
Sebulan berlalu tanpa terasa, hari hari yang dijalani Ivan dan Amelia semakin hari semakin terasa bermakna. Apalagi dengan kehadiran calon buah hati mereka. Meski sampai hari ini Amelia masih sering mual dan muntah. Apalagi jika mencium bau menyengat, seperti masakan ataupun parfum yang dikenakan Ivan.
Sesekali dia juga sudah mulai mengidam yang terkadang membuat Ivan kebingungan. Saat ini mereka masih ada dirumah orang tua Ivan. Karena Delisha dan Maxwel yang tidak memperbolehkan mereka untuk pindah rumah. Apalagi dengan keadaan Amel yang masih lemah, bahkan dia sering pingsan karena jarang makan. Tidak ada yang mengurus nya disaat Ivan bekerja, jadi Delisha dan Maxwel meminta Amel dan Ivan untuk tinggal bersama mereka dulu. Sedangkan Jonathan dan Karina sudah dua hari ini pindah kerumah baru mereka.
Rumah yang terletak masih satu komplek dengan ruang utama. Hanya berbeda dua rumah saja. Jadi setiap Jonathan bekerja Karina tetap datang untuk menemani Amel dan mama mertuanya..
Sebenarnya Delisha juga meminta Jonathan dan Karina untuk tinggal dulu bersama mereka. Namun mereka menolak dengan alasan rumah yang sudah siap huni, dan tentunya ingin mandiri. Dan Delisha tidak bisa melarang nya. Meskipun setiap hari dia masih bisa bertemu dengan mereka.
Pagi ini seperti biasa Amel kembali muntah muntah. Wajahnya begitu pucat dan lesu. Bahkan tubuh Amel sudah menyusut drastis. Dan tentu itu membuat Ivan selalu tidak tega melihat istrinya ini tersiksa setiap hari karena mengandung anak mereka.
"Baring dulu sayang" pinta Ivan yang langsung merebahkan tubuh Amel diatas ranjang.
"Kamu sih, udah dibilangin jangan pakai parfum. Gak ngerti juga" gerutu Amel dengan mata yang terpejam seraya mengusap keningnya
"Aku gak pakai parfum sayang. Mungkin ini pewangi yang dipake bibi. Jadi bau nya agak lain" ungkap Ivan
"Pusing banget" rengek Amel dengan bibir yang menahan tangis.
Ivan yang tidak memakai baju, hanya mengenakan kaus singlet saja langsung naik keatas tempat tidur dan menarik Amel kedalam rengkuhan nya. Dia mengusap perut Amel dengan lembut dan menciumi pucuk kepala istrinya itu
Sejak hamil, Amel benar benar sensitif. Dia juga mudah menangis dan sering pingsan. Sungguh, tidak ada hal yang membuat Ivan khawatir selain ini. Dia bahkan sering berangkat kekantor agak siang karena harus mengurus Amel terlebih dahulu. Dia tidak bisa cuti terlalu sering, karena Faiz sudah cuti, tiga hari lagi adalah hari pernikahan nya.
"Anak ayah, gak boleh nakal ya sayang. Kasihan bunda nya sakit terus, gak bisa makan, gak bisa capek. Kamu baik baik ya nak. Jangan buat bunda susah" ucap Ivan seraya terus mengusap perut Amel
Amel tersenyum dan memandang wajah Ivan. Usapan tangan Ivan diperutnya selalu mampu membuat Amel jauh merasa lebih baik. Apalagi melihat senyum teduh itu, yah Amel begitu beruntung Ivan sangat sabar menghadapi kehamilan nya kali ini. Walau terkadang Amel juga tidak tahu kenapa dia bisa sensitif sekali bahkan mudah menangis.
"Makasih udah jadi suami yang selalu sabar sayang" ucap Amel
Ivan tersenyum dan mencium dahi Amel begitu lama dan sangat dalam
"Apa yang aku lakuin gak sebanding dengan kamu yang tersiksa setiap hari karena mengandung anak kita. Kamu harus tetap sehat dan kuat" pinta Ivan
__ADS_1
Amel tersenyum dan mengangguk. Dia langsung memeluk Ivan dan menenggelamkan kepala nya kedada bidang itu
"Maaf, kalau aku ngerepotin terus" ucap Amel
"Enggak, kamu gak pernah ngerepotin. Aku seneng bisa jadi suami dan calon ayah yang siaga. Walaupun gak bisa ada disisi kamu dua puluh empat jam" jawab Ivan
"Gak apa apa. aku ngerti. Ada mama yang nemenin aku" jawab Amel
"Besok kita periksa kandungan kan?" tanya Ivan dan Amel hanya mengangguk saja. Dia masih begitu menikmati harum aroma maskulin dari tubuh Ivan yang begitu menenangkan.
