganti
"wah, enak nih, perut gue laper banget" kata Ivan yang langsung mengambil seekor ikan dan sepiring sambal dan membawa nya disebuah tempat duduk dibawah pondok
"sini yang" ajak nya pada Amel yang sudah meraih botol minum nya dan duduk bersama Ivan meleseh dibawah
"nah, cobain deh" kata Ivan menyuapkan secuil ikan kedalam mulut Amelia yang menerima nya dengan senang hati
Semua orang menatap mereka tidak berkedip dan beralih menatap Jonathan yang masih enggan makan jika tidak dari tangan Karina
"kenapa kalian?" tanya Ivan menatap Bambang, Dian, Faiz dan Dirga yang masih memperhatikan mereka
"kalian itu sama, tapi kenapa beda banget ya" gumam Dian terdengar ambigu, dia masih menatap Ivan yang makan dengan lahap bersama Amel
"kenapa?" tanya Ivan bingung
"kita lupa kalau ada tuan muda yang sungguh nya disini Van" jawab Bambang tergelak, membuat Jonathan juga ikut tersenyum canggung
"maaf, tapi aku memang belum pernah makan seperti ini" jawab Jonathan
Ivan langsung tertawa melihat nya
"yaelah, ya jangan disamain gue sama Abang gue dong. Selera kami beda. Dia mah makan nya keju, gue singkong" ungkap Ivan membuat mereka semua tertawa lucu
"astaga, sakit perut gue ketawa mulu" sahut Dirga
"Karena Karin orang desa, jadi mulai sekarang kakak harus terbiasa oke, kak Amel aja bisa kok. Ayo lagi" ucap Karina yang kembali menyuapkan makanan pada Jonathan yang hanya pasrah saja. Padahal sungguh, disaat mereka semua makan dengan lahap, dia sama sekali tidak berselera. Dan tentu saja itu membuat Ivan dan yang lain nya kembali tertawa melihat wajah frustasi Jonathan.
__ADS_1