Story Of The Twins

Story Of The Twins
Rencana Masa Depan


__ADS_3

Pagi ini Ivan sudah rapi dengan setelan santai nya, namun tetap saja dia masih terlihat tampan dan mempesona.


Saat ini Ivan dan keluarga nya sedang sarapan bersama dimeja makan, dan setelah ini Ivan akan pergi kekampung dimana tempat dia besar dan tumbuh dewasa.


"kamu jadi pergi kekampung Van?" tanya Maxwel disela sela sarapan mereka


"jadi pa, sesudah ini Ivan berangkat" jawab Ivan


"diantar Roy? atau pergi sendiri?" tanya Maxwel lagi


"sendiri saja, lagi pula Ivan baru akan pulang hari Minggu nanti" jawab Ivan


"oke, hati hati, dan salam pada bapak dan ibumu" ucap Maxwel


"oke" jawab Ivan


"kamu ada rencana apa Jo, tidak ikut Ivan?" tanya Maxel yang kali ini menatap Jonathan yang masih asik memakan sandwich nya.


Jonathan langsung menggeleng pelan


"no, Jo dirumah saja" jawab nya singkat


"kau ingin mengintai gadis itu HM?" tanya Maxwel yang langsung membuat Ivan hampir tersedak dan terkekeh menatap Jonathan yang terlihat tak bereaksi, hanya mata nya yang mengerjap pelan


"tidak" jawab nya lagi


"dia tidak akan lari, kau tak perlu risau sehingga meminta rekaman cctv pada Wira" ucap Maxwel membuat Jonathan langsung meringis dan sedikit berdehem, dia terlihat canggung saat ini karena ketahuan telah meminta rekaman cctv perusahaan pada Wira yang bertugas disana, dan Wira adalah teman satu kampus nya dahulu.


Ivan kembali menahan tawa nya dengan beralih pura pura minum susu nya, sedangkan Delisha hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya melihat kelakuan anak dan suami nya itu


"kau juga, kalian sama saja, bisa bisa nya mengintai anak gadis orang diam diam" kali ini Maxwel berucap pada Ivan yang langsung tersedak susu nya


"pelan pelan sayang" kata Delisha menatap Ivan yang langsung tersenyum lebar namun begitu canggung


"ti tidak" kilah Ivan


"kau kira papa tidak tahu jika kau juga memasang kamera pengintai dibutik nya" kata Maxwel menatap kedua anak nya dengan kesal


Ivan dan Jonathan langsung saling pandang, Ivan langsung menggaruk tengkuk nya dan Jonathan menggaruk pelipis nya


"bagaimana papa bisa tahu" gumam Ivan membuat Maxwel langsung mendengus

__ADS_1


"kau lupa siapa papa" sahut Maxwel membuat Ivan langsung menenggak Saliva nya


"apa kalian tidak bisa menahan untuk beberapa Minggu lagi?" tanya Maxwel , Ivan dan Jonathan langsung menggeleng lemah


Delisha lagi lagi tersenyum dan menggeleng lucu


"kalian benar benar" gumam Maxwel frustasi sbari memijat pelipis nya


"papa hanya melarang kami untuk tidak menemui mereka, jadi kami fikir, tidak apa apa kan jika kami hanya melihat mereka" ungkap Ivan dan Jonathan langsung mengangguk setuju


"kami rindu pa" gumam Ivan begitu pelan


Maxwel menghela nafas lelah


"tiga tahun, dan selama itu kalian masih mengharapkan mereka?" tanya Maxwel serius


"tentu saja" jawab Ivan dan Jonathan bersamaan


"apa kalian yakin mereka masih menunggu kalian?" tanya Maxwel lagi


"yakin" jawab mereka lagi


"menikah" Jawab mereka dengan bagitu yakin


Maxwel dan Delisha langsung terkesiap dan saling pandang


"kalian benar benar gila" gumam Maxwel


"kalian serius sayang?" tanya Delisha pula


"ma, pa. Kami sudah dewasa, bukan waktu nya untuk bermain main lagi" jawab Jonathan terdengar begitu serius


"ya, bukan kah mereka juga sudah menunjukan jika mereka pantas menjadi menantu dikeluarga ini" ucap Ivan pula


