Story Of The Twins

Story Of The Twins
Ternyata Sayang Dan Takut Kehilangan


__ADS_3

Ivan berdiri mematung melihat mama nya yang terbaring diatas tempat tidur. Delisha memiringkan tubuhnya kesamping dan membelakangi Ivan. Sehingga dia tidak tahu jika Ivan ada didalam kamar itu.


"Mama" panggil Ivan dengan pelan. Dia berjalan dan mendekat kearah mama nya. Duduk disisi tempat tidur dan mengusap pundak Delisha dengan lembut


Delisha menoleh, menatap Ivan dengan pandangan begitu kosong. Wajah yang biasanya terlihat begitu anggun dan cantik itu kini nampak tua dan lemah. Tidak ada lagi cahaya diwajah cantik mama nya, sangat jauh berbeda saat Ivan meninggalkan nya seminggu yang lalu


"Ivan...." lirih Delisha, suara nya terdengar begitu serak


Ivan mengangguk, mata nya berkaca kaca. Dia benar benar sedih melihat mama nya seperti ini. Ya Tuhan, dia sudah menjadi anak durhaka yang membiarkan kedua orang tua nya terpuruk karena kelalaian nya yang tidak memberi kabar


"Ini benar kamu nak" tanya Delisha lagi. Ivan membantu Delisha bangun dari tidur nya. Dia mengusap wajah Delisha yang sudah menangis


"Iya ma, Ini Ivan. Ivan masih hidup. Maafin Ivan" ucap Ivan yang langsung memeluk mama nya dengan erat


Delisha menangis meraung, dia serasa seperti mimpi, atau bahkan dia memang sedang bermimpi saat ini?


"Mama tidak bermimpi kan sayang. Kamu masih ada kan? kamu tidak pergi meninggalkan mama kan nak" kata Delisha begitu menggebu. Dia menangkup wajah Ivan dan memandangi nya dengan lekat. Mengusap dan meraba wajah tampan itu dengan tangan yang bergetar hebat. Ini anak nya, ini Ivan nya. Benarkan ini? Ya Tuhan Delisha merasa tidak percaya


Ivan mengangguk mata nya mulai membendung air, dia benar benar tidak tega melihat Delisha yang seperti ini


"Ini Ivan ma, Ivan gak akan pergi ninggalin mama. Maafin Ivan" ucap Ivan yang menangis merasa begitu bersalah


"Ivan, ya Allah kamu pulang nak. Mas Ini benar kan mas. Ini Ivan mas?" kali ini Delisha beralih pada suami nya.


Maxwel langsung mengangguk dan mendekat kearah mereka. Dia duduk didepan Ivan, tepat disamping Delisha


Delisha kembali menangis dan menciumi seluruh wajah Ivan. Dia benar benar bahagia, rasa takut, rasa sakit dan rasa kehilangan yang membuat nya seperti bermimpi.


"Sayang, kamu pulang nak. Kamu pulang" Delisha memeluk Ivan dengan erat. Seolah tidak membiarkan Ivan pergi lagi. Rasanya dia benar benar tidak bisa hidup jika Ivan benar benar tiada


"Kamu kenapa pergi, kamu kenapa gak pulang. Mama kira kamu jadi korban pesawat itu. Semua orang bilang kamu udah gak ada. Mama takut nak, mama takut sekali" ungkap Delisha menangis begitu bahagia dalam pelukan Ivan


Ivan mengusap pundak mamanya dengan penuh rasa bersalah. Dia tidak tahu jika akan begini jadinya.


"Maaf ma. Ivan batal pulang siang itu. Disana gak ada sinyal untuk menghubungi orang disini. Ponsel Ivan juga mati" jawab Ivan merasa bersalah


Maxwel mengusap air matanya dan tersenyum menatap Ivan


Dia juga mengusap pundak Delisha yang masih betah memeluk Ivan


"Papa bersyukur kamu tidak jadi pulang nak. Kami benar benar terpukul mendengar kabar pesawat jatuh, dan nama kamu juga ada dalam daftar korban. Bahkan om Rico juga sudah kesana mencari kamu dan Faiz" ungkap Maxwel

