
Hari yang ditunggu tunggu telah tiba. Pagi ini semua orang telah begitu sibuk mempersiapkan diri mereka masing masing untuk menghadiri acara pernikahan Ivan dan Amelia.
Seluruh keluarga Maxwel Alexander telah berada disebuah resort tepi pantai yang akan menjadi saksi bisu janji suci ikatan pernikahan Ivan dan Amelia.
Mereka semua tampak begitu sibuk mempersiapkan diri masing masing untuk acara siang nanti. Seluruh kerabat dekat maupun jauh sudah berkumpul diresort mewah itu.
Resort yang sudah dedesain sedemikian rupa sehingga menampilkan kesan epik dan sangat berkelas.
Ivan sedang berada diruang hias nya, dia sedang mengganti pakaian pengantin nya saat ini. Berdiri didepan cermin dan memandangi dirinya yang sedang diberikan sedikit sentuhan makeup oleh seorang perias handal.
Ada rasa gugup yang tidak terhingga saat ini. Setiap detik yang terlewati sungguh mampu membuat jantung nya berdetak tidak menentu. Sebentar lagi status nya akan berubah. Dia bukan lagi seorang anak remaja yang dipenuhi oleh cita cita dan impian. Bukan lagi seorang pemuda yang mengejar cinta seorang gadis. Tapi sekarang, dia adalah seorang lelaki yang akan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Membangun keluarga nya sendiri dan mempertahankan cinta yang telah tersedia dihatinya.
Rasa bahagia yang tidak terhingga membuat nya tidak sabar untuk mengucapkan ikrar suci itu. Menjadikan kekasih hatinya sebagai ratu dihidupnya. Ya, Ivan begitu tidak sabar. Meski rasa gugup yang mendera membuat nya berkali kali menarik nafasnya dalam dalam.
Penantian nya, rasa rindu dan sakit yang pernah dia rasakan, sebentar lagi akan berakhir. Semoga dia bisa menjadi seorang kepala keluarga yang bisa membahagiakan keluarga kecil nya nanti.
Pakaian putih yang membalut tubuh nya tampak membuat nya kelihatan begitu gagah dan berseri. Pesona nya sebagai tuan muda Alexander begitu terpancar sempurna, membuat siapapun yang melihat pasti akan terpesona.
Ivan tersenyum saat mua selesai merias nya. Dia kembali memandang penampilan nya dicermin. Pakaian pengantin yang dikenakan nya sekarang semakin membuat nya bertambah gugup. Semoga saja dia bisa mengucapkan ijab Kabul nanti dengan baik dan lancar. Dia tidak ingin mengecewakan Amelia nya. Calon istri yang sudah seminggu ini tidak dia temui.
"Gugup sayang?" pertanyaan Delisha membuat Ivan sedikit terkesiap.
Ivan langsung berbalik badan dan memandang mamanya yang sudah tampak begitu cantik dan anggun dengan kebaya putih silver nya yang tampak begitu elegan.
"Gugup banget ma" jawab Ivan
Delisha tersenyum sembari membenarkan jas putih Ivan.
"Relaks, bawa tenang. Ini yang terakhir, sesudah itu kamu menjadi pemilik dia seutuhnya." kata Delisha memandang Ivan dengan tatapan haru dan bahagia. Anak yang baru beberapa tahun ini bersama nya, kini harus kembali berpisah. Meskipun tetap akan bertemu, tapi tetap saja sebagai orang tua Delisha pasti akan merasa haru dan sedih.
"Doakan Ivan ya ma" pinta Ivan
"Doa mama selalu menyertai kamu nak" jawab Delisha
"Setelah ini, jadilah suami yang baik untuk istri kamu. Kamu harus bisa menjadi kepala keluarga yang baik, yang adil dan selalu menjaga cinta kalian hingga akhir waktu" kata Delisha
Ivan langsung mengangguk dan tersenyum
"Tentu ma. Ivan tidak akan mengecewakan mama dengan pilihan Ivan" jawab Ivan begitu yakin
"Rasanya baru kemarin kita berkumpul, tapi sekarang mama sudah melihat kamu menikah. Rasa nya waktu terlalu cepat berlalu" kata Delisha dengan mata yang berkaca kaca
Ivan langsung memeluk Delisha dengan lembut. Dia tersenyum dan ingin menangis rasanya. Meski dia tidak dirawat sejak kecil, tapi kasih sayang mama dan papa nya begitu melekat dihati Ivan
"Jangan bersedih, walaupun Ivan sudah menikah, tapi Ivan akan tetap menjadi anak mama yang paling manis" ucap Ivan
Delisha langsung tertawa dan mengusap punggung kekar Ivan
"Ehemm" deheman seseorang langsung membuat Ivan dan Delisha melepaskan pelukan mereka
__ADS_1
"Papa" sapa Ivan
Maxwel masuk keruangan itu bersama dengan Jonathan. Mereka sudah begitu rapi dengan pakaian mereka masing masing.
