
Jonathan begitu kesusahan memegang jaring penangkap ikan ditangan nya. Pakaian nya kini sudah basah karena ikan yang dia tangkap cukup besar dan bergeliat begitu lincah. Hampir setengah jam dia ada didekat kolam itu untuk menangkap ikan. Amelia begitu ingin Jonathan yang masuk kedalam kolam tanpa bantuan siapapun.
Dia bahkan terduduk lemas karena kelelahan dan memandangi ikan kesayangan nya dengan sedih. Yah, dia kehilangan hampir dua milyar hari ini. Amel meminta ikan yang paling mahal dan berkualitas. Tidak diberi, tidak mungkin. Diberikan hati Jonathan yang terasa berat.
Anak Ivan belum lahir saja sudah menyusahkan, benar benar mirip dengan ayahnya.
"Wow, kamu memang uncle yang baik Jo" ledek Maxwel yang sedari tadi ada disana. Dia tidak bekerja hari ini, dan ketika mengetahui permintaan Amelia,.Maxwel benar benar terkejut, tapi dia juga lucu melihat Jonathan yang terlihat frustasi. Untung saja Ivan tidak ada, jika ada, mungkin Jonathan akan lebih kesal lagi
"Waah kenapa ikan yang ini" gumam Maxwel seraya memandangi ikan koi impor dari Jepang yang dibeli Jonathan beberapa tahun yang lalu. Black dragon, mungkin nilai jualnya bisa lebih dari dua miliar sekarang.
"Cucu papa meminta ikan yang ini. Masih didalam perut tapi dia sudah tahu mana yang mahal" gerutu Jonathan
Maxwel langsung terbahak mendengar itu. Benar benar cucu nya ini. Sangat berbeda dengan ayahnya yang tidak suka hal berlebihan.
"Sudah lah, tidak apa. Masih banyak yang lain" ujar Maxwel seraya menepuk sekilas bahu Jonathan yang masih terduduk dipinggir kolam
"Yah, jika Ivan yang meminta Jo tidak akan memberikan nya, untung saja ini karena Amel yang mengidam" gumam Jonathan.
"Mudah mudahan istrimu tidak mengidam yang lebih parah nanti" ujar Maxwel
"Entah lah" kata Jonathan yang langsung beranjak dan bangkit dari duduk nya
Amel datang bersama dengan Delisha dan Karina. Wajahnya benar benar begitu bahagia, membuat Maxwel dan Delisha begitu senang melihat nya. Semenjak dia diketahui hamil, Amel jarang sekali keluar kamar karena dia selalu mengalami morning sickness, dan tidak tahan dengan bau bauan apapun. Dan sekali keluar, dia malah meminta hal yang menakjubkan
"Waahh cantik sekali ikan nya" gumam Amel seraya mengusap badan ikan yang begitu bulat dan berwarna cantik itu.
"Kamu puas sayang" tanya Delisha dan Amelia langsung mengangguk cepat. Dia masih memperhatikan ikan koi dijaring Jonathan. Sementara Karina memandang Jonathan dengan sedikit meringis. Sepertinya suami nya ini, sedikit tidak rela?
Yah,.bagaimana tidak rela, jika harga ikan ini hampir dua miliar. Dan ini adalah jenis ikan satu satunya yang Jonathan miliki
"Papa" kini Amel memandang Maxwel dengan pandangan memelas nya. Seperti kucing yang sedang mengharapkan sesuatu dari majikan nya. Sungguh menggemaskan, namun cukup membuat jantung mereka berdetak tidak beraturan sekarang.
