Story Of The Twins

Story Of The Twins
Lost Contact


__ADS_3

Tiga hari berlalu....


Hari ini Ivan begitu senang karena semua pekerjaan nya sudah selesai. Akhirnya setelah sepuluh hari terkurung diwilayah yang membuat otak dan tenaga nya terkuras, besok dia dan Faiz sudah bisa pulang ke ibukota.


Saat ini dia masih ada diatas bukit, sedang menghubungi Amelia diseberang sana. Meskipun hari sudah malam, tapi sebelum kembali ke penginapan dia menyempatkan diri untuk menghubungi keluarga nya dan juga Amelia.


"Besok aku pulang" kata Ivan dengan senyum yang tidak pudar. Bahkan senyum nya semakin melebar saat mendengar suara pekikan Amelia yang begitu riang diseberang sana


"Iya, kamu mau aku bawain apa" tanya Ivan lagi. Tangan nya sembari memukul nyamuk yang begitu banyak


"Masak gak minta apa apa, aku kan pengen bawain kamu sesuatu" kata Ivan lagi


"Iya deh, aku pasti pulang dengan selamat. Doa kamu kan selalu menyertai aku. Hehe" tawa Ivan membuat Faiz yang duduk tidak jauh dari tempat nya tampak memanyunkan bibirnya. Dia sudah jengah menunggu Ivan, mana nyamuk disini begitu banyak. Dia sudah seperti korban serangan nyamuk karena Ivan malam ini


"Tunggu aku pulang ya sayang" ucapan Ivan membuat Faiz kembali menyelis kearah nya. Sudah satu jam lebih dia dan Ivan berada disini. Kenapa tuan muda ini tidak lelah juga


"Cium dulu dong". Sungguh jika bukan karena tuan muda sudah dia tinggalkan Ivan sendiri disini


"I love you sayang" kata Ivan dengan memberikan sun jauh pada Amelia diseberang sana.


Lebay sekali memang, seperti tidak akan berjumpa lama saja. Padahal besok sudah pulang. Hanya terpisah pulau saja, itupun dengan jarak yang dekat. Apa cinta seaneh itu batin Faiz.


"Nyamuk disini pesta besar sangking lama nya" gerutu Faiz saat Ivan sudah turun dari atas pohon


"Gak papa. Hari terakhir. Itung itung sedekah" jawab Ivan dengan tawa yang begitu mengesalkan


"Yuk ah balik. Kita harus berberes buat besok" ajak Ivan yang berjalan lebih dulu meninggalkan Faiz. Memang tuan muda selalu bebas. Gerutunya


...


Keesokan harinya Amelia sudah berada dibutik nya untuk mengamati pekerjaan karyawan butik yang mengerjakan gaun pengantin untuk dia kenakan nanti.


Sudah rampung, dan bahkan saat ini mereka sudah memindahkan nya kedalam ruangan yang memang disediakan untuk segala perlengkapan pernikahan Amelia nantinya.


Gaun itu tampak begitu indah. Gaun dengan bahu terbuka dan memiliki ekor yang cukup panjang. Ribuan Payet berlian asli bertebar dibeberapa sisi membuat gaun itu meski sederhana namun tampak elegan dan sangat indah. Ada selendang tipis yang akan menjadi hiasan dikepala nya nanti yang menemani mahkota berlian yang juga sudah dirancang nya sendiri. Amelia benar benar puas dengan hasil nya.


"Tidak ingin dicoba dulu nona" kata salah seorang karyawan nya saat Amelia berdiri mematung memandangi gaun pernikahan itu


"Nanti saja, besok aku akan mencoba nya, aku ingin mencoba bersama dia juga" jawab Amelia yang kini beralih pada setelan jas Ivan yang dia sandingkan dengan gaun nya.

__ADS_1


Amelia tersenyum, meraba jas super mahal dan nampak mewah. Jas bewarna silver metalik yang pasti akan begitu pas jika dikenakan ditubuh gagah Ivan nantinya.


Ah, dia sudah benar benar tidak sabar menantikan hari itu. Hari dimana dia dan Ivan akan bersanding sebagai raja dan ratu.


Hari dimana dia dan Ivan akan berjanji untuk sehidup sesurga.


Manis sekali, dia sungguh tidak sabar.


Amelia melirik jam dipergelangan tangan nya, hari sudah jam tiga sore. Dia kembali tersenyum dan berbalik menuju meja dimana tas nya berada.


"Aku pulang dulu. Besok aku akan kemari lagi. Titip butik ya" ucap Amelia pada karyawan nya


"Baik nona, hati hati" jawab mereka


Amelia hanya mengangguk dan tersenyum dengan riang. Dia ingin segera pulang kerumah untuk mandi dan berhias. Pesawat Ivan tiba sekitar jam setengah lima dan dia ingin menjemput kekasih hatinya itu nanti.


....


Dan disinilah Amelia berada. Duduk dengan mata yang mengarah pada pintu keluar bandara. Dia datang bersama Dirga dan juga Delisha yang juga ingin menjemput anak tersayang nya itu.


Mereka sudah ada disini sejak setengah jam yang lalu. Dan seharusnya sebentar lagi pesawat Ivan sudah landing, tapi sampai saat ini belum ada kabar juga.


