
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari memendam sebuah perasaan, belum lagi diungkapkan namun sudah mendapat halangan yang begitu besar. Dan itulah yang terjadi pada Amelia dan Ivan.
Berulang kali Amel mengecek ponsel ditangan nya, namun benda itu masih saja tidak berdering sama sekali.
Sudah beberapa kali pula dia mengirim pesan dan menelpon seseorang diseberang sana, namun tidak juga ada respon.
Amel menghela nafas nya dengan berat, dia melirik jam dinding yang berdetak perlahan menghitung waktu, dan kini hari sudah menunjukan pukul sebelas malam. Kini dia mengalihkan pandangan nya pada Karina yang sudah tertidur pulas disamping nya.
Lagi lagi dia menghela nafas nya, hari diluar sedang hujan begitu deras disertai dengan petir dan kilat yang menyambar nyambar, sungguh Susana malam itu membuat hati nya bertambah cemas.
Mata nya benar benar tidak dapat terpejam, hati dan fikiran nya hanya terfokus pada keadaan Ivan saat ini. Meski dua jam yang lalu Karin mengatakan jika Ivan baik baik saja, tapi entah kenapa Amel masih saja gelisah, atau mungkin karena pesan dan panggilan nya tak direspon sama sekali oleh Ivan.
Tidak biasa nya Ivan seperti itu, meski lama baru membalas, pasti dia akan tetap memberi kabar lagi, tapi ini, pesan nya hanya dibaca tanpa dibalas, ada apa dengan Ivan ?
...
Dirumah sakit ...
Ivan masih membuka mata nya sembari memperhatikan ponsel nya yang baru saja berhenti berdering.
Dia menghela nafas nya dan meletakan kembali ponsel nya diatas meja.
Hati nya bergemuruh, ada rasa yang tak bisa diungkap kan nya.
Mengabaikan pesan dan panggilan Amel saja dia begitu sulit dan terasa sakit, apalagi jika harus menjauhi nya.
Mereka memang bukan siapa siapa, tapi kenapa ini terasa begitu sulit, hanya menjauh kan, mereka tidak mempunyai hubungan khusus, lalu kenapa dia harus sampai seperti ini.
Ivan meremas kepala nya dengan kuat sembari menghela nafas kembali
"kenapa begini sih, gue harus bilang apa sama dia. Dia gak salah, tapi gue selalu nyakiti perasaan nya" gumam Ivan, dia langsung merebahkan tubuh nya kembali, setelah berulang kali bangun , berbaring, bangun, berbaring dan hanya seperti itu dari tiga jam yang lalu
Mata nya menangkap sosok Faiz yang tidur disofa dan Jonathan yang tidur diranjang yang telah disiapkan oleh Maxwel. Dua pemuda itu sudah terlelap dalam tidur nya, menyisakan Ivan yang sama sekali belum dapat terpejam, meski tubuh nya benar benar butuh istirahat saat ini.
Dia kembali meraih ponsel nya, dan menggeram kesal lalu kembali duduk hingga membuat selang infus nya sedikit terbelit
"gak bisa gue, kasian" gumam Ivan sembari mengetik sesuatu, namun tangan nya langsung terhenti
Dia kembali menghela nafas
"tapi gue juga gak mau buat papa kecewaaaaa!!!!" geram nya frustasi
dia langsung membanting ponsel diatas tempat tidur nya dan kembali merebahkan diri disana. Jika ada yang melihat nya mungkin mereka akan berfikiran jika Ivan cocok nya masuk rumah sakit jiwa, dari pada berada dirumah sakit umum.
...
Beberapa hari berlalu, kondisi tubuh Ivan sudah pulih kembali, dan bahkan hari ini dia sudah mulai kuliah lagi.
Beberapa hari ini Ivan terlihat begitu lesu, tidak ada lagi Ivan yang usil dan banyak ulah seperti biasa nya, membuat Delisha menjadi tidak tenang hati nya
Pagi ini Ivan dan orang tua nya bersama Jonathan sedang sarapan bersama.
