Story Of The Twins

Story Of The Twins
Mulai Membaik


__ADS_3

Ivan tertawa pelan saat melihat Jonathan dan Karina masuk kedalam ruangan Amel. Wajah wajah mereka tampak canggung dan malu mendapati Ivan yang sedang memeluk dan mencium Amel. Apalagi Diana dan Karina, mereka begitu terkejut melihat pemandangan itu. Sejak tadi mereka khawatir dengan keadaan Amel, tapi yang terjadi ternyata orang yang mereka khawatirkan sedang melepas rindu saat ini.


Jonathan langsung duduk disofa yang ada diruangan itu, sedangkan Karina dan Diana mendekat kearah Amelia yang masih terbaring diatas ranjang nya. Keadaan nya masih lemah, tapi dia sudah merasa jauh lebih baik. Ivan masih setia duduk disisi ranjang nya, tangan nya masih saja betah menggenggam tangan Amel, seolah mereka memang tidak ingin saling dipisahkan.


"Apa kamu sudah tidak sabar menunggu dua Minggu lagi?" tanya Jonathan memandang Ivan dengan jengah


Ivan menggaruk pelipis nya sekilas dan tersenyum melihat Amel yang tampak begitu malu, apalagi Karina dan Diana yang tersenyum menggoda melihat mereka


"Namanya juga rindu, ya yang" kata Ivan memandang Amelia yang hanya tersenyum tipis


"Ya, tapi kamu juga harus tahu ini rumah sakit. Amel baru sadar tapi kamu sudah menerkam nya begitu" ucap Jonathan lagi


"Mana ada begitu, sembarangan aja kalau ngomong. Aku juga tahu. Cuma kelepasan dikit" jawab Ivan dengan tawa kecil.


Dia kembali menoleh pada Amel dan mengusap punggung tangan gadis itu. Wajah Amel masih pucat, matanya juga masih memerah karena menangis. Tapi Ivan begitu bersyukur dia sudah sadar. Pun Amelia juga tidak terlalu perduli dengan mereka yang melihat adegan tadi, dia hanya senang saat ini Ivan nya sudah kembali, Ivan nya tidak pergi meninggalkan dia.


Rasa takut kehilangan membuat Amel tidak berdaya. Rasa cinta yang terlalu besar membuat nya seperti kehilangan nyawa ketika mendengar kabar jatuh nya pesawat yang membawa Ivan. Tapi sekarang, Ivan nya ada disini. Ivan nya telah kembali, dan dia masih bisa melewati waktu bersama nya lagi.


"Kak Ivan, lain kali sempetin ngasih kabar. Kami semua cemas. Lihat kak Amel sampai begini" gerutu Karina yang duduk dikursi disamping ranjang Amel. Sedangkan Diana berdiri dibelakang nya.


Ivan yang duduk diranjang Amel hanya mengangguk dan mencium punggung tangan Amel. Dia menatap Amel penuh cinta dan rasa bersalah yang besar. Karena dia Amel jadi begini.


"Maafin aku. Disana susah banget sinyal, ponsel aku juga mati. Keadaan genting jadi gak kepikiran akan kayak gini jadinya. Lagi pula aku juga gak nyangka kalau pesawat yang batal kami naiki bakalan jatuh. Bahkan kami tahu sehari sesudah kejadian itu" ungkap Ivan


"Semua orang panik, kami fikir kakak juga jadi korban nya" kata Karina


Ivan tersenyum dan menggeleng


"Tuhan masih kasih aku kesempatan hidup. Makanya siang itu ada kendala yang buat aku gak jadi terbang. Kalau gak, mungkin kita beneran gak ketemu" jawab Ivan menatap sendu Amelia


"Jangan dong" lirih Amelia, mata nya berkaca kaca kembali. Sungguh hati nya tidak sanggup jika mengingat dua hari itu. Serasa dia dihantam sesuatu yang tak kasat mata yang membuat nya tidak tahu harus berbuat apa. Dia seperti kehilangan nyawa mendengar kabar buruk itu


Ivan tersenyum dan mengusap wajah Amel. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana jadinya jika dia memang naik pesawat itu kemarin. Amelia nya pasti begitu terpuruk, mungkin juga tidak akan bangun lagi


"Aku gak akan pergi, aku kan masih mau nikah sama kamu" jawab Ivan


"Janji ya" pinta Amelia


"Janji sayang" jawab Ivan begitu lembut


Jonathan hanya tersenyum ditempat nya. Meski kesal karena Ivan membuat heboh satu Indonesia, tapi dia sangat bersyukur karena ternyata Ivan masih ada. Masih bisa berkumpul bersama mereka dan masih bisa membuat senyum disetiap orang yang ada didekat nya. Ya, jika dia tidak ada, Jonathan tidak tahu bagaimana hari hari kedepan nya tanpa sosok itu, sosok yang selalu membuat mereka tersenyum dengan segala tingkah dan kekonyolan nya.


