Story Of The Twins

Story Of The Twins
Jalan Jalan Sore


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore, terik matahari juga sudah pudar digantikan oleh Sepoi angin yang melambai menyapu kawasan perkampungan yang tenang dan damai itu.


Saat ini Ivan telah berada dirumah pak Tarman. Setelah puas bercengkrama dengan Bambang dan meninjau ruko milik nya, dia pulang kerumah itu untuk beristirahat.


Tidak banyak yang dilakukan nya, setelah makan dan mandi, kini dia masih asik mengobrol bersama ibu dan bapak nya, sembari menunggu kedatangan rombongan Jonathan yang sebentar lagi tiba dirumah itu.


"jadi koe mau lanjut kuliah di Amerika Van?" tanya pak Tarman setelah Ivan berkata untuk melanjutkan kuliah nya diluar negeri


"iya pak, papa nyuruh Ivan sama bang Jo lanjut disana" jawab Ivan sembari mencomot kue buatan Sari diatas meja


"walah, jauh tenan ya Van, kayak apa lah Amerika itu ya" gumam Sari dengan mata berbinar membuat Ivan tertawa lucu


"Ivan juga gak tau Bu,mudah mudahan cocok disana, orang bule semua Bu, mana bahasa Ivan masih belepotan" gurau nya membuat Sari dan pak Tarman tertawa lucu


"nanti lama kelamaan pasti terbiasa nak" sahut pak Tarman dan Ivan langsung mengangguk.


"assalamualaikum" teriak seorang gadis didepan pintu membuat Sari beranjak dari duduk nya dan melihat siapa yang datang.


"paling juga Karin dan bang Jo" ucap Ivan yang masih asik dengan makanan nya


"tau aja koe " jawab pak Tarman membuat Ivan langsung tertawa


Dan benar saja tidak lama kemudian Sari datang membawa tiga orang yang mereka tunggu sedari tadi.


pak Tarman langsung berdiri menyambut Jonathan yang datang dan langsung menyalami nya


"bagaimana kabar bapak?" tanya Jonathan


"bapak sehat nak Jo" jawab Pak Tarman menatap kagum pada kembaran Ivan ini. rupa mereka memang sama, tapi pembawaan mereka sungguh sangat jauh berbeda


"bapak" sapa Karin dengan ramah nya


"nak Karin, makin cantik aja ini" sahut pak Tarman


"hehe, bapak bisa aja" jawab Karin tertawa lucu, Jonathan hanya tersenyum melihat kekasih nya itu, sementara Ivan masih diam dan tersenyum menatap Amel yang kelihatan canggung berada diantara mereka


"loh ini siapa, cantik nya kok kayak boneka to" kata pak Tarman menatap Amelia yang tersenyum canggung


"iya kan pak, cantik tenan" timpal Sari pula membuat Amel langsung salah tingkah


"Amel pak" jawab Amel memperkenalkan diri nya pada pak Tarman


"Amel juga temen Ivan pak" kata Ivan pula membuat pak Tarman menganggukan Kepala nya


"temen mu, atau pacar" goda Sari membuat Ivan dan Karin langsung tertawa


"cocok kan mereka Bu" sahut Karin, dan Sari langsung mengangguk cepat


"cocok kok, ini baru pas. cantik sama ganteng, kaya kamu sama nak Jo, cocok" jawab Sari pula


Ivan dan Amel saling pandang dan tertawa masam.


"ish, udahlah, kami mau main dulu Bu, keliling kampung, Amel kepengen liat sawah kata nya" ucap Ivan dan Amel langsung mengangguk


"loh, gak minum minum dulu, baru juga Sampek mereka nya Van" jawab Sari


"kami udah makan tadi dirumah Bu, jadi udah kenyang kok" balas Karin


"yauda, tapi nanti malam makan disini ya, kata nya besok kalian mau pulang kan. biar ibu masak banyak" kata Sari lagi


"ngerepoti dong kami bu" jawab Karin sedangkan Jonathan masih berdiri dengan tangan yang dimasukan kedalam saku jaket nya dan Amel masih diam sesekali memperhatikan Ivan yang sibuk mencari sesuatu diatas sofa, ponsel nya mungkin


"gak lah , udah pokok nya kalian makan disini nanti malem, ya nak Jo, nak Amel" kata Sari menatap Jonathan dan Amelia yang langsung mengangguk setuju


"iya Bu" jawab Jonathan singkat

__ADS_1


"ah, ini dia. yauda yuk, ntar keburu sore" kata Ivan langsung setelah berhasil menemukan ponsel nya


"pamit dulu pak Bu" seru Ivan yang langsung menarik lengan Amelia yang terkejut karena perlakuan Ivan, Dia hanya tersenyum canggung menatap sekilas pada pak Tarman dan Sari yang geleng geleng kepala melihat kelakuan bar bar anak yang sudah diasuh nya sedari bayi itu.


"kami permisi pak Bu" pamit Jonathan yang diikuti oleh Karina


"iya nak, hati hati" jawab pak Tarman


"muka nya sama tapi kok kelakuan nya beda tenan ya pak e" gumam Sari masih menatap punggung Jonathan yang hampir keluar pintu rumah


"iya Bu, bapak juga bingung" balas pak Tarman.