Mereka makan dalam diam, tidak ada candaan Ivan seperti biasa nya, membuat suasana benar benar terasa sepi dan canggung.
"Van" panggil Delisha disela sela sarapan mereka menatap Ivan yang fokus mengunyah namun pandangan mata nya terasa kosong seperti sedang melamunkan sesuatu
Jonathan melirik kearah Ivan yang masih diam tak bergeming, seolah tak mendengar panggilan ibu nya
"Jovankha" panggil Delisha lagi, sedikit lebih keras membuat Ivan terkesiap kaget dan langsung menatap mama nya
"eh, iya ma" jawab nya
"kamu kenapa?" tanya Delisha lembut, Maxwel hanya diam sembari menikmati sarapan nya namun ekor mata nya sesekali melirik kearah Ivan
"kenapa?" tanya Ivan pula
"semenjak pulang dari rumah sakit kamu terlihat lesu dan tidak bersemangat, apa masih ada yang sakit?" tanya Delisha begitu khawatir
Ivan langsung menggeleng dan menyudahi sarapan pagi nya yang hanya dimakan sedikit
"enggak ma, Ivan gak papa, itu perasaan mama aja mungkin" jawab Ivan lagi seiring tangan nya yang mengusap mulut nya dengan tisu
"kamu marah pada papa Van?" tanya Maxwel menatap lekat Ivan yang menatap nya sekilas lalu menggeleng perlahan
"enggak pa, untuk alasan apa Ivan marah sama papa" jawab nya singkat
Maxwel menghela nafas nya perlahan. Jonathan masih diam tanpa mau ikut campur dalam pembahasan ini. Dia tahu Ivan sedang kecewa dengan perasaan nya karena lebih memilih perkataan Maxwel ketimbang hati nya sendiri.
__ADS_1
"kamu kecewa karena papa memintamu menjauhi gadis itu?" tanya Maxwel lagi
Suasana diruang makan itu menjadi sedikit panas dengan perkataan dua orang ini, membuat Delisha menjadi khawatir dan was was
"kecewa mungkin iya, tapi tidak apa apa, Ivan hanya ingin menjadi anak yang baik untuk papa dan mama, biar Ivan yang kecewa, asalkan kalian tidak" jawab nya membuat Maxwel terbungkam, sedangkan Delisha sudah tertunduk dengan mata yang berkaca kaca
"Van," panggil Delisha menatap Ivan yang mulai beranjak dari kursi nya
"Ivan berangkat dulu pa, ma" ucap nya tanpa membalas panggilan Delisha, dia langsung mencium punggung tangan Maxwel dan Delisha yang masih terdiam membeku.
Dan langsung pergi dari ruangan itu tanpa meninggalkan sepatah kata pun
Dan dia hanya tersenyum tipis saat bibi May menyapa nya
Jonathan juga mulai beranjak dari duduk nya dan berpamitan pada Maxwel dan Delisha
"Jo berangkat" pamit Jonathan dan juga segera berlalu dari hadapan orang tua nya
..
Ivan berjalan dengan langkah gontai menuju kelas nya, semangat nya sungguh tidak ada hari ini, bahkan hari hari sebelum nya, dia bahkan mengabaikan sapaan teman teman bahkan para fans nya membuat penghuni kampus saling pandang bingung, apa mereka salah orang, batin mereka.
Ivan terkesiap kaget saat bahu nya dirangkul oleh seseorang, dan dia hanya mendengus menatap Samuel yang tersenyum menyebalkan pada nya
"welcome brother, wah lama gak liat elu Van" ucap nya, namun Ivan hanya diam dan tersenyum tipis
Samuel langsung melepas rangkulan nya dan menatap Ivan dengan lekat
"Lo Ivan kan?" tanya Samuel begitu serius, Ivan langsung memukul kepala nya
"hantu gue" jawab nya begitu ketus dan berjalan berlalu meninggalkan Samuel yang terdiam bingung sembari mengusap kepala nya
"heh, tungguin dong" teriak nya mengejar Ivan yang tetap berjalan dan mengabaikan nya
Ivan masuk kedalam kelas dimana seluruh teman teman nya sudah berkumpul, kecuali Jonathan.