Maxwel memandang Ivan dengan bangga dan tentu nya juga haru.
"Kenapa malah bersedih disini?" tanya Maxwel pada Ivan dan Delisha, sedangkan Jonathan hanya memandang Ivan dengan senyum tipis nya. Jika begini dia jadi ingat bagaimana dia sewaktu menikah kemarin. Ivan pasti sedang gugup sekarang, sangat terlihat dari wajahnya.
"Siapa yang sedih, orang lagi minta doa restu kok" ucap Ivan
Maxwel dan Delisha langsung tertawa mendengar nya. Wajah Ivan begitu tegang, dan mereka tahu jika putera nya ini sedang gugup dan tidak tenang.
Maxwel menepuk bahu Ivan dengan pelan, seolah dia sedang memberikan energi positif nya pada anak lelaki nya ini
"Sudah siap?" tanya Maxwel
Ivan menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya dengan cepat. Mengangguk yakin meski wajah nya semakin tegang
"Siap" jawab Ivan
"Lalu kenapa tegang begitu?" tanya Jonathan dengan senyum mengejek nya
Ivan langsung mendengus dan melengos, dia duduk dikursi rias nya dengan wajah yang tampak memucat
"Kayak gak tahu aja deh bang. Tahu juga orang gugup" gerutu Ivan. Jonathan langsung tertawa kecil mendengar nya. Delisha segera mengusap bahu Ivan. Melihat Ivan yang seperti ini dia sebenarnya cukup khawatir
Ivan hanya mengangguk dan menghela nafasnya perlahan
"Ingat, tiga kali gagal mengucapkan itu, pernikahan kamu tidak akan jadi hari ini" goda Jonathan lagi
"Mana ada begitu" sahut Ivan
"Tapi akan sangat memalukan jika kamu tidak bisa mengucapkan nya dalam sekali saja. Seorang CEO perusahaan pusat gagal ijab kabul, memalukan bukan" kata Jonathan lagi.
"Bang, Abang tu buat aku makin gugup aja deh" seru Ivan kesal namun Jonathan malah tertawa lucu.
"Joo...." panggil Delisha memandang Jonathan dengan gelengan kepala nya
"Tenang lah, nanti ketika melihat Amelia rasa gugupnya pasti hilang" ucap Jonathan
"Emang begitu?" tanya Ivan dan Jonathan langsung mengangguk yakin
"Papa juga gitu dulu?" kini Ivan beralih pada Maxwel yang tampak canggung dan memandang Delisha yang mendengus pelan
"Entahlah, papa tetap saja gugup walau sudah melihat mama" jawab Maxwel membuat Delisha langsung melebarkan matanya, Sementara Jonathan semakin tertawa, pria kaku ini terlihat hangat hari ini
"Papa bukan nya nenangin malah nambahin anak gugup, gimana sih" Delisha terlihat berdecak kesal melihat Maxwel yang tertawa canggung
Sementara Ivan semakin merasa gugup sekarang.
__ADS_1
...
Sementara diruangan Amelia, dia juga baru saja selesai dirias oleh MUA nya. Penampilan nya benar benar cantik dan tampak berbeda.
Kebaya putih senada dengan pakaian Ivan tampak membalut tubuh mungil nya yang ramping. Siger dikepala nya menambah kesan anggun dan cantiknya.
Siang ini mereka akan melaksanan acara akad nikah terlebih dahulu, dan dilaksanakan diresort itu juga. Dan sore nanti barulah acara resepsi pesta akan diadakan ditepi pantai.
Amelia berdiri mematung memandangi penampilan nya yang terlihat berbeda. Dia tersenyum tipis dan begitu haru. Akhirnya setelah sekian tahun dia berusaha, penantian nya tidak sia sia. Dia bisa memakai pakaian ini, dia akan menikah dengan Ivan nya.