"Iya kak, kakak harus cepat sembuh. Banyak hal yang belum kalian lakuin. Fitting baju belum, lihat dekorasi juga belum. Waktu nya gak sampai dua Minggu lagi" ungkap Karina


"Iya" jawab Amel


"Baju Bridesmaids kami juga belum siap nona. Kami juga sudah tidak sabar memakai nya" sahut Diana pula.


Amelia tersenyum dan mengangguk antusias, meski mata nya masih saja berkaca kaca. Entah bagaimana jadi nya jika Ivan tidak kembali. Persiapan pernikahan yang sudah hampir rampung, bahkan undangan juga sudah mulai tersebar. Dia bisa benar benar mati jika sampai Ivan tidak kembali


"Eh iya. Kenapa kalian cepat banget pulang honeymoon?" tanya Ivan pada Karina


Namun Jonathan yang tampak mendengus kesal


"Kakak hampir aja buat pesawat kami yang jatuh semalam" bisik Karina


"Kenapa?" tanya Ivan balas berbisik pula


" Kak Jo nyuruh pramugari yang ada dipesawat, minta supaya pesawat itu lebih cepat terbang. Dia benar benar panik" adu Karina dengan wajah yang cukup serius. Ivan langsung menyemburkan tawanya mendengar itu. Separah itu memang Abang nya. Astaga, bisa bisa nya hanya karena mengkhawatirkan dirinya dia berbuat hal yang konyol


"Kariin" panggil Jonathan pada Karina yang langsung terkekeh pelan memandang suami nya


"Segitunya Lo bang. Untung tu pesawat gak main meluncur aja" sahut Ivan. Amelia langsung mencubit lengan nya sedangkan Diana tampak menahan tawa sejak tadi

__ADS_1


"Ini semua gara gara kamu. Membuat acara honeymoon ku jadi berantakan" dengus Jonathan


"Hehe ya maaf. Aku juga gak tahu bakal begini jadinya" jawab Ivan


"Yasudah, kan masih ada waktu, pergi aja lagi" ujar Ivan


"Mana seru lagi kak. Aneh deh. Lebih baik nemeni kak Amel sama mama buat nyiapin pernikahan kalian" sahut Karina


"Gagal dong gue punya keponakan" kata Ivan


"Kamu kira cuma diParis yang bisa buat. Dirumah juga bisa" sahut Jonathan


"Oh iya juga. Tutor nanti ya bang" kata Ivan pada Jonathan yang mendengus


Amel dan Karina memandang Ivan dengan jengah. Sementara Diana hanya diam karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Enak banget tutor tutor. Dikira buat adonan kue" sahut Karina dengan ketus


Ivan dan Jonathan langsung tertawa mendengar nya. Terkadang Ivan memang suka keterlaluan. Padahal tadi dia masih menangis bersama Amel, tapi sekarang sudah ada lagi saja kelakuan nya yang membuat kesal.


"Aku gak ngerti deh apa yang dibicarain orang dewasa ini" gumam Diana


"Gak usah didengarkan Di. Otak kamu bisa terkontaminasi nanti" sahut Karina


"Iya, mending kamu telpon Faiz aja suruh kemari" ujar Ivan


"Kak Faiz?" tanya Diana lagi


Ivan langsung mengangguk


"Iya, ponsel ku dimobil. Telponin ya, takut dia nyariin" jawab Ivan


"Oh iya tuan, baik" sahut Diana dengan cepat.


Jonathan beranjak dari duduknya dan mendekat kearah Karina yang langsung menatap nya.


"Aku mau keperusahaan, kamu mau disini atau pulang?" tanya Jonathan


"Cepet banget bang?" tanya Ivan


"Ada yang harus aku urus, lagi pula kamu juga pasti ingin melanjutkan yang tadi kan" jawab Jonathan membuat Ivan langsung tertawa dan mengangguk


"Tahu aja" jawab nya membuat Amelia langsung melebarkan matanya


"Karin pulang aja deh kak. Kasihan mama sama Bu Sari gak ada temen nya" jawab Karina


"Yasudah ayo" ajak Jonathan


"Gak papa ya kak aku tinggal" kini Karina beralih pada Amelia yang mengangguk


"Gak papa Rin. Aku juga udah baik baik aja. Ada Diana disini" jawab Amel seraya menoleh pada Diana yang mengangguk


"Yasudah, kalau gitu kami pamit dulu. Nanti kalau ada apa apa kabari ya" ujar Karian


"Siap nona" jawab Diana


Karina bersama Jonathan pun kembali kerumah utama. Delisha belum terlalu sehat, meski keadaan nya sudah membaik. Tapi sebagai menantu pertama Karina ingin menemani mama mertua nya itu. Lagi pula disana masih ada ibu Sari dan pak Tarman. Jadi mau tidak mau dia harus tetap pulang supaya ada yang menemani mereka.