....


Kini keempat pemuda itu berjalan beriringan menyusuri jalanan yang membelah kampung itu. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, karena area persawahan memang tidak begitu jauh dari sana.


Amel dan Ivan berjalan mendahului Karina dan Jonathan yang berada dibelakang mereka. Semua warga yang bertemu dengan mereka memandang kagum kedua pasangan itu. Bagaimana tidak, paras dan penampilan mereka benar benar mencolok diarea perkampungan itu, apalagi Amel yang kini hanya mengenakan t-shirt putih dipadukan dengan celana pendek diatas lutut nya hingga menampakan kaki bening nya dan sneakers putih yang melengkapi penampilan nya. Rambut ikal nya yang pirang diikat asal keatas hingga membuat penampilan nya kini terlihat semakin imut.


Ivan hanya mengenakan kaus oblong dan celana jeans pendek serta sneakers putih, mereka terlihat cocok Dimata semua orang.


Sedangkan Karina, saat ini mengenakan dress pendek bermotif bunga serta rambut hitam yang dibiarkan tergerai indah. Jonathan sama dengan Ivan, hanya saja dia melengkapi penampilan nya dengan jaket denim yang menutupi tubuh gagah nya, juga sneakers abu abu nya yang membuat nya terlihat mempesona.


Amelia begitu asik menikmati suasana sore hari dikampung itu, benar benar sejuk dan begitu damai.


Mata nya terus mengedar mengawasi setiap pergerakan para penduduk yang masih sibuk dikebun mereka.


Saat ini mereka sudah memasuki area persawahan, melewati jalanan berbatu yang terlihat meliuk membatasi setiap petak sawah milik para warga.


"wow, indah banget ini" seru Amelia menatap takjub area persawahan yang berperak petak bahkan sejauh mata memandang hanya diisi oleh persawahan yang saling dibatasi oleh irigrasi buatan penduduk, juga satu sungai berbatu yang tak jauh dari sana.


Ivan tersenyum hangat melihat antusias Amelia, bahkan dapat dia lihat Amelia tersenyum lepas saat ini


"kamu kelihatan senang banget Mel" kata Ivan sembari berjalan dibelakang Amelia. Gadis itu langsung tertawa mendengar penuturan Ivan.


"hehe, aku berlebihan ya kak. tapi memang bagus banget ini tempat nya. Lihat tuh pemandangan nya disana, indah banget" tunjuk Amel pada sawah yang masih menghijau dengan petakan yang bertingkat tingkat, bahkan gunung yang menjulang tinggi itu menambah kesan menakjubkan Dimata setiap orang yang memandang, terlebih bagi Amelia, yang notabene nya memang gadis dari kota yang jarang bahkan tidak pernah kedesa sebelum nya


Deg


deg


deg


mata Amel mengerjap hebat, saat tatapan hangat manik coklat itu menatap mata nya, membuat degupan jantung nya yang tiba tiba saja menjadi tidak normal.


Ivan tertawa melihat wajah terkejut Amel yang langsung melepaskan pelukan Ivan dengan wajah yang merona merah.


"haha, kamu ini baru juga digombalin dikit udah langsung meleng" kata Ivan tertawa hingga membuat Amel mendengus kesal dan memalingkan wajah nya.


"kakak ih, gombal gak pada tempat nya" dengus Amel mengerucutkan bibir nya kesal, namun Ivan malah semakin terbahak, entah kenapa dia suka sekali menggoda gadis itu, melihat wajah kesal dan merona nya, dan tanpa Amel tahu, jika ada perasaan aneh dihati Ivan, setiap kali dia melihat senyum imut Amelia.


"lah, udah pas tempat nya, kan kamu tempat aku ngeluarin gombalan" jawab Ivan terkekeh


Amel langsung memukul keras dada Ivan membuat pemuda itu meringis seiring tawa nya yang juga tidak berhenti


Dia mendekat kan wajah nya pada Amel yang mulai melangkah mundur


"kamu terlalu menarik, kayak boneka Barbie, jadi pengen aku goda terus" bisik nya ditelinga Amel yang terpaku sejenak dengan wajah yang semakin semerah tomat


Ivan langsung tertawa melihat reaksi Amel


"hahaha, tuh kan udah kayak udang rebus wajah nya, jelek banget. maka nya jomblo terus" ejek nya, membuat Amel melebarkan mata nya


"kakak!!!!" teriak nya kesal


Ivan langsung berlari meninggalkan Amel yang terlihat begitu kesal, dia tertawa keras, apalagi saat Amel terlihat mengejar nya dengan begitu kepayahan.

__ADS_1


"kakak, jahat banget deh" teriak nya lagi


"aku kan jujur, kamu jelek, apalagi begitu, wk" ejek nya dari kejauhan


"kakak juga jelek, maka nya gak laku laku, dasar jones" teriak nya pula , namun malah semakin membuat Ivan tertawa lucu.


Mereka seperti melupakan dua orang yang sejak tadi mengamati mereka dari jauh, dan juga beberapa petani yang ada disana.


