Story Of The Twins

Story Of The Twins
Disangka Hantu


__ADS_3

Hari sudah pukul dua dini hari. Dan pesawat yang membawa Ivan juga baru tiba dibandara.


Beberapa kali Ivan menguap karena menahan kantuk, dua hari ini dia tidak bisa beristirahat dengan baik.


Tapi demi untuk segera pulang, dia harus menyelesaikan masalah yang ada diproyek itu bersama Faiz dengan cepat.


Bandara sepi, karena hari memang sudah dini hari. Mereka juga bingung ingin pulang dengan apa, memesan taksi, mana ada taksi dijam segini. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk duduk digerai kecil yang ada disekitar bandara. Meminum kopi hangat sembari mengecas ponsel mereka masing masing. Didalam pesawat mereka tidak bisa mengecas, karena mereka menggunakan pesawat kelas bawah, itu juga dipenerbangan terakhir.


Udara malam itu begitu dingin, membuat Ivan beberapa kali mengusap tubuh nya yang menggigil. Hati nya benar benar tidak enak, perasaan nya mengatakan jika telah terjadi sesuatu dirumah. Apalagi mengenai kabar kecelakaan pesawat itu. Dia tidak tahu bagaimana keadaan Amel dan orang tua nya sekarang. Apa mereka mencemaskan nya? Apa mereka mengira dia memang telah tewas?


"Dari semalem kabar pesawat ini terus yang lewat" ucap seorang pria paruh baya dengan kumis tebal nya. Dia duduk didepan TV bersama seorang temannya


"Iya, kalau udah gitu ya memang diikhlaskan aja lagi. Mayat nya juga udah pada hancur" jawab teman nya


"Iya. kasihan keluarga nya." sahut si bapak


"Itukan pesawat kelas atas. Yang bawa orang orang kaya. Kok bisa jatuh ya" gumam teman nya


"nama nya juga udah ajal. Mau pesawat canggih sekalipun kalau udah jatuh ya jatuh aja. Tadi malem baru diumumin kalau memang gak ada yang utuh mayat korban. Jadi keluarga korban pasti sedih. Mereka cuma bisa ngadain acara doa bersama tanpa bisa ngeliat mayat keluarga nya" ungkap si bapak


"Iya. denger kabar nya anak dari salah seorang pengusaha nomor satu disini juga jadi korban pesawat itu" kata si bapak. Ivan dan Faiz langsung saling pandang mendengar nya


"Oh anak pemilik perusahaan Agueeno?" tanya teman nya


"Iya, padahal denger denger dia mau nikah. Viral kok, bentar lagi juga ada nongol" ucap si bapak


Ivan tampak terkesiap. Jadi dia viral. Jadi nama nya memang sudah dinyatakan meninggal?


Oh astaga, ini berita buruk.


"Kita pergi Iz" ajak Ivan langsung. Dia segera beranjak dan meraih ponsel nya, menghubungi seseorang untuk menjemputnya dan Faiz.


Faiz membayar kopi mereka dan menyusul Ivan yang sudah berjalan terlebih dahulu. Ini benar benar buruk.


Semua orang sudah heboh dan bisa dia pastikan jika Amelia dan orang tua nya pasti sedih mendengar kabar ini. Jangan sampai dia pulang bukan pesta pernikahan yang terjadi, melainkan malah tahlilan dirumah utama.


"Kalau beritanya udah viral, apa mereka gak akan bilang kita arwah gentayangan kalau kita muncul?" tanya Faiz.


Saat ini mereka sudah berada di halte menunggu jemputan.


"Gak tahu deh gue. Ini gara gara ponsel sialan, jadi gak bisa ngabarin mereka" gerutu Ivan. Dia mencoba menghubungi ponsel Amelia, tapi tidak aktif


"Ibu pasti sedih" gumam Faiz tertunduk lesu


"Gak papa. Yang penting kita selamat. Mereka pasti seneng kok" kata Ivan sembari menepuk pelan pundak Faiz yang mengangguk


Setengah jam menunggu, akhirnya sebuah mobil berhenti tepat dihadapan mereka.


Roy turun dengan tergesa, bahkan matanya tampak begitu terbelalak melihat Ivan dan Faiz berdiri disana.


