Story Of The Twins

Story Of The Twins
Ivan Yang Berbeda


__ADS_3

Malam ini Ivan sedang makan bersama pak Tarman dan Sari dimeja makan. Ivan sangat menikmati sajian yang dimasak oleh Sari. Bagaimana tidak, ada sambal petai plus udang, sambal asam durian, bebek panggang dan juga lalapan serta rebusan nya, semua makanan yang jarang didapat Ivan dirumah mewah nya.


"laper Van?" tanya Sari heran melihat Ivan makan dengan begitu lahap


"hehe, iya Bu. lagian ini enak, disana gak jumpa. Ibu tahu aja yang Ivan mau" jawab Ivan sambil terus mengunyah makanan nya


"iya, tapi pelan pelan makan nya. kayak orang gak dikasih makan seminggu Koe. malu sama tampang mu itu" dengus Sari membuat pak Tarman dan Ivan langsung tertawa bersamaan


"assalamualaikum" seru seseorang yang membuat Ivan langsung tersedak makanan nya


"loh nak Faiz, pulang juga to, ayo sini makan sekalian" ajak Pak Tarman pada orang yang tak lain adalah Faiz itu. Dia langsung duduk dikursi sebelah Ivan yang masih menatap nya terkejut setelah sebelum nya memberi salam pada pak Tarman dan Sari .


"aku udah makan sebenar nya pak Bu, tapi kok laper lagi liat makanan disini. hehe. bapak sama ibu sehat kan?" tanya Faiz sembari mengambil nasi kepiring nya tanpa memperdulikan wajah Ivan yang masih dalam keadaan bingung menatap nya


"sehat le, yowes kenyangin makan nya. Ivan aja dari tadi udah nambah tiga kali" jawab Pak Tarman membuat Ivan tersenyum canggung dan kembali melanjutkan makan nya tanpa berani menegur Faiz, dia tahu sahabat nya itu pasti sedang kesal pada nya.


"oh ya pak, didepan ada tamu, dua orang, kata nya suruhan tuan Maxwel" ungkap Faiz lagi membuat pak Tarman dan Sari terkesiap kaget


"kok gak disuruh masuk to Iz" kata Sari yang langsung menyudahi makan nya


"gak mau mereka Bu, masih ngobrol sama pak Tarno juga kayak nya" kata Faiz lagi


"yauda, kalian lanjut aja makan nya, biar bapak sama ibu yang nemui mereka" kata Pak Tarman yang memang sudah tahu alasan orang orang itu datang kerumah nya karena telah diberi tahu Ivan sore tadi.


"iya pak" jawab Faiz dan Ivan hanya mengangguk


Mereka makan dalam diam hingga Ivan dan juga Faiz menyelesaikan makan mereka.


"Lo kok bisa ada disini sih" tanya Ivan yang sedari tadi ingin berkata seperti itu tapi baru keluar sekarang


Faiz hanya menatap tajam Ivan dari atas kebawah membuat Ivan langsung menampar lengan nya


"ngapa Lo liatin gue begitu" tanya Ivan terkekeh


"Lo yang kenapa, pergi kagak ngasi tahu gue, main ngilang gitu aja" dengus Faiz kesal namun Ivan malah tertawa lagi


"kenapa, Lo kecarian ya" goda Ivan membuat Faiz mendengus kembali


"Lo kalau galau jangan gitu amat deh Van, gue tahu Lo sengaja ngindari Jonathan kan" ucap Faiz langsung hingga membuat Ivan menghela nafas nya perlahan


"enggak lah, sok tahu Lo" kata Ivan mengalihkan pandangan nya dari Faiz


"Lo bisa nipuin semua orang, tapi Lo gak bisa nipuin gue Van, gue tahu sifat Lo lebih dari siapapun" kata Faiz serius