Beberapa kali dia melirik jam diponselnya, dan juga mengarah pada arah dalam bandara. Menunggu dengan perasaan gelisah dan tidak sabar.


"Kenapa lama ya ma, udah lewat lima menit" kata Amelia pada Delisha yang juga terlihat sudah tidak sabar


"Mungkin sebentar lagi sayang. Kita tunggu aja" jawab Delisha


Amelia hanya tersenyum dan mengangguk


Namun hingga satu jam kemudian mereka juga tidak mendapatkan apa yang mereka mau.


Membuat mereka bertiga sudah tampak cemas


Bahkan Maxwel sudah menyusul kesana


"Ivan bener pulang hari ini kan nak?" tanya Delisha yang sudah cemas


"Iya ma, pagi tadi kak Ivan ngechat Amel. Dia memang pulang hari ini" jawab Amelia sembari menunjukan pesan yang dikirim Ivan pagi tadi

__ADS_1


"Dirga coba kamu pergi kedalam, tanya apa yang terjadi. Apa ada masalah?" ujar Maxwel pada Dirga


Dirga langsung mengangguk cepat dan segera pergi menuju tempat pemberitahuan informasi tentang penerbangan hari ini


Maxwel tidak tenang, dia sudah berjalan kesana dan kemari sembari terus mengecek ponsel nya, meminta Rico untuk mencari tahu juga tentang informasi dari orang orang mereka yang ada di Kalimantan.


Penerbangan dari Kalimantan kesini hanya sekitar tiga jam paling lama, tapi ini sudah lewat satu jam dari jadwal yang sudah ditentukan.


Delisha terduduk lemas dikursi, didalam hati nya dia berdoa semoga tidak terjadi sesuatu pada anak nya. Semoga Ivan baik baik saja dan mungkin pesawat hanya memundurkan jadwal mereka.


Amelia yang duduk tidak jauh dari Delisha juga sudah benar benar cemas. Dia sangat takut, dia takut jika terjadi sesuatu pada Ivan. Bahkan sejak tadi dia sudah menahan tangis nya karena begitu cemas dan khawatir.


Apalagi saat melihat banyak nya orang orang yang mulai berdatangan dengan wajah panik mereka semua. Sepertinya mereka adalah keluarga yang juga menunggu kedatangan sanak saudara mereka.


Amel dan Delisha langsung berdiri saat melihat Dirga datang dari dalam dengan wajah yang panik. Tampang lelaki itu begitu cemas membuat Amelia sudah bisa menebak apa yang sebenar nya terjadi


"Tuan, pesawat yang dinaiki tuan muda lost Contact" ucap Dirga


"Apa!" teriak Maxwel begitu terkejut. Dia langsung memapah Delisha yang tampak linglung mendengar kabar itu.


Bahkan Amelia langsung mematung ditempat nya, kaki nya seketika lemas dan dia kembali terduduk dikursi, air matanya mengalir begitu saja. Ini seperti mimpi, rasanya jantung nya benar benar tidak bertenaga untuk berdenyut lagi. Wajah Amelia langsung memucat bahkan tangan nya bergetar menahan ketakutan didalam hatinya.


"Kamu sudah memastikan nya?" tanya Maxwel, wajah nya sudah berubah panik dan cemas. Dia membawa Delisha duduk, namun pandangan matanya menuju Dirga yang juga tampak terpukul dan begitu lemas


"Nama dan nomor pesawat nya sama tuan" jawab Dirga tertunduk menyesal


Maxwel menggeram marah. Matanya berkaca kaca, jantung nya bergemuruh tidak menentu. Ini benar benar kabar yang membuat hati nya tidak menentu


"Tidak mungkin, tidak mungkin. Kak Ivan" tangis Amel langsung pecah begitu pilu. Dia menangkup wajah nya dan menangis dengan kuat. Bahkan Delisha sudah tidak bisa berkata apa apa lagi saat ini.Dia menangis dalam diam, bahkan kesadaran nya mulai hilang


"Tenang lah nak, semoga hanya hilang kontak, masih ada harapan" kata Maxwel pada Amelia yang menangis sesunggukkan ditempat nya. Dia begitu berharap itu akan terjadi. Tapi hatinya benar benar takut dan tidak akan sanggup menerima kenyataan terburuk nya.


Ditengah tengah kebingungan Maxwel, Rico dan Istrinya datang dengan wajah yang sama panik. Maxwel langsung menyerahkan Delisha pada istri Rico.


Dia bersama Rico langsung menuju tempat informasi untuk mencari tahu apa yang sebenar nya terjadi.


"Pesawat sudah berangkat sekitar pukul setengah dua siang tadi tuan, dan semua memang benar. Nama Tuan Jovankha ada didalam list para penumpang" ucap Rico yang berjalan dengan cepat disamping Maxwel


"Ini salahku, seharusnya kemarin aku menyusulnya kesana. Aku benar benar takut Rico" jawab Maxwel tampak begitu frustasi. Dia tidak pernah takut seperti ini sebelum nya, dan ketakutan nya kali benar benar membuat otak dan kakinya lemas

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi sesuatu tuan. Mungkin hanya masalah cuaca. Apalagi ini sedang musim penghujan" jawab Rico mencoba menenangkan Maxwel meskipun dia sendiri tidak begitu yakin dengan jawaban nya.


__ADS_2