Pernikahan yang akan mengikat hubungan mereka berdua.
Rasa sakit, penolakan, rindu yang berkepanjangan, dan penantian, akhirnya terbayar lunas sekarang.
Bukan hal yang mudah untuk Amel bisa sampai ketahap ini. Dia sudah jatuh cinta pada Ivan sejak pertama kali bertemu dulu. Dia bahkan tidak pernah menyangka jika akhirnya dia bisa sampai ditahap ini. Dulu cinta nya yang bertepuk sebelah tangan karena Ivan menyukai Karina. Dulu dia hanya menjadi obat dari rasa sakit Ivan tanpa balasan cinta dari lelaki itu. Dia hanya bisa menjadi pengagum rahasia nya. Hingga akhirnya waktu menjawab semua nya. Ivan perlahan bisa mulai luluh dan membalas cinta nya. Penantian yang panjang dan ada usaha yang harus menjatuhkan air mata dan keringat untuk bisa bersanding disamping Ivan. Semua nya terasa begitu sakit dan sangat sulit. Tapi sekarang, semua perjuangan nya telah selesai. Dia hanya tinggal menunggu satu langkah lagi, dan Ivan akan menjadi milik nya seutuhnya.
"Cantik banget adik ipar aku" ucap Karina tiba tiba yang baru masuk keruangan itu bersama dengan Diana. Mereka juga sudah cantik dan anggun dengan kebaya putih silver nya
"Iya dong, aku juga gak mau kalah dari kakak ipar aku kemarin" balas Amelia dengan tawa kecilnya
Karina dan Diana langsung mendekat kearah Amel. Memperhatikan wajah Amel yang berseri seri. Sungguh dia benar benar sangat berbeda dengan kebaya dan siger ini
"Gak gugup nona?" tanya Diana memandang Amel yang masih memperhatikan penampilan nya dicermin
"Gugup banget pun Di. Gak sabar, tapi juga takut" jawab Amelia
Karina langsung mengusap lembut lengan Amel
"Tenang, gugup nya cuma sebentar kok. Nanti kalau udah selesai ijab pasti udah lega" sahut Karina
Amelia langsung mengangguk dan tersenyum. Dia menarik nafas nya dalam dalam. Gugup tentu saja, tapi rasa bahagianya benar benar terasa. Apalagi jika mengingat kejadian kemarin. Dia takut sekali tidak bisa memakai pakaian ini bersama Ivan. Tapi ada satu hal yang membuat kebahagiaan nya tidak sempurna, sehingga senyum nya tiba tiba meluntur
"Tapi kenapa masih sedih aja sih?" tanya Diana
"Sedih?" gumam Karina pula
Amelia kini menoleh pada Karin dan Diana bergantian. Dia menggeleng pelan dan duduk dikursi rias nya
"Aku sedih, rasa nya ngiri banget liat anak perempuan yang menikah didampingi orang tua. Sementara aku enggak" jawab Amel dengan mata yang berkaca kaca
Karina dan Diana langsung saling pandang iba mendengar nya. Mereka tahu jika Amel hanya anak angkat dikeluarkan Andrean. Dan tentu dia tidak memiliki orang tua yang akan menikahkan nya nanti. Andrean sibuk menerima tamu diluar, sedangkan Indah, pasti sibuk dengan anak nya dan masalah yang lain.
Karina mengusap bahu Amel kembali, dia tersenyum meski sebenarnya dia juga sedih
"Ada kami. Ada ibu aku, dan ada mama. Semua sayang kamu kak. Jangan ngerasa sendiri ya" ucap Karina
Amelia hanya mengangguk saja seraya mengusap air matanya yang telah menetes. Tidak akan ada yang tahu bagaimana rasa nya jadi dia. Dikucilkan sejak dulu karena hanya anak angkat, dan derajat nya naik karena usaha nya sendiri. Bertemu dengan Ivan adalah anugrah terbesar dihidup Am karena dengan begitu tidak ada lagi yang berani mengusik tentang status nya.
Sakit sekali ketika dihari bahagia dia merasa sendiri. Meski ada orang orang yang menyayanginya, namun tetap saja rasanya pasti berbeda. Tidak ada ibu yang memberinya wejangan, tidak ada ayah yang menyerahkan nya pada suami nya nanti. Semua terasa sakit ketika diingat. Anak terbuang yang mendapatkan pangeran. Sungguh drama yang sangat menggelitik hati.
__ADS_1