"hmh, ya , gue cuma pengen nenangin diri dulu beberapa hari" jawab Ivan pasrah


"terus dengan begitu Lo bisa ngelupain semua nya, dengan Lo pergi semua nya bisa kembali kayak semula lagi. gak bisa Van, Lo bakal pulang kesana juga, dan Lo bakal ketemu dia lagi, Lo gak bisa ngindari semua nya" jawab Faiz yang entah kenapa langsung masuk kedalam lubuk hati Ivan


"gue cuma gak pengen emosi gue keluar gak pada tempat nya, Lo tahu kan gimana sakit hati nya gue, memang bukan salah mereka, salah gue karena gue yang suka sama Karina, gue pergi karena gue pengen nenangin diri sebentar, coba Nerima kenyataan kalo cewe yang gue suka ternyata suka nya sama saudara gue" jelas Ivan


"ya gue tahu Lo patah hati banget, tapi setidak nya Lo gak ninggalin gue sendiri disana" dengus Faiz dan kali ini Ivan malah tertawa


"kan ada temen yang lain Iz, Lo kayak anak kecil deh" kata Ivan sembari membereskan piring piring kotor nya dan meletakan nya diwastafel tak jauh dari sana


"beda Van, walaupun mereka baik sama gue, tapi kalau gak ada lo berasa ada yang kurang, kayak nya berasa gak sepadan aja gabung sama mereka" ungkap Faiz yang juga membantu Ivan membereskan meja makan nya


"jangan gitu lah, kita sama aja kok" jawab Ivan menepuk pundak Faiz


"menurut Lo sama, menurut gue beda. jadi sampai kapan Lo disini?" tanya Faiz


"sampai misi gue selesai" jawab Ivan


"misi apa?" tanya Faiz heran

__ADS_1


"adadeh, nanti Lo tau, yuk kita keluar nemui orang orang itu" ajak Ivan yang langsung berjalan keluar rumah disusul oleh Faiz


Diruang tamu ternyata telah duduk pak Tarno dan bang Roy, orang suruhan Maxwel yang bertugas mengawal Ivan saat dikota.


Ivan dan Faiz duduk dikursi yang kosong disebelah bang Roy yang menyapa nya dengan hormat membuat pak Tarno melirik nya takjub


"jadi pak, apa surat surat nya sudah selesai?" tanya Ivan pada pak Tarno


"sudah Van, ini surat nya" kata pak Tarno sembari menyerahkan sebuah map bewarna merah kedepan Ivan


Ivan langsung mengambil nya dan kemudian menyerahkan nya pada bang Roy


"tolong diperiksa bang" kata Ivan


"siap tuan" jawab bang Roy dengan sigap langsung memeriksa keaslian surat itu


"ini asli tuan, tidak ada yang salah, semua sudah sesuai dengan apa yang anda kabarkan pada saya sore tadi" ungkap Bang Roy menyerahkan kembali map itu pada Ivan


"oke, saya tranfer uang nya sekarang ya pak" kata Ivan langsung mengeluarkan ponsel nya dan mengetikan nominal angka yang akan dikirim nya pada rekening pak Tarno


"sudah pak" kata Ivan sembari menyodorkan ponsel nya untuk memperlihatkan bukti pengiriman nya.


Pak Tarno pun langsung mengangguk senang


"iya, terimakasih banyak ya Van, semoga usaha mu berjalan lancar dan sukses" kata pak Tarno


"Amin , terima kasih banyak pak" jawab Ivan


Setelah selesai dengan surat menyurat nya pak Tarno langsung pamit undur diri, dan kini tinggal Ivan, Faiz , bang Roy dan Pak Tarman duduk diruang tamu itu


"jadi semua barang barang nya akan dibawa langsung dari kota besok tuan, Jhon yang mengatur semua nya" ungkap bang Roy sembari menikmati kopi buatan Sari


"loh, kenapa gak bilang, uang nya kan masih sama ku bang" kata Ivan bingung namun bang Roy malah terkekeh


"jadi kenapa dia ngirim begitu banyak uang coba kalau dia juga yang belanja" gumam Ivan tak habis fikir


"mungkin untuk membeli semua yang ada disini tuan" jawab Roy


"CK, terkadang aku ngerasa ngerih hidup terlalu banyak uang" gumam Ivan membuat bang Roy, Faiz dan pak Tarman ikut tertawa melihat wajah bingung Ivan


...