Ivan langsung duduk dikursi nya dan hanya tersenyum tipis membalas sapaan teman teman nya
"udah baikan Van?" tanya Erika yang duduk disebelah Alex yang sedang memainkan rambut nya.
"Jo mana?" tanya Dirga pula
"bentar lagi juga nyampek" jawab nya singkat dengan mata yang terpejam
"Lo lemes banget Van" kata Erika lagi
"tahu nih, kayak orang patah hati aja" timpal Alex pula
"emang" sahut Faiz yang duduk dibelakang nya
Ivan mendengus kesal
"berisik" ucap nya kesal
"Lo kesambet setan Jonathan kayaknya deh Van, hari ini beda banget, atau kepala Lo ketimpuk batu sungai maka nya Lo jadi sewotan gini" tanya Samuel. Dirga, Faiz, dan Alex langsung terbahak mendengar nya
"lagi PMS mungkin" Kata Dirga pula
Ivan hanya diam dan mengabaikan mereka yang terus menerus menggoda nya hingga tak lama Jonathan tiba dikelas itu bersama dengan seorang dosen.
Mereka belajar seperti biasa, bukan belajar, lebih tepat nya hanya mendengarkan bimbingan dari dosen pembimbing karena sebulan lagi waktu mereka disini.
Ivan sama sekali tak fokus pada pembicaraan itu, wajah nya tampak lesu dan terus menerus melamun membuat Jonathan dan teman teman nya saling pandang heran.
Hingga waktu kuliah selesai, Ivan masih banyak diam dan hanya sesekali membalas gurauan teman teman nya.
Disaat teman teman nya pergi ke kantin untuk berkumpul disana, Ivan lebih memilih pergi ke perpustakaan bersama Faiz yang walaupun sudah diusir Ivan masih saja tetap mengikuti nya.
Ivan duduk dengan buku ditangan nya, namun Faiz langsung merebut buku itu dan meletakan nya diatas meja
"Lo kenapa sih Van, beda bener, Lo ada masalah?" tanya Faiz menatap lekat Ivan yang menundukan kepala nya dengan telapak tangan sebagai tumpuan nya
"gak ada " jawab nya singkat , namun Faiz malah tertawa sinis mendengar nya
"heh, gak ada embah Lo, gue tahu Lo pasti lagi patah hati kan" tebak nya
"sok tahu Lo" ketus Ivan, dan Faiz langsung mendengus
__ADS_1
"apa semenjak jadi anak sultan lo udah gak mau berbagi cerita lagi sama gue Van" tanya Faiz serius
"apa sih, gitu amat ngomong Lo" ucap nya tak suka
"iya memang gitu kenyataan nya. Lo yang sekarang lebih sering mendem, dari pada ngungkapin dan berbagi sama gue. padahal dari dulu gue jadi orang yang pertama yang Lo datengin, tapi sekarang kayak nya gue udah gak penting lagi jadi temen Lo" ungkap Faiz
Ivan langsung terkesiap dan langsung menampar lengan Faiz dengan kesal
"gak usah ngomong yang enggak enggak lah. Lo tahu gimana gue kan, gue aja gak tahu kenapa gue begini, gimana gue mau cerita" sahut Ivan kesal membuat Faiz terkekeh
"dasar bego, gengsi aja yang lu besarin" kata Faiz lagi membuat Ivan mengernyit
"Lo itu galau, patah hati. Lo kan udah pernah ngerasain nya dulu, jadi kenapa bilang gak tahu" tambah Faiz lagi
Ivan menghela nafas nya sejenak
"masalah nya disitu Iz, gue gak tahu gimana perasaan gue sesungguh nya sama dia, tapi gue juga gak sanggup ngejauhi dia kayak gini, baru seminggu rasa nya berat banget, gue Sampek alasan sakit untuk gak kuliah biar gak ketemu dia" ungkap Ivan
"ya kalau gak kuat, Lo harus jujur sama perasaan Lo Van. Itu nama nya cinta Van, jangan dibuat rumit, kali ini Lo harus memperjuangkan perasaan Lo" kata Faiz lagi
