Story Of The Twins

Story Of The Twins
Hati Yang Patah


__ADS_3

Hari sudah beranjak gelap. Langit tampak mendung malam ini. Seperti nya sebentar lagi hari akan hujan. Namun seperti nya, Ivan masih betah dirumah Faiz dan Toni. Bahkan dia belum ada keluar kamar sejak siang tadi.


Faiz baru saja pulang dengan tiga box makanan ditangan nya. Dia melirik Toni yang sedang mengerjakan tugas nya disofa dan melirik kamar Ivan yang masih tertutup.


"belum ada keluar juga tu anak?" tanya Faiz sembari meletakan ketiga box itu diatas meja


"belum bang, udah capek aku ngajak dia keluar" jawab Toni


Faiz hanya menghela nafas lelah sembari meletakan kunci motor dan dompet nya diatas meja.


Dia berjalan kearah kamar Ivan dan mencoba membuka pintu itu


"Van, jangan kayak anak gadis deh Lo, ngurung diri terus dikamar" gerutu Faiz saat tahu ternyata pintu itu masih dikunci oleh Ivan


"Van" teriak Faiz lagi sembari mengetuk keras pintu kamar itu


"gue masih ngantuk Iz" jawab Ivan dari dalam kamar, suara nya terdengar serak dan lesu


"ngantuk embah Lu. Udah berjam jam Lo tidur. Makan dulu, gue udah beli ini" seru Faiz lagi


"gue gak laper" jawab Ivan singkat


"Van lo jangan nyiksa diri sendiri deh, makan dulu" kata Faiz masih bersikap sabar, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar


Toni menoleh pada Faiz yang terlihat kesal, dia terkekeh sendiri ditempat duduk nya


"udah deh bang, biarin aja bang Ivan ngurung diri, mungkin dia nunggu tuan Maxwell yang Dateng" ucap Toni membuat Faiz mendengus


"Van, Lo kalau mau mati jangan dirumah gue deh, Sono diluar, gue gak mau ya dituduh ngeracuni Lo" kesal Faiz


Dan tak lama kemudian Ivan membuka pintu dengan wajah kusut nya dan menatap kesal Faiz yang sudah berkacak pinggang menatap nya


"berisik banget sih lu" ketus Ivan, dia berjalan menuju sofa didekat Toni dan menghempaskan tubuh nya disana


Faiz hanya menggelengkan kepala nya dan mengikuti Ivan duduk disebelah nya


Ivan terlihat begitu lesu, wajah nya kusut bukan main. Sebenar nya Faiz kesal, tapi dia tahu Ivan sedang galau tingkat dewa saat ini


"nih makan. Jangan Sampek Lo mati cuma karena gak makan" ucap Faiz sembari menyerahkan box makanan pada Ivan yang masih terdiam dengan tubuh yang bersandar lemas disofa itu


"woi Lo denger gue gak sih?" tanya Faiz kesal saat Ivan terus mengabaikan nya


"jam berapa sekarang?" tanya Ivan tanpa membuka mata nya dan mengebaikan Faiz .


"jam sembilan" jawab Toni, dia terkekeh kecil melihat wajah kesal Faiz


"mau kemana Lo?" tanya Faiz saat melihat Ivan tiba tiba beranjak dari duduk nya dan menarik kunci motor dari atas meja


"pulang" jawab Ivan singkat

__ADS_1


"makan dulu Van, lagian ini udah malem. Nginap disini aja lah" kata Faiz menahan Ivan, namun Ivan langsung menggeleng


"orang dirumah pasti nyariin gue, lagian gue juga gak bakalan mati cuma karena gak makan sehari" jawab Ivan , dia berjalan dan meraih tas nya meninggalkan Faiz dan Toni yang saling pandang bingung dan kesal


"ya, awas aja Lo mati karena ngebut ngebutan bawa motor" seru Faiz saat Ivan sudah berada didepan pintu


"palingan gue jadi hantu gentayangan" jawab nya acuh


"anak itu" gumam Faiz benar benar kesal


"apa perlu kita ikutin bang?" tanya Toni yang terlihat khawatir melihat Ivan membawa motor dalam keadaan begitu


"udah lah, dia pasti baik baik aja. Dia gak akan kemana mana dan gak akan kenapa kenapa, palingan juga Sampek besok muka nya begitu terus" jawab Faiz


"segitu nya yang galau" gumam Faiz


"gak tahu gue, dulu sama Karina gak begini amat, tapi ini beneran buat dia berubah drastis, senyum juga payah banget" ungkap Faiz


"ditolak kak Amel lagi?" tanya Toni namun Faiz langsung menggeleng


"gak direstui tuan Maxwell" jawab Faiz membuat Toni tertegun


"miris banget" gumam nya


...