Hingga tidak lama kemudian, pintu terdengar diketuk dan Ivan langsung menyerukan suara nya
Delisha masuk dengan sebuah nampan ditangan nya. Dia tersenyum memandang Ivan dan Amel yang masih ada ditempat tidur. Amel masih bersandar didada Ivan. Kepala nya masih pusing meski sudah lebih baik
"Muntah lagi nak?" tanya Delisha
"Iya ma. Bau parfum aku katanya" adu Ivan
"Ivan gak pakek parfum kok" sahut Ivan
"Tapi wanginya gak enak dipakaian kamu yang" sahut Amel yang mulai menegakkan kepala nya dengan sedikit ringisan diwajahnya
"Mungkin pewangi pakaian nya gak sih ma" tanya Ivan
"Mungkin, nanti mama suruh bibi untuk ganti ya. Ini sekarang kamu minum dulu, biar kurang mual nya" Delisha menyerahkan segelas teh hijau dengan sedikit perasan jeruk lemon pada Amel
Ivan membantu Amel untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang
Wajahnya meringis, karena sungguh dia benar benar mabuk dan sangat pusing. Apalagi dipagi hari seperti ini. Benar benar sangat menyiksa, namun dia tetap harus menikmati nya. Demi buah cinta mereka
Ivan membantu Amel untuk minum. Sedikit demi sedikit, teh hangat itu mampu membuat tenggorokan nya yang pedih jauh lebih baik
__ADS_1
"Mama kayak gini juga gak sih waktu hamil dulu. Ivan gak tega banget lihat Amel" tanya Ivan memandang Delisha yang tersenyum
"Mama juga mual dan muntah, tapi gak setiap pagi. Hanya sesekali kalau lagi cium bau masakan bibi aja. Gak separah Amel" jawab Delisha
"Kok bisa beda" tanya Ivan
"Setiap orang beda beda nak. Ada yang sama sekali gak ngerasain apa apa. Dan ada juga yang sampai di infus. Kamu harus tetap sabar, istri kamu sangat butuh kamu saat ini" ujar Delisha
"Kak Ivan selalu ada kok ma. Bahkan kalau malem dia jarang tidur nyenyak karena Amel yang sering mual" sahut Amel
"Enggak apa apa sayang. Itu memang tugas suami. Yang terpenting, kamu jangan stres ya. Kalau mau apa apa bilang mama kalau Ivan lagi gak ada" ujar Delisha
"Iya ma, maaf ya. Amel nyusahin terus" ucap Amel dengan mata yang kembali berkaca kaca
"Sayang, mama gak merasa disusahin. Mama sama papa malah senang banget bisa ngurus kamu. Ini cucu pertama kami, tentu kami bahagia. Jangan berfikiran yang aneh aneh" kata Delisha mengusap kaki Amel
"Sayang, semua sayang kamu. Gak ada yang ngerasa disusahin disini" tambah Ivan pula
Amel tersenyum dan mengangguk. Mata nya semakin berkaca kaca sekarang
"Amel bersyukur banget punya kalian".ungkap nya
"Kami juga bersyukur punya kamu. Kamu harus sehat dan tetap kuat" ujar Delisha
"Mau peluk mama" kata Amel yang sudah menangis sekarang
Ivan tertawa dan langsung turun untuk membiarkan mama nya mendekat kearah Amel
"Oooh anak mama, sini sayang" Delisha langsung memeluk Amel dengan hangat dan erat. Gadis malang yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak kecil. Ibu angkat nya tidak berumur panjang, dan tentu disaat saat seperti ini Amel pasti membutuhkan support sistem dari orang sekitarnya.
Ivan tersenyum haru melihat mama dan istrinya. Dua orang wanita yang paling dia cintai didunia ini.
__ADS_1