Dia memperhatikan Ivan dan Faiz dengan begitu lekat


"Woy bang, malah bengong. Ayo pulang" ajak Ivan mengejutkan Roy

__ADS_1


"Ini benar tuan muda. Tuan masih hidup" kata Roy dengan mata yang berkaca kaca. Dia benar benar tidak menyangka ini


"Iya, kami masih hidup. Kami gak naik pesawat itu. Udah yuk, gimana dirumah? Abang kemari mereka tahu?" tanya Ivan pada Roy yang masih dengan wajah terkejut nya. Sementara Faiz sedang memasukkan koper mereka kedalam bagasi


"Mereka tidak ada yang tahu tuan. Semua sudah istirahat. Saya juga takut memberi tahu mereka. Takut disangka berbohong." jawab Roy membukakan pintu mobil untuk Ivan


"Pasti mereka sedih denger berita itu" sahut Faiz yang ikut menyusul masuk kedalam mobil


"Nyonya besar bahkan tidak ada keluar kamar lagi. sejak semalam. Tuan besar juga begitu terpukul, bahkan tuan muda Jonathan juga langsung pulang" jawab Roy yang mulai mengemudikan mobil nya menuju rumah utama


"Astaga, mereka sedih kehilangan gue?" gumam Ivan


"Aneh banget pertanyaan nya" dengus Faiz


"Besok mereka mau mengadakan acara doa bersama. Untung saja tuan muda berdua kembali. Sungguh saya sangat bersyukur tuan. Kabar kecelakaan pesawat itu benar benar membuat kami terpukul" ungkap Roy


"Ada kendala diproyek, jadi kami batalin pulang. Mau mengubungi orang orang disini, ponsel kami mati, sinyal juga gak ada disana" jawab Faiz


"Yang terpenting, tuan tuan sudah pulang. Mereka pasti senang, apalagi nyonya besar. Tuan Jonathan sudah mencoba membujuk nyonya, tapi nyonya masih terus mengurung diri dikamar menangisi kepergian tuan" kata Roy begitu sedih.


"Mama" lirih Ivan


Mereka semua akhirnya terdiam. Ivan benar benar menyesali kenapa dia tidak menghubungi keluarga nya disini. Membuat semua orang panik dan mengira dia telah tewas.


Setengah jam kemudian, mereka sudah tiba dirumah utama. Ivan langsung turun dari mobil bersama Roy, sedangkan Faiz membawa mobil Roy untuk pulang kerumah nya. Dia juga begitu mengkhawatirkan ibunya.


Ivan berjalan masuk, dan langsung saja dia disambut begitu heboh oleh para penjaga dan pelayan yang masih ada didepan rumah.


Bahkan Toni langsung berlari dan mendekatinya dengan mata yang terbuka lebar


"Iya, Lo kira siapa. Kok disini. Kenapa belum tidur ?" tanya Ivan namun Toni langsung memukul keras pundak Ivan. Namun setelah itu dia memeluk saudara angkat nya ini dengan erat dan begitu lega


"Memang kurang ajar Lo. Gue kira Lo udah mati. Kenapa gak ngasih kabar ha" kata Toni begitu kesal


"Panjang cerita nya" kata Ivan sembari melepaskan pelukan Toni


"Tapi Lo bener Ivan kan, Bukan hantu?" kata Toni ngerih, membuat penjaga yang lain juga mengamati Ivan dengan ngerih


"Kurang ajar. Ini gue lah. Gue gak naik pesawat itu. Udah ah, sialan banget gue dikira setan" gerutu Ivan yang langsung masuk kedalam meninggalkan Toni dan penjaga disana yang masih dengan wajah terperangah tidak percaya. Tapi mereka semua tampak begitu senang, tuan muda yang mereka sangka ikut dalam kecelakaan itu ternyata masih hidup dan baik baik saja.


Ivan berjalan dengan cepat kedalam, disusul oleh Roy yang membawakan koper nya. Rumah tampak sunyi, mungkin semua orang sudah masuk kedalam kamar mereka masing masing.


Karena begitu kahawatir dengan orang tua nya, Ivan langsung mengarah menuju kamar Maxwel. Dia ingin melihat keadaan mama nya.


Ivan membuka jaket nya, dan meletakan nya diatas meja didepan kamar. Berjalan dengan ragu kearah pintu. Apa mereka belum tidur? Tapi perkataan Roy sewaktu dimobil tadi membuat Ivan memang harus segera menemui mama nya


Ivan mengetuk pintu dengan pelan. Beberapa kali, barulah seseorang membuka kan pintu. Maxwel, papa nya.