Ivan berjalan ingin masuk kedalam lift menuju kamar nya, namun langkah nya terhenti oleh panggilan Delisha


"kenapa baru pulang sayang? dari mana?" tanya Delisha yang berjalan mendekat kearah Ivan


"Dari rumah Faiz ma, Ivan ketiduran tadi" jawab Ivan sembari tersenyum tipis


"kamu sudah makan?" tanya Delisha menatap raut wajah Ivan yang kusut dan tak bersemangat


"sudah" bohong Ivan


"kalau mau makan, biar mama siapkan makan malam buat kamu" ucap Delisha lagi namun Ivan langsung menggeleng


"gak perlu ma, Ivan kenyang. Ivan pengen istirahat aja. Ivan masuk ya" kata Ivan sembari tersenyum tipis


Delisha hanya bisa mengangguk pasrah melihat sikap Ivan yang tak sehangat biasa nya


"ya, istirahatlah nak" jawab Delisha


Ivan pun langsung tersenyum dan masuk kedalam lift meninggalkan Delisha yang terlihat menghela nafas kasar


'kamu pasti sedih nak' gumam Delisha dalam hati


Ivan menghempaskan tubuh nya diatas kasur nya. Mata nya terpejam, namun malah bayangan Amelia yang terus menghantui nya, membuat nya semakin tidak nyaman dengan suasana hati nya saat ini.

__ADS_1


Tangisan nya, pelukan nya, senyum sedih nya, semua nya masih jelas terbayang didalam fikiran nya. Bagaimana gadis itu menangis begitu pilu, meski dia berkata dia rela, tapi Ivan tahu, Amelia pasti sangat terluka saat ini.


'Amel maafkan aku, aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku tidak bisa memilih antara kau dan papa. Aku benar benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan' lirih Ivan dalam hati.


...


Sementara ditempat lain, Amelia juga baru pulang kerumah nya setelah satu harian berada di pantai seorang diri.


Dia masuk kedalam rumah tanpa membalas sapaan orang orang dirumah itu. Amel duduk diatas sofa didekat jendela kamar nya.


Kembali merenung dengan wajah yang begitu kusut dan lelah. Dia menatap nanar langit malam yang mulai menumpahkan air nya, hujan, gelap, dingin dan hampa. Seperti hati nya saat ini.


Hati dan fikiran nya benar benar tertuju pada satu orang yang menjadi pemilik hati nya.


Hancur, kecewa, sedih, merana, dan rasa nya lengkap sudah.


Lamunan nya buyar saat Andrean tiba tiba duduk disamping nya membuat Amelia terhenyak sedikit, namun hanya menoleh sekilas pada Andrean.


"kamu kenapa hm??? tanya Andrean sembari mengusap pelan pucuk kepala Amel


"gak ada kak" jawab Amelia, namun Andrean malah tersenyum melihat nya. Dia tahu adik kecil nya ini pasti sedang bermasalah


"kamu sedih?" tanya Andrean lagi.


Amelia hany menggeleng, namun dengan mata yang berkaca kaca


"kemari, ada kakak yang menjadi tempat mu menangis, jangan bersedih sendiri" ucap Andrean sembari menarik pelan bahu Amelia, membuat gadis itu menatap kearah nya dengan mata yang memerah menahan tangis


"kamu gadis kuat, kamu pasti bisa melewati ini" kata Andrean dan memeluk tubuh Amel yang kini sudah menumpahkan air mata nya dan langsung menangis tersedu sedu dalam pelukan kakak nya. Sungguh, dia tidak ingin menangis, tapi air mata ini benar benar tidak bisa dibendung lagi


"apa perasaan Amel salah kak, Apa Amel salah jatuh cinta sama dia" ucap Amel terbata bata dengan Isak tangis nya


"amel sakit kak, sakit ... sekali" ungkap Amelia membuat Andrean memejamkan mata nya sekejap dan menarik nafas nya panjang panjang, dia masih mengusap lembut punggung Amel yang terasa bergetar karena Isak tangis nya


"kamu gak salah Mel, perasaan kamu gak salah sayang. Jangan seperti ini, kamu harus kuat" kata Andrean


"semua sudah takdir, maafkan kakak dan ayah ya, karena kami, kamu yang harus tersakiti sekarang" lirih Andrean sedih


Amelia menggeleng pelan mendengar nya, dia mendongak dan menatap Andrean dengan wajah sedih nya, membuat Andrean begitu sakit hati nya.


"Amel yang salah kak, seharus nya Amel tahu ini akan terjadi, tapi perasaan ini sungguh gak bisa Amel tahan" ungkap Amelia membuat Andrean kembali memeluk nya


Dia tahu jika selama ini adik nya ini sudah jatuh cinta pada salah satu anak Maxwel, dia juga tahu jika akhir nya hubungan mereka tidak akan berjalan dengan baik, karena sudah pasti Maxwel pasti melarang keras hubungan mereka, dan sekarang semua nya menjadi kenyataan. Dan disini Amel lah yang paling tersakiti.


Selama ini bukan nya dia tidak melarang, sudah berulang kali dia mengingatkan Amelia, namun dia tidak bisa memaksa, mengingat Ivan juga seperti nya nyaman bersama adik nya ini, tapi yang terjadi malah hubungan mereka harus berakhir dengan begitu miris.


"sabar sayang, kalau kalian berjodoh, kalian pasti bersatu. Perjalanan kalian masih panjang, semoga suatu saat nanti jika tidak bersama dia, kamu akan mendapatkan yang lebih baik" ungkap Andrean. Amelia hanya terdiam dengan air mata yang kembali menetes diwajah sendu nya.


'bagaimana mungkin kak, bagaimana mungkin aku menemukan cinta yang lain saat seluruh hatiku sudah kuserahkan pada nya' gumam Amelia begitu pedih

__ADS_1


__ADS_2