__ADS_1


Ivan mengusap air mata nya, namun dia masih memeluk Delisha yang tidak ingin melepaskan Ivan saat ini


"Om Rico kesana?" tanya Ivan tak percaya


Maxwel mengangguk


"Ya, kami semua tidak terima kamu pergi dengan cara begitu. Jadi untuk memastikan nya om Rico kesana bersama Jhon dan yang lain. Tapi semua mayat tidak ada yang utuh sehingga apa yang dicari tidak ditemukan" jawab Maxwel


Ivan mendengus, antara lucu dan juga merasa bersalah


"Gimana mau ketemu, Ivan kan masih ada, masih hidup. Lagian kenapa juga om Rico gak ke proyek" sahut Ivan


Maxwel mengusap kepala Ivan dengan gemas


"Mana dia tahu kamu masih hidup. Nama kamu masih tercantum didaftar penumpang. Sudah jelas seharusnya kamu naik pesawat itu kan. Lalu kenapa bisa nama kalian ada disana tapi kalian malah tidak pulang?" tanya Maxwel


Delisha melepaskan pelukan nya dan memandang wajah Ivan begitu lekat


Ivan tersenyum dan meraih tangan Delisha dengan lembut


"Ini Ivan ma, bukan hantu" ucap Ivan sebelum Delisha bertanya yang aneh aneh


"Mama tahu sayang, mama tahu. Mama juga ingin tahu kenapa kamu bisa tidak pulang?" ucap Delisha membuat Ivan langsung tertawa kecil begitu pula dengan Maxwel


Delisha mengusap wajah Ivan dan tersenyum dengan lembut penuh rasa syukur


"Allah masih baik hati untuk gak biarin kamu pergi nak. Mama bener bener gak tahu gimana kalau kamu pergi. Mama takut banget" ucap Delisha


"Iya ma. Ivan juga bersyukur masih dikasih kesempatan hidup dan berkumpul lagi disini" jawab Ivan. Delisha kembali memeluk Ivan dengan penuh haru. Sungguh dua hari semalam adalah hari terburuk untuk nya. Dia sudah sering merasa kehilangan, tapi lagi lagi Tuhan masih berbaik hati dengan memulangkan apa yang membuat nya bahagia. Dulu dia berpisah dengan Ivan hampir sembilan belas tahun, berpisah dengan Maxwel satu tahun lebih, namun semua kembali lagi padanya. Dan dia benar benar bersyukur untuk itu.


"Maafin Ivan pa, ma. Ivan gak tahu kalau keadaan nya buat papa dan mama begini" ucap Ivan


"Kamu putera kami nak. Jelas kami tidak akan bisa melihat kamu pergi, apalagi mendengar kabar kamu yang menjadi korban kecelakaan pesawat itu. Tentu kami begitu terpukul." ungkap Maxwel


"Ivan jadi tahu kalau papa dan mama sesayang itu sama Ivan" kata Ivan dengan tawa kecil nya namun dengan mata yang berkaca kaca


Delisha kembali memeluk Ivan, dan Maxwel juga memeluk mereka berdua. Saling memeluk penuh rasa sayang dan cinta.


"Bagaimana mungkin kamu bisa berfikir begitu hmm,.kamu nyawa mama sayang. Mama tidak akan sanggup kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya" ucap Delisha


"Jangan pernah berfikir jika kami tidak menyayangi kamu" sahut Maxwel pula

__ADS_1


Ivan tersenyum dan mengangguk. Dia memeluk kedua orang tua nya penuh rindu dan sayang. Sungguh betapa beruntung nya dia memiliki orang tua yang begitu hebat dan sangat menyayanginya. Bahkan dia bisa melihat Maxwel yang kaku bisa menangis karena dia. Ah Ivan benar benar bahagia.


brak


Suara pintu yang terbuka dengan paksa membuat mereka langsung melepaskan pelukan mereka. Menatap kearah pintu dimana Jonathan berdiri dengan wajah terperangah nya. Namun sedetik kemudian dia terlihat mendengus dan menatap Ivan dengan wajah penuh kesal