Sedangkan Diana kini sudah duduk disofa. Dia membiarkan Ivan dan Amelia berdua. Ya, lagi lagi dia harus menjadi saksi mata kemesraan dua orang yang terkadang tidak tahu tempat itu. Dia begitu berharap Faiz cepat datang agar matanya tidak lebih lama ternodai.


"Udah dikabarin Faiz Di?" tanya Ivan


"Udah tuan, sebentar lagi dia kemari" jawab Diana

__ADS_1


"Oh oke. Kalau gitu sekalian bilangin bawa sarapan kesini" kata Ivan lagi


"Biar saya aja yang beli tuan" kata Diana


"Beneran" tanya Ivan dan Diana langsung mengangguk. Lebih baik dia keluar dari pada melihat mereka berdua didalam sini. Membuat hati dan mata nya terus meronta saja


"Yasudah, nih uang nya" kata Ivan sembari mengeluarkan dompet dari dalam jaket nya. Memberikan beberapa lembar uang merah pada Diana yang sedikit terkejut


"Banyak banget tuan" kata Diana


"Sekalian buat kamu" jawab Ivan yang kembali memasukkan dompet nya kedalam jaket.


Diana hanya mengangguk dan langsung pergi keluar. Meninggalkan Ivan dan Amelia berdua saja didalam ruangan itu.


Dan tidak lama kemudian, seorang perawat masuk kedalam ruangan itu. Dia tampak membawa troli berisi sarapan dan obat untuk Amelia


"Permisi tuan, sarapan dan obat untuk nona" ucap perawat cantik itu sembari meletakkan semangkuk bubur dan segelas air putih diatas meja, dan juga beberapa pil didalam wadah kecil


"Terimakasih" jawab Ivan


Perawat itu tersenyum simpul dan akhirnya bergegas keluar. Tidak berani berlama lama, karena tahu siapa Ivan


"Makan ya" kata Ivan pada Amelia


"Aku gak laper, pengen tidur" jawab Amel . Dia memang masih lemas, bahkan yang biasanya cerewet kini lebih banyak diam.


"Iya makan sedikit, minum obat, baru tidur" kata Ivan


"Sini aku bantu. Aku yakin kamu pasti gak makan dua hari ini. Aku gak suka kamu kurus" ucap Ivan sembari membantu Amel duduk menyandar diranjang nya


"Pusing?" tanya Ivan saat melihat Amel yang terpejam dan sedikit meringis saat tubuh nya diangkat Ivan


"He'em" gumam Amel


Ivan mengusap wajah Amelia, membenarkan rambut nya yang sedikit berantakan.


Mengecup hangat kening Amel dan tersenyum melihat nya. Amelia langsung tersenyum memandang wajah Ivan. Wajah yang selalu ingin dia lihat setiap harinya


"Makan dulu, biar cepat sehat" kata Ivan. Dia meraih mangkuk bubur Amel dan mencoba mendinginkan nya sebentar


"Kalau aku kurus apa aku jelek?" tanya Amelia


Ivan tersenyum dan menggeleng


"Bukan jelek,.kamu mau gimana pun tetap cantik. Cuma kalau kamu kurus, gak enak lagi dicium" jawab Ivan membuat Amel langsung mendengus senyum


"Ayo buka mulut nya" pinta Ivan sembari menyodorkan sesuap bubur itu pada Amel


"Padahal aku belum cuci muka dan gosok gigi" gumam Amel


"Gak papa. Masih wangi. Kan tadi udah aku cicipi" goda Ivan


"Sayang" rengek Amel seraya membuka mulut nya


Ivan terkekeh dan mengusap lembut kepala Amel


"Nanti kalau udah enakan baru bersih bersih. Kak Indah pulang sebentar lihat anaknya. Nanti kalau dia udah kemari kamu bisa mandi sama dia, atau mau sama suster aja?" tanya Ivan pula


"Nunggu kak Indah aja. Gak enak sama orang lain" jawab Amel


"Kalau mau sama aku juga gak apa apa" sahut Ivan. Amel langsung memukul lengan Ivan dengan lemah


"Itu memang maunya kamu. Modus" ucap Amelia. Wajahnya mulai merona kembali. Dan Ivan sangat senang melihat itu

__ADS_1


__ADS_2