
Sore ini setelah selesai mandi dan beristirahat sejenak, Ivan ingin bertamu kerumah Faiz. Dia juga sangat merindukan ibu Faiz yang sangat baik itu.
Hanya mengenakan setelan santai dan sandal jepit, namun pesona nya benar benar menyilaukan pedesaan sore itu.
Jarak rumah Faiz tidak jauh, hanya berjarak beberapa rumah saja. Ivan berjalan kaki kerumah itu dengan senyum yang merekah membalas sapaan seluruh warga yang menyapa nya. Tangan nya menenteng sebuah paper bag untuk ibu Faiz.
Dan tidak lama kemudian Ivan tiba dirumah Faiz, terlihat Faiz sedang duduk diteras rumah bersama ibu nya.
"assalamualaikum Bu" sapa Ivan ramah
"waalaikumsalam, ya Allah nak Ivan" ucap ibu Faiz terkejut
Ivan segera menyalami tangan ibu Faiz dengan lembut, tiga tahun dinegeri orang tidak membuat nya lupa akan tata Krama dan sopan santun yang telah lama dimiliki nya.
"ibu sehat kan?" tanya Ivan
"sehat nak, kamu tambah ganteng, ibu sampek silau ngeliat nya" ungkap Ibu Faiz membuat Ivan dan Faiz langsung tertawa
"jelas Bu, tuan muda Jovankha yang tampan menawan dia sekarang" goda Faiz membuat Ivan dan ibu kembali tertawa
"haha, bisa aja Lo." sahut Ivan
"oh iya Bu, ini ada sedikit oleh oleh" kata Ivan sembari menyerahkan paper bag itu pada ibu Faiz yang menerimanya dengan senang hati
"wah apa ini Van, kamu repot repot segala" tanya ibu Faiz sembari berjalan masuk bersama dua pemuda itu.
Mereka duduk dikursi tamu saat ini
"kemarin sebelum pulang kesini Ivan belikan sesuatu untuk mama dan ibu Sari, dan Ivan ingat ibu, jadi sekalian aja Ivan belikan, untuk oleh oleh" ungkap Ivan
Mata ibu Faiz terbelalak lebar saat membuka sebuah kotak berisi kan sebuah kalung emas putih bermata mutiara kecil yang begitu cantik, surat surat nya juga terlipat rapi disana.
"Ya Allah Van, ini pasti mahal, ibu gak pantes Nerima nya" kata Ibu Faiz begitu terkejut
"gak apa apa Bu, enggak mahal kok, itu memang untuk ibu, kenang kenangan dari Ivan" jawab Ivan dengan senyum nya yang begitu tulus, dia melirik sekilas kearah Faiz yang terlihat berkaca kaca menatap nya
"itu kalung pilihan Faiz Bu" ucap Ivan membuat Faiz langsung terkesiap dan menatap Ivan dengan tatapan penuh arti
"bener Iz" tanya Ibu Faiz menatap anak nya yang mengangguk sendu
"iya Bu, Faiz juga gak nyangka Ivan mau membelikan itu untuk ibu. Awal nya Faiz nemeni Ivan ketoko perhiasan, Faiz lihat kalung ini cantik dan pasti cocok untuk ibu. Tapi Faiz gak punya uang banyak untuk beli nya. Faiz juga gak tahu Ivan beli itu untuk ibu" ungkap Faiz dengan mata yang berkaca kaca
"ya Allah nak" gumam Ibu Faiz juga dengan mata yang berkaca kaca
"gue terimakasih banget Van, gue janji, nanti suatu saat bakalan gue ganti" kata Faiz namun Ivan langsung menggeleng dan tersenyum
"hari ini gue yang belikan buat ibu, anggap aja sebagai kenang kenangan, gak perlu diganti lah, kalau diganti bukan ngasih buat kenang kenangan" dengus Ivan membuat ibu tertawa dan langsung mengusap air mata yang akan menetes diwajah tua nya
"hari ini Ivan yang belikan, tapi suatu saat nanti, Faiz pasti memberi yang lebih banyak lagi buat ibu" ucap Ivan
"terimakasih banyak nak. Kamu memang baik, udah banyak banget barang yang kamu kasih ke ibu" ungkap ibu Faiz
"Ivan kan anak kedua ibu" kata Ivan tertawa membuat ibu juga kembali tertawa
"heh, anak kedua dari Amerika" dengus Faiz
Mereka bersenda gurau bersama disana hingga tanpa terasa hari sudah gelap, barulah Ivan pulang kerumah nya. Ibu Faiz menawari Ivan untuk makan, namun Ivan menolak karena dia sudah berjanji untuk makan malam bersama bapak dan ibu nya. Tapi besok pagi Ivan akan kesini lagi untuk sarapan nasi uduk buatan ibu Faiz yang terkenal enak dan gurih.