Karina dan Jonathan berjalan perlahan sembari bergandengan tangan menyelusuri jalanan setapak itu.


Mereka memilih berjalan agak jauh dari Ivan dan Amel sembari menikmati waktu berdua menikmati alam perkampungan yang begitu menenangkan


"mereka cocok kan, tapi kenapa gak jadian sih, padahal udah lama mereka deket" kata Karina, Jonathan langsung melirik nya sekilas dengan senyum nya yang menawan


"Ivan masih belum bisa mengartikan perasaan nya sayang, tapi aku yakin suatu saat mereka pasti bersama" jawab Jonathan menatap Ivan dan Amelia yang masih berkejaran mengitari area persawahan itu dengan gelak tawa mereka


"iya kak, mudah mudahan, kasian kak Amel, kayak nya dia memang udah jatuh cinta sama kak Ivan" balas Karina


"bagaimana dengan kamu?" tanya Jonathan, membuat Karin mengernyit tak mengerti, mereka langsung menghentikan langkah mereka dan saling berpandangan


"aku, kenapa?" tanya Karina


"kamu dulu dekat dengan Ivan bukan, apa kamu tidak punya perasaan pada nya, wajah kami sama" ungkap Jonathan serius, namun Karin malah tertawa mendengar nya, membuat Jonathan mengernyitkan alis nya.


"walau wajah kakak dan kak Ivan sama, tapi sejak pertama kali aku bertemu kakak, aku tahu tatapan itu bukan punya kak Ivan, dan tatapan itu yang bisa buat jantung aku berdebar debar. Beda sewaktu aku dekat sama kak Ivan, aku gak ada rasa apapun saat dekat dengan dia, dia cuma aku anggap sebagai teman sekaligus kakak ku, karena dia baik dan gak aneh aneh" jawab Karina yang kini berjalan perlahan diikuti oleh Jonathan


"benarkah itu?" tanya Jonathan


"kakak gak percaya sama aku?" tanya Karin menatap lekat wajah tampan berkharisma milik Jonathan yang selalu dalam mode serius itu


"aku hanya takut, takut cintamu terbagi" jawab nya pasti membuat Karina langsung tersenyum manis, senyum yang mampu melelehkan manusia sedingin es seperti Jonathan


"cuma ada kakak dihati aku. apalagi yang aku cari, kakak udah terlalu sempurna untuk seorang gadis kampung seperti aku" ungkap Karina dan kini Jonathan lah yang tersenyum dengan hangat, hingga mampu membuat jantung Karina selalu berdesir hebat setiap kali melihat senyum yang jarang keluar itu.


"kamu memang gadis kampung, tapi gadis inilah yang bisa membuat aku jatuh cinta untuk pertama kali nya" jawab Jonathan sembari mengusap lembut pucuk kepala gadis itu, hingga membuat Karina merona wajah nya


"kakak ih, udah pinter ngegombal ya" jawab nya sembari memalingkan wajah nya membuat Jonathan terkekeh pelan,


"belajar dari Ivan" kekeh nya, hingga membuat Karina juga ikut terbahak.


Mereka kembali menyusuri jalanan setapak yang membelah perbatasan sawah dari petak satu kepetak yang lain nya sembari bergandengan mesra. Menghabiskan waktu waktu terakhir bersama sebelum Jonathan melanjutkan pendidikan nya ke Amerika.


Sesekali mereka disapa oleh para petani yang berada disana, dan Karina membalas nya dengan ramah, sedangkan Jonathan hanya tersenyum tipis.


"waahh, nak Ivan, nak Karin, mau kemana to??" tanya seorang ibu yang masih asik berada dipinggir sawah untuk mencari siput sawah.


"mau jalan jalan aja Bu" jawab Karina ramah, dia mendekat kearah wanita paruh baya yang berada dipinggir sawah, dan mau tidak mau Jonathan pun mengikuti nya


"ibu cari siput ya" tanya Karina melihat ember yang dipegang wanita itu sudah terisi separuh.


"iya nak, lumayan buat dijual. kalian baru Dateng ya, makin cantik kamu, nak Ivan juga makin kasep" kata wanita itu pula


Karina langsung tertawa mendengar nya,


"ini bukan kak Ivan Bu, ini kak Jonathan, kembaran nya kak Ivan" jelas Karina membuat wanita itu terkesiap dan tertawa malu


"Oalah, ibu kira nak Ivan, pantesan kok dieman" jawab nya,dan Jonathan hanya tersenyum tipis melihat wanita yang separuh tubuh nya telah tertutup lumpur itu


"hehe, wajah aja yang sama tapi sifat nya beda Bu" jelas Karina lagi


"haha, iya nak. maaf ya, ibu gak bisa bedain" kata wanita itu


"tidak apa apa Bu" jawab Jonathan singkat


mereka kembali berjalan menyusul Amelia dan Ivan yang sudah menjauh dan hampir tiba dipondok dimana tempat yang mereka tuju berada.

__ADS_1


Mereka akan menghabiskan waktu sore mereka bersama ditempat itu.


__ADS_2