"Bang" sapa Ivan dengan senyum canggung nya. Seperti nya dia akan terkena masalah setelah ini. Dan benar saja, tanpa memperdulikan orang tua nya Jonathan langsung berjalan dengan cepat kearah Ivan. Dia menarik Ivan dengan kasar hingga membuat Ivan langsung berdiri dari tempat tidur. Delisha dan Maxwel memandang heran Jonathan


"Kurang ajar, berani berani nya kamu mempermainkan kami ha" bentak Jonathan dengan wajah marah dan kesal


"A... aku ... aku gak bermaksud begitu" jawab Ivan memundurkan sedikit tubuhnya. jika sudah begini siapa yang berani melawan Jonathan


"Kamu tidak tahu kami semua khawatir. Kamu tidak tahu kami begitu takut. Kami juga merasa ingin mati mendengar kabar kecelakaan itu Van" seru Jonathan dengan nafas yang menggebu


"Ma maaf" gumam Ivan


Jonathan mendengus, namun sedetik kemudian dia langsung menarik bahu Ivan dan memeluk nya dengan erat.


Delisha dan Maxwel langsung tersenyum penuh haru, mereka tahu Jonathan juga sangat takut kehilangan Ivan


Mata Ivan terbuka lebar, tubuh nya mematung mendapat pelukan Jonathan. Setakut inikah pria es ini kehilangan dia?


"Sekali lagi kamu menghilang tidak ada kabar, aku benar benar akan mencekik mu Van" ucap Jonathan. Dia kesal, tapi dia begitu lega melihat Ivan yang ternyata masih hidup dan masih ada bersama mereka.


Dia mendengar ribut ribut didepan rumah, dia yang tidak tidur langsung terbangun dan mencari tahu apa yang terjadi. Dan dia begitu terkejut karena para penjaga bilang jika Ivan telah kembali. Sehingga dia langsung datang kekamar orang tua nya. Dan benar saja dia melihat Ivan ada disini. Ivan baik baik saja. Dan kabar yang mereka dapatkan ternyata hanyalah seperti mimpi buruk dimalam hari


Ivan tersenyum penuh haru. Dia langsung membalas pelukan Jonathan. Abangnya yang kaku dan dingin ini benar benar membuatnya ingin menangis. Ya Tuhan, betapa bersyukurnya dia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, yang begitu takut kehilangan dia. Dan Ivan berjanji, dia tidak akan pernah mengecewakan orang orang ini.


"Maaf. Aku gak bermaksud buat kalian khawatir. Tapi dengan begini aku tahu kalau Abang ku yang kaku dan datar ini benar benar takut kehilangan adik kayak aku" ungkap Ivan dengan tawa kecilnya


Maxwel langsung terkekeh mendengar nya. Ivan memang selalu bisa membuat suasana rumah ramai, dan bagaimana mungkin mereka tidak akan kehilangan dia yang seperti ini.


Jonathan langsung mendengus dan memukul bahu Ivan dengan kesal


"Kamu memang keterlaluan. Suka sekali membuat orang jantungan" sahut Jonathan


Ivan tertawa dan kembali duduk disebelah Delisha. Dia memeluk mama nya kembali seolah ingin mengatakan jika semua nya sudah baik baik saja..Dia ada dan dia masih hidup. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan nya lagi.


Dan malam yang hampir pagi itu mereka habiskan dengan penuh rasa syukur yang begitu mendalam. Meski hampir satu kota heboh, tapi tidak akan menjadi masalah bagi Maxwel dan keluarga nya, yang terpenting Ivan kembali pada mereka saat ini.


Ivan benar benar sangat terharu melihat keluarga nya yang seperti ini.Ternyata dibalik sifat datar dan acuh mereka, mereka begitu menyayangi nya, dan tentu saja itu hal yang luar biasa.

__ADS_1


Delisha sudah jelas, karena dia ibu nya. Dan tiba tiba saja Ivan teringat Amelia. Kesayangan nya itu, apa dia juga menangisi nya? Apa Amelia juga merasa kehilangan? Dia adalah orang yang paling mengerti Ivan dan begitu mencintai Ivan, jelas dia lebih terluka kan?


"Amel, bagaimana dengan dia?" tanya Ivan tiba tiba


__ADS_2