Keesokan hari nya ...


Pagi ini Ivan dan Faiz akan berangkat menuju ruko yang telah dibeli Ivan itu, mereka pergi menggunakan motor besar Ivan karena sudah siang dan Bambang sudah menghubungi Ivan dari tadi. Ivan bangun kesiangan karena tidur terlalu larut malam akibat saling curhat bersama Faiz.


Ivan memarkirkan motor nya didepan ruko disambut oleh Bambang dan Dian, disana juga sudah ada beberapa warga yang diminta Bambang untuk mengecat dinding ruko dan juga mengganti seng yang bocor. Semua bekerja dengan cepat karena Bambang berkata bahwa ini adalah permintaan Ivan.


Mereka sudah bekerja dari pagi pagi sekali, bahkan Bambang tiba disana sebelum jam enam, dia begitu semangat karena akhir nya dia punya pekerjaan yang lebih baik dari pada memerah susu, begitu juga dengan Dian.


"wah, Iz, Lo Dateng juga" seru Dian begitu senang melihat Faiz , begitu pula dengan Bambang, akhir nya mereka bisa berkumpul lagi hari ini


"haha , iya, sepi gak ada Ivan disana, maka nya gue nyusul. kalian apa kabar bro" tanya Faiz sembari merangkul Bambang dan Dian bergantian,


"ah seperti yang Lo liat" jawab Bambang


"makin bening aja kalian bah" kata Dian menatap Faiz yang memang terlihat jauh lebih manis sekarang, tubuh nya juga sudah kurus tidak gendut lagi seperti dulu


"hahaha, ini perlu usaha yang keras bro, takut malu si Ivan punya temen buruk kayak gue" jawab Faiz membuat Bambang dan Dian terbahak sementara Ivan mendengus


"dikira gue apa ya, milih milih temen" dengus Ivan namun dia juga ikut tertawa


"wah siapa tu Van" tanya Dian menunjuk sebuah mobil mewah yang terparkir didepan ruko mereka

__ADS_1


"bang Roy, orang suruhan bokap gue" jawab Ivan membuat Bambang dan Dian menganggukan kepala mereka


"gimana, udah sampai mana tahap persiapan nya?" tanya Ivan sembari memperhatikan orang orang yang sedang bekerja


"udah mau kelar kok. atap nya juga udah mau selesai karena gak banyak yang bocor, cat nya juga tinggal dibagian belakang. Sama tadi juga gue udah mesan beberapa rak sama kayu yang akan jadi tempat barang barang nya nanti. bentar lagi juga dianter" jawab Bambang


"oke, bentar lagi barang barang nya juga sampai kayak nya" kata Ivan pula


"nah itu dia kayu kayu nya" kata Bambang menunjuk mobil truk yang datang membawa kayu kayu yang akan mereka pasang nanti nya


Beberapa orang warga suruhan Bambang langsung turun membantu, arsitek juga ada beberapa yang akan langsung memasang semua nya. Semua sudah berjalan sesuai rencana karena Ivan sudah memberikan banyak uang pada Bambang untuk menyuruh para warga membantu nya


Faiz dan Dian langsung membantu memasukan rak rak kayu dibantu beberapa warga lain. Sementara Roy tampak nya sibuk dengan benda pipih nya. Ivan hanya bertugas memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang orang disana.


Hingga hari sudah mulai beranjak siang dan pengerjaan ruko itu sudah mulai tampak bentuk nya. Warga disini benar benar sangat antusias membantu Ivan, ya walaupun sebenar nya mereka juga digaji.