"Kenapa nak?" tanya Maxwel
"Emmm, ikan nya enak dibakar kan" tanya Amel dengan senyum getir nya
"Tentu saja..Apalagi ditambah dengan sambal kecap dan lalapan" sahut Maxwel
Jonathan terlihat menghela nafas dan memejamkan matanya sekilas mendengar itu. Ikan kesayangan nya sudah seperti ikan lele saja sekarang. Astaga
"Tapi... Amel pengen papa yang bakarin" pinta Amel dengan wajah polos nya dan senyum yang begitu manja, tangan nya mengusap perutnya yang terasa berbunyi sekarang
"Papa yang bakar?" tanya Maxwel terkejut
Amel langsung mengangguk dengan semangat
Jonathan langsung terbahak mendengar nya. Dia langsung menyerahkan ikan itu pada Maxwel yang dengan lemas menerima nya
"Oh akhirnya" gumam Jonathan begitu lega. Dia sungguh tidak akan sanggup untuk membakar ikan kesayangan nya
"Papa mau kan." tanya Amel
"Tentu, untuk kamu dan cucu papa. Apa yang tidak" jawab Maxwel
Dan kini,.Delisha yang memandang getir suami nya, karena hanya dia yang tahu. Jika Maxwel sangat tidak bisa dalam hal masak memasak. Semoga saja ikan nya tidak gosong nanti
__ADS_1
"Terimakasih. Kita makan sama sama nanti" ucap Amel begitu antusias. Dia bahkan sudah tidak sabar ingin merasakan bagaimana rasa ikan cantik ini. Yang bahkan dia sendiri tidak tahu berapa harga ikan nya. Jika dia tahu, apa dia akan tetap memakan nya????
"Yasudah, mama dan Karin akan menyiapkan bumbu dan sambalnya. Kamu mau ikut atau nunggu disini nak?" tanya Delisha
"Amel nunggu disini aja gak papa ya ma" tanya Amel
"Enggak apa apa. Nanti kalau didalam takut kamu muntah" sahut Delisha
"Tapi papa bakar nya disini kan. Amel pengen liat" kata Amel begitu manja, dia bahkan lupa jika sebelum nya dia sangat takut dengan Maxwel. Tapi kini, Maxwel sudah seperti papa nya sendiri
"Iya, papa nanti kemari, biar Jhon siapin pemanggang nya dulu" ujar Maxwel
Amel langsung mengangguk senang. Dia ingin beranjak, namun tiba tiba dia kembali membalikkan tubuhnya
"Aaahh Karin" seru Amel yang kini malah memandang Karina.
Karina langsung mematung dan membalikan tubuhnya, seperti nya dia juga bakalan kena
"Aku pengen es serut mangga jelly. Kamu mau buatin aku kan" pinta Amel, yang lagi lagi menggunakan senyum lugu dan mata puppy eyes nya
"Oh oke, siap nyonya. Ada lagi" tanya Karina yang merasa lega
"Itu aja, tapi mangga nya yang Mateng. Es nya juga separuh gelas. Jelly nya dikit aja, yang warna pink, terus susu nya lima sendok,dan ... emmm gak pakek gula" ujar Amel akhirnya
Karina langsung mengerjapkan matanya mendengar itu. Kenapa banyak sekali permintaan nya
Dan kini gantian Jonathan dan Delisha yang mentertawai nya.
"Paham kan" tanya Amel lagi
Karina langsung tersenyum canggung dan langsung mengangguk dengan cepat
"Terimakasih" ucap Amel yang langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan mereka yang memandang nya dengan heran
"Kenapa semua kenak coba" gumam Karina
"Kamu gak tahu aja kalau Ivan tiap malem juga repot karena permintaan Amel" ungkap Delisha seraya tertawa lucu jika mengingat itu
Akhirnya mereka semua kembali ketugas masing masing. Pagi itu mereka disibukkan dengan permintaan ibu hamil yang ada ada saja. Namun karena ini adalah cucu pertama, dan tentu nya yang sangat diharapkan oleh mereka, jadi mereka semua tampak begitu antusias menyiapkan nya.
Delisha dan Karina berkutat didapur, Maxwel tengah menyiapkan ikan untuk dibakar dibantu oleh Jhon. Sedangkan Jonathan kini sedang membersihkan dirinya yang sudah basah dan kotor.
Hampir satu jam kemudian, semua nya sudah selesai dan tersaji dengan rapi digazebo belakang rumah.
Amel meminta mereka untuk berkumpul dan makan bersama sama disana.
Awalnya Jonathan menolak, karena dia benar benar iba melihat ikan dua miliar nya berakhir terbakar seperti ini. Seperti tidak punya harga diri lagi. Bagaimana dia sanggup memakan nya.
Namun karena paksaan dan istri dan mama nya, akhirnya dengan terpaksa dia ikut duduk dan bergabung bersama mereka.