Delisha menatap Maxwel dengan tatapan penuh arti dan mengangguk dengan senyum teduh nya. Membuat Maxwel kembali menghela nafas nya


"baiklah, kalian boleh menemui mereka, tapi untuk menikah, papa minta untuk terlebih dahulu kalian menunjukan kemampuan kalian diperusahaan, setidak nya sampai tahun depan" ungkap Maxwel membuat Ivan dan Jonathan langsung tersenyum


"benarkah pa?" tanya Ivan penuh semangat


"ya, kau bisa menemui nya saat acara penghargaan desainer dihotel Ague seminggu lagi" jawab Maxwel membuat Ivan langsung mengangguk

__ADS_1


"kenapa tidak hari ini saja" ucap nya pula membuat Maxwel ingin sekali menjitak kepala nya


"hei, kau sudah dikasih hati malah meminta jantung" kata Maxwel kesal, namun Ivan dan yang lain malah tertawa mendengar nya


"hehe, maaf pa, Ivan hanya tidak sabar" jawab Ivan


"gadis mu itu mengikuti ajang itu disana, kau bisa memberikan kejutan nanti nya" jawab Maxwel membuat Ivan langsung mengangguk setuju


Dan kali ini Maxwel langsung menatap pada Jonathan yang berwajah datar itu


"dan untuk mu, kau bisa menemui nya pada rapat besar perusahaan pusat yang akan diadakan seminggu lagi juga. Semua petinggi dan kepala staf dihadirkan disana, dan untuk saat ini kau jangan menganggu nya karena dia sedang fokus untuk merekap hasil pendapatan perusahaan setahun ini" ungkap Maxwel pada Jonathan yang hanya mengangguk


"kenapa papa bisa tahu begitu detail tentang mereka?" tanya Ivan begitu penasaran, untuk Karina mungkin karena gadis itu bekerja disana, tapi Amelia, Ivan rasa tidak ada sangkut paut nya dengan Maxwel


Maxwel mendengus senyum mendengar pertanyaan Ivan


"papa tidak mungkin salah memilih menantu, kita bukan orang biasa, dan papa tidak ingin kalian mendapatkan gadis yang tidak benar benar tulus pada kalian, papa tidak ingin mendapatkan menantu yang hanya melihat visual dan harta kalian saja" jawab Maxwel


"dan mereka sudah membuktikan nya bukan" ucap Jonathan dan Maxwel langsung mengangguk


"ya, tiga tahun, dan mereka berhasil membuktikan jika mereka mampu dan layak menjadi bagian dari keluarga kita, ya, meski harus diancam terlebih dahulu" ucap Maxwel sembari terkekeh dan Delisha juga ikut tertawa kecil, sementara Jonathan dan Ivan langsung mendengus


"papa" gumam Ivan


"ini juga untuk kebaikan kalian nak, papa hanya ingin yang terbaik, dan lihat, gadis gadis kesayangan kalian berhasil meraih mimpi mereka bukan" ucap Delisha membuat Jonathan dan Ivan langsung mengangguk setuju


Dan memang benar, mereka begitu bangga melihat pencapaian gadis gadis mereka. Ternyata bukan hanya mereka yang berjuang siang dan malam dinegeri orang demi membuat orang tua mereka bangga. Tapi gadis mereka juga berjuang disini, merubah diri mereka menjadi lebih baik dan lebih berkelas lagi.


Akhir nya setelah selesai membahas tentang masa depan mereka. Ivan pamit untuk pergi kekampung nya. Dia sudah rindu dengan bapak dan ibu nya disana. Tiga tahun tidak bertemu dengan dua orang yang paling berjasa dalam hidup nya itu membuat nya benar benar rindu.


Meski kehidupan nya sudah berubah, namun tetap saja, masa masa susah saat dikampung dulu tidak akan pernah dia lupakan.


Ivan pergi dengan mobil nya dan membawa banyak buah tangan titipan Delisha yang dibawa nya untuk bapak dan ibu nya, dan juga beberapa oleh oleh dari Amerika.


Mobil sport mewah nya melaju pesat membelah jalan raya disiang hari itu. Jalanan yang sudah tiga tahun terakhir tidak pernah dilalui nya.


...


*next...


jangan lupa tinggalin jejak ya guys*

__ADS_1


__ADS_2