....
__ADS_1
Keesokan hari nya...
Setelah selesai sarapan bersama dirumah Faiz, Ivan dan juga Faiz pergi ketoko Bambang dan Dian. Mereka pergi dengan motor Faiz, karena Ivan ingin menikmati suasana di pedesaan yang begitu tenang itu. Tangan nya lagi lagi menenteng paper bag sebagai oleh oleh untuk kedua teman nya itu.
"wah, gila ya, tiga tahun gak ngerasain suasana kayak begini, rasa nya benar benar rindu" ucap Ivan ditengah tengah perjalanan.
Beberapa kali mereka membalas sapaan orang orang yang melintas disana. Bahkan beberapa warga yang tengah menyemai padi pun ikut menyapa Ivan dari kejauhan, membuat pemuda itu hanya melambaikan tangan nya saja.
"iya, rindu banget pun. Apalagi setelah ini kita pasti udah jarang pulang kan Van" sahut Ivan pula
"iya, pergi pagi pulang malem. Ya , pendewasaan yang begitu cepat dan gak terasa" kata Ivan lagi
"hmm, rasa nya baru kemarin kita main bareng, ngamen bareng, nakal nakalan bareng, dan mulai besok, kita udah harus menghadapi tahap kehidupan yang selanjut nya" balas Faiz membuat Ivan langsung mengangguk setuju
"ya, kehidupan yang penuh tanggung jawab" gumam Ivan memandang nanar hamparan sawah yang menghijau seluas mata memandang, dengan background perbukitan yang menjulang tinggi tertutup kabut awan. Lagi lagi dia ingat Amelia, gadis cantik pengisi hati nya yang sangat menyukai tempat ini.
Tidak lama kemudian mereka pun tiba didepan toko yang sudah sangat besar itu. Bahkan sudah bertambah beberapa bangunan lagi disebelah nya.
Ivan turun dari motor nya bersama Faiz. Membuat semua orang yang ada di toko itu menatap heran sekaligus terkejut, karena mereka tahu yang datang adalah Ivan.
"Ivan" seru Dian yang masih memegang sebuah nota ditangan nya
Dia langsung beranjak dari duduk nya dan mendapati Ivan yang langsung tertawa melihat nya.
"wah kangen banget gue, gila gagah bener lu sekarang" kata Dian sembari menepuk bahu Ivan beberapa kali
"Lo juga, makin gemuk aja gue lihat" balas Ivan membuat Dian langsung tertawa mendengar nya
"iya, udah bahagia gue sekarang. Yuk ah masuk, bang Bambang pasti terkejut ngeliat Lo Dateng, dia udah nungguin dari semenjak Faiz pulang" ungkap Dian
"kata nya dia mau nikah" tanya Ivan dan Dian langsung mengangguk
"iya, tapi mungkin gak bisa lama, soal nya hari itu juga kami udah harus pulang ya Iz" ucap Ivan sembari menatap Faiz yang mengangguk
"iya, soal nya Senin, kami udah harus masuk" jawab Faiz pula
"gak apa apa, yang penting kalian udah nongol sebentar" sahut Dian
"mereka berjalan naik kelantai dua dimana tempat Dian dan Bambang beristirahat. Dian langsung membuka pintu dan terlihat Bambang masih sibuk dengan laptop nya, dia masih sibuk mengecek anggaran bulan ini karena sebentar lagi karyawan karyawan nya akan menerima gaji.
"yang mau nikah, masih sibuk aja" tegur Ivan membuat Bambang langsung menoleh kearah pintu setelah sebelum nya seperti tidak mendengar pintu terbuka
"Ivan" seru nya begitu terkejut
Dia langsung beranjak duduk dan merangkul Ivan yang terkekeh
Mereka berpelukan sesaat
"akhir nya Lo Dateng juga, gue kira Lo gak bakalan Dateng" kata Bambang sembari menarik Ivan duduk dikursi mereka diikuti oleh Dian dan Faiz
"gak mungkin lah, tuan muda Ivan kan juga mau melihat hasil investasi nya" goda Faiz membuat mereka tertawa
"ceileh, tuan muda Ivan sekarang ya Iz" timpal Dian pula
"iya, gila banget kan, dulu nya temen ngamen sekarang jadi tuan muda dia" kata Faiz lagi membuta Ivan mendengus senyum
"sialan Lo, panggilan itukan nanti kalau udah kerja. Lagian gue kemari niat nya jumpa kalian kok. Soal pendapatan, udah tiap bulan dikirim ke email gue, kayak siapa aja, padahal gue percaya aja bang" ungkap Ivan menatap Bambang dan Dian yang langsung tertawa
"ya buat menjaga aja Van, takut persahabatan kita hancur gara gara uang, kalau gue laporan tiap bulan kan sama sama enak" ungkap Bambang
__ADS_1
"iya Van, kalau kita sama sama enak, Rezky pasti ngalir terus. Lihat kan sekarang, toko makin besar, terkadang kami kewalahan ngelayani permintaan pembeli, mereka minta stok dalam jumlah banyak, sedangkan terkadang persediaan barang terbatas" jelas Dian pula
"masih ngambil dari kota kan?" tanya Ivan pula
"masih lah, cuma dari sana barang barang kita terpenuhi. Sembako, pupuk sama alat alat kebun lain nya juga banyak peminat nya Van, terkadang kendala nya cuma masalah stok barang aja sih, entah karena mobil yang mengalami masalah dijalan, atau karena suplai barang yang memang gak banyak" jawab Bambang
Ivan langsung mengangguk mendengar nya
"yang terpenting kalian bisa ngehandle nya, kalau kurang mobil kalian bisa beli lagi kan, atau gak, bangun aja gudang buat stok barang lagi" ujar Ivan
"ya, semua udah kami perkirakan kok, keuntungan kita lumayan, dan rasa nya kami Nerima kebanyakan deh Van, seharus nya kan bagi dua penghasilan bersih nya, kan modal dari elo" kata Bambang lagi
"gak masalah lah, kalian yang capek disini, gue udah dapet segitu juga udah lumayan, buat tambahan uang jajan" jawab Ivan terkekeh
"memang terbaik tuan muda kita" kata Dian membuat mereka kembali tertawa
"ah, sampai lupa gue, nih oleh oleh dari Amrik" kata Ivan sembari menyerahkan paper bag ke Bambang dan Faiz
"wih dapet oleh oleh" seru Dian senang
mereka langsung terbelalak dan tersenyum sumringah melihat pemberian Ivan.
Sebuah jam tangan mahal dan tentu nya branded.
"Van, ini pasti mahal kan" kata Bambang
"keren banget ini mah" ucap Dia yang mencoba ditangan nya
"mahal, seharga satu rumah minimalis itu" ungkap Faiz membuat Dian dan Bambang terkaget kaget bukan main
"beneran" tanya mereka serempak
"murah kok, cuma lima belas ribu" jawab Ivan
"Lima belas ribu embah mu, kalian bisa lihat diinternet merek jam itu" kata Faiz lagi membuat Ivan terkekeh dan memukul pundak nya
"lebay deh Iz" dengus Ivan
Dan Dian langsung mengeluarkan ponsel nya, dan mengetik sesuatu disana
"ngapain lu?" tanya Faiz membuat mereka menatap Dian dengan bingung, namun tiba tiba mereka terkesiap bukan main saat Dian berteriak dengan mulut yang menganga lebar
"waaaahhhhhhh!!!!" teriak nya benar benar kuat
"apaan" tanya Bambang kesal
"lihat bang, 150 juta" teriak Faiz lagi, dan Bambang langsung melihat nya dan menatap Ivan dengan ngeri
"beneran Van" tanya Bambang pada Ivan yang tersenyum dan menggeleng
"buat apa ngeliat harga nya sih, dipakai aja lagi, kalau gak mau biar gue bawa balik" kata Ivan
"tahu nih, oleh oleh dari Sultan mah mana ada yang murahan" kata Faiz terkekeh
"gila ya, bener bener seharga satu rumah ini" gumam Bambang
"berasa mau jatoh tangan gue make nya, langsung berat Van" kata Dian pula
Ivan dan Faiz langsung terkekeh mendengar nya
__ADS_1