Ivan langsung meremas rambut nya frustasi
"bahkan sebelum gue tahu gimana perasaan gue dan ngungkapin nya, semua udah dilarang Iz" jawab Ivan lemah
"siapa yang ngelarang, ada yang suka juga sama dia?" tanya Faiz dan Ivan menggeleng
"bokap gue ngelarang gue deket sama dia, bahkan hanya sekedar berteman" lirih Ivan membuat Faiz melebarkan mata nya
"masak sih, tapi Karin yang gadis kampung aja direstui kok, kenapa Amel yang lebih segala nya malah enggak" tanya Faiz tak habis fikir
"bokap gue ada masalah sama orang tua nya, jadi Amel juga ikut kebawa, dan hubungan gue sama dia juga harus sampai disini" ungkap Ivan terasa begitu tidak rela
"lah, terus gimana dong Van, baru juga mau mulai, padahal dia gadis baik" jawab Faiz
"ya, selama bertahun ini dia yang nemeni gue, ngesuport gue, bahkan buat gue move on dari Karina. tapi lagi lagi hati gue harus patah sebelum berkembang" balas Ivan
Faiz menatap iba sahabat nya ini, ya , baru saja dia merasakan kembali perasaan cinta, tapi malah harus kandas, bahkan sebelum dimulai
"rasa nya ini lebih sakit Iz, apalagi gue tahu kalau dia juga emang ada rasa sama gue, sakit nya bener bener buat gue lemes" kata Ivan lagi
Faiz langsung menepuk pundak Ivan
"kalau jodoh pasti gak kemana" ucap Faiz
"mustahil, gue bahkan gak bisa nentang omongan bokap gue sendiri, gimana mau mempertahankan dia" gumam Ivan
"Amel tahu ini?" tanya Faiz
"dia tahu kalau orang tua gue kurang suka sama dia, tapi dia gak tahu kalau gue disuruh ngejauhi dia" jawab Ivan
"Lo gak bilang kedia?" tanya Faiz
"gue gak sanggup Iz" lirih Ivan
"kalau Lo gak bilang, Lo sama aja nyakitin dia lebih lama Van. Setidak nya kalau Lo bilang, dia gak akan berharap lagi sama lo" jelas Faiz
"nanti, gue pasti bilang" jawab Ivan begitu berat
Mereka saling terdiam dengan fikiran masing masing.
Faiz dengan perasaan iba nya pada Ivan, dan Ivan dengan perasaan yang begitu berkecamuk.
Berkata sejujur nya pada Amelia, sungguh dia tidak mampu untuk membuat luka di hati gadis itu semakin lebar, sudah cukup dia mengabaikan nya selama ini, tapi jika terus begini, dia sama saja menambah garam diluka hati gadis itu.
Ah, baru saja dia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati nya, tapi harus dipatahkan oleh kenyataan yang benar benar tak bisa dia elakan.
Kenapa nasib percintaan nya seperti ini, rasa nya setelah ini, dia benar benar tidak ingin mencintai dan dekat dengan gadis lagi, sudah cukup, sudah cukup dua kali dia merasakan patah hati meski dengan keadaan yang berbeda.
Hampir dua jam mereka disana dan Ivan mengalihkan perhatian nya dengan membaca banyak buku untuk menyiapkan diri untuk ujian nya nanti.
Hingga tak lama kemudian, mereka memutuskan untuk pulang karena penjaga perpustakaan itu akan menutup perpustakaan nya.
Ivan dan Faiz berjalan beriringan menyelusuri setiap koridor ruang ruang digedung fakultas ekonomi itu.
Dan setiba nya ingin keluar dari pintu, langkah Ivan terhenti dan dia mematung ditempat dengan jantung yang tiba tiba berdetak dengan kencang menatap seorang gadis mungil didepan nya yang menatap nya penuh arti
"Amelia" gumam nya.....
__ADS_1