"Kamu gak mual kan Mel?" tanya Delisha saat Amel terlihat begitu berbinar memandangi ikan yang sudah tergeletak diatas daun pisang ditemani dengan sambal dan berbagai lalapan
"Enggak ma. Perut Amel jadi laper sekarang" jawab Amel
Delisha langsung tersenyum dengan senang, sudah lama Amel tidak ingin memakan apapun, selain buah buahan dan roti. Dan baru ini dia memakan yang lain, dan itupun ikan dengan harga yang sangat fantastis
__ADS_1
"Yasudah, makan lah. Kamu harus banyak makan,.supaya calon cucu papa sehat dan kuat" ujar Maxwel
Amel langsung mengangguk. Dia bahkan langsung mencuil ikan koi itu dengan penuh nafsu, memakan nya dengan lahap dan sangat menikmati nya.
Jonathan hanya menggeleng pasrah melihat itu. Apalagi melihat kedua orang tuanya yang juga ikut menikmati ikan nya, sungguh Jonathan benar benar ingin menangis sekarang
"Wow, enak juga ikan ini" gumam Maxwel
"Ya, tahu gini dari dulu udah mama goreng" sahut Delisha pula
"Mama" Jonathan tampak mendengus kesal mendengar itu. Namun Delisha dan Maxwel malah mentertawai nya
"Cobain Rin, enak kok" Delisha kini beralih pada Karin yang terlihat ragu
"Beneran ma?" tanya Karina memandang Delisha yang langsung mengangguk yakin, dia menoleh pada Amel dan Maxwel yang tampak kompak makan bersama
Dan dengan ragu akhirnya dia juga mencicipi ikan itu. Dan ternyata memang benar, daging nya sama saja dengan ikan yang lain, hanya saja ini lebih kenyal karena sudah besar dan berumur
"Enak kak, cobain" ujar Karina pada Jonathan
"Mana tega aku makan nya" sahut Jonathan dengan wajah kesal nya. Dan bukan nya mengiba Karina malah tertawa lucu melihat itu.
Mereka makan begitu lahap, apalagi Amel yang memang sudah mengidamkan nya sejak lama. Baru ini dia merasa makan ikan yang begitu enak. Mana perduli lagi dia bagaimana ekspresi Jonathan, dia hanya ingin makan ikan ini tanpa bisa dibantah.
Hingga satu jam kemudian, ikan koi Jonathan sudah tinggal tulang dan habis dimakan oleh mereka semua.
Amel tersandar kekenyangan dengan wajah puas nya.
"Wah wah... gak nunggu nunggu makan nya" mereka semua yang ada digazebo langsung menoleh keasal suara
Ivan yang ternyata baru datang dan langsung kebelakang rumah setelah diberi tahu oleh salah seorang pelayan
"Sayang" sapa Amel yang langsung menyalami punggung tangan Ivan
"Makan apa, tumben gak muntah?" tanya Ivan seraya mencium sekilas dahi istrinya
"Makan ikan,.enak banget. Papa yang masak" adu Amel
"Beneran pa?" tanya Ivan pada Maxwel. Maxwel langsung mengangguk dengan bangga
Dan dapat Ivan lihat jika ikan nya cukup besar, dan kini yang tersisa hanya tinggal tulang saja
"Bagus dong kalau udah mau makan. Beli ikan dimana besar banget?" tanya Ivan menatap satu persatu anggota keluarganya
Tapi satu orang yang terlihat berwajah datar dan memandang nya dengan sinis. Jonathan.
"Kak Jo ambil ikan cantik dikolam" jawab Amel begitu polos
Ivan langsung terkesiap dan memandang kearah kolam dan kembali memandang kearah Jonathan yang semakin sinis
Kedua orang tuanya langsung tertawa melihat wajah terkejut Ivan
"Ikan koi?" tanya Ivan sedikit berbisik pada Maxwel namun mampu didengar oleh Jonathan
"Hmm,.istri kamu ngidam ikan dua miliar" jawab Maxwel dengan tawanya
__ADS_1
Sedangkan Ivan langsung menepuk jidat mendengar itu
Astaga, belum lahir tapi anaknya sudah membuat hutang begitu banyak