Ivan tersenyum memandang wajah Maxwel yang tampak mengeryit dan memandang nya dengan lekat. Dapat Ivan lihat wajah papa nya yang terlihat kusut dengan gurat kesedihan tergambar jelas disana. Apa mereka begitu takut Ivan pergi?


"Pa, kenapa gitu amat Mandang Ivan?" tanya Ivan dengan senyum teduh nya seperti biasa. Namun itu malah membuat Maxwel terkesiap dan melebarkan matanya. Dia menggeleng pelan, dan langsung menutup pintu. Membuat Ivan terlonjak kaget dan langsung mundur kebelakang. Dia mengusap dadanya dan memandang heran pintu yang telah ditutup


"Lah kenapa ditutup?" gumam Ivan heran. Namun sepersekian detik kemudian dia langsung terkesiap. Apa jangan jangan papa nya mengira dia hantu?

__ADS_1


Ivan melirik jam dipergelangan tangan nya. Masih jam tiga lewat. Dan orang yang mereka kira telah mati malah datang mengetuk pintu dijam segini, apa tidak dikira hantu?


Ivan langsung menggaruk pelipis nya dengan bingung. Dia tahu mereka tidak tidur, tapi jika Ivan mengetuk lagi, apa mereka tidak semakin ketakutan.


Ah masa bodoh, dia benar benar ingin bertemu mama nya


Ivan kembali mengetuk pintu, kali ini sedikit keras


"Pa, ini Ivan" ucap Ivan sedikit kuat


Namun tidak ada jawaban dari dalam, apa karena ruangan kamar yang kedap udara?


"Pa!!" panggil Ivan lagi, sembari mengetuk pintu lebih kuat


"Kenapa tuan?" tanya Roy yang datang dan sedikit mengejutkan Ivan


"Gak dibuka papa, apa dia kira gue hantu ya?" kata Ivan begitu miris


Roy sedikit menahan tawanya melihat wajah Ivan


"Udah tidur mungkin" ucap Roy namun Ivan segera menggeleng


"Tadi udah dibukain bang, eh pas lihat aku malah ditutup lagi" jawab Ivan dengan begitu polos nya. Dan sungguh Roy tidak dapat menahan tawanya sekarang


"Ya gimana gak dikira hantu, semua orang tahunya tuan muda tewas karena kecelakaan pesawat itu. Nah tiba tiba datang jam tiga subuh begini" ungkap Roy


Ivan langsung mendengus dan kembali menatap pintu


"Ketuk deh bang, kalau Abang yang manggil papa pasti keluar" pinta Ivan


"Baik tuan" kata Roy yang kali ini beralih kearah pintu dan Ivan yang beralih


Beberapa kali Roy mengetuk sembari memanggil Maxwel didalam, dan baru lah pintu dibuka kembali oleh Maxwel. Namun kali ini Ivan dapat melihat mata Maxwel yang memerah. Apa papa nya ini menangis?


Maxwel kembali memandang kearah Ivan yang langsung mendekat kearah nya.


"Papa ini Ivan, Ivan masih hidup" kata Ivan langsung


Maxwel terperangah dan memperhatikan Ivan dengan lekat, semua nya tanpa terkecuali


"Apa ini mimpi" gumam Maxwel


Namun Ivan langsung memeluk papa nya dengan erat. Dia sungguh merasa bersalah melihat ekspresi papa nya yang begitu terkejut bagai orang linglung


"Ini nyata pa. Ivan masih hidup. Lihat" kata Ivan yang melepaskan pelukan nya dan meraih tangan Maxwel, memukul mukulkan tangan itu diwajah nya


Maxwel terkesiap, dan memandang Ivan dengan mata yang berkaca kaca


"Ini benar kamu nak" kata Maxwel memegang kedua pundak Ivan dengan tangan yang bergetar


"Maafin Ivan gak ngasih kabar. Ivan gak naik pesawat itu. Ivan batal pulang siang itu karena ada masalah diproyek" ungkap Ivan


Maxwel langsung menggeleng dan kembali memeluk Ivan dengan erat

__ADS_1


"Ya Tuhan, syukur lah kamu masih hidup nak. Papa benar benar takut sekali" ungkap Maxwel yang langsung menarik tubuh Ivan dan memeluk nya dengan begitu erat. Bahkan ini adalah kali pertama nya Ivan mendapat perlakuan dari Maxwel hingga seperti ini, bahkan dia tahu jika papanya ini juga menangisi nya. Ah Ivan begitu terharu.


__ADS_2