"permisi bang, ini pesanan nasi sama minum nya" kata seorang gadis dengan banyak kotak nasi ditangan nya, dan dua orang teman nya yang juga membawa kotak nasi dan cup cup minuman segar.


"oh udah dateng ya, taruh disini aja dek" kata Dian pada tiga gadis yang masih menatap kagum Ivan


"lah kok malah bengong" panggil Dian lagi membuat mereka bertiga langsung saling pandang canggung dan tertawa malu malu .


Ivan hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan tiga gadis itu.


"udah dibayar Ian?" tanya Ivan mendekat pada Dian yang membantu gadis gadis itu menata kotak kotak makan itu diatas meja


"udah Van, udah aman semua" jawab Dian yang memang bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi para pekerja yang lumayan banyak itu


"oh oke" jawab Ivan kemudian berlalu mendekati Roy setelah memberikan senyum tipis nya pada gadis gadis yang langsung tertawa cekikikan dengan wajah yang memerah membuat Dian berdecak kesal


"cemilan nya yang gue minta mana?" tanya Dian untuk yang kedua kali


"eh, ada kok bang. masih diwarung, tangan kami gak muat bawa nya. nanti kami jemput lagi" jawab salah seorang gadis itu


"yauda , cepetan jemput sana. kalau kalian mau ngeliat tu anak yang ganteng, kalian disini aja gak papa, tapi kalian bantuin untuk ngatur makanan para pekerja itu, gimana?" tawar Dian dengan senyum licik nya, dan bodoh nya tiga gadis itu malah mengiyakan permintaan Dian


"ah iya bang, mau, mau banget kami mah. kami pamit bentar , nanti kami bantuin disini" jawab gadis gadis itu begitu semangat


Ivan dan Faiz yang mendengar itu hanya geleng geleng kepala dan tertawa kecil


"dasar licik emang" dengus Ivan


"udah lah biarin aja. itung itung dapet tenaga gratis" jawab Faiz terkekeh


"jadi Lo yang modalin ini biar dikelola sama bang Bambang dan Dian?" tanya Faiz lagi, saat ini mereka sedang duduk diatas meja sembari memperhatikan para pekerja yang bekerja dengan semangat


"iya, kasian mereka gak ada kerjaan. lagian kalau lancar gue juga dapet bagian" jawab Ivan membuat Faiz menganggukan kepala nya.


Dan tidak lama kemudian dua mobil truck berisi barang barang logistik yang akan dijual tiba didepan ruko itu diiringi oleh tiga mobil mewah dibelakang nya, tentu saja itu membuat para warga yang tinggal disekitar ruko heboh dan semua keluar dari rumah untuk melihat itu.


Orang orang berjas keluar dari dalam mobil mewah dipimpin oleh Jhon, ketua pengawal yang bertugas mengawal Delisha dulu nya.


Ivan tampak menghembuskan nafas nya dengan kasar melihat betapa berlebihan nya Maxwel memerintahkan orang orang nya itu.


Bambang dan Dian tampak terbengong takjub melihat para pengawal yang berpakaian formal dan begitu rapi itu turun dari mobil dan berjalan mendekat kearah Ivan.


Tidak terkecuali para warga disana yang berkerumun melihat pemandangan tak biasa itu.


Hanya Faiz yang terlihat biasa saja karena sudah sering dia melihat orang orang itu disekitar Ivan.


"selamat siang tuan muda, maaf kami terlambat, ada sedikit kendala diperjalanan" kata Jhon membungkukkan tubuh nya didepan Ivan diikuti oleh pengawal yang lain nya


brukkk

__ADS_1


beberapa orang tampak ambruk melihat bagaimana Ivan yang dihormati seperti raja disana. Bahkan Aldo yang sedari tadi berdiri dikejauhan tampak terhuyung dengan wajah yang tak bisa